Putri kerajaan yang hidup sebagai rakyat biasa dengan kisah asmara rumit, penuh perjuangan, dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dikAtHa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
"Fara tunggu, tunggu Fara" pinta Gabriel yang menghentikan langkah kaki Fara.
"Aku ingatkan sekali lagi, aku pergi membawa gelarku dan kali ini aku disini bukan sebagai adikmu. Melainkan seorang putri mahkota dari kerajaan Peward" ujar Fara yang lalu pergi.
Malam itu terasa sangat panjang, seakan waktu berjalan begitu lama. Gabriel dan Fara tak bisa tidur karna memikirkan pertengkaran mereka.
Hingga tengah malam terdengar Arjun sedang mengetuk pintu kamar Fara.
Tok... Tok... Tok....
Fara membuka pintu perlahan, lalu Arjun mengajak Fara keluar. Di ruang tamu Arjun memberi tahu Fara jika Eka dan Eko hampir ingin melarikan diri, namun telah tertangkap kembali.
"Putri, mau diapakan pak Eko dan bu Eka itu?" tanya Arjun.
"Ayo kita temui mereka" ajak Fara.
"Baik putri"
Arjun dan Fara pergi dengan membawa beberapa penjaga. Pada saat itu ternyata Gabriel belum tertidur, ia melihat mobil Fara keluar dengan beberapa penjaga yang ikut.
Mau kemana mereka? Lantas kenapa keluar diam-diam seperti itu? Ataukah mereka akan menemui pak Eko dan bu Eka yang sedang Fara tawan? Aku sangat penasaran....gumam Gabriel.
Setelah melewati hutan yang sepi dan gelap. Mereka juga harus melewati jalan setapak sebelum sampai tujuan.
"Apa disana ada lampu?" tanya Fara.
"Ya putri" jawab Arjun.
"Apa mereka sudah makan?"
"Sudah putri"
"Aku hanya butuh pengakuannya"
"Pengakuan seperti apa itu putri?"
"Nanti kau akan tahu"
"Baik putri"
15 menit berjalan, sampailah mereka disuatu rumah. Di depan sudah ada beberapa penjaga yang terus mengawasi sekeliling rumah.
Fara lalu masuk dengan ditemani Arjun, sedangkan penjaga yang ikut bersamanya dari rumah. Mereka hanya bertugas untuk menjaga mobil.
"Putri apa salahku?" tanya Eka.
"Katakan yang sebenarnya, siapa kalian? dan berada dipihak mana kalian berada?" tanya balik Fara.
"Kau pasti sudah mengetahui kami putri, lalu untuk apa lagi kami memberi tahu sesuatu yang sudah putri ketahui" ujar Eko.
"Aku mau tahu kebenaran itu dari mulut kalian dan jangan coba-coba kalian berbohong. Atau kalian tahu akibat dari yang kau lakukan" ancam Fara.
"Aku E.. Ekalana dan dia istriku Ekalauya" ujar Ekalana yang gemetar.
"Istri/saudara kandung?" tegas Fara.
"Dari mana putri tahu itu?" tanya Ekalauya yang heran.
"Aku sudah bilang jangan bodohi aku, dengan mengaku sebagai pasangan suami istri itu hanya sebuah kesia-siaan saja" ujar Fara.
"Ya kami memang adik kakak, namun orang tua kami yang bercerai semasa kecilah yang membuat kita terpisah" jelas Ekalana.
"Lalu?" tanya Fara.
"Raja yang menyatukan kami, namun pangeran Pratap... " ujar Ekalauya menggantung.
"Pangeran Pratap telah melenyapkan ayah kami untuk memperalat kami. Sampai diujung nafasnya, ibu kami ditawan oleh pangeran Pratap" sahut Ekalana
"Ya, padahal kami telah membantunya dalam mendapatkan kekuasaan dari raja Cundiga. Namun dia membalas dengan melenyapkan orang tua kami, hanya karna raja telah memberi sebuah wasiat pada semua saksi didepan pangeran Pratap" ujar Ekalauya.
"Bahwa pangeran Pratap hanya menjadi raja sementara menggantikan raja Cundiga, sampai putri Faradilla mencapai usia 17 tahun, maka kekuasaan kerajaan akan sepenuhnya berada ditangan putri Fara" lanjut Ekalana.
"Aku janji pada kalian, akan memberikan kalian imbalan dari semua kerugian yang kalian alami karena konspirasi pamanku. Tapi bolehkah aku minta satu hal" ujar Fara.
"Apa itu putri?" tanya Ekalana.
"Jadilah saksi saat sidang istana nanti, aku akan menghukum pamanku itu dengan hukuman yang pantas" ujar Fara yang terenyuh.
"Tentu putri" ujar antusias Ekalana.
"Apa kau tidak memiliki dendam untuk kami yang telah menghabisi ayah tercintamu putri" ujar Ekalauya yang merasa bersalah.
"Aku marah, kecewa, bahkan sangat terluka mendengarnya. Jika kalianlah yang telah membunuh ayahku, namun aku juga sadar jika ini bukan sepenuhnya salah kalian. Bagaimana mungkin aku menghukum busur dan anak panah yang digunakan oleh orang lain" jelas Fara.
"Ampuni kami putri, berilah kami hukuman agar kami tidak terus merasa bersalah" pinta Ekalana dan Ekalauya.
"Baiklah sebagai hukumannya, kalian harus tetap disini. Dibawah perlindunganku sampai nanti aku akan datang membawa kalian ke istana sebagai saksi nanti" ujar Fara yang lalu pergi.
Fara pergi meninggalkan rumah tersebut dan berlari menuju mobil, Arjun terus mengikutinya. Sampai dimobil Fara masuk mobil dengan wajah yang duka.
"Aku tahu putri amat sangat terluka, ceritakan saja padaku putri. Jika itu bisa sedikit mengobati luka dalam hati putri" ujar Arjum.
"Tidak perlu, aku harus tetap kuat untuk kak Gabriel ketika ia tahu nanti" ujar Fara.
"Jujur putri, ketika awal aku bertemu denganmu. Aku fikir putri itu adalah orang yang keras kepala dan tak memiliki hati. Namun setelah aku kenal putri, itu semua terasa mustahil. Memang putri orang yang dingin, tapi tak seburuk awal yang aku kira" ujar Arjun yang sedikit cengengesan takut jika Fara tak terima dengan ucapannya itu.
"Aku tak masalah, biarkan saja orang menganggapku buruk. Durian yang tajam tak menggambarkan kenikmatan dalamnya bukan" ujar Fara.
"Iya putri"
20 menit perjalanan berlalu, akhirnya sampai juga.
Dirumah.
Fara melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 02.19 dini hari. Ia pun pergi ke kamarnya untuk tertidur. Arjun juga pergi ke ruang keluarga untuk beristirahat.
Drrret.... Drrret.... Drrret...
pukul 06. 45 ponsel Fara terus saja berbunyi. Dengan mata yang masih lengket itu Fara mengangkat telfon dari Arka.
Arka: Bangun sayang, udah pagi nih.
Fara: Aku udah bangun, Arka.
Arka: Iya deh iya, udah makan belum?
Fara: Mandi aja belum, apalagi makan.
Arka: Pantas saja aku cium bau-bau busuk gitu.
Fara: Arka... emang bisa gitu telfonan aja, bau badan sampai situ?
Arka: Bisalah, akukan hebat. Masa pacarnya kuat aku enggak.
Fara: Ini ngeledek apa muji?
Arka: Hahaha... Muji sayang, mana mungkin aku brani ngledek tuan putri.
Fara: Udahlah males aku, kamu nyebelin.
Arka: Maaf-maaf, jangan ngambek sayang.
Fara: Bodo.
Arka: Ya udah kalo gitu, buruan mandi terus makan. Lanjut nanti ya, udah masuk ini.
Fara: Iya, semangat sayang.
Baru mematikan ponselnya Fara sudah dapat telfon masuk dari Bella.
Fara: Ada apa, Bel?
Bella: Jadi sekarang kalau aku telfon harus ada alasannya gitu, sedangkan Arka enggak.
Fara: Hah, maksudnya?
Bella: Ya, kalau Arka telfon langsung ngobrol banyak hal. Sedangkan denganku, enggak. Pertanyaanmu yang awal, seakan memaksaku untuk telfon kalau ada hal penting aja.
Fara: Enggak seperti itu, Bel
Bella: Halah, gak usah alasan aja. Dipikiranmu memang adanya cuma kekasihmu sajakan.
Fara: Cukup, Bel. Jangan sampai melampaui batasmu.
Bella: Melampaui batas bagaimana? Itu benar bukan.
Fara: CUKUP!!! Jika seperti ini terus, lebih baik kamu gak usah telfon aku lagi.
Fara langsung mematikan telfonnya, ia pun pergi mandi untuk sedikit meredakan amarah dihatinya.
semangatt
mampir ya ke cerita baru aku
2 👍
mampir juga ya kak di novelku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA
Lanjut, Thor. 😊
Semangat. 😉
Istriku mantanku
Ternyata Cinta Pertamaku