Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.
Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Malam itu Vana baru saja sampai di apartemennya. Ia melepas sepatu di dekat pintu, bahunya sedikit turun menandakan lelah setelah seharian beraktivitas.
“Udah pulang, Kak,” ucap Azam begitu melihat Vana masuk. Ia segera berdiri dan menyalami tangan sang kakak dengan sopan.
“Iya,” jawab Vana sambil tersenyum tipis. “Kamu udah makan?”
“Udah,” sahut Azam singkat. Ia lalu mengambil segelas air dari meja dan menyerahkannya. “Ini minumnya, Kak.”
“Makasih,” Vana menerima gelas itu dan meneguknya perlahan.
"Gimana Kuliah kamu Zam? Lancar?. " tanya Vana
Azam terdiam sepersekian detik. Senyumnya muncul agak terlambat.
“Lancar, kak” katanya. “ Cuma ada sedikit tugas yang perlu direvisi.”Jawab Azam bohong.
Vana mengangguk kecil, “Oh ya? Besok kamu kuliah, Zam?” tanyanya dengan suara lembut, mengingat hari Sabtu adalah hari libur Azam kuliah.
Azam tersenyum kecil, berusaha meyakinkan. “Enggak, Azam besok mau main sama teman-teman,kak.”jawab Azam cepat, mencoba terdengar santai.
“Oh… ya sudah, nanti Kakak transfer jajan kamu,” kata Vana lembut.
“Nggak usah, Kak. Jajan minggu kemarin masih ada,” jawab Azam cepat, seolah takut ketahuan.
“Kalau begitu, ditabung aja, ya,” balas Vana sambil tersenyum pelan.
Azam mengangguk, senyumnya mulai menghilang. “Makasih, Kak.”
Vana menguap dan berdiri. “Kakak mau mandi dulu, sudah gerah. Kamu juga sebaiknya istirahat.”
Azam hanya mengangguk, matanya menatap Vana yang perlahan melangkah ke kamar dan menutup pintu.
Diam. Hening.
Azam berdiri sendiri di ruang tamu, tatapannya kosong menembus pintu kamar yang tertutup rapat. Ada rasa sesal yang mencengkram dadanya, suara kecil mengalun lirih dari bibirnya yang hampir tak terdengar.
“Maafin Azam, Kak… Azam udah bohong.”lirihnya nyaris tidak terdengar.
Namun, di balik kata-kata itu, ada beban yang lebih berat. Rahasia yang belum siap ia bagi, dan ketakutan akan kekecewaan yang mungkin datang.
Dalam kamar, Vana baru saja selesai mandi. Rambutnya masih setengah basah saat ia duduk di tepi kasur, bersiap untuk beristirahat. Ponselnya yang tergeletak di atas kasur tiba-tiba berdering.
Nama penelepon yang muncul membuatnya tersenyum tanpa sadar.
Anak Tampan Mami Aska
“Tentu saja,” gumam Vana kecil. Nama itu pasti ulah dua bocah itu.
Ia menggeser ikon hijau.
“Selamat malam, Mami,” sapa Aska ceria dari seberang sana.
“Selamat malam juga,” jawab Vana lembut. “Adek lagi ngapain? Kok belum tidur?”
“Adek belum ngantuk, Mi,” jawab Aska cepat, terdengar sedikit manja.
Vana terkekeh pelan. “Belum ngantuk atau nggak mau tidur?"ujar Vana membuat Aska cengengesan.
Vana menggeleng kecil,ia sudah menebak pikiran remaja ini. "Adek harus banyak istirahat. Biar cepet sembuh.”
“Adek udah sehat, Mi,” sahut Aska, nada suaranya berubah mendengus kecil. “Udah nggak pusing, sumpah.”
“Iya, iya, Mami percaya,” ujar Vana menenangkan.
“Abang mana, sayang? Kok nggak kelihatan?”tanya Vana yang tidak melihat Aksa di layar itu.
“Abang lagi di bawah, Mi. Lagi ngobrol sama Om Anom.”jawab Aska.
“Oh…” Vana mengangguk. “Jangan lama-lama ya, nanti masuk angin.”
“Mi,” panggil Aska tiba-tiba.
“Iya, sayang?”
“Hari Minggu besok, abang ada lomba balap mobil,” ucap Aska dengan suara semangat. “Mami ikut ya.”
Vana terdiam sejenak. “Minggu ini?” tanyanya, memastikan.
Aksa memang telah lama memiliki hobi balap mobil. Sejak kecil, lintasan dan deru mesin sudah akrab dengannya. Ia bahkan sering menjuarai berbagai pertandingan kecil hingga tingkat regional. Dan Leo selalu berdiri paling depan, memberi dukungan tanpa syarat pada hobi putranya itu.
“Iya, Mi,” jawab Aska sambil mengangguk kuat, meski Vana tak bisa melihatnya. “Adek mau Mami nonton. Biar abang semangat.”
Vana tersenyum kecil. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. “Mami usahakan datang ya, sayang.”
Raut Aska langsung berubah. “Kok gitu, Mi?” ucapnya manyun. “Adek penginnya Mami datang.”
Vana tertawa pelan, lalu merendahkan suaranya. “Kan Mami harus kerja, nak. Kalau bisa izin, Mami pasti ke sana.”
Aska terdiam beberapa detik. “Kalau Mami kerja… abang pasti sedih,” katanya lirih.
Kalimat itu membuat senyum Vana memudar sesaat. “Adek jangan bilang begitu,” ujarnya lembut. “Abang itu hebat, ada atau nggak ada Mami, dia tetap hebat dan berani.”
“Tapi kalau ada Mami, abang pasti lebih hebat dan berani lagi,” bantah Aska cepat. “Adek juga.”
Vana menghela napas pelan. “Begini ya, sayang,” katanya menenangkan. “Mami akan berusaha pulang lebih cepat. Kalau Mami bisa datang, Mami langsung ke sirkuit.”
“Janji?” tanya Aska penuh harap.
“Mami usahain,” jawab Vana jujur. “Tapi satu hal yang pasti, Mami selalu doain abang dan adek.”
Aska tersenyum lagi, suaranya kembali ceria. “Iya, Mi. Adek tunggu.”
“Sekarang tidur, ya,” ujar Vana lembut. “Biar besok bangun segar.”
“Iya, Mami. Selamat malam.”
“Selamat malam, sayang.”
🍁🍁🍁
Di garasi, aroma oli dan besi panas memenuhi udara,meski jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Lampu-lampu putih menggantung rendah, memantulkan kilau dingin pada bodi mobil balap berwarna hitam yang terparkir di tengah ruangan. Beberapa mekanik bergerak sigap di sekelilingnya ada yang memeriksa mesin, ada yang berlutut di dekat roda, dan ada pula yang menyesuaikan baut dengan wajah serius.
Aksa berdiri tak jauh dari mobil itu, tangan dimasukkan ke saku jaket. Matanya menatap setiap gerakan mekanik dengan fokus yang nyaris tak berkedip.
“Kalau setelan rem depan dikerasin, di tikungan ketiga dia bakal lebih nurut,” ujar salah satu mekanik.
“Pastikan aman. Jangan ambil risiko.”ucap Leo membuat Mekanik itu mengangguk paham.
“Suspensinya udah lebih empuk,” ujar salah satu mekanik sambil menyeka keringat. “Tapi kalau dipakai ngebut di tikungan tajam, masih perlu penyesuaian dikit.”
Leo mengangguk pelan. “Yang penting stabil. Anak saya nggak perlu mobil yang nekat.”
Aksa melirik papinya sekilas, lalu kembali menatap mobil. “Abang nggak akan maksa,” ucapnya tenang. “Yang penting responsnya pas.”
Agam yang bersandar di meja kerja terkekeh kecil. “Padahal biasanya kamu paling nggak sabar nunggu mesin beres.”
“Besok beda,” jawab Aksa singkat.
Kenan melipat tangan di dada. “Karena Minggu ini lomba penting, ya?”
Aksa mengangguk pelan.
Bisma yang sejak tadi duduk di atas peti alat mendecakkan lidah. “Tenang aja. Mobil ini bakal siap. Kalau nggak siap, mekaniknya bisa trauma.”
Beberapa mekanik tertawa kecil, suasana sedikit mencair.
Namun Aksa tetap diam. Tatapannya kosong sesaat, seolah pikirannya melayang ke tempat lain.
“Ada apa?” tanya Leo, menangkap perubahan itu.
Aksa ragu sejenak sebelum akhirnya bersuara.
“Pi… Abang pengin mami bisa nonton saat abang balapan nanti. Abang pengin mami lihat kemampuan abang. ”
Agam berhenti tertawa. Kenan menoleh. Bahkan Bisma ikut menegakkan punggungnya.
Leo menatap putranya dalam-dalam. “Kamu lomba bukan buat pamer ke siapa pun,” ucapnya tegas namun tenang. “Termasuk ke Mami.”
“Abang tahu,” sahut Aksa cepat. “Tapi kalau Mami ada di sana… rasanya beda.”
Bisma menghela napas pelan. “Ciyee… pembalap sentimental.”
Aksa melirik tajam. “Diam Anom.”
Bisma langsung diam, pura-pura mengunci mulutnya dengan kedua tangan.
Kenan tersenyum tipis. “Wajar. Ada orang-orang tertentu yang bikin kita pengin lebih baik. Tapi disini kamu juga harus mengerti,kalau mami juga punya kehidupan nya sendiri.”
Agam mengangguk setuju. “Iya. Kita nggak bisa memaksakan sesuatu terlalu jauh Aksa. "ucap Agam bijak.
" Tapi-"
"Kamu cukup kasih tau mami kamu, kalau kamu mau balapan dan berharap dia bisa datang. Tidak perlu memaksanya datang,oke. "ucap Kenan.
"Iya, om. " Jawab Aksa menunduk sedih.
Leo terdiam sejenak. Ia menepuk bahu Aksa pelan. “Kalau begitu, kamu balapan buat dirimu sendiri. Mami itu bonus.”
Aksa mengangguk. “Abang cuma pengin mami lihat… kalau abang bener-bener serius.”
Tiba-tiba, mesin mobil dinyalakan. Suaranya mengaum keras, bergaung di antara dinding garasi yang sempit. Denting logam dan aroma bensin membuat udara terasa panas.
Salah satu mekanik mengangkat jempol. “Mesinnya halus. Tinggal finishing."
Aksa menatap mobil itu lagi. Kali ini matanya lebih tajam penuh tekad.
“Pastikan semuanya aman,” katanya mantap. “Saya mau pulang dengan senyum.”
Leo tersenyum tipis di sampingnya. “Dan pulang dengan utuh.”
Aksa mengangguk. Dalam hatinya, ada satu harapan yang terus ia pegang erat:
semoga Vana datang.
Dia membayangkan wajah Vana, senyum tipisnya, dan bagaimana kehadirannya bisa membuat semua rasa lelah dan gugup lenyap. Garasi yang bising itu seolah tenang sejenak dalam pikirannya.
Bersambung,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊