NovelToon NovelToon
Balas Dendam Sang Putri Buangan

Balas Dendam Sang Putri Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: novi niajohan

Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.

Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.

Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.

Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Masuk ke Kota Bawah Tanah

Istana Kaisar Song.

Setelah mendengar kabar jika nona Huang sedang berada di istana, Putri Xu bergegas menemuinya walau ada sedikit kekecewaan ketika melihat wanita itu ternyata baik-baik saja.

Akan tetapi ia tetap harus mengunjungi nona Huang sebagai bentuk kepeduliannya terhadap sesama.

"Nona perdana menteri, bagaimana keadaanmu? aku turut sedih dengan kejadian yang menimpamu," ucap Putri Xu menunjukkan sedikit rasa simpatinya.

"Terima kasih atas perhatiannya Tuan Putri, hamba baik-baik saja."

"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya."

"Terima kasih Putri karena telah menyempatkan diri mengunjungi hamba," balas Nona Huang sedikit terhibur.

"Sama-sama ... Bagaimana juga kau adalah teman kakakku. Bagaimana aku bisa diam saja dan mengabaikanmu saat terkena musibah," ucap Putri Xu.

"Terima kasih Putri," balas Nona Huang.

"Sudahlah jangan sungkan padaku seperti itu ... Oh iya mana tabib pribadimu? Apa kalian sudah menemukannya?" tanya Putri Xu berpura-pura mencarinya.

Nona Huang kembali murung ketika mendengar nama Qiuye dan teringat kembali kejadian tragis yang menimpa gadis malang itu. "Entahlah Putri, hamba masih belum berhasil menemukannya."

"Ah sayang sekali, tapi kenapa dia menghilang? Maksudku, aku dengar dia dibawa oleh seorang pria. Apa jangan-jangan pria itu kekasihnya?" ucap Putri Xu memancing emosi nona Huang.

"Tidak mungkin, Qiuye belum punya kekasih."

"Hati orang tidak ada yang tahu, mungkin saja yang ku katakan itu benar kan. Kalau tidak, maka mana mungkin pria itu repot-repot membawa gadis dari kalangan biasa dan mengabaikan dirimu yang seorang putri bangsawan. Ah mencurigakan sekali," ucap Putri Xu mencoba menanamkan rasa curiga.

"Aku berharap semoga saja dugaan anda keliru, tuan Putri. Karena aku percaya Qiuye adalah gadis yang baik," balas nona Huang tidak setuju dengan pendapat putri Xu mengenai Qiuye.

"Ya, semoga saja dugaanku salah. Tapi apa dia baik-baik saja dengan kondisi terluka parah seperti itu? Ya maksudku, orang biasa mana mungkin bisa bertahan dari serangan mematikan. Ya kan?" ucap Putri Xu mencoba membuat mental nona Huang terguncang dengan rasa bersalahnya.

Dan benar saja, nona Huang seketika menangis sedih karena mengingat kembali Qiuye yang terluka parah saat berusaha menyelamatkannya.

"Maaf nona Huang, bukan maksudku membuatmu sedih. Harusnya aku tidak berkata seperti itu padamu, aku hanya mengutarakan pendapatku saja. Karena menurutku, bagaimana mungkin gadis kecil itu sanggup melawan serangan dari pria dewasa. Apalagi dia berjuang sendiri menyelamatkan nyawamu," ujar Putri Xu terus membuat hati nona Huang merasa bersalah dan dengan begitu mentalnya pasti akan terganggu.

"Ya, semua ini adalah salahku. Harusnya aku tidak meninggalkan Qiuye seorang diri disana," isak nona Huang tersedu-sedu.

Putri Xu mendekatkan wajahnya pada telinga nona Huang lalu membisikkan sesuatu. "Kau benar, seharusnya kau lebih bertanggung jawab pada bawahanmu sendiri. Apalagi dia seorang wanita kecil yang tidak berdaya dan aku rasa kejadian kemarin, dia pasti tidak selamat."

"Diam!" sergah nona Huang kesal. "Apa sebenarnya yang ingin kau katakan? Apa kau ingin membuktikan bahwa aku ini adalah orang yang tidak punya hati nurani dan meninggalkan orang-orangku begitu saja tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa tanggung jawab?"

"Nona Huang, maafkan aku. Aku hanya asal bicara," ucap Putri Xu menjauh dan memasang wajah menyesal.

"Aku percaya pada Qiuye, dia pasti selamat dan dia pasti akan baik-baik saja," yakin nona Huang lalu memalingkan wajah dari putri Xu. "Jika tuan Putri sudah tidak punya kepentingan, maka biarkan pengasuh hamba mengantar anda keluar."

"Baiklah baik, maaf aku salah. Kalau begitu aku akan keluar sendiri," balas Putri Xu puas dan meninggalkan kamar nona Huang dengan senyum jahatnya.

"Bibi, apa aku orang yang kejam? Aku adalah pendosa, aku melihat orang-orang berguguran di depan mata kepalaku sendiri sedangkan aku pergi begitu saja dan menyelamatkan diriku. Aku benar-benar egois saat aku juga pergi meninggalkan Qiuye yang sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Bagaimana aku bisa menghadapi keluarga mereka?"

"Sudahlah Nona, hal ini terjadi diluar kendali anda. Maka berhentilah bersedih dan jangan selalu menyalahkan diri anda sendiri," balas Bibi Lan menenangkan.

"Tapi bagaimana kalau perkataan Putri Xu benar? Qiuye tidak selamat? Apalagi kita tidak tahu dimana keberadaan Qiuye saat ini? Aku takut Bi," ucap nona Huang lirih.

"Nona hamba mohon sadarkan diri anda, anda harus kuat. Selama petugas istana belum menemukan Qiuye dan memutuskan bagaimana keadaanya, kita masih punya harapan dan berdoa akan keselamatan dirinya," ucap Bibi Lan bijak.

"Ya Bibi benar, aku tidak mengerti kenapa putri Xu berkata demikian. Tapi aku tidak boleh menghilangkan kepercayaanku kepada Qiuye," ucap nona Huang akhirnya menguatkan diri dan percaya pada langit jika Qiuye akan baik-baik saja.

...----------------...

Malam hari di Kota Bawah Tanah.

Berbekal informasi dari tabib Min dan juga mempelajari penampilan para tawaran yang tewas sebelumnya. Guan Yu bersama beberapa anak buahnya mengunjungi kota bawah tanah.

Mereka berpenampilan sama dengan penyerang waktu itu, berpakaian serba hitam dan memakai masker menutupi setengah wajah. Dan tidak lupa membawa sebuah tanda khusus yang mereka ambil satu persatu dari semua mayat para penyerang itu, agar bisa lolos masuk ke dalam kota bawah tanah saat pemeriksaan.

"Kalian terlihat asing, dari kelompok mana?" tegur salah satu penjaga kota bawah tanah menyadari ada sekelompok orang asing.

Xin bergegas menunjukkan tanda khusus pada penjaga itu.

"Oh jadi kalian adalah anak buahnya ketua," ucap penjaga itu dan memperbolehkan Guan Yu beserta anak buahnya masuk.

Setibanya didalam, Guan Yu memberi isyarat agar menyebar dan mulai mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai pemilik penawar racun asing dari barat dan mencari tahu siapa ketua dalam organisasi kota bawah tanah tersebut.

Namun perjalanan mereka tidak membuahkan hasil, karena orang yang dicari tidak berada di tempat.

Akan tetapi salah seorang penduduk kota bawah tanah mengatakan, jika ketua yang juga pemilik berbagai penawar racun ilegal sering keluar masuk ke dalam istana.

Tidak ingin membuang-buang waktu, Guan Yu menarik kembali anak buahnya agar keluar dari kota tersebut melalui jalan lain berdasarkan arahan tabib Min.

Akan tetapi ketika mereka berjalan menuju jalan keluar tersebut, Wu San tidak sengaja berpapasan dengan seorang pria yang memakai jubah hitam.

Merasa curiga, Wu San mengikuti kemana langkah kaki pria berjubah hitam itu ke suatu tempat berlorong panjang dan berliku seperti labirin, sehingga tanpa sadar telah terpisah jauh dari rombongan.

Wu San yang tidak mengenal kondisi jalan yang dilalui, terkena jebakan saat mengikuti pria berjubah hitam itu.

"Sial!" umpat Wu San saat kedua kakinya terjerat tali baja dan gerakannya memicu serangan dari balik dinding.

Sebuah anak panah melesat kearah Wu San yang terjebak, beruntung gerakan gesit Wu San berhasil menangkap anak panah itu sebelum menembus jantungnya.

Wu San melempar anak panah tersebut ke tanah dan kembali melepaskan jeratan tali baja pada kedua kakinya. Karena terlalu fokus melepas jeratan, kewaspadaan Wu San menurun dan ia kini lengah pada serangan anak panah kedua dari dinding dibelakangnya.

...Bersambung....

1
Noviyanti
terima kasih sudah membaca karyaku, jangan lupa berikan like dan komen ya.
Joan
keren thor satu persatu mulai terungkap. gk sabar sama reaksi qiuye pas dia tahu guan yu ngerawat dia🤣
Joan
semakin seru lanjut thor
Joan
semakin pnasran. lanjut thor💪
Joan
parah banget kaisarnya /Panic/
Joan
makin seru thor, lanjutkan💪
Joan
lanjut thor
Noviyanti
Selama menunggu kelanjutan cerita ini, kalian bisa baca karya yang lain dulu ya
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak Nov.... selamat aktif menulis kembali ya.
total 3 replies
Joan
ceritanya bagus dan cukup menarik. terus semngat
Noviyanti: terima kasih semangatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!