Kematiannya membuat dirinya terbawa arus waktu, hidup kembali menjadi anak dari Jenderal Besar. Lia, dia gadis 23 tahun, seorang mahasiswi jurusan hukum. Mengalami takdir yang tidak pernah dia percaya, mati dan bereinkarnasi lagi. Yah, dia mengalami kejadian itu. Setelah dirinya meninggal karena tenggelam, kini dia hidup kembali dengan jatih diri baru, menjadi anak dari Jenderal Besar, terkenal memiliki rumor buruk di mata banyak orang.
Namun karena kecerdasan yang dia miliki, perlahan sudut pandang orang mulai berubah, dan bahkan membuatnya harus terlibat konflik besar keluarganya dengan pihak bangsawan. Dengan berbekal kecerdasan dan keberanian tinggi, dia memberantas siapa saja yang mengusik keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis Lepas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Dominate
Berita tentang putri pertama Jenderal Besar Feng dijodohkan dengan Pangeran Mahkota telah menyebar luas ke seluruh kota Sudong, menggemparkan kota besar nan makmur itu. Terlebih lagi mereka tahu putri pertama Jenderal Besar Feng tidaklah mencintai Pangeran Mahkota namun mencintai Pangeran Pertama, cinta yang miris bukan? Semua masyarakat berpikir seperti itu, meski pun mereka tahu putri pertama Jenderal Besar Feng bukanlah gadis beretika seperti gadis bangsawan lainnya, namun cinta sejati tidak seharusnya dipisahkan. Tapi apalah daya jika sang Kaisar telah menurunkan titah, menentang sama saja memberontak, jika sudah seperti itu tidak akan ada yang berakhir baik.
Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa setelah 4 hari pesta besar dari Kaisar untuk keluarga Jenderal Besar telah berlalu. Qian Yue menjalankan kehidupan sehari-harinya dengan damai, dua hari yang lalu dia mendapat hadiah lamaran dari Pangeran Mahkota, gaun, perhiasan dan beberapa barang berharga dia dapatkan sebagai hadiah pelamaran, tentunya membuat Yue Sua geram dan kesal kepadanya. Selama 4 hari itu Wangxia dan Yue Sua menyusun rencana untuk membatalkan pertunangan, sementara Qian Yue menunggu permaian yang akan direncanakan dua wanita ular itu.
Rumor beredarnya tentang sepasang kekasih yang tidak bersatu juga mulai merendah, perlahan para masyarakat melupakan masalah pernikahan politik yang terjadi antara Qian Yue dan Pangeran Mahkota, mereka paham meski pun mereka menyuarakan ketidak setujuan atas perjodohan itu tetap saja tidak akan bisa merubah titah Kaisar, justru mereka akan mendapat masalah jika melakukan hal tersebut.
Hari ini kediaman Perdana Menteri Huang mengadakan acara minum teh untuk para bangsawan wanita, Qian Yue dan Yue Sua diundang secara resmi oleh Nona kediaman Huang. Jadi mau tidak mau Qian Yue dan Yue Sua harus mendatangi kediaman Huang meski sebenarnya Qian Yue tidak menyukai acara seperti ini, menurutnya acara minum teh hanya akan membuang waktu, lebih baik meluangkan waktu mempelajari apa yang bisa dipelajari.
Tapi, Qian Yue juga merasa tidak ada salahnya dia menghadiri pesta ini, lagi pun dia telah menghabiskan waktu 4 hari mempelajari buku-buku di kediaman Ayahnya. Mengistirahatkan otak yang lelah tidak ada salahnya bukan? Sekaligus kembali mengasa barangkali ada yang dengan senang hati meladeninya keegoisannya.
Qian Yue menghela nafas pelan, dia melirik tipis ke depan, tepat pada adiknya Yue Sua yang menurutnya mengganggu indahnya kenyamanan. Ayah mereka meminta Qian Yue satu kereta dengan Yue Sua untuk membuktikan bahwa dua saudara ini tidak mengalami permusuhan. Karena ada rumor beredar Qian Yue dan Yue Sua memiliki kesalah pahaman yang tersembunyi, jadi untuk menutupi rumor itu, Yang Yue mempersatukan mereka dalam satu kereta.
"Heh, apa kau kecewa Ayah membiarkanku satu kereta denganmu? Sadar dirilah, meski kau tunangan Pangeran Mahkota tidak akan mengubah status kita sama di mata Ayah." Yue Sua tersenyum sinis, menatap Qian Yue dengan pandangan merendahkan. Menurutnya tidak ada salahnya jika ia menyerang Kakaknya di dalam kereta, toh permusuhan di antara mereka berdua sudah sangat jelas diketahui, bahkan Qian Yue tidak menutupi jika dia memang tidak menyukai Yue Sua.
Qian Yue mendengus pelan, matanya terpejam selama beberapa detik, kemudian dia menatap Yue Sua yang juga sedang menatapnya, "Apakah kau ingin memprovokasiku, Yue Sua?" balas Qian Yue tenang.
"Memprovokasi? Kau terlalu besar kepala, aku hanya ingin mengingatkan padamu untuk tidak merasa bangga meski kau adalah tunangan Pangeran Mahkota. Harus ku beritahu padamu, Nona kediaman Huang sangat menyukai Pangeran Pertama, tapi karena rumor beredar kau dan Pangeran Pertama saling mencintai, kau harus tahu pesta minum teh bisa jadi akan menjadi pesta penghinaan untukmu," balas Yue Sua dengan nada bangga, seolah merasa bahwa perkataannya ini merupakan senjata paling ampuh membuat Qian Yue luntur, paling tidak raut wajah tenang Qian Yue bisa hilang setelah mendengar gertakan Yue Sua.
Alis Qian Yue bertaut cukup keras, dia sudah tahu kabar betapa Nona kediaman Huang menyukai Pangeran Pertama dari Hua Yun setelah dia menyelidiki Pangeran Pertama lebih jauh lagi. Hal ini juga yang menjadi alasan kenapa Qian Yue tidak ingin mendatangi undangan yang ia terima, namun demi menjaga citranya di hadapan publik mau tidak mau juga Qian Yue harus menerima undangan tersebut. Tapi bukan hal ini yang menjadi alasan kenapa Qian Yue berkerut, namun cara bicara Yue Sua lah yang membuatnya mengerutkan alis.
'Apapun yang terjadi di kediaman Huang nanti, aku yakin Yue Sua juga dalang di balik semua hal itu. Nada bicaranya dan gelagatnya ... terlalu mudah dibaca.' Qian Yue menghela nafas pelan, dia kembali berekspresi tenang membuat Yue Sua berdecak pelan, "Kau mengkhawatirkanku, Adikku?" tanya Qian Yue disertai seringai tipis.
"Cih! Siapa yang khawatir padamu, justru aku senang jika Nona Huang melakukan sesuatu padamu," balas Yue Sua kesal, jujur saja ekspresinya itu membuktikan jika apa yang dia katakan adalah kebenaran dari keinginannya. Dia ongkn Qian Yue menderita.
Qian Yue menghela nafas lagi, dia menyandarkan punggungnya pada sadaran kursi kereta, "Kau terlalu terus terang, Yue Sua. Jujur hatiku sedikit sakit mendengarnya," ungkap Qian Yue dengan nada melemah, tak lupa juga ia mengeluarkan sandiwara yang menyesuaikan perkataannya.
Tapi nyatanya ekspresi itu hanyalah kebohongan, bahkan Yue Sua juga tahu kalau Qian Yue berbohong dengan ucapannya sendiri.
'Menjijikan! Sejak kapan wanita jalang ini menjadi menjijikan seperti ini?' Yue Sua memasang tampang seseorang yang terlihat jijik ketika melihat sesuatu mengganggu pandangannya, "Hentikan sandiwaramu itu, aku tahu kau adalah wanita yang licik, penuh dengan banyak rencana," bengis Yue Sua kasar, baginya tidak ada kepura-puraan lagi di antara mereka berdua.
"Haih ...." Sekejap ekspresi Qian Yue berubah kecewa, "Jangan berkata seperti itu, kita tidak tahu siapa yang paling licik di antara kita, aku yang penuh dengan rencana, atau kau yang menggoda Pangeran Mahkota demi merebut cinta kasihnya?" balas Qian Yue berubah tampang polos, seakan merasa perkataannya barusan tidak akan berdampak apapun bagi dirinya.
Berbeda dengan Yue Sua, justru dia tertegun mendengar ucapan Qian Yue, mata cantiknya sedikit membulat, kulit wajahnya mengetat pertanda dia cukup terkejut karena perkataan Qian Yue, "Kau-" Yue Sua sedikit tersentak karena kereta kuda tiba-tiba saja berhenti.
"Ya, aku melihat bagaimana kau bercumbu mesra bersama Pangeran Mahkota di halaman yang tidak jauh dari istana. Secara kebetulan aku menyaksikan adegan yang membuatku ingin muntah." Qian Yue beranjak berdiri,"Yue Sua, berhati-hatilah, di balik semua rencanamu itu ada seseorang yang tidak menyukainya." lanjut Qian Yue lagi, setelah berkata demikian Qian Yue turun dari kereta tanpa memedulikan reaksi yang Yue Sua keluarkan.
Sekejap Yue Sua tersadar, dia pun bergegas mengejar Qian Yue sebelum gadis itu benar-benar menghilang. Ada satu yang ingin Yue Sua buktikan dari perkataan Qian Yue barusan.
"Apa kau mengancamku? Kau pikir aku tidak tahu bahwa kaulah seseorang itu," ungkap Yue Sua meneriaki Qian Yue. Dia sudah tidak peduli apakah orang di sekitarnya akan menatapnya.
Langkah kaki Qian Yue terhenti, dia menoleh ke belakang sembari mengumbar senyum, "Kau bisa berpikir demikian," balas Qian Yue singkat, kemudian dia kembali menoleh ke depan dan melangkahkan kakinya meninggalkan Yue Sua dengan perasaan senang, "Tapi kau bisa menanyakan pada Wangxia siapa seseorang itu." lanjut Qian Yue lagi pelan, namun tidak dapat didengar Yue Sua secara jelas.
***
"Selamat datang Nona Qian Yue dan Nona Yue Sua." Seorang wanita paruh baya memberikan penyambutan kecil begitu hangat. Qian Yue membalas ucapan wanita itu dengan senyuman, begitupun dengan Yue Sua, "Mari ikut saya, Nona kami telah menunggu kedatangan Nona Qian Yue dan Nona Yue Sua."
Qian Yue dan Yue Sua mengikuti pelayan wanita tua itu, menuju bagian kanan kediaman Huang. Tidak butuh waktu lama mereka bertiga sampai di sebuah taman bunga yang indah, di sana juga sudah berdatangan para bangsawan wanita yang diundang. Salah satu yang peling mencolok tentu saja sang Tuan rumah. Qian Yue dan Yue Sua berjalan menghampiri Huang Xia sosok yang mengundang mereka berdua. Sedangkan pelayan tua tadi sudah pergi selepas melakukan pekerjaannya.
"Selamat datang Nona Yue Sua." Huang Xia tersenyum manis kepada Yue Sua, membuat Qian Yue dan Yue Sua sedikit terkejut bersamaan. Yang mengejutkan mereka Huang Xia hanya menyambut kedatangan Yue Sua tapi tidak untuk Qian Yue.
'Terlalu berterus terang.' Qian Yue tetap mempertahankan senyumannya meski senyumnya itu tidak bermakna apapun bagi Huang Xia. Qian Yue memang sudah mendengar rumor beredar bahwa Huang Xia ialah gadis yang berterus terang terhadap sesuatu yang tidak dia sukai. Hanya saja Qian Yue tidak menyangka keterusterangan Huang Xia lebih parah dari apa yang dia pikirkan. Paling tidak Qian Yue sempat berpikir Huang Xia tetap akan berlaku baik padanya meski hanya sebuah sandiwara. Tapi ternyata, semua itu jauh dari pemikirannya.
"Nona Huang," panggil Qian Yue ramah, sekadar basa-basi agar dirinya tidak terlalu dipermalukan gadis itu.
"Ah, astaga aku pikir siapa, ternyata Nona Qian Yue. Selamat datang Nona Qian Yue." Huang Xia bertingkah seolah baru menyadari adanya keberadaan Qian Yue.
"Ya, Nona Huang-"
"Ayo kita duduk bersama yang lain, kami sudah menunggu kalian sejak tadi." Huang Xia tersenyum pada Yue Sua, merangkul bahu Yue Sua lalu menggiringnya menuju pendopo sederhana tanpa peduli kalau Qian Yue baru saja ingin mengatakan sesuatu. 4 wanita yang juga tamu Huang Xia tertawa kecil sambil menutup mulut mereka, sangat jelas kalau mereka sedang mentertawakan Qian Yue.
Qian Yue terdiam lalu menghela nafas pelan menahan kesabarannya, kemudian dia melangkah mengikuti Huang Xia dan Yue Sua tanpa berkata apapun. Menurutnya tidak ada yang perlu disampaikan, dia hanya ingin menghormati keluarga Huang sebagai keluarga Perdana Menteri.
Yue Sua dan Huang Xia duduk berdampingan, disambut para tamu wanita lain dengan riang, bahkan mereka saling melontarkan pertanyaan tentang kabar masing-masing sekadar basa-basi.
"Nona Huang," panggil Qian Yue lagi, dia belum duduk, tidak, dia ingin duduk hanya saja tidak ada kursi yang tersedia untuknya.
"Ah, ya, Nona Qian Yue, ada apa?" tanya Huang Xia santai seakan merasa tidak ada masalah atau pun kesalahan yang dia lakukan.
Melihat ekspresi Huang Xia masih bisa begitu santai Qian Yue jadi sedikit geram, selain tidak hargai dia juga merasa tidak dianggap dalam undangan minum teh ini. Lalu buat apa Huang Xia mengundangnya? Wajah Qian Yue mendatar tentunya mengejutkan Huang Xia dan yang lain.
"Apakah Nona Huang benar-benar mengundangku atau tidak?"
"Tentu saja aku mengundangmu, bukankah kau menerima undangan dariku?" jawabnya tenang, dia mengumbar senyum kepada semua orang tanpa merasa bersalah.
"Lalu, di mana kursi untukku? Tidak mungkin bukan anda membiarkan tamu anda terus berdiri hingga acara jamuan minum tehnya selesain," balas Qian Yue tenang. Dia masih bisa memaklumi sikap Huang Xia karena dia tahu gadis itu terlalu bodoh hingga bisa dimanfaatin banyak orang, sekaligus dia masih ingin memandang kepala kelurga Huang yang cukup dengan dengan Kakaknya, Ze Yue.
"Ah! Aku hampir lupa, bagaimana mungkin aku tidak membiarkan Nona Qian Yue duduk." Huang Xia menepuk dahinya, aktingnya sungguh bagus namun buruk di mata Qian Yue, "Lili, bawa kemari kursi khusus untuk Nona Qian Yue," teriak Huang Xia sedikit keras, tak lama setelah itu seorang pelayan perempuan datang membawa satu tong kayu lalu meletakkannya di depan Qian Yue.
"Nah, Nona Qian Yue silakan duduk," ujar Huang Xia kembali setelah tong kayu itu sudah berdiri di depan Qian Yue.
Para tamu lain tidak bisa menahan tawa mereka lagi, bahkan Yue Sua juga tidak menahan tawanya. Huang Xia tersenyum lebar pada Qian Yue sementara Qian Yue menatap datar ke arahnya. Huang Xia menggerakkan kepalanya pelan ke samping, memberi kode kepada Qian Yue untuk segera duduk.
Qian Yue tersenyum manis membalas senyuman Huang Xia. Dia mengangkat gaun hanfunya yang cukup panjang lalu terjadilah sesuatu menarik yang mengejutkan mereka semua.
Braakkk!
Tong kayu itu menggelinding keluar dari pendopo akibat tendangan Qian Yue, "Aku rasa keluarga Huang kurang mendidik Nona Huang cara menyambut tamu dengan baik," ujar Qian Yue datar.
"Apa kau bilang?!" Huang Xia memukul meja, terpancing perkataan Qian Yue.
"Apa Kepala keluarga Huang tahu kau memperlakukan tamu dengan cara seperti ini?" Qian Yue menyela cepat, melangkah mendekati Huang Xia, "Aku rasa tidak."
"Kau be-"
"Jika Perdana Menteri Huang tahu, aku yakin Nona Huang akan dihukum berat. Aku dengar Perdana Menteri Huang sangat memegang tinggi peraturan adab dan perilaku. Tapi ... sepertinya Nona Huang kurang belajar dengan baik tentang adab dan perilaku dalam menyambut tamu." Qian Yue semakin mendekatkan wajahnya pada Huang Xia. Sementara Huang Xia mulai menjauhkan wajahnya dari Qian Yue dengan ekspresi tegang dan kaget, mungkin tidak akan menyangka Qian Yue berani menyerangnya secepat ini.
"Ka-kau, apa-"
"Nona Huang adalah anak satu-satunya Perdana Menteri Huang yang artinya cukup berpengaruh dalam hal apapun. Jika saja Nona Huang salah langkah, percayalah keluarga Huang pasti akan berakhir buruk." Qian Yue menyela lagi tidak ingin membiarkan Huang Xia berbicara. Wajahnya juga semakin mendekat membuat Huang Xia semakin panik dan sulit berpikir tenang.
"Apakah Nona Huang membenciku?"
"Ap-"
"Apa aku telah melakukan sesuatu yang membuat Nona Huang marah?"
"Aku-"
"Apakah Nona Huang tidak menyukaiku perihal sesuatu?"
"Bisa-"
"Katakan, katakan apa yang membuatmu tidak menyukaiku?"
"Nona Huang, jawablah! Jawab! Jawab Nona Huang! Jawab!"
Huang Xia menutup ke dua telinganya keras, suara Qian Yue entah kenapa terus tergiang-ngiang di kepalanya, bagaikan semua perkataan yang terus memperingati dan menekan batinnya. Huang Xia menggelengkan kepalanya keras, dia ingin berbicara tapi suara Qian Yue terus saja terputar di kepalanya.
"Nona Huang, Nona Huang, Nona Huang, Nona Huang ...."
"Tidaaakkk!!!"
Braakkk!
"Nona Huang!!!" Semua orang berdiri, cukup terkejut melihat Huang Xia terjatuh ke belakang karena terus memundurkan badannya. Semua memperhatikan dirinya, begitu pun dengan Qian Yue.
"Nona Huang, kau tidak apa-apa?" Qian Yue mengulurkan tangannya kepada Huang Xia. Huang Xia membuka matanya lalu melihat ke sekitarnya, semua orang menatapnya terkejut dan bingung. Huang Xia melihat kepada Qian Yue, gadis itu juga memasang ekspresi yang sama seperti yang lain.
"Nona Huang, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba terjatuh dari kursimu?" tanya Qian Yue lemah, tangannya masih setia mengulur menunggu Huang Xia menerima uluran tangan darinya.
Huang Xia terdiam, dia jadi bingung sendiri, sebenarnya apa yang terjadi? Tadi dia mendengar suara Qian Yue berada di mana-mana bahkan hampir membuatnya depresi, tapi sekarang, tampaknya dialah yang bertingkah aneh di hadapan tamu-tamunya. Huang Xia menatap Qian Yue lagi dan menepis kasar tangan Qian Yue kasar lalu beranjak berdiri sendiri.
"Kau! Kenapa kau terus menyudutkanku dengan pertanyaanmu! Kenapa kau tidak membiarkanku berbicara! Kau terus mengancamku! Kau mengatakan ini dan itu. Apa maksudmu, hah!" Huang Xia menyerang dengan banyaknya pertanyaan keras.
"Nona Huang, apa yang anda katakan?" Qian Yue mengenyit kebingungan, tiba-tiba saja Huang Xia melontarkan begitu banyak tuduhan yang tidak dia mengerti.
"Heh! Jangan pura-pura bodoh, kau baru saja menekanku dengan semua perkataan ancamanmu! Kau mengatakan Ayahku akan menghukumku bukan!?" tegas Huang Xia dengan senyuman lebar yang mengerikan.
"Kapan? Kapan aku menekanmu dengan perkataan ancaman, Nona Huang?! Apakah kalian ada melihatnya?" Qian Yue menjadi melirik para tamu lain juga ingin meminta penjelasan dari mereka, namun semua tamu itu memalingkan wajah ketika dia menatapnya.
Huang Xia tertegun melihat sikap tamu yang lain seakan mengatakan mereka juga tidak melihat kapan Qian Yue menekan Huang Xia, yang ada Huang Xia lah yang terus menekan dan menyudutkan Qian Yue.
"Nona Huang, kau harus tenang," ujar Yue Sua pelan, ragu dan takut menasihati Huang Xia karena dia tahu gadis itu pasti akan menyembur balik karena dia tidak percaya dengan Huang Xia. Tapi bagaimana Yue Sua mau percaya? Dia bahkan tidak melihat Qian Yue menekan Huang Xia seperti yang dikatakan Huang Xia sendiri.
"Benar Nona Huang, sepertinya kau harus tenang," sahut wanita lain, dia adalah Jia Liu anak dari Menteri Pertahanan Chang Liu.
"Apa kalian tidak percaya padaku?" sahut Huang Xia cepat, dia memberikan pandangan bertanya namun dibalas alihan wajah dari mereka semua. Sudah jelas mereka semua tidak percaya dengannya.
"Nona Huang sepertinya anda salah paham padaku, akan ku perjelas lagi kalau aku-"
"Diam! Tidak ada yang perlu kau jelaskan wanita jalang!" Huang Xia menyela cepat, tidak ingin mendapat bantuan dari Qian Yue.
Qian Yue langsung bungkam, tidak ingin memperpanjang masalahnya dengan gadis itu. Terlebih lagi Huang Xia sudah melontarkan bahasa kasar. Qian Yue sudah menebak bahasa kasar pasti akan keluar dari mulut Huang Xia.
"Kau licik Qian Yue!" sembur Huang Xia lagi.
'Jangan salahkan aku, Huang Xia. Kaulah yang memulainya lebih awal, aku sudah berbaik hati mengingatkanmu dan harusnya kau sadar kalau tindakanmu tadi bisa membuat kejatuhan pada keluargamu sendiri.' Pandangan Qian Yue beralih pada salah satu gadis yang diam tenang sejak tadi seakan merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
'Intriknya kecil namun berbuah besar, lumayan pintar. Jadi target mereka Perdana Menteri Huang lagi? Tapi ku harap inu hanya tebakan ku saja.'
__________
Hiatus sementara (mungkin sebulan)
judul aslinya apa mungkin ada yg tau !