"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
“Kamu yakin mau pulang sekarang? Ini sudah
malam, jarak dari sini ke tempat kostan kamu jauh loh.”
“Lalu saya harus apa? Menginap di sini sampai
pagi?”
“Iya, kamu tidur aja di sini. Kamu tidur di
kamar aku tidur di luar.”
“Hah!” Aku melongo mendengar perkataannya, kok
bisa si dia bilang kaya gitu, “kak Alex, tolong jangan bercanda, dalam hukum
agama laki-laki dan perempuan tidak boleh tinggal dalam satu ruangan yang
sama.” Ia terlihat kikuk dan menggarukan kepalanya. Mungkin perkataanku sedang ia pikirkan.
“Ya, sudah. Saya antar kamu pulang ke rumah.”
Di saat aku bersiap-siap keluar dari pintu apartemen, kami berdua dikagetkan
dengan kedatangan Ali di depan pintu membuat kamu berdua tersentak.
“Kamu lagi ngapain di depan pintu kamar saya?”
tanya Alex mengusap dadanya, melihat ia kaget aku sempat tertawa. Ternyata dia
bisa kaget juga, sama sepertiku.
“Maaf, kalau saya mengganggu kegiatan Pak
Alex, saya tidak bermak—“
“Apa yang kamu maksud dengan kegiatan? Kamu
jangan pikir macam-macam tentang saya ya,” ucapnya tidak terima, melihat bosnya
sedikit marah, bukannya takut. Justru bawahannya malah menahan tawa.
“Saya mau antar dia pulang ke rumah, nanti
kalau sudah selesai saya ke sini lagi.”
“Iya, Pak. Hati-hati di jalan.”
“Ayo,” ajaknya, aku berjalan di belakangnya
menuju lift, tiba-tiba saja lampu seluruh apartemen ini mengalami pemadam
listrik, aku yang akut gelap langsung berteriak kencang.
Aku mengalami panik luar biasa, aku tidak bisa
melihat sekitar. Tanganku terus meraba agar aku bisa berpegangan dengan
sesuatu, aku benar-benar takut.
“Mah, aku takut,” ucapku dalam tangis, aku
terus meraba sekitar. Tiba-tiba ada sesuatu menyentuh tanganku.
“Jangan takut, ada saya di sini.” Aku tahu
suara ini, ini suara kak Alex. Perlahan ia menarik tanganku, dan mendekap tubuhku dalam peluknya. Aku sedikit
merasa aman karena ada dia di sini.
“Kamu jangan takut, hal seperti ini sudah
biasa. Kalau ada pemadaman seperti ini, biasanya ada perbaikan listrik.”
“Kapan listriknya selesai diperbaiki?”
“Paling lama setengah jam, terkadang bisa
lebih dari itu.”
“Terus kita harus gimana?”
“Kita kembali ke kamar.” Alex merogoh kantong
celana untuk mengambil ponsel di kantongnya dan menyalakan lampu senter,
setidaknya ada sedikit cahaya.
Aku terus memegang erat lengannya, aku tidak
mau jauh darinya. Aku benar-benar takut.
“Pak Alex?” panggil Ali menghampiri kami
berdua, ternyata dia membawa senter dan mengarahkan cahayanya ke wajahku
membuat mataku silau. Melihat aku menutup mataku, tangan kak Alex langsung
menutupi wajahku agar cahaya senter tidak mengenai wajahku.
“Cahayanya tolong jangan ke arah wajah Yuri.”
“Maaf, Pak.”Ali menurunkan senternya dan
mengarahkan ke tempat.
“Yuri?”
“Iya, Kak.”
“Kamu masih mau pulang sekarang? Kalau mau
kita turun lewat tangga darurat.” Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku, aku
tidak mau pulang dalam keadaan mati lampu seperti ini. Apalagi lewat tangga
darurat, aku takut ada penampakan lewat di depan mataku.
“Terus kamu mau menunggu di sini?”
“I-iya,” lirihku, sudah setengah jam lebih aku
menunggu di sini. Tapi belum nyala.
1 jam kemudian lampu apartemen menyala.
“Alhamdulillah, listriknya udah hidup lagi.
Yu—“ ucapan Alex terhenti ketika melihat Yuri sudah tertidur pulas di sofa,
bahkan suara dengkuran halusnya terdengar oleh dirinya. Ia terus menatap wajah
Yuri yang sudah tertidur pulas, wajah cantiknya tidak pernah berubah. Masih
sama seperti yang dulu saat pertama kali bertemu di tahun kenaikan kelas 3 dulu
semasa sekolah.
Perlahan Alex mendekatkanYuri, ia tatap wajah
manisnya. Ia sentuh pipinya dengan lembut, membuat Yuri sedikit terganggu akan
sentuhan jarinya. Untung Yuri tidak bangun, karena masih penasaran dengan Yuri.
Sekali lagi ia mengganggu tidurnya, membuat Alex tersenyum senang.
Alex terus saja menatap wajah Yuri, ada
perasaan lain bergejolak dalam dirinya. Rasa ia ingin mencium bibirnya,
perlahan ia mendekatkan wajahnya hingga jarak Alex dan Yuri kurang dari sejengkal.
“Pak Abian!” Tiba-tiba saja Ali masuk ke
dalam, membuat Alex kalang kabut. Ia tidak tahu jika ada Ali masuk begitu saja.
Jantungnya sudah berdetak kencang seperti mau copot.
Melihat tingkah bosnya, membuat Ali merasa
tidak enak. Ia pun memutuskan untuk pergi keluar.
“Ali, mau ke mana kamu?”
“Saya mau keluar, sebelumnya saya minta maaf
kalau sudah mengganggu kegiatan bersama dengan—“
“Kegiatan apa maksud kamu?” Alex sedikit salah
tingkah dengan perkataan Ali, bahkan wajahnya saja sudah memerah bagai udang
rebus. Sebenarnya Ali sempat melihat bosnya ingin mencium Yuri yang tengah
tertidur, ia sengaja melakukan hal itu agar bosnya tidak melakukan sesuatu di
luar batas dengan wanita yang bukan istrinya.
“Pak, saya hanya ingin menyampaikan satu hal.
Kalau bisa sebelum menikah, tolong jangan berbuat terlalu jauh.” Selesai berbicara
dengan bosnya, ia memutuskan untuk pergi kembali ke kamar apartemennya. Alex
terus memanggil nama Ali, sayangnya ia tidak menggubrisnya.
Alex mengacak-acak rambutnya, ia begitu malu
dengan Ali. Ia yakin sekali, Ali pasti melihat perbuatan terhadap Yuri barusan.
“Ya, Allah. Maafkan hambamu ini yang sudah
melakukan tindakan di luar batas.” Alex menyesal atas perbuatannya, seharusnya
ia tidak mencium Yuri. Ia tidak tahu, kenapa dia bisa bertindak seperti itu.
Kalau saja tidak ada Ali, mungkin saja ia sudah menciumnya.