Novel ini adalah sambungan dari novel sebelumnya yang berjudul "Gadis gengsi dan Pria cuek"
Novel ini mengisahkan seorang gadis bernama Syafa, yang menurut Bian sangat cerewet dan ribet.
Dan juga mengisahkan seorang pria bernama Bian yang juga menurut Syafa, pria itu sebenarnya adalah es yang dikutuk menjadi manusia
Seperti kisah mereka? Yuk kepoin cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Izzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan kecewain Kakak
"Tapi kakak jangan marah dan harus bolehin Syafa" seru Syafa yang mengambil kesepakatan sendiri
"Apa-apaan? Gue tau aja belum" protes Syifa dengan tidak setuju
"Besok Syafa boleh ngga jalan sama Kak Reza?" ucap Syafa dengan cepat sambil menutup kedua matanya
"Apa?"
"Besok kan Syafa libur" jawab Syafa
"Loh gila yah? Loh cewek. Masa loh yang ngajakin cowok jalan" hardik Syifa
"Kakak nih ngomongnya ngaco. Bukan Syafa yang ngajak jalan. Tapi Kak Reza yang ngajak Syafa jalan" sahut Syafa dengan kesal
"Reza ngajak loh jalan?" cetus Luthfi
"Ia Kak. Tadi Kak Reza nge-DM Syafa ngajakin jalan. Kalau kakak ngga percaya, Syafa punya bukti kok" Syafa bersikekeh benar
"Bian. Syafa di kampus ketemu sama Reza?" giliran Bian yang mendapat pertanyaan dari Syifa
"Tadi ngga sengaja ketemu di depan Fakultas. Terus Syafa minta di follback. Bian ngga tau lagi setelah itu kak" ujar Bian dengan jujur
"Dasar tukang ngadu" ketus Syafa
"Jadi gue harus bohong sama kakak?" balas Bian
"Ngga harus bohong juga. Tapi ngga harus jujur amat juga" tukas Syafa kesal
"Kenapa jadi berantem?" tegur Syifa
"Yah kamu sih" cetus Luthfi
"Jadi gimana? Syafa boleh jalan apa ngga? Lagian Syafa kan besok libur. Jadi ngga apa-apa dong kalau sekali-sekali Syafa keluar" pinta Syafa yang seperti memaksa
"Ngga boleh" tolak Syifa
"Kok ngga boleh? Kenapa? Emang Syafa ngga boleh apa jalan sama gebetan?" seru Syafa
"Suara loh" tegur Bian
"Apa? Kenapa sama suara gue?" protes Syafa
"Ini yang bikin gue ngga mau loh pacaran. Belum apa-apa aja loh udah membangkang. Apalagi kalau udah pacaran. Dilarang dikit tambah ngebangkang jadinya" sahut Syifa yang bijak sebagai kakak
"Kakak. Syafa ngga ngebangkang" protes Syafa
"Kalian malah ribut" tegur Luthfi
"Sini biar Bian yang gendong Gibran" Bian yang ikut pusing dengan keributan dua gadis itu lebih memilih mengambil keponakannya
"Kak. Jadi gimana?" gerutu Syafa
Syifa tidak langsung menjawab. Ia bersitatap dengan suaminya terlebih dahulu. Luthfi sendiri hanya mengangguk
"Ok. Kakak izinin" seru Syifa
Syafa dan Bian langsung membulatkan matanya karna terkejut mendengar penuturan kakaknya
"Serius? Kakak serius ngijinin Syafa jalan sama Kak Reza?" tanya Syafa dengan masih setengah tidak percaya
"Serius. Tapi ada syaratnya?" sahut Syifa dengan enteng
"Udah Syafa duga" balas Syafa dengan ketus "Ngga mungkin Kakak ngijinin kalau ngga ada apa-apa"
"Gampang aja kok syaratnya" tukas Syifa
"Syaratnya apa?"
"Bian harus ikut" seru Syifa
"Apa?" teriak Syafa dan Bian bersamaan.
Bahkan Gibran terlonjak mendengar teriakan pamannya. Untung saja bayi itu hanya terkejut dan tidak menangis
"Bian. Kemarikan Gibran. Kenapa berteriak? Gibran kaget" ujar Luthfi yang kembali mengambil alih ponakannya
"Kak? Kakak apa-apaan sih? Kenapa Bian harus ikut? Emang Syafa anak kecil apa" celoteh Syafa yang menolak keras tidak mau Bian ikut dengannya
Dengan sekali sentilan dari Bian, Syafa meringis kesakitan dibagian keningnya "Siapa juga yang mau nemenin bocah sok dewasa jalan-jalan sama gebetannya?"
"Bian...... Sakit" Teriak Syafa yang mengelus keningnya "Bisa ngga jangan nyentil kening gue?" kesalnya
"Bisa ngga jangan teriak-teriak? Anak gue kaget" tegur Syifa yang tidak kalah kesal
"Lagian kakak. Ngapain ngasih syarat ngaco gitu" ketus Syafa
"Heh? Gue tuh harus selalu ngawasin loh. Apa kata Bunda nanti kalau loh kenapa-kenapa? Tapi karna gue ngga bisa ada Gibran, biar Bian yang jagain loh. Loh ngga ada syukur-syukurnya yah jadi anak" seru Syifa yang semakin kesal
"Syifa" tegur Luthfi
"Tapi ngga harus Bian ikut juga kalau Syafa mau jalan. Syafa bukan anak kecil lagi" protes Syafa
"Loh akan tetap jadi anak kecil meski loh tumbuh dewasa" sahut Syifa
"Kakak. Tapi.... "
"Ia kak. Biar Bian ikut Syafa besok" sahut Bian
"Apa? Ngga. Gue ngga mau" tolak Syafa dengan keras
"Diam" perintah Bian dengan tegas
Rasanya Syafa ingin sekali menolak kembali. Namun tatapan Bian menghujamnya tajam. Luthfi pun tersenyum dan menahan tawa. Sedangkan Syifa begitu lega mendengarnya
"Terima kasih Bian. Kakak harap loh sabar ngadepin sikap Syafa. Dan kakak tau, loh ngga akan nolak permintaan kakak" ucap Syifa
"Ia Kak. Bian mau ngomong sesuatu dulu sama Syafa" sahut Bian
"Oh silahkan. Kakak juga udah mau balik kamar kok. Kasian Gibran lama disini" balas Syifa
"Ia kak"
"Ayo Fi ke kamar. Gendong Gibran yah" ajak Syifa
"Ya ia dong aku gendong. Masa aku seret" racau Luthfi
"Sembarangan"
Syifa dan Luthfi pun ke kamar dahulu. Sedangkan Syafa dan Bian masih berada di ruang keluarga
"Kenapa? Loh kenapa nerima coba syarat aneh dari kakak?" cercah Syafa setelah kedua kakaknya pergi
"Loh ngga kasian sama kakak? Kakak udah kita nyusahin selama tinggal disini. Kakak juga harus selalu ngejaga kita. Mastiin kita kita baik-baik aja. Kalau sampai salah satu dari kita kenapa-kenapa? Loh pikir siapa yang paling repot? Kakak! Gue juga udah janji sama kakak buat ngejaga loh. Seenggaknya kalau loh ada sama gue, itu bisa buat kakak lega. Paham?" tutur Bian dengan panjang lebar
Syafa yang awalnya kesal menjadi termenung. Ia menggigit bibir bawahnya. Kenapa bisa dirinya tidak berpikir hal demikian? Kenapa ia hanya memikirkan dirinya sendiri? Kenapa? kenapa? dan kenapa?
"Jangan kecewain kakak" Bian mengusap kepala Syafa lalu beranjak dari sana untuk ke kamarnya
Bian yang hendak membuka pintu kamarnya terdiam dan menoleh ke belakang. Ia masih melihat Syafa dengan masih termenung disana
"Sya? Istirahat di kamar" seru Bian dan kembali masuk ke dalam kamarnya
Syafa pun menoleh. Ia menarik napas dan menghembuskannya dengan berat. Dengan lunglai, ia menyeret kakinya ke kamar miliknya
Di dalam kamar. Bian menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Ada rasa penyesalan setelah mengatakan hal tadi pada Syafa hingga membuat gadis itu terdiam. Namun ia juga harus memberitahunya untuk tidak memikirkan dirinya sendiri
Sedangkan Syafa terduduk di tepi tempat tidurnya. Ia masih merenungi perkataan Bian padanya. Pria itu benar, dirinya tinggal di rumah kakaknya saja sudah menjadi tanggung jawab mereka. Apalagi jika dirinya sampai kenapa-kenapa
"Apa ia yah gue terlalu mikirin diri sendiri?" ucapnya pada diri sendiri. Ia menghela napas berat "Masa Bian lebih ngerti sih dari gue? Ah. Ngga bisa gini nih"
Sifat menjengkelkan Syafa mulai kambuh "Gue harus ngomong ke Bian. Ngga mau gue ke kek gini. Enak aja dia"
Syafa berdiri dengan tegap "Pokoknya harus" tekadnya lalu keluar dari kamar untuk menuju kamar Bian
"Mbak Syafa?" Mbok Inteng menyapa Syafa yang hendak ke kamar Bian
"Eh. Mbok Inteng. Bikin kaget aja"
"Mbak Syafa mau kemana?"
"Mau ke kamar Bian"
"Ke kamar Mas Bian? Mau ngapain mbak? Kan Mas Bian nya lagi ngga ada"
"Apa? Bian ngga ada?"
"Ia Mbak. Tadi Mas Bian keluar. Baru aja"
"Loh? Kemana Mbok? Kok ngga bilang-bilang?"
"Katanya sih mau ketemu teman Mbak. Kata Mas Bian, udah minta izin sama kakak mbak"
"Teman? Teman mana yang dia maksud?" sebenarnya Syafa lebih bertanya ke dirinya sendiri
"Mbok juga ngga tau kalau itu Mbak"
"Oh? Ia. Makasih yah Mbok. Syafa mau balik ke kamar dulu" pamitnya
Setelah sampai di kamar, ia langsung mencari ponselnya "Dasar yah si manusia terkutuk itu. Pergi ngga bilang-bilang. Bisanya nyeramahin gue. Dia sendiri pergi ngga ngajak gue"
Ia meletakkan ponselnya di telinganya. Menunggu hingga tersambung. Berdering beberapa kali namun tak kunjung dijawab
"Bian kemana sih? Kenapa ngga ngangkat telpon gue?" Syafa menjadi kesal dan terus menghubungi pria menyebalkan itu
"Kenapa ngga di angkat sih? Ah, nyebelin deh" Syafa kembali menghubungi ponsel Bian. Dan sekali lagi, Syafa tak kunjung mendapatkan jawaban
"Tunggu! Gimana kalau sampai Bian kenapa-kenapa? Gimana kalau sampai Bian kecela......" ucapannya terhenti, kemudian menutup mulutnya dan menjatuhkan ponsel di tangannya
*
*
*
Maaf, author lagi sakit. Jadi susah apdate terus. Makasih yang senantiasa menunggu. Jangan lupa like dan beri tipnya yah. Terima kasih untuk semuanya ❤
nyakin ini Link, Vote nya pasti bakal banyak banget.