Tak kusangka aku bahagia bisa memiliki keluarga kecil.
Sebuah cerita perjuangan gadis yang bernama Indira Mahesa, gadis yang memiliki karir begitu baik. Harus menghadapi pernikahan yang terjadi karena pembalasan dendam yang salah sasaran.
Pria tampan yang bernama Abian Malik seorang pengusaha kaya yang mampu mencuri hati semua wanita termasuk sang sekertarisnya yang tidak lain adalah sepupunya sendiri.
Akankah pernikahan mereka mampu bertahan?
Mohon untuk tidak promosi di lapak ini🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Abian
Di meja makan Abian yang terlihat sejak tadi terus menatap Indira begitu tajam begitu sangat menakutkan. Indira yang berusaha baik-baik saja menyembunyikan kakinya dengan menutup kaki sebelah.
"Ada apa dengannya? jangan sampai hari ini aku gagal untuk bekerja." ucapnya dalam hati sambil menundukkan pandangan dari Abian.
"Anda mau bertemu dengan siapa?" Zanna yang berusaha menghalangi seorang pria masuk ke dalam rumah Abian.
Abian yang melihat kehadiran pria itu segera menegur Zanna. "Biarkan dia masuk."
"Tapi, Tuan-" (ucapan Zanna terhenti ketika mendapat tatapan tajam lagi dari Tuan mudanya.
"Kau sudah tiba, Bram?" tanya Abian dengan datarnya.
"Sudah, Tuan." jawab Bram dengan menunduk sopan.
Indira yang melihat kehadiran pria menyeramkan itu bertanya-tanya begitu juga dengan Zanna mereka sama sekali tak mengenali Bram.
Dengan cepat Abian menyelesaikan sarapannya begitu juga dengan Indira, Bram yang berdiri sejajar dengan Zanna mendapat tatapan tidak enak dari wanita itu. Sementara Bram hanya terus memandang ke arah depan tanpa mau memperdulikannya.
"Kau bisa pergi dengan Zanna." pintah Abian pada Indira yang membuatnya membuka mulut tak percaya.
"Apa Tuan?" tanya Zanna tak kalah terkejutnya oleh Indira.
"Apa aku harus dengan Zanna?" tanya Indira berusaha meyakinkan dirinya.
"Pergi dengan Zanna atau tidak sama sekali." sahut Abian dengan tegasnya.
Mau tidak mau Indira harus pergi dengan Zanna dari pada ia harus mengurung diri di rumah neraka itu setidaknya di luar sana ia bisa berkomunikasi dengan manusia normal. "Iya baiklah aku akan pergi dengan Zanna." jawabnya lalu mengambil tas.
Kini Zanna bersama Indira pergi di antar dengan supir, sementara Abian pergi bersama Bram ke kantor. Wajah Indira yang tadinya bahagia berubah menjadi menekuk lagi-lagi Zanna harus bersamanya. Di kantor Indira di sambut hangat oleh pemilik perusahaan itu. Setelah masuk ke ruang Direktur Utama kini Indira mulai mempresentasikan rancangan di layar.
Melihat rancangan yang sangat menarik lagi-lagi Indira mampu mencuri hati Dirut dengan kepuasan yang Indira berikan. Setelah selesai sesi persentasi itu kini Indira mulai masuk ke ruangan untuk memulai pemotretan sekaligus.
Zanna yang terus mengikuti Indira kemana pun ia pergi kini tak lagi membuatnya gelisah, setidaknya Zanna membiarkannya bernafas dan bergerak bebas itu sudah jauh lebih cukup untuk saat ini.
Semua yang ada di ruang pemotretan tampak kagum melihat kemolekan tubuh Indira yang sangat sempurnah, beberapa gaun yang ia pakai semua sangat menarik tidak ada yang terlihat jelek jika di pakai di tubuhnya.
"Nona, anda sangat cantik benar adanya yang kami lihat di berita anda sangat cantik." puji para kru yang berada di ruangan itu.
Indira yang mendengar pujian itu tersenyum dengan elegan seakan senyuman itu semakin membuat para mata begitu tak terkendali. "Kalian ini, terimkasih yah." jawabnya.
"Tuan Abian sangat beruntung bisa memiliki anda, Nona." sahut fhotografer itu lagi.
"Ehem, kalian bisa memanggilnya Nyonya muda." sahut Zanna yang mengheningkan suasana saat itu.
Indira yang menatap kesal Zanna menghela nafas kasarnya. "Sudahlah kalian panggil sesuka kalian saja yah." sahut Indira dengan ramahnya.
Hari tidak terasa sudah sore, Indira dan Zanna yang baru saja kelua dari kantor itu terlihat biasa-biasa saja. Indira memang benar sangat merasakan senang, namun ia tidak ingin begitu menunjukkannya pada Zanna. Mobil pun melaju ke arah kediaman Malik dengan kecepatan sedang, di kamar Abian yang tengah bolak balik dan beberapa kali melirik jam tangan mewah yang meligkar di tangannya.
"Kemana mereka?" umpat kesal Abian.
Beberapa menit kemudian Indira dan Zanna tiba di kediaman, dengan rasa bahagia Indira berlari melangkah ke araha kamarnya. Wajahnya yang sejak tadi ia tahan untuk bahagian kini terlampiaskan, hari pertama ia bekerja rasanya sangat menyenangkan.
Tangan mungil wanita itu membuka pintu dengan cepatnya, seketika wajah yang tersenyum kembali mengencang tanpa ekspresi. Mata bulatnya melirik sosok pria yang menatap kedatangannya di dalam kamar.
"Brakkkk." Suara ponsel yang ia banting tepat terjatuh di samping kaki Indira.
Indira yang melihat kemarahan suaminya seetika tubuhnya bergetar hebat, ia sangat takut. "Ada apa ini? apa lagi salahku sih?" gumamnya tanpa berani bertanya.
Matanya menatap benda yang sudah hancur di samping kakinya, ponsel yah itu adalah ponsel milik Indira yang Abia hancurkan. Mata Indira tanpa bisa tertahan lagi meneteskan kristal bening terus menerus. Hatinya begitu sakit melihat ponsel kesayangannya hancur. Barang itu adalah pemberian terakhir dari Tuan Damar saat Indira ingin pergi ke London. D bandara Tuan Damar memberikannya tanpa memberi tahu Indira.
"Papi, barang satu-satunya yang Papi berikan sudah hancur. Maafkan Indira Pi, Indira tidak bisa menjaganya dengan baik." ucap lirih wanita itu dalam hatinya.
Abian yang melangkah mendekat dan mendekat lagi kini terlihat sangat marah. "Kau pergi seharian, apa kau tidak sadar jika kau sudah menikah?" pekik Abian dengan mencengkram kedua lengan istrinya.
"Mak-sudnya apa?" tanya Indira dengan takutnya.
"Aku mengijinkanmu pergi tapi tidak seharian, dan apa itu ponselmu kau tinggal. Harusnya kau mengirimkan gambar aktifitasmu atau menghubungiku melalui panggilan video. Apa kau tidak tahu itu?" sentak Abian yang membuat Indira mengernyitkan dahinya.
"Sejak kapan ada peraturan seperti itu? dan apa gunanya aku melakukan panggilan video pada si Malik ini bukankah itu hal yang konyol?" ucap Indira dalam hatinya.
"Apa kau tidak mendengarku Indira Mahesa!" tegas Abian yang wajahnya sudah mulai memerah.
Seketika bahu Indira terkejut mendengar sentakan itu. "Iya a-ku mendengarmu." jawabnya terbata-bata.
"Ta-pi untuk apa aku menghubungimu di saat aku bekerja?" tanyanya lagi.
membaca smbil meraba2 jalN ceritanya...
rada bingung
apa latiahan karate...
oohh AQ tkungfuu Jecky Chen
naah ituu baru nama panjangnya thorrrr....
😅😅
ternyata kau bisa juga malu2 meong...
karya mu luar biasa