Alfina dan Alfino teman masa kecil yang selalu bertengkar jika berada di dalam satu kelas.
Fina mempunyai tambatan hati bernama Choki, sedangkan Fino memiliki Anjani, hubungan itu tidak berarti sama sekali ketika kedua orang tua memaksa mereka untuk menikah muda.
Fina menjadikan Anjani sebagai sahabat, begitu juga Fino yang mau berteman dengan Niko. Hingga keduanya memperebutkan anak dari mantannya masing-masing untuk dijodohkan dengan calon anaknya kelak.
Anak dari mantannya siapa yang akan di jodohkan kedua pasangan itu.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FINA FINO 30.
"Kamu sedang apa sayang?"
Terlalu fokus pada layar ponsel, Fina sampai terlonjak saat tiba-tiba suara bisikan muncul dari belakang. Disusul sepasang lengan kekar yang melingkari perutnya.
"Mas, bikin kaget aja" Perempuan dengan rambut kuncir dua itu sempat protes karena Fino sudah mengagetkan nya.
Alih-alih meminta maaf, Fino semakin mengeratkan pelukannya. "Serius amat, liatin apa sih?"
"Ini mas, Indy barusan ngabarin kalau Rahma dengan Anjani habis jambak-jambakan di kelas"
"Itu urusan mereka biarin saja" Kata Fino, dengan perintah itu Fina mengangguk dan melepaskan lengan kekar Fino diperutnya. Lalu mengedik pada wahana bianglala di dekatnya. "Naik itu sih!!"
"Oke, yuk" Fino lantas bergegas mengikuti kemauan sang istri. Menggandeng tangan istrinya biar ga ilang, menuju ke loket dari wahana tersebut.
Lima menit setelah lamanya menunggu, kini giliran mereka masuk ke dalam sangkar burung itu.
Baru juga duduk, Fina terlihat sangat antusias menaiki wahana ini lagi, ia ingat betul saat kecil bersama Fino menaiki wahana yang sama. Tapi saat itu mereka didampingi sama kedua mamah nya masing-masing, dan kini mereka hanya berdua saja.
Keduanya memiliki rasa tegang, apa lagi nanti saat sangkar yang dimasuki mereka sudah ada di atas. Pasti operator wahana ini iseng memberhentikan mesinnya. Pikiran mereka seolah terbukti, sangkar itu tiba-tiba berhenti tepat di posisi paling teratas.
"Tuh kan!" Kesalnya Fina, sampai gadis itu berganti posisi tempat duduk disamping Fino.
Fino melirik Fina bagaikan anak kecil yang ingin dimanja. Tanpa harus diberi tahu, Fino paham maksut dari lirikan itu.
Dengan sadar, Fino menuntun lengan Fina untuk bertengger di pinggul bagian kanan. Sementara, tangan kiri Fino mengalung di leher wanita itu.
Menenggelamkan kepala Fina pada dada kiri nya, memberi kenyamanan untuk Fina tidak perlu lagi takut akan ketinggian.
"Sudah tau kamu takut ketinggian, masih mau nantangin?"
"Enggak sih, saya mau melawan trauma saat kecil saja mas" Gumam Fina menjawab.
"Yee sama saja sayang" Elak Fino.
"Beda ya, kalau saya berhasil lewatin ini, berarti saya sudah tidak lagi phobia dengan ketinggian"
"Yaudah kalau gitu naik Roller coaster yuk" Ajak Fino.
"No" Fina menaruh jari telunjuknya pada bibir Fino. Memberi isyarat kalau dia tidak suka dengan kata-kata Fino barusan.
"Lebih seru dari ini loh!"
"Saya bilang enggak mau ya enggak mau, kalau misalkan mas mau naik ya sendirian saja"
Fino terkekeh kecil, baru bilang saja udah buat Fina ketar-ketir, apa lagi kalau tiba-tiba membawanya ke wahana itu.
Tak melulu membahas wahana roller coaster, Fino semakin mengeratkan pelukan samping nya. Fina lantas mendelik melihat kelakuan Fino saat ini.
Fino menatap wajah Fina lekat-lekat, memuji pahatan Tuhan yang paling indah di depan matanya ini. "Kau cantik ya kalau senyum"
Alih-alih dipuji bakalan salah tingkah, Fina malah sewot. "Kemana aja mas? Baru tahu?"
Tidak sampai hitungan detik, Fino tiba-tiba mendekatkan diri ke bibir manisnya Fina. Sesaat sebelum wahana itu tiba-tiba kembali bergerak, membuat Fina terhentak seraya membenturkan jidatnya di bagian dada pria itu, sedangkan Fino tidak bisa menghindar untuk mencium puncak kepalanya Fina.
Semata-mata operator wahana itu menolak untuk menjadikan semesta jadi milik mereka berdua.
**
Setelah puas naik wahana bianglala, Fina menunjuk ke arah sesuatu. Matanya berbinar, seolah-olah melanjutkan tingkahnya menjadi seorang anak kecil. "Beliin milk tea coklat hazelnut" Kata Fina dengan nada manja.
Tak pikir panjang, Fino menggandeng tangan Fina membawanya ke kedai chatime area Dufan. Sekaligus membelikan minuman yang diinginkan oleh istrinya.
Sampai mereka kembali keluar dari kedai itu, Fina menawarkan es itu pada Fino.
Fino langsung memberikan isyarat dengan gelengan kepala. "Engga suka teh susu"
"Ini enak mas, beneran! Cobain dulu" Kata Fina. Tapi tetap saja laki-laki itu masih betah merapatkan bibirnya.
"Mas cobain, sekali aja dulu" Kata Fina masih berupaya untuk Fino cobain minuman itu.
Agaknya Fino mendelik ke arah Fina, melihat wajahnya seolah berharap suaminya cobain minuman ini.
Dari situ Fino mengambil minuman itu dari tangan Fina. Mencoba nya sedikit, mengerjap lalu bilang "Enggak enak."
Iya bilangnya sih enggak enak, tapi Fino lanjut meminum jajanan nya Fina.
"Eh, beli sendiri!" Fina ingin mengambil hanya saja Fino langsung mengangkat minuman itu di ketinggian.
"Kamu beli lagi saja" Titah Fino.
"Lah tadi mas bilang nya ga enak, sekarang malah nyuruh saya beli lagi?"
"Udah nih, cepat kamu beli lagi, saya tungguin kamu disini" Fino menyerahkan selembar uang dari saku celananya, kekeh menyuruh Fina untuk membeli minuman yang sama dengannya. Sedangkan minuman yang dibeli sama Fina akan Fino habiskan.
To be continue,