Katarina terjebak dalam raga seorang gadis malang yang tinggal di panti asuhan, Karina Putri.
Namun sebuah takdir mempertemukannya dengan seorang wanita kaya raya yang tiba-tiba mengangkat Karina sebagai putri angkatnya.
Tetapi bukan itu masalahnya, melainkan tiga kakak angkat Karina yang ternyata adalah tokoh utama dalam novel yang pernah dibacanya. Lalu takdir ketiga kakak angkatnya tidaklah baik, mereka akan mati ditangan tokoh utama wanita.
Namun, Karina tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia akan mengubah takdir ketiga kakak angkatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Sebenarnya Karina dilarang untuk ikut ke rumah sakit, tetapi gadis itu menangis… karena ingin tahu keadaan kakak pertamanya.
Jadinya, sekarang Karina harus menahan rasa pusing di kepalanya agar tidak membuat keluarga angkatnya semakin khawatir.
Saat ini mereka semua berada di depan IGD, menunggu Joshua yang tengah menangani Jemian di dalam sana.
Joshua yang tengah makan malam dengan tunangannya, langsung bergegas ke rumah sakit… saat mendengar kabar kalau kakak kembarnya mengalami kecelakaan.
“Keras kepala!” Decak Jevan yang duduk di sebelah Karina.
Karina tidak menjawabnya, ia memilih menyandarkan kepalanya yang terasa berat di bahu kakak ketiganya dan Jevan tidak ada niatan untuk menjauhkan kepala sang adik, karena saat ini Karina sedang sakit.
Gadis itu memejamkan matanya sejenak, ia langsung teringat dengan adegan di dalam novel yang dimasukinya. Ternyata sudah dimulai.
Jemian kecelakaan, karena sang calon istri… Serana terus mendesaknya agar lebih cepat untuk menjemputnya, sehingga Jemian kehilangan fokus menyetir dan mengakibatkan sebuah kecelakaan yang cukup parah.
Ini adalah awal mula dari semua kejadian-kejadian buruk yang akan menimpa ketiga kakaknya, jadi Karina harus segera memikirkan cara untuk menghentikan semuanya.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Tanya Jevan yang melihat guratan samar di kening sang adik.
Karina membuka matanya, saat merasakan usapan lembut di keningnya. Mata sayunya bertemu dengan mata tajam Jevan yang menatapnya begitu dalam.
“Kak Jemian,” jawab gadis itu.
Gerakan tangan Jevan terhenti, entah mengapa ia sedikit tidak suka mendengar Karina memikirkan pria lain. Namun Jevan tidak mengerti dengan perasaan aneh yang hanya muncul saat bersama Karina.
Sedangkan Karina kembali mengingat lagi apa saja adegan penting yang harus ia cegah, agar ketiga kakaknya tidak celaka.
‘Kalau aku meminta Kak Jemian dan Kak Jo menjauhi calon istri mereka, itu akan terdengar aneh dan bisa saja mereka akan membenciku. Jadi, aku harus memikirkan cara lain!’
Namun Karina tidak memiliki kekuatan untuk mencari bukti kalau calon istri Jemian dan tunangan Joshua bukanlah orang yang baik, apalagi saat ini kedua kakaknya itu sangat mencintai tokoh utama wanita.
“Serana kenapa tidak datang? Padahal Jemian kecelakaan, karena ingin bertemu dengannya,” ucap Lesa yang tampak kesal, di sela-sela kekhawatirannya.
“Mungkin masih dalam perjalanan,” Xander mencoba menenangkan istrinya.
Lesa mendengus pelan, dari awal wanita paruh baya itu memang sedikit tidak setuju saat Jemian menjalin hubungan dengan Serana. Namun Lesa tidak bisa melakukan apa-apa, karena Jemian sangat mencintai Serana yang merupakan teman sekolahnya.
“Sepertinya Serana memang tidak cocok untuk menjadi calon istri Jemian,” Lesa tidak bisa menahan isi hatinya.
Karina langsung menoleh ke arah mamanya, ternyata Lesa sudah menyadari kalau Serana bukanlah orang yang baik.
“Tenanglah, ini di rumah sakit. Kita tidak boleh membicarakannya di sini!” Bisik Xander yang membuat sang istri kembali mendengus kesal.
Lesa memilih untuk berpindah tempat duduk di sebelah Karina, lalu ia memeluk sang putri yang tubuhnya masih begitu hangat.
“Sayang, kamu pulang ya? Di luar terus, nanti demammu tidak akan sembuh!” Lesa mengkhawatirkan putrinya.
“Tapi Kak Jemian?” Karina masih ingin menunggu Joshua keluar dan memberitahu bagaimana keadaan Jemian.
“Nanti Mama akan menghubungimu kalau Kak Jemian selesai diperiksa, sekarang kamu pulang sama Kak Jevan ya?” Lesa melepas pelukannya.
Karina tidak bisa menolaknya, gadis itu menganggukkan kepalanya dan membuat Lesa tersenyum lega.
“Jevan, jaga Karina! Kalau terjadi sesuatu, hubungi Mama atau Papa!” Pesan Lesa kepada putra ketiganya.
Jevan menganggukkan kepalanya, sebelum menggerakkan tangannya untuk merangkul bahu Karina yang masih belum kuat untuk berjalan sendiri.
Sekarang sudah malam dan di rumah sakit cukup sepi, jadi Jevan tidak perlu repot-repot memakai topi atau masker untuk menutupi wajahnya. Namun kini giliran Karina yang memakai tudung jaketnya dan masker, agar udara dingin tidak membuat demamnya semakin parah.
“Kenapa Kak?” Tanya Karina saat Jevan tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Pria itu tidak langsung menjawabnya, ia menoleh ke tempat yang cukup gelap dan sebuah titik putih terlihat samar dari penglihatannya.
“Menyusahkan saja,” gumam Jevan yang membuat Karina langsung menarik tubuhnya.
Gadis itu tidak ingin menyusahkan kakak ketiganya, jadi ia mencoba untuk berjalan tanpa bantuan Jevan… sehingga dirinya hampir terjatuh, kalau saja Jevan tidak cepat menahannya.
“Kenapa main pergi begitu saja?” Marah pria itu.
“Aku tidak mau menyusahkan Kak Jevan,” jawab Karina yang salah paham dengan perkataan Jevan tadi.
“Bukan untukmu, tapi untuk paparazi yang diam-diam memfoto kita!” Bisik pria itu yang membuat Karina langsung menoleh ke tempat gelap yang tadi dilihat oleh sang kakak.
Wajah mereka sangat dekat, dan kilatan putih kembali muncul untuk mengambil foto mereka berdua. Jevan segera menggendong adiknya, karena ia tidak ingin semua orang tahu tentang Karina.
Bukan tanpa alasan, Jevan hanya tidak ingin sang adik ikut terserat dalam dunianya yang merupakan seorang artis. Apalagi kalau sampai ada yang menyerang Karina nanti, Jevan pasti akan kena marah oleh mamanya.
“Kak, terus ini gimana?” Tanya Karina saat mereka sudah memasuki mobil Jevan.
“Biarin aja, nanti mereka akan berhenti sendiri. Asal kamu jangan ngaku kalau yang difoto adalah dirimu,” jelas Jevan yang tengah fokus dengan jalanan di depannya.
Diam-diam Karina membuka ponselnya dan saat dirinya mencari nama kakak ketiganya, foto yang diambil tadi sudah menyebar dengan cepat dan beberapa komentar mulai memenuhi foto tersebut.
Ada komentar baik, ada yang netral dan yang lebih banyak adalah komentar pedas.
“Jangan main ponsel!” Jevan merebut ponsel adiknya yang masih menyala, saat mobil berhenti di lampu merah.
Karina tersentak kaget, ia tidak bisa merebut kembali ponselnya yang sudah masuk ke dalam saku jaket Jevan.
“Perjalanan masih jauh, macet lagi. Jadi tidur saja, agar kamu tidak semakin pusing!” Satu tangan Jevan mengusap puncak kepala sang adik.
Karina mulai mengantuk, karena merasakan usapan lembut di kepalanya. Gadis itu memejamkan matanya dan tidak membutuhkan waktu lama untuknya terlelap.
Jevan tersenyum tipis, ia menarik tangannya yang tadi mengusap puncak kepala Karina untuk menarik pelan bahu gadis itu agar bersandar di bahunya.
“Sangat keras kepala! Sudah tahu sedang sakit, tapi tetap saja mengkhawatirkan orang lain!” Jevan mengecup puncak kepala sang adik yang bersandar di bahunya.
Setelah lampu berubah menjadi warna hijau, Jevan kembali menjalankan mobilnya dengan pelan agar tidur Karina tidak terganggu.
Entah mengapa, malam ini Jevan merasa begitu senang. Namun, pria itu masih tidak mengerti dengan perasaan asing ini…
Bersambung!
semangat thor 💪💪