Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinyal yang Rusak di Batas Cakrawala
Hari kedua di pulau pribadi itu berjalan seperti sebuah mimpi yang enggan Elena akhiri. Tanpa gaun formal, tanpa riasan tebal, dan tanpa tatapan penuh selidik dari para elit sosialita Manhattan, Elena merasa hidupnya telah kembali.
Dia menghabiskan waktu paginya duduk di beranda kayu pondok batu, mengenakan kaos longgar berwarna merah muda lembut dan celana kain santai, dengan sebuah papan sketsa di pangkuannya. Jemari lenturnya bergerak lincah, menari di atas kertas, mencoba menangkap siluet pohon cemara laut dan hamparan ombak yang berkilau diterpa cahaya matahari.
Namun, objek utama lukisannya hari ini bukanlah alam. Di sudut kanvasnya, terdapat sketsa wajah seorang pria berahang tegas dengan tatapan mata abu-abu yang tajam namun menyimpan kelembutan tersembunyi.
Nicholas.
Pria itu sedang berada di tepi pantai, hanya mengenakan celana pendek hitam tanpa atasan. Tubuh tegapnya yang dipenuhi guratan otot matang dan tato tribal hitam tampak berkilau oleh keringat saat dia memotong beberapa balok kayu cemara kering untuk persediaan perapian malam nanti.
Setiap ayunan kapak di tangan kanannya memperlihatkan kekuatan yang sanggup mematahkan tulang musuh-musuhnya dalam sekali gerak. Namun, di tempat ini, kekuatan itu hanya digunakan untuk kenyamanan wanita yang dicintainya.
Nicholas menancapkan kapaknya di balok kayu terakhir, menyeka keringat di dahinya dengan lengan kiri, lalu memutar tubuhnya menghadap pondok. Begitu matanya menemukan sosok Elena yang sedang memperhatikannya dari beranda, senyuman tipis yang sangat menawan seketika terukir di wajahnya. Pria itu berjalan mendekat, membelah hamparan pasir putih dengan langkah kakinya yang panjang dan santai.
"Kau sedang memata-matai suamimu lagi, Elena?" suara Nicholas berat dan serak, bergaung rendah saat dia menginjak anak tangga beranda kayu.
Elena merasakan pipinya merona merah muda, memalingkan wajahnya ke arah laut seolah-olah sedang tidak peduli. "Aku hanya sedang melukis pemandangan laut. Kebetulan saja ada seorang pria paruh telanjang yang merusak estetika kanvasku."
Nicholas tertawa rendah, sebuah suara tawa yang begitu lepas yang kini menjadi melodi favorit Elena. Pria itu melangkah mendekati kursi Elena, menundukkan tubuhnya yang besar, lalu mengurung Elena dengan meletakkan kedua telapak tangannya di sandaran tangan kursi rotan yang diduduki istrinya.
Aroma maskulin yang pekat bercampur dengan wangi asin laut dan sisa keringat yang sensual langsung mengepung indra penciuman Elena.
Nicholas melirik ke arah papan sketsa. Mata abu-abunya menyipit jenaka saat melihat detail wajahnya sendiri yang digambar begitu sempurna oleh Elena.
"Estetika yang merusak, hm?" bisik Nicholas tepat di dekat telinga Elena, hembusan napasnya yang hangat membuat bulu kuduk gadis itu meremang indah. Nicholas menunduk lebih dalam, mengecup rahang lembut Elena, lalu bergerak naik untuk mematuk bibir istrinya dengan sebuah kecupan dalam yang singkat namun sarat akan gairah posesif.
"Lukisanmu sangat bagus. Tapi aku jauh lebih suka jika kau menikmati objek aslinya secara langsung di dalam kamar tidur kita nanti malam."
"Nicholas, hentikan... ini masih siang," cicit Elena, jantungnya berdegup kencang oleh godaan suaminya. Dia meletakkan papan sketsanya di meja kecil, lalu mengulurkan tangannya yang bersih untuk menyeka sebutir keringat yang mengalir di pelipis Nicholas dengan ibu jarinya.
"Bagaimana dengan bahumu? Apakah goresan peluru itu terasa nyeri saat kau mengayun kapak tadi?"
Nicholas menangkap pergelangan tangan Elena, mengecup telapak tangan lembut istrinya dengan penuh pengabdian. "Berkat jemari dokter pribadiku yang luar biasa lembut, lukanya sudah tidak terasa sama sekali. Aku sudah benar-benar pulih, Elena."
Nicholas menarik Elena agar bangkit dari kursinya, membawa tubuh kecil gadis itu masuk ke dalam pelukannya yang kokoh. Mereka berdua berdiri di beranda, menatap hamparan samudra yang luas dalam keheningan yang begitu damai, membiarkan angin laut mempermainkan rambut mereka yang saling bersinggungan.
---
Namun, kedamaian di pulau rahasia itu mendadak retak tepat ketika matahari mulai tenggelam di batas cakrawala, mengubah warna langit menjadi merah darah yang pekat.
Di dalam ruang tengah pondok, sebuah perangkat telepon satelit khusus satu-satunya alat komunikasi darurat yang terhubung dengan jaringan enkripsi Christian tiba-tiba berdering nyaring. Suara deringan itu terdengar begitu asing, menusuk keheningan rumah seperti alarm bahaya yang mematikan.
Nicholas yang sedang menyalakan api di perapian batu seketika menghentikan gerakannya. Wajah santainya langsung mengeras, digantikan oleh ekspresi waspada dan dingin seorang bos mafia tertinggi dalam hitungan detik. Pria itu bangkit, melangkah cepat menuju meja sudut tempat telepon satelit itu berada, dan mengangkat gagangnya.
"Barrett di sini," ucap Nicholas pendek, suaranya sedingin es.
Suara Christian terdengar dari balik pelantang suara, namun suaranya terputus-putus akibat gangguan sinyal badai elektromagnetik yang mulai mendekati wilayah pantai timur.
"Mr. Barrett... bzzt... kita punya situasi... bzzt... di Manhattan."
Nicholas menyipitkan matanya, cengkeramannya pada gagang telepon mengencang. "Christian, bersihkan sinyalmu. Apa yang terjadi?"
"Marcus Moreno... bzzt... dia tidak berada di sarangnya, tuan. Laporan intelijen kita... bzzt... salah. Moreno telah mengumpulkan sisa-sisa pasukannya dari faksi selatan. Dia tidak mengincar pelabuhan lagi... dia tahu tentang pulau rahasia Anda, Sir! Dia... bzzt... dia sedang menuju ke sana dengan dua kapal perang cepat milik kartel luar! Mereka ingin memutus jalur pelarian Anda dan... bzzt... menghancurkan Anda bersama Nyonya Barrett!"
Jantung Elena yang berdiri beberapa meter di belakang Nicholas seketika mencelos jatuh. Rasa takut yang masif kembali mencengkeram dadanya. Marcus Moreno tidak menyerah; pria itu justru melakukan pertaruhan terakhir yang paling nekat dengan menyerang pulau pribadi Nicholas.
"Christian! Kapan mereka memperkirakan tiba di koordinatku?!" tanya Nicholas dengan bentakan rendah yang sarat akan otoritas militer yang tak terbantah.
"Kurang dari... bzzt.. empat puluh menit, tuan! Kami sedang mengirimkan helikopter tempur dan tim Alpha, tapi badai di lepas pantai... bzzt... memperlambat pergerakan kami! Anda harus bertahan bersama Nyonya di dalam benteng pondok batu sampai kami tiba! Jangan... bzzt... pip-pip-pip..."
Sambungan telepon satelit itu mendadak terputus total. Sinyal mati. Ruang tengah kembali dilingkupi oleh kesunyian, namun kali ini kesunyian itu terasa begitu meneror.
Nicholas meletakkan kembali gagang telepon dengan perlahan. Dia memutar tubuhnya, menatap Elena yang kini berdiri dengan wajah pucat dan tubuh yang sedikit bergetar. Sisi lembut Nicholas yang penuh godaan tadi siang kini telah hilang tanpa sisa yang berdiri di depan Elena sekarang adalah sang penguasa kegelapan pantai timur yang siap membantai siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Nicholas melangkah cepat mendekati Elena. Dia tidak memeluknya dengan kelembutan, melainkan mencengkeram kedua bahu Elena dengan kukuh, mengunci pandangan abu-abunya yang tajam pada mata istrinya.
"Dengar aku baik-baik, Elena," ucap Nicholas, suaranya sangat rendah namun sarat akan keyakinan yang mutlak.
"Moreno mengira aku lemah karena aku berada di pulau ini sendirian tanpa pasukanku. Dia salah besar. Benteng batu pondok ini memiliki ruang bawah tanah rahasia yang dilapisi baja antipeluru setebal dua puluh sentimeter. Kau akan masuk ke sana, mengunci pintunya dari dalam, dan jangan pernah membukanya sampai kau mendengar suaraku yang memanggil namamu. Paham?"
"Nicholas, tidak! Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian di atas!" Elena berteriak, air mata kecemasan mulai mengalir deras di pipinya.
"Mereka membawa pasukan banyak, sedangkan kau hanya sendiri!"
Nicholas menundukkan kepalanya, menyatukan kening mereka dengan sentakan lembut. Dia mengusap air mata di pipi Elena dengan ibu jarinya yang kasar untuk terakhir kalinya sebelum perang dimulai.
"Aku tidak sendiri, Elena. Aku memiliki duniaku yang harus kujaga... duniaku adalah kau," bisik Nicholas dengan nada serak yang sarat akan cinta yang teramat masif.
"Aku adalah Nicholas Barrett. Pria yang telah membantai ratusan musuh untuk membangun kekaisaranku. Orang-orang seperti Moreno tidak akan pernah bisa merebut nyawaku dari sisimu. Sekarang, masuklah ke dalam, elena. Biarkan aku menyelesaikan tugas kotorku di luar."
Nicholas melepaskan cengkeramannya, berjalan menuju lemari pajangan kayu di sudut ruangan yang ternyata memiliki kompartemen rahasia di bagian bawahnya.
Pria itu membukanya, mengeluarkan dua senapan serbu taktis laras panjang dan beberapa magasin peluru penuh, lalu menyiapkannya dengan gerakan yang luar biasa efisien.
Di bawah bias cahaya merah matahari senja yang mulai menghilang di jendela, sang bos mafia telah siap menyambut musuh-musuhnya dengan tumpahan darah yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup mereka.