NovelToon NovelToon
Sistem Misi Polisi

Sistem Misi Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.

Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Anda di tangkap!

Tak butuh waktu lama bagi tim forensik dan Reno untuk bergerak cepat menjalankan perintah Nathan.

​Sembari menunggu hasil pengecekan rekaman CCTV, Nathan kembali melangkah ke dalam rumah TKP. Ia menghampiri ketua tim forensik yang sedang mengemas sampel darah di dekat jasad korban.

​"Dok, bagaimana dengan perkiraan waktu kematian korban?" tanya Nathan dengan suara rendah.

​Dokter forensik itu mengusap keringat di dahinya, lalu mendongak menatap Nathan. "Melihat dari penurunan suhu tubuh dan kaku mayat yang mulai terbentuk di area wajah serta leher, korban diperkirakan tewas sekitar tiga hingga empat jam yang lalu. Kira-kira antara pukul empat sore hingga pukul lima sore."

​Nathan menyipitkan matanya. Pukul empat sampai lima sore... Tepat sebelum Bram mengaku berangkat ke kantor.

​Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki bergegas terdengar dari arah luar.

Reno berjalan masuk kembali dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Wajah Reno tampak serius saat menghampiri Nathan.

​"Nat, aku baru saja menghubungi tim patroli yang memeriksa CCTV di sekitar kantor dan tempat klien yang disebutkan Pak Bram," bisik Reno pelan agar tidak terdengar oleh orang luar. "Hasilnya aneh. Bram memang datang bertemu klien jam enam sore, tapi rekaman CCTV pemukiman menunjukkan mobilnya baru keluar dari gang rumah ini jam setengah enam sore. Dan yang lebih mencurigakan, lokasi pertemuan klien hanya berjarak lima belas menit dari sini. Kenapa dia harus berputar-putar dulu?"

​Nathan tersenyum tipis. Semua potongan bukti kini telah lengkap dan mengunci sang pelaku.

​"Ayo keluar, Reno. Kita selesaikan kasus ini sekarang," ujar Nathan tenang.

​Di luar rumah, Bram masih duduk di tepi ambulans, memegang cangkir tehnya dengan wajah yang dipasang serapi mungkin dalam raut duka.

Ketika melihat Nathan dan Reno berjalan mendekat ke arahnya, raut wajah Bram mendadak sedikit tegang.

​Nathan berhenti tepat di hadapan Bram, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dinasnya.

​"Pak Bram, ada beberapa hal yang ingin saya konfirmasikan kembali terkait kesaksian Anda," buka Nathan dengan nada suara yang sangat santai namun menghipnotis.

​Bram mengusap matanya, berpura-pura lelah. "A-apa lagi, Pak Polisi? Saya sudah menceritakan semuanya. Bisakah saya pulang atau beristirahat? Saya sangat terguncang..."

​"Tentu, Anda boleh beristirahat... setelah menjawab tiga janggalan ini," potong Nathan dingin.

​Bram tertegun. Suasana di sekitar ambulans mendadak berubah menjadi sangat sunyi. Beberapa petugas polisi lain ikut menoleh, memperhatikan interaksi mereka.

​Nathan mulai membeberkan analisanya satu per satu:

​"Pertama, Anda mengaku sempat berlutut merangkul dan memeriksa nadi leher istri Anda yang bersimbah darah di lantai. Namun, jasad istri Anda tergeletak di tengah genangan darah yang sangat luas. Mengapa celana dan sepatu Anda sama sekali tidak bernoda darah sedikit pun?"

​Wajah Bram seketika memucat. Ia dengan cepat melihat ke arah sepatunya. "S-saya... saya berlutut agak jauh! Saya hanya menjangkau tangannya!"

​"Baiklah, anggap saja begitu," lanjut Nathan tanpa memberi jeda bagi Bram untuk bernapas. "Kedua, Anda bilang meninggalkan rumah pukul lima sore dan saat itu istri Anda masih hidup dalam keadaan baik-baik saja. Namun, tim forensik baru saja mengonfirmasi bahwa waktu kematian korban terjadi antara pukul empat hingga pukul lima sore. Artinya, istri Anda dibunuh saat Anda masih berada di dalam rumah ini."

​Tubuh Bram mulai gemetaran hebat. Cangkir kertas di tangannya remuk, merembeskan sisa teh ke jemarinya. "I-itu pasti salah perkiraan! Dokter forensik kalian yang tidak kompeten!"

​"Dan yang ketiga..." Nathan melangkah satu tindak lebih dekat, menundukkan pandangannya menatap lekat mata Bram. "Pintu brankas kamar Anda tidak mengalami kerusakan fisik sama sekali. Kuncinya dibuka menggunakan kode kombinasi yang benar. Hanya Anda dan korban yang tahu kode tersebut. Ditambah lagi, rekaman CCTV membuktikan mobil Anda sempat berputar ke arah dermaga tua sebelum Anda pergi menemui klien."

​Nathan menepuk bahu Reno. "Reno, tolong periksa bagasi mobil Pak Bram yang terparkir di ujung jalan. Saya yakin perhiasan dan uang yang diklaim 'dicuri' itu sebenarnya ada di sana, atau mungkin disembunyikan di dalam tas kerjanya."

​Mendengar hal itu, pertahanan mental Bram seketika hancur berkeping-keping.

Pria itu menyadari bahwa seluruh skenario 'perampokan sempurna' yang disiapkannya telah dibongkar habis oleh Nathan hanya dalam hitungan jam.

​"A-aku... aku tidak bermaksud..." bisik Bram gagap.

​Raut wajah dukanya sirna, berganti dengan raut wajah keputusasaan yang mengerikan. Bram mendadak histeris dan bersimpuh di atas tanah.

​"Dia selalu menuntut uang! Dia selingkuh dan mengancam akan menghabiskan seluruh harta saya!" teriak Bram frustrasi, air matanya kini benar-benar menetes karena rasa takut akan hukuman. "Saya gelap mata! Saya tidak punya pilihan lain!"

​Reno menggelengkan kepala, merasa muak dengan alasan pria di hadapannya. Tanpa membuang waktu, Reno melangkah maju dan menarik kedua tangan Bram ke belakang, lalu memasangkan borgol besi yang berdenting nyaring.

​"Bram, Anda ditahan atas dugaan pembunuhan berencana dan memberikan kesaksian palsu," tegas Reno sembari menyeret Bram menuju mobil tahanan.

​Beberapa polisi yang bertugas di lokasi menatap Nathan dengan pandangan kagum dan tak percaya.

Kasus yang tadinya dikira perampoka berhasil dipecahkan secara instan hanya melalui ketelitian analisis seorang Nathan.

​Waktu menunjukkan pukul dua dini hari ketika Nathan akhirnya melangkah kembali ke dalam rumahnya yang sunyi.

​Nathan melepas jaket dinasnya, menggantungnya di rak dekat pintu, lalu berjalan pelan menuju ruang tengah.

​Di sana, di atas sofa empuk, Lisa tampak tertidur lelap. Selimut tipisnya sedikit melorot ke lantai, dan napasnya terdengar teratur. Kacamata barunya diletakkan rapi di atas meja kopi.

​Nathan berdiri sejenak memperhatikan wanita aneh tersebut. Senyum tipis yang tak disadari mengukir di bibir Nathan.

​Ia mengambil selimut yang jatuh, lalu perlahan menyelimuti tubuh Lisa kembali hingga sebatas dada agar wanita itu tidak kedinginan di tengah malam salju ini.

​"Dasar aneh..." gumam Nathan pelan.

​Nathan lalu berjalan menuju kamarnya sendiri, siap merebahkan tubuhnya yang lelah setelah menyelesaikan satu lagi kejahatan di kota ini.

1
Kaisar surgawi
sorry ini gw skip , karna apa ? sistemnya cuman memberikan uang, tidak kemampuan
Maul: gapapa kak. terima kasih sudah baca /Pray/
total 1 replies
Dragonovic
up👍👍👍
Dragonovic
up👍
Jonatan Revan
novel yang sangat baguss
Maul: terima kasih banyak atas ulasannya. yuhuh🍜/Determined/
total 1 replies
Jonatan Revan
saran yah thor bab nya bisa di kasih panjang lagi gak terlalu pendek
Maul: di usahakan ya hehe/Smile/
total 1 replies
Maul
🍝
Maul
🍜
Maul
/Coffee//Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
🍜/Coffee/
Maul
🍝🥘
Maul
🍔🍹
Maul
/Rice/🍜
Maul
/Coffee//Watermalon/
Maul
/Cake/
Maul
/Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙞𝙠𝙨𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖. 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖
Maul
...
Maul
𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!