Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.
Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.
Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Amarah Evelyn
"Hahaha! Rupanya kau begitu bodoh, Evelyn. Apa ibumu tidak pernah mengatakan kenyataan yang sejujurnya padamu?" Nyonya Caroline tertawa mengejek, mengibaskan tangannya di udara. "Hey, dengar ya, Evelyn. Aku datang ke sini murni tidak ingin berbasa-basi, apalagi memberikan simpati murahan padamu. Katakan pada ibumu untuk segera melunasi uang sewa rumah ini. Jika sampai besok kalian belum membayarnya, kalian harus segera angkat kaki dan pergi dari rumah sewaku ini!"
"Tapi, Nyonya... bisakah Anda memberikan sedikit waktu lebih lama lagi?" pinta Evelyn memohon, suaranya melunak parau.
Evelyn belum siap, dan rasanya tidak mungkin jika ia harus mengatakan kenyataan yang sejujurnya hari ini—bahwa ibunya telah tiada, tewas mengenaskan dimangsa oleh monster ras demon liar.
"Tidak ada tapi-tapian! Aku tidak mau tahu apa alasanmu!" ketus Nyonya Caroline kejam. Wanita itu berbalik arah, melangkah lebar meninggalkan area halaman belakang begitu saja.
Tubuh Evelyn seketika merosot lesu di atas permukaan tanah yang dingin. Air mata frustrasi nyaris luruh dari sudut matanya. Ia mencengkeram kuat-kuat dedaunan kering yang berserakan di sekelilingnya, membiarkan rasa perih di lambung dan perih di hatinya membaur menjadi satu dalam keheningan rumah sewa yang terasa mencekam.
Namun tiba-tiba, tanah yang berada di bawah Evelyn bergetar hebat. Gadis itu sontak terlonjak berdiri. "Hah, gempa bumi?!" teriaknya panik.
Namun saat ia hendak berlari melarikan diri, sebuah tunas hijau mendadak tumbuh seketika dari dalam tanah tempat ia mengubur apel tadi.
Tunas itu membesar dengan kecepatan yang tidak masuk akal, tumbuh tinggi, melebar, dan langsung menjelma menjadi batang pohon yang kokoh. Dedaunan hijau berkelap-kelap dan kelopak bunga yang lebat muncul dalam sekejap, sebelum akhirnya melahirkan puluhan buah apel merah yang segar bergelantungan.
Evelyn sontak tercengang. Ia mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa penglihatannya ini bukanlah sebuah ilusi.
"Kenapa bisa ada pohon apel sebesar ini tumbuh di belakang rumah sewaku?" tanyanya bingung.
Lalu, ia tertawa sarkas pada dirinya sendiri.
"Sepertinya aku sudah gila karena kelaparan."
Untuk memastikan rasa penasarannya, ia melangkah mendekat, lalu meraba permukaan kulit batang pohon raksasa itu dengan tangan yang bergetar samar. Teksturnya terasa sangat nyata di bawah telapak tangannya.
"Pohon ini... pohon sungguhan. Ini bukan trik sulap, tapi... mungkin sihir," gumam Evelyn tak percaya.
Karena rasa penasaran yang teramat besar bercampur dengan lambungnya yang kian melilit perih, Evelyn memutuskan untuk membuang gengsinya. Ia memanjat batang pohon tersebut dan memetik beberapa buah apel merah yang ranum.
Evelyn sudah tidak kuasa lagi menahan lapar yang menyiksa. Masa bodoh jika pohon ini adalah pohon hantu atau kutukan gaib, yang terpenting baginya saat ini adalah perutnya bisa kenyang.
Evelyn menggigit buah tersebut dan matanya seketika berbinar. "Rasanya... enak juga, sangat manis."
Setelah menghabiskan dua buah apel hingga tandas, ia melompat turun dan kembali menatap tajam pohon misterius tersebut. "Terima kasih banyak, pohon ajaib. Berkat bantuanmu, aku kenyang hari ini," ucapnya tulus sebelum berbalik arah dan berjalan masuk kembali ke dalam rumah sewa.
Namun, ketenangan Evelyn tidak bertahan lama. Begitu ia melangkah ke koridor dalam dan membuka pintu kamar tidurnya yang gelap, bola matanya seketika membelalak syok. Jantungnya mencelos melihat sesosok pria yang akhir-akhir ini sangat ia benci tengah berbaring lemah, bersandar kaku pada kepala ranjang dengan kasur tipis miliknya.
Noda darah segar tampak berceceran, mengotori bantal dan sprei kumalnya.
"Evelyn... maafkan aku," rintih Kaelen parau, menatap Evelyn dengan sepasang netra sayu yang bersimbah air mata penyesalan.
Urat amarah Evelyn putus seketika. "Dari mana kau tahu lokasi rumah sewaku, Bajingan?! Pergi kau dari sini sekarang juga! Apa kau belum puas saat kemarin siang kubuat babak belur di depan gua monster?!" bentak Evelyn beringas, tangannya terkepal kuat di sisi tubuh.
"Aku... aku hanya membutuhkanmu, Evelyn," rintih Kaelen pasrah, meremas dadanya yang kian berdenyut nyeri akibat resonansi takdir. "Aku benar-benar menyesal... Aku menyesal telah menyiksamu di altar malam itu. Maafkan aku."
"Berhenti berakting, Sialan! Aku tidak butuh rengekan atau air mata palsu darimu! Pergi kau dari kamarku! Enyahlah!"
Napas Evelyn memburu hebat, dipenuhi rasa muak yang luar biasa.
Aku harus berubah lagi ke wujud magisku dan mengeluarkan kekuatan itu sekarang juga! jerit Evelyn di dalam hatinya.
Ia memejamkan mata, mengepalkan tangan, lalu mencoba memusatkan seluruh sisa pikiran gaibnya demi memancing kebangkitan sihir Elf Cahaya. Namun, sial bagi Evelyn. Tubuh manusianya terasa begitu kosong. Berbagai guratan pembuluh sihir keperakan di kulitnya sama sekali menolak untuk memancarkan pendar cahaya.
Tampaknya, seluruh pasokan energi supranaturalnya telah terkuras habis tanpa sisa hanya untuk menumbuhkan pohon apel ajaib di halaman belakang tadi.
"Ck! Kenapa tubuh gila ini tidak mau berubah?!" umpat Evelyn frustrasi, membuka matanya dengan kesal.
Sialan. Padahal kalau sihirku bangkit sekarang, setidaknya aku bisa menggunakan tanaman rambat berduri untuk melempar tubuh pria berengsek ini langsung ke luar angkasa! batinnya menggerutu kesal.
"Evelyn, aku benar-benar menyesal. Ini semua bukan akting, aku bersumpah tidak akan pernah menyakiti atau mencelakaimu lagi. Lihatlah aku, Evelyn... aku sudah tidak berdaya sekarang," ucap Kaelen lirih. Nada suaranya terdengar begitu tulus, sangat kontras dengan kepribadian dinginnya yang biasa.
Evelyn mendengus sinis, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Tidak berdaya kau bilang? Aku tahu kau sangat membenciku, Kaelen! Aku tidak akan mudah—apalagi percaya begitu saja—pada rangkaian kata palsumu itu. Lagi pula, kejadian kemarin murni karena aku tidak sengaja menelan mutiaramu! Kita hanya sebatas terpaksa dan tidak sengaja terikat oleh benang takdir konyol ini."
Evelyn melangkah selangkah lebih dekat ke arah ranjang, menatap tajam manik mata Kaelen tanpa rasa takut sedikit pun.
"Oleh karena itu, kau tidak perlu merasa terbebani. Mulai detik ini, mari kita menjalani hidup masing-masing saja, Kaelen. Jangan pernah menampakkan diri di hadapanku, apalagi mencoba mengganggu ketenanganku lagi! Jika kau tetap keras kepala, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu malam ini juga!" ancam Evelyn dengan napas yang memburu hebat akibat emosi.
Sebenarnya, Evelyn tahu betul bahwa ia hanya sedang menggertak. Ia memanfaatkan kondisi Kaelen yang lemah agar pria itu merasa terancam dan segera hengkang dari kehidupannya. Ditambah lagi, seluruh pasokan energinya baru saja terkuras habis.
Namun, rasa sakit luar biasa serta siksaan yang didapatkannya dari Kaelen di altar kemarin benar-benar menorehkan trauma yang teramat dalam. Kerusakan emosional itu sudah tidak bisa dimaafkan lagi.
Karena itulah, Evelyn tidak sudi melihat wajah, apalagi memiliki hubungan apa pun dengan pria kejam yang kini sedang berbaring tak berdaya di atas sprei kumalnya.
Mengingat rentetan kalimat tajam itu, Kaelen tertegun di tempatnya. Tanpa sadar, pelupuk matanya mulai berkaca-kaca. Setiap kata penolakan yang dilontarkan Evelyn terasa menghujam telak ke hulu hatinya. Rasa sakitnya bahkan jauh lebih menyiksa daripada hukuman cambuk yang diberikan oleh sang ayah, atau hantaman serangan monster Nessie yang diterimanya kemarin siang.
Ia meremas dadanya yang kian berdenyut nyeri.
Sesakit inikah rasanya ditolak oleh belahan jiwa sendiri? Aku benar-benar bodoh. Kenapa juga aku nekat melakukan hal sekejam itu padamu kemarin, Evelyn? batinnya merana penuh penyesalan.
Evelyn sama sekali tidak tersentuh. Ia justru tertawa sinis melihat ekspresi Kaelen yang tampak begitu menyedihkan di matanya. "Wah, luar biasa. Aku tidak menyangka pria sekejam dan sedingin dirimu ternyata bisa menangis juga."
Tanpa membuang waktu, Evelyn langsung naik ke atas ranjang tipisnya. Ia tidak peduli lagi dengan noda darah yang berceceran. Niatnya hanya satu: menggusur tubuh pria itu dan mengusirnya paksa dari sana.
"Bangun kau! Segera angkat kaki dari rumah sewaku sekarang juga!" gertak Evelyn.
"Aku tidak mau. Aku akan tetap di sini," tolak Kaelen, suaranya melemah namun ada nada keras kepala yang tersisa. "Apa kau begitu tega mengusirku yang sedang dalam keadaan sekarat seperti ini, Evelyn?"
Evelyn mendengus meremehkan. "Tidak ada kata tega dalam kamus hidupku, Kaelen! Kau sendiri kemarin menyiksaku di altar hingga aku hampir mati. Tapi, apa kau merasa kasihan saat melihatku memohon waktu itu? Hah?! Tentu saja tidak! Kau tetaplah kau—pria kejam, arogan, sombong, dan tidak punya perasaan. Kau pria keras kepala yang egois!"