Pusaka Tambun Tulang: Bangkitnya Pendekar Terbuang
Arya Wiguna, seorang yatim piatu yang difitnah mencuri Kitab Pusaka Jurus Pedang Penggetar Langit, diusir dari padepokan oleh pamannya sendiri, Bujang Larang. Dibuang ke Bukit Tambun Tulang yang menyeramkan, Arya diselamatkan oleh Panglima Hijau, seorang pertapa sakti. Di sana, Arya ditempa untuk menguasai Pedang Pusaka Tambun Tulang yang memberinya kekuatan kebal dan tenaga dahsyat, menjadikannya pendekar tak terkalahkan.
Kembali untuk membalas dendam, Arya harus menghadapi Bujang Larang yang kini bersekutu dengan komplotan bandit Bajing Bukit Tiga Puluh. Di tengah perjuangannya, ia bertemu dan jatuh cinta pada Anggun Sari, pendekar cantik dari Bukit Sanggar Puyuh, yang menjadi sekutu setia dan kekasihnya. Namun, pesona Arya menarik banyak gadis lain, memicu intrik romansa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pembentukan Pasukan
Diskusi di aula utama kediaman Adipati Rengas Sembilan akhirnya mencapai puncaknya.
Setelah pertunjukan kekuatan Arya Wiguna yang tak terbantahkan—sebuah pemandangan yang takkan lekang dari ingatan para pendekar yang hadir—serta berbagai masukan dari para pendekar, sebuah rencana matang pun berhasil dirumuskan.
Situasi yang sebelumnya dipenuhi ketegangan dan keraguan, kini berganti menjadi semangat persatuan dan tekad bulat untuk menghancurkan Kelompok Topeng Emas dan pemimpin keji mereka, Bagasandra.
Adipati Rengas Sembilan, dengan wajah yang kini memancarkan keyakinan penuh, mengetuk meja dengan kepalan tangan.
"Baiklah, para pendekar! Setelah menimbang semua usulan dan kekuatan yang kita miliki, saya telah memutuskan strategi penyerbuan Hutan Angker!"
Suaranya menggelegar, memancarkan wibawa seorang pemimpin sejati.
"Kita akan melakukan penyerbuan serentak dari empat penjuru: utara, selatan, timur, dan barat.
Setiap tim akan beranggotakan pendekar-pendekar pilihan yang memiliki kemampuan untuk menembus pertahanan lawan dan menghadapi bahaya di Hutan Angker."
Para pendekar mengangguk setuju, adrenalin mulai terpompa dalam diri mereka. Ini adalah saatnya mereka membuktikan janji untuk menjaga kedamaian negeri.
"Untuk menjaga keamanan desa-desa yang selama ini diteror dan mengantisipasi serangan balasan dari orang-orang bertopeng emas yang tersisa," lanjut Adipati, matanya menyapu seluruh aula.
"Beberapa pendekar dari berbagai perguruan akan ditugaskan untuk melakukan pengamanan. Mereka akan berpatroli dan melindungi warga, memastikan tidak ada lagi korban penculikan dan kekejaman."
Adipati kemudian mulai menyebutkan nama-nama pendekar yang akan memimpin tiap tim penyerbuan.
"Kelompok Timur akan dipimpin oleh Guru Naga Langit dari Perguruan Naga Langit. Kelompok Selatan oleh Biksu Botak dari Kuil Seribu Doa. Kelompok Utara oleh Nyi Lembayung Senja dari Lembah Anggrek."
Adipati Rengas Sembilan berhenti sejenak, tatapannya beralih ke Arya Wiguna, penuh keyakinan.
"Untuk Tim Barat, yang kami perkirakan memiliki rintangan terberat dan membutuhkan kekuatan yang tak tertandingi, saya menunjuk Tuan Arya Wiguna untuk memimpin!"
Sebuah gelombang bisik-bisik dan decak kagum melingkupi aula. Menunjuk Arya, seorang pendekar muda yang belum lama muncul di dunia persilatan, untuk memimpin tim terberat adalah sebuah keputusan berani.
Setelah melihat kekuatan Arya Wiguna tidak ada yang berani menentang. Bahkan Pendekar Jenggot Perak, yang kini duduk diam dengan wajah menunduk karena malu, tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Saya akan berusaha sebaik mungkin, Adipati," kata Arya dengan tenang, mengangguk hormat, sorot matanya menunjukkan tekad bulat.
"Nini Anggun Sari," lanjut Adipati, menatap Anggun dengan senyum tipis. "Kau akan menemani Tuan Arya Wiguna di Kelompok Barat. Pengalamanmu di Perguruan Mawar Putih dan keahlianmu dalam menghadapi ilmu-ilmu aneh akan sangat membantu."
Wajah Anggun Sari berseri-seri, senyumnya merekah lebar. Ia sangat senang bisa terus bersama Arya dalam misi penting ini.
"Saya siap, Adipati!" sahut Anggun Sari dengan semangat yang membara.
"Selain mereka berdua," Adipati kembali bersuara, "Kelompok Barat akan diperkuat oleh dua pendekar lainnya yang memiliki keahlian khusus dalam menelusuri medan sulit dan melacak jejak.
Mereka adalah Ki Bayu Wulung dari Perguruan Elang Utara, seorang pendekar muda dengan ketangkasan luar biasa, dan Nyi Kembang Sore dari Perguruan Puncak Wangi, seorang perempuan paruh baya dengan pakaian hijau gelap dan aura misterius yang terkenal dengan kemampuan mendeteksi bahaya. Kalian berempat akan bergerak dari arah barat, menelusuri bagian hutan yang paling terpencil dan angker."
Ki Bayu Wulung mengangguk, sorot matanya menunjukkan kesiapan bertarung.
Nyi Kembang Sore, dengan gerakan anggun namun pasti, juga mengangguk hormat. Pembentukan kelompok selesai. Rencana penyerbuan dijadwalkan akan dimulai pada keesokan paginya, tepat saat fajar menyingsing, sebuah waktu yang dianggap paling baik untuk memulai pergerakan besar.
Perjalanan Penuh Jebakan di Hutan Angker
Fajar merekah di ufuk timur, mewarnai langit Jambi dengan semburat jingga dan ungu.
Kelompok Barat yang dipimpin Arya Wiguna telah bersiap di tepi Hutan Angker, sebuah tempat yang diselimuti kabut tipis dan aura dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Pohon-pohon menjulang tinggi, dahan-dahannya saling terkait, menciptakan penutup gelap yang jarang ditembus sinar matahari. Udara terasa lembap dan berat, menyisakan bau tanah basah dan dedaunan lapuk.
"Kita akan bergerak hati-hati," kata Arya, suaranya pelan namun tegas, matanya mengamati rimbunnya hutan.
"Hutan ini terkenal angker dan pasti dipenuhi jebakan serta ranjau yang disiapkan oleh Bagasandra dan kelompok nya. Kita tidak boleh lengah sedikit pun," lanjut Arya lagi.
Ki Bayu Wulung mengangguk, pedangnya sudah tergenggam erat.
"Saya pernah mendengar tentang tempat ini. Konon, Bagasandra menggunakan ilmu hitam untuk memanipulasi alam di sini, membuatnya semakin berbahaya dan menyesatkan."
"Aku siap, Arya," bisik Anggun Sari, menggenggam erat tangan Arya. Meskipun ada sedikit rasa gugup melihat kemisteriusan hutan, kehadiran Arya di sisinya memberinya keberanian yang luar biasa, seolah tak ada yang perlu ditakuti.
Nyi Kembang Sore, dengan mata tajamnya yang setajam elang, menunjuk ke arah dalam hutan.
"Ada jejak samar di sana, mengarah ke sebuah jalan setapak yang nyaris tak terlihat, seolah sengaja disembunyikan," kata Nyi Kembang Sore.
Mereka berempat mulai menelusuri hutan. Langkah mereka senyap, sehati-hati mungkin, bagai bayangan yang bergerak di antara pepohonan.
Arya memimpin di depan, indra keenamnya yang tajam selalu waspada, menangkap setiap perubahan kecil di udara.
Anggun Sari berjalan tepat di belakang Arya, pedangnya sudah terhunus dari sarung, siap menghadapi segala kemungkinan.
Ki Bayu Wulung dan Nyi Kembang Sore mengikuti di belakang, mata mereka mengamati setiap dahan dan akar, mencari tanda-tanda bahaya.
Baru beberapa ratus langkah memasuki hutan, tiba-tiba Ki Bayu Wulung mengangkat tangan, mengisyaratkan berhenti.
"Hati-hati! Ada kawat jebakan di depan kita!" bisik Ki Bayu Wulung, suaranya nyaris tak terdengar.
Arya sudah merasakannya. Sebuah kawat tipis yang nyaris tak terlihat membentang di antara dua pohon, terhubung dengan tumpukan batu besar yang siap meluncur jika kawat itu tersentuh.
Pendekar Harimau Putih itu dengan tenang melompati kawat itu, gerakannya seringan kapas, di ikuti oleh Anggun Sari yang gesit, melompat dengan lincah seolah tak ada beban.
Ki Bayu Wulung dan Nyi Kembang Sore juga berhasil melampauinya tanpa menyentuh.
Dasar penjahat licik!" gerutu Anggun Sari, wajahnya masam.
"Mereka bahkan menggunakan jebakan murahan seperti ini untuk pendekar!"
"Ini baru permulaan, Nini Anggun," kata Nyi Kembang Sore dengan suara datar, matanya menyapu hutan.
"Orang-orang Bagasandra tidak pandang bulu dalam menciptakan kekacauan dan rintangan. Mereka akan menggunakan segala cara."
Mereka terus bergerak maju, menghadapi beberapa jebakan lain yang semakin canggih.
Ada lubang tersembunyi yang ditutupi dedaunan dan ranting, ranjau paku yang ditanam di tanah, bahkan jaring perangkap yang tergantung di antara pepohonan.
Namun, dengan kewaspadaan Arya yang luar biasa, kepekaan indra Ki Bayu Wulung yang tajam, dan kemampuan mendeteksi bahaya dari Nyi Kembang Sore, mereka berhasil menghindari semuanya.
Arya bahkan dengan sengaja merusak beberapa ranjau dari jarak aman menggunakan lemparan kerikil atau desisan tenaga dalam untuk membersihkan jalan, menciptakan ledakan kecil yang menggema di hutan, memecah keheningan.
Bersambung....
makin seru kisahnya