NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Bab 29

Seharian penuh, pikiranku benar-benar tidak bisa lepas dari satu nama saja: Kakek Satria. Bahkan saat rapat resmi sedang berlangsung, berkali-kali aku merasa kesadaranku melayang pergi, seolah bagian dari diriku tidak lagi berada di ruangan itu.

“Bu Violet?”

Suara lembut namun tegas dari Rina, sekretarisku, berhasil menarikku kembali ke kenyataan. Aku segera mengangkat kepala, dan baru menyadari bahwa seluruh peserta rapat sedang menatap ke arahku dengan tatapan bertanya-tanya. Bahkan Direktur Pemasaran yang sejak tadi menjelaskan strategi penjualan kuartal mendatang pun telah berhenti berbicara, menunggu tanggapan atau persetujuan dariku.

Aku mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan pandangan, lalu tersenyum tipis mencoba menutupi kekeliruan. “Maaf, saya sedikit teralihkan. Sampai bagian mana tadi kita bahas?”

Beberapa orang saling berpandangan sekilas, tampak bingung namun tetap sopan. Rina yang duduk di sampingku segera membuka buku catatannya dan menjawab dengan tenang, “Kita baru saja membahas revisi anggaran promosi untuk kuartal ketiga tahun ini, Bu.”

“Baiklah, silakan dilanjutkan lagi,” ucapku sambil menarik napas panjang dan mencoba mengumpulkan kembali konsentrasiku.

Namun baru lima menit berlalu, pikiranku kembali melayang jauh. Bayangan sosok Kakek Satria, tatapannya yang tajam dan pandangannya yang seolah bisa menembus rahasia terdalam seseorang, terus berputar di kepalaku. Kenapa tiba-tiba beliau ingin bertemu denganku secara langsung? Apakah ini karena aku menolak lamaran yang diajukan atas nama Arga? Atau ada alasan lain yang jauh lebih besar dan tersembunyi di balik keinginan itu? Aku tahu betul, pria tua itu bukan tipe orang yang suka membuang waktu dan tenaga hanya untuk urusan yang dianggapnya sepele. Jika sampai ia turun tangan sendiri dan mengirim pesan undangan, maka pasti ada sesuatu yang sangat penting, bahkan mungkin berbahaya, yang sedang berlangsung.

Setelah rapat akhirnya berakhir, aku segera kembali ke ruang kerjaku. Di atas meja kerja sudah menunggu tumpukan dokumen dan laporan yang harus aku periksa serta tanda tangani hari itu juga. Biasanya, pekerjaan seperti ini terasa sangat mudah bagiku. Aku bisa memeriksa puluhan laporan keuangan dan rencana proyek dalam waktu singkat tanpa kesulitan sedikit pun. Namun hari ini terasa sangat berbeda—sangat berbeda.

Aku membaca lembaran laporan keuangan yang sama hingga tiga kali berturut-turut, namun setiap kali selesai membaca, aku baru sadar bahwa pikiranku tidak menangkap satu pun angka atau penjelasan yang tertulis di sana. Aku hanya melihat tulisan dan angka, tapi tidak memahami maknanya. Dengan perasaan kesal dan lelah, aku menghela napas panjang, lalu mencoba membacanya lagi dari awal dengan lebih serius.

Belum lama aku mulai membaca, terdengar ketukan pelan di pintu ruangan.

“Masuk,” jawabku singkat.

Pintu terbuka dan Rina melangkah masuk sambil membawa beberapa map tambahan yang cukup tebal. “Bu, ini berkas kerja sama dengan perusahaan mitra yang harus ditandatangani dan dikirim kembali hari ini juga sebelum jam kantor tutup.”

Aku menerima map itu dan meletakkannya di meja, lalu membuka halaman pertama. Mataku bergerak turun mengikuti tulisan, namun lagi-lagi pikiranku melayang pergi. Aku teringat bahwa saat ini Papa sedang berada di Paris untuk urusan bisnis. Jika mengikuti alur kejadian di kehidupan sebelumnya, beliau baru akan pulang keesokan paginya. Dan begitu Papa tiba di rumah, tidak ada alasan lagi bagiku untuk menunda pertemuan yang diminta Kakek Satria.

“Bu Violet?”

Suara Rina kembali memecah keheningan, membuatku tersentak kaget.

“Hah? Iya, ada apa?” tanyaku sambil mengangkat wajah.

“Apakah ada yang salah dengan isi dokumennya? Sejak tadi Ibu membaca halaman yang sama selama hampir sepuluh menit,” tanyanya dengan nada hati-hati, tampak khawatir melihat keadaanku yang tidak biasa.

Aku menatap lembaran kertas di tanganku, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum kecil yang terasa getir. “Tidak ada yang salah, Rina. Hanya saja… pikiranku sedang agak kacau hari ini.”

Rina terdiam sejenak, lalu mengangguk mengerti tanpa banyak bertanya lebih lanjut. “Baiklah, kalau begitu saya tinggalkan dulu. Jika ada yang dibutuhkan, silakan panggil saya.”

Begitu ia keluar dan menutup pintu, aku hanya bisa menghela napas lagi. Bahkan sekretarisku yang biasanya sangat teliti saja sampai menyadari ketidaknormalanku hari ini. Sepertinya kekhawatiranku sudah terlihat jelas dari luar.

Menjelang sore, beberapa kepala divisi dan direktur kembali datang ke ruanganku untuk menunggu keputusan akhir terkait beberapa proyek besar yang akan diluncurkan bulan depan. Biasanya, aku sudah bisa langsung menelaah poin-poin penting dan memberikan persetujuan atau revisi dengan cepat. Namun hari ini, aku tidak berani mengambil risiko sedikit pun. Aku menutup kembali map terakhir yang baru saja aku baca, lalu menatap mereka satu per satu.

“Kita tunda pembahasan ini dan lanjutkan besok pagi saja,” ucapku tegas.

Mereka saling berpandangan dengan wajah sedikit terkejut. “Ditunda sampai besok, Bu?” tanya salah satu direktur dengan nada ragu.

Aku mengangguk mantap. “Ya. Saya ingin memeriksa ulang seluruh rincian dan perhitungan anggarannya sekali lagi agar tidak ada kesalahan sedikit pun.”

Tidak ada seorang pun yang berani membantah perintahku, meski aku bisa melihat kebingungan yang jelas tergambar di wajah mereka. Selama ini, aku dikenal sebagai pemimpin yang tegas, cermat, dan sangat cepat dalam mengambil keputusan. Namun hari ini, bahkan aku sendiri merasa kehilangan kendali atas pikiranku sendiri.

Setelah semua orang keluar dan ruangan kembali sunyi, aku bersandar santai di kursi kerjaku, lalu memijat pelipisku dengan gerakan lambat untuk meredakan sedikit pusing yang mulai terasa. Aku tidak suka perasaan seperti ini—perasaan tidak tahu apa yang akan terjadi dan tidak bisa memprediksi langkah lawan. Di kehidupan sebelumnya, aku selalu tahu cara membaca gerak-gerik Arga, mengantisipasi kelicikan Eliana, dan membedakan siapa yang pantas dipercaya dan siapa yang harus diwaspadai. Namun Kakek Satria adalah sosok yang berbeda. Pria tua itu bagaikan teka-teki rumit yang selama ini tidak pernah berhasil aku pecahkan, bahkan sampai saat aku mati pun aku tidak pernah benar-benar memahami apa yang ada di dalam pikirannya. Dan itulah yang membuatku merasa sangat gelisah dan tidak tenang.

Tanpa terasa, jam kerja pun berakhir. Satu per satu karyawan mulai meninggalkan kantor, dan lampu di lorong serta ruangan lain mulai dimatikan satu per satu. Aku membereskan dokumen terakhir di meja, memasukkannya ke dalam laci terkunci, lalu menghela napas panjang. Mungkin malam ini aku butuh waktu untuk menenangkan diri, menyusun strategi dan jawaban yang paling tepat sebelum bertemu Kakek Satria besok.

Aku melangkah keluar dari ruangan, menaiki lift, dan turun menuju lobi utama gedung. Begitu sampai di depan pintu keluar, aku sudah membuka aplikasi pemesanan kendaraan di ponselku, bersiap memesan taksi untuk pulang. Namun tepat saat jari-jariku akan menekan tombol konfirmasi, layar ponsel tiba-tiba berubah menampilkan panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Aku mengernyitkan dahi. Nomor siapa ini?

Selama beberapa detik aku ragu untuk mengangkatnya, namun akhirnya tetap menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga.

“Halo?” sapaku hati-hati.

Tidak ada salam. Tidak ada basa-basi. Tidak ada tanya jawab siapa yang bicara. Hanya suara berat, rendah, dan tegas yang langsung terdengar jelas dari seberang sambungan.

“Aku sudah menunggu di depan.”

Aku langsung membeku di tempat. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Suara itu… aku mengenalinya dengan sangat baik. Nada bicaranya selalu tenang namun terasa seperti perintah yang tidak bisa dibantah.

“Kau?” gumamku pelan, bahkan tidak sadar telah mengucapkannya dengan lantang.

Perlahan aku mengangkat kepala, menatap keluar melalui dinding kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya. Dan di sana, tepat di depan lobi utama perusahaan, terparkir sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap yang terlihat sangat kokoh dan elegan. Mobil itu bukan sembarangan kendaraan—itu adalah mobil yang sangat kukenal, mobil yang sering terlihat melintas di lingkungan keluarga besar di kehidupan masa lalu, mobil yang hanya dikendarai oleh satu orang saja bahkan hingga pagi tadi.

----

Note \= Kak masih ingat kisah keluarga Abimanyu? Ingat Ayana dan Gao han? Ingat kakak Ayana Hanif?

Yuk merapat di lapak sebelah, bukan lapak ini tapi lapak sebelah Mak, cari langsung ke beranda pencarian Ntun dan serbu akun nya plus ikutin jejak up nya disana ya makkkk. Seperti kisah ini yang akan di up tiap hari 🤭😘❤️.

1
Siti Aisah
mak kamu kemna saja tidak muncul" semoga emak sehat selalu🤭
Siti Aisah
emak ku tunggu " blum ada tanda"kah..
Amidah Anhar
maaak evaa ayooo donk jangan kabuuur🥺🥺🥺🥺🤭🤭🤭
Yuyun Yunita
lebih baik dibicarakan dgn sherkan drpd nnti ny jd bumerang untuk dirimu sendiri
Yuyun Yunita
iya ny si violet ini🤣🤣gak kasihan sama sherkan🤣🤣
Yuyun Yunita
fix ini sdh dari awal sherkan cinta sama violet
Yuyun Yunita
aduh sherkan knp bicara bgt...
suatu hari nnti kamu akan punyak anak bagaimana kl anak gadis mu dinikahi pria tanpa seizinmu🤣
Yuyun Yunita
oke mak
Siti Aisah
masih penasaran.. 🤔
Miss Typo
gregetan bgt deh knpa gak ngomong sm Sherkan sih Violet, semoga aja Sherkan tau. awas aja Arga kalau ngomong yg gak²
Ayudya
violet kamu harus bilang ma sherkan kalau kamu di undang ma kakek satria
wiliss
Lanjut kan kak🙏
Maria Kibtiyah
kenapa violet gak cerita ke serkhan.. mak embun untuk bara masih ku pavorite loh siapa tau mau di lanjut🤭
Siti Aisah
sherkan sudah pakai hati dgn alasan butuh perlindungan😜
wiliss
Lanjut kk🙏
Miss Typo
aku hanya pembaca, disini Violet yg berhadapan dgn Sherkan, tapi knpa jantungku ikut jedag jedug 🤣
vj'z tri
selanjutnya kita akan sering bertemu papa 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
wo ai ni mas bos 🎉🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
hoba hoba akhirnya di kenalin juga sama pamer ya suami akoh 🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ suami akoh pasti seneng liat ekspresi muka violet saat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!