⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Ruang Takhta Nazarick tidak pernah terasa begitu sunyi.
Bukan karena tidak ada orang di dalamnya. Albedo berdiri di sisi kiri singgasana, diam dan kaku seperti patung marmer yang sedang menunggu perintah. Jubahnya yang hitam pekat jatuh lurus ke lantai, tidak bergerak, tidak berdesir, seolah-olah dia sendiri sedang menahan napas. Sebas berada di dekat pintu, tangannya tergenggam di belakang punggung, posturnya sempurna tanpa cela. Di bawah cahaya lilin yang redup, bayangan wajahnya yang tenang menunjukkan kerutan kecil di dahi yang jarang terlihat.
Aura dan Mare sudah kembali dari Lantai Enam dan kini berdiri di barisan depan, menunggu dengan napas tertahan. Mare menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, jari-jarinya mencengkeram ujung jubahnya erat-erat. Aura berdiri di sampingnya dengan tangan bersilang, matanya yang tajam menatap lurus ke depan, meskipun sesekali dia melirik ke arah Ainz dengan tatapan penuh tanya.
Demiurge baru saja masuk, jubah hitamnya masih sedikit berdebu karena perjalanan cepat dari ruang kerjanya. Di ujung jubahnya, ada noda kecil tinta merah yang tidak dia sadari.
Tapi tidak ada yang berbicara.
Karena Ainz belum membuka mulut.
Dia duduk di Throne of Kings, jari-jari tulangnya menyilang di depan dada, postur yang sama sejak rapat dimulai. Tidak ada yang tahu sudah berapa lama dia diam. Beberapa menit, mungkin. Atau lebih. Tidak ada yang berani menghitung. Di bawah singgasana, ada bekas goresan kecil di permukaan batu, bekas dari jari-jari Ainz yang tanpa sadar menekan terlalu keras saat dia duduk.
Di hadapannya, di atas meja batu yang diletakkan khusus untuk pertemuan ini, terbentang peta Holy Kingdom. Titik-titik merah tersebar di beberapa wilayah. Tiga di antaranya telah dicoret dengan tinta hitam, pemukiman Alpha, Beta, dan Gamma. Di sudut kiri atas peta, ada noda tinta kecil yang tidak sengaja jatuh, membentuk lingkaran hitam yang menutupi salah satu desa target.
Operasi yang seharusnya berjalan mulus. Operasi yang gagal total tanpa sebab yang jelas.
Demiurge akhirnya melangkah maju. Langkah kakinya terdengar pelan di atas lantai batu, tetapi di ruangan yang sunyi ini, setiap bunyi terasa seperti petir.
"Ainz-sama."
Ainz tidak merespon.
"Laporan dari unit pencarian telah tiba."
Diam.
"Tidak ada Shadow Demon yang hilang. Semua unit kembali ke posisi masing-masing. Namun tidak ada satupun yang berhasil menyelesaikan tugas. Sebagian besar tidak dapat mengingat apa yang terjadi di lapangan. Beberapa tidak dapat mempertahankan bentuk selama berjam-jam setelah kembali."
Ainz masih diam. Di balik topeng tengkoraknya, tidak ada gerakan. Tidak ada napas yang terlihat. Hanya keheningan yang semakin pekat.
Demiurge menyesuaikan kacamatanya. Gerakannya lambat, hati-hati, seperti sedang mengukur setiap kata yang akan keluar.
"Hamba telah memeriksa catatan sihir komunikasi yang tersisa. Tidak ada jejak serangan. Tidak ada jejak sihir musuh. Tidak ada jejak apapun."
Dia berhenti sejenak. Di ujung jubahnya, noda tinta merah mulai mengering dan mengeras.
"Semua unit melaporkan hal yang sama. Tiba-tiba mereka tidak bisa berpikir jernih. Kemudian koordinasi hilang. Kemudian komunikasi putus. Tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi."
Keheningan kembali mengisi ruangan.
Albedo melirik ke arah Ainz. Wajah tuannya tidak berubah. Tidak ada gerakan. Tidak ada suara. Hanya jari-jari tulang yang masih menyilang di depan dada. Tapi dia mengenal Ainz cukup lama untuk tahu bahwa diam yang terlalu lama bukanlah tanda ketenangan. Itu adalah tanda sesuatu yang sedang membara di dalam. Di bawah permukaan ketenangan itu, ada sesuatu yang bergerak, sesuatu yang tidak bisa dia lihat, tapi bisa dia rasakan. Seperti panas yang terperangkap di bawah kulit.
Akhirnya, Ainz bergerak.
Perlahan. Tidak terburu-buru. Jari-jarinya terlepas dari genggaman, lalu jatuh ke pangkuannya dengan bunyi ketukan ringan di atas permukaan batu singgasana. Suara itu bergema di ruangan yang sunyi, seperti batu yang jatuh ke kolam yang tenang.
"Jadi," suaranya keluar datar, tanpa nada. "Tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Tidak ada jejak serangan. Tidak ada sihir musuh. Tidak ada penjelasan."
Demiurge menundukkan kepala. "Benar, Ainz-sama."
"Empat belas target. Puluhan Shadow Demon. Operasi yang sudah direncanakan selama berhari-hari. Dan semuanya gagal dalam satu malam tanpa alasan."
"Benar, Ainz-sama."
Ainz tidak menjawab. Tidak segera. Jari-jarinya mengetuk lengan singgasana, satu kali, dua kali, tiga kali. Ketukan itu bergema di ruangan yang sunyi, seperti detak jantung raksasa yang mulai tidak stabil.
"Apakah ada yang bisa menjelaskan mengapa ini terjadi?"
Tidak ada yang menjawab.
"Albedo?"
Albedo menggeleng pelan, wajahnya tetap tenang meskipun ada kerutan kecil di antara alisnya. "Tidak, Ainz-sama. Saya belum menemukan indikasi apapun."
"Aura? Mare?"
Aura menggeleng. Mare menggeleng lebih cepat, jari-jarinya mencengkeram ujung jubahnya erat-erat, buku-buku jarinya memutih karena tekanan. Di sudut matanya, ada kilatan ketakutan yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Sebas?"
"Maaf, Ainz-sama. Tidak ada laporan dari sumber manapun yang dapat menjelaskan kejadian ini."
Ainz menghela napas. Suara kering yang bergema di ruangan yang luas. Di balik topeng, tidak ada yang bisa melihat ekspresinya. Tapi semua orang di ruangan itu merasakannya, beban yang semakin berat, semakin menekan.
"Jadi, tidak ada yang tahu."
Keheningan.
Tidak ada yang berani bersuara.
Di balik topeng tengkoraknya, Suzuki Satoru sedang berteriak.
Tapi tidak ada yang bisa mendengarnya. Karena di luar, Ainz Ooal Gown tetap duduk dengan postur sempurna, tidak bergerak, tidak menunjukkan apa-apa selain ketenangan seorang penguasa absolut. Di dalam dadanya, cahaya hijau berdenyut cepat, seperti alarm yang berbunyi tanpa henti. Dia menekannya, mencoba mengendalikan emosi yang mulai muncul.
Sial. Sial. Sial. SIAL.
Empat belas target. Puluhan Shadow Demon. Rencana yang sudah dipersiapkan dengan matang. Dan semuanya gagal tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa tidak ada jejak? Bagaimana bisa tidak ada penjelasan?
Apakah ini jebakan? Apakah Theocracy sudah menemukan cara untuk mengganggu sihir komunikasi Nazarick?
Atau itu dia lagi.
Nama itu muncul di pikirannya seperti bayangan yang tidak bisa diusir. Nama yang sudah terlalu sering muncul akhir-akhir ini. Nama yang selalu muncul di saat-saat yang salah.
Slamet. The Destroyer.
Apakah dia yang melakukan ini? Tapi bagaimana? Dia tidak ada di Holy Kingdom. Dia seharusnya tidak ada di mana pun.
Atau apakah dia ada? Apakah dia kembali? Apakah dia...
Cahaya hijau berdenyut di rongga dadanya. Perasaan itu ditekan. Diredam. Dikembalikan ke tempatnya. Tapi tidak hilang. Tidak pernah hilang. Selalu ada di sana, menunggu, mengintai.
Dia mengepalkan tangannya di bawah singgasana. Kuku tulangnya menekan telapak tangannya sendiri. Tidak sakit. Tapi sensasinya nyata. Di bawah kuku-kuku itu, ada goresan halus di permukaan batu singgasana, bekas dari tekanan yang tidak dia sadari.
Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa semua ini terjadi bersamaan?
Shalltear. Albedo. Laporan dari Lantai Enam. Operasi yang gagal. Rumor tentang The Destroyer.
Dan aku masih tidak tahu apa-apa.
Dia mengingat hari-hari di kantor dulu. Deadline yang mendekat. Proyek yang berantakan. Tim yang tidak bisa diandalkan. Atasan yang tidak pernah puas. Dan dia, Suzuki Satoru, yang harus menyelesaikan semuanya sendirian, lembur sampai pagi, tanpa ada yang membantu. Meja kerja yang penuh berkas. Kopi yang sudah dingin. Mata yang perih karena terlalu lama menatap layar. Dan rasa frustasi yang tidak bisa dia katakan pada siapa pun karena dia harus tetap profesional.
Dulu, kalau aku gagal, aku bisa minta maaf. Sekarang, kalau aku gagal...
Pikirannya berhenti. Tidak perlu diselesaikan. Karena dia sudah tahu jawabannya. Di dunia ini, tidak ada tempat untuk permintaan maaf. Yang ada hanyalah konsekuensi.
"Ainz-sama."
Suara Demiurge memecah keheningan.
Ainz mengangkat kepalanya perlahan. Cahaya merah di rongga matanya menyala lebih terang dari sebelumnya, bukan seperti api, tapi seperti bara yang mulai membara kembali.
"Apa?"
"Hamba mengusulkan agar operasi berikutnya ditunda sampai kita mengetahui penyebab kegagalan ini."
Ainz tidak menjawab. Jari-jarinya berhenti mengetuk.
"Jika kita melanjutkan tanpa memahami apa yang terjadi, risiko kegagalan yang sama akan tetap ada," lanjut Demiurge. "Dan jika kegagalan ini benar-benar disebabkan oleh musuh yang tidak kita kenali, maka melanjutkan operasi hanya akan memberi mereka lebih banyak kesempatan untuk mempelajari kita."
Ainz terdiam.
Di balik topeng, Suzuki Satoru mendengar kata-kata Demiurge dan tahu bahwa dia benar.
Tapi apakah aku bisa berhenti? Apakah aku bisa membiarkan masalah ini tidak terpecahkan? Apakah aku bisa...
Cahaya hijau berdenyut lagi. Ditekan lagi. Kembali lagi.
Tidak. Tidak bisa. Harus maju. Harus terus maju. Sampai semuanya selesai.
"Tunda operasi," kata Ainz akhirnya. Suaranya datar. Tanpa emosi. "Sampai kita mendapatkan informasi yang cukup."
Demiurge membungkuk. "Perintah diterima, Ainz-sama."
"Tapi jangan berhenti menyelidiki. Aku ingin tahu apa yang terjadi di Holy Kingdom. Aku ingin tahu siapa yang bertanggung jawab. Dan aku ingin tahu..."
Dia berhenti sejenak. Di bawah topeng, matanya yang menyala menatap ke suatu titik di kejauhan, seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
"...apakah ini ada hubungannya dengan The Destroyer."
Nama itu menggantung di udara.
Para Guardian saling melirik. Tidak ada yang berani berkata apa-apa. Albedo menggigit bibir bawahnya, jari-jarinya menggenggam erat ujung jubahnya. Aura menegakkan tubuhnya, matanya menyipit. Mare menunduk, mencoba mengecilkan dirinya.
Demiurge mengangguk. "Hamba akan segera memulai investigasi."
"Lakukan."
Demiurge berbalik dan meninggalkan ruangan. Yang lain mengikuti, satu per satu, meninggalkan Ainz sendirian di atas singgasana. Langkah kaki mereka bergema di ruangan yang semakin sunyi, lalu menghilang di balik pintu yang tertutup.
Di dalam kepalanya, Suzuki Satoru masih berteriak.
The Destroyer. Slamet. Siapa dia? Apa yang dia inginkan? Mengapa dia terus mengganggu rencana Nazarick?
Apakah dia musuh? Atau apakah dia hanya kebetulan? Kebetulan yang terlalu sering terjadi? Kebetulan yang tidak mungkin hanya kebetulan?
Dia tidak tahu. Dan dia benci tidak tahu. Karena tidak tahu berarti tidak bisa mengendalikan. Dan tidak bisa mengendalikan berarti...
Tapi aku tidak bisa berhenti. Karena jika aku berhenti, semuanya akan berantakan. Dan jika semuanya berantakan, Nazarick akan hancur. Dan jika Nazarick hancur...
Cahaya hijau berdenyut di rongga dadanya. Kali ini, dia tidak menekannya. Dia membiarkannya ada.
Tolong tenangkan aku.
Tidak ada yang menjawab.
Di tenda logistik Holy Kingdom, Slamet sedang tidur.
Dia tidak tahu bahwa seorang penguasa undead sedang mengalami kegilaan diam-diam di ruang takhtanya. Dia tidak tahu bahwa rencana Nazarick di Holy Kingdom telah gagal total karena kehadirannya yang tidak disadari. Dia tidak tahu bahwa Demiurge sekarang sedang menyusun teori baru tentang entitas misterius yang mengganggu operasi mereka.
Yang dia tahu, besok pagi dia harus bangun, mengambil kotak kayu, dan berjalan ke pos berikutnya.
Kaki kirinya masih sakit. Di bawah selimut, garis abu-abu di betisnya sudah mencapai lutut. Dia tidak melihatnya. Tidak merasakannya. Dia hanya tahu bahwa kakinya terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.
Tapi dia tidak peduli. Besok masih ada paket yang harus diantar. Dan yang penting, masih ada makanan.
Dengkur mulai terdengar.
Grrrkkkhhh... hufff... grrrkkkhhh...
Di luar, salju mulai turun.
Di kejauhan, di ruang kerja Demiurge, peta Holy Kingdom mulai digambar ulang. Titik-titik merah baru mulai muncul di wilayah yang sebelumnya kosong. Dan di sudut peta, satu nama ditulis dengan tinta hitam: Slamet — The Destroyer — Prioritas Tertinggi.