NovelToon NovelToon
Dipaksa Suami Menerima Istri Siri!

Dipaksa Suami Menerima Istri Siri!

Status: tamat
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Poligami / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: niya_23

Alya, seorang wanita lembut dan setia, tak pernah membayangkan rumah tangganya yang terlihat sempurna harus terguncang oleh kenyataan pahit. Suaminya, Reza, yang selama ini ia percaya dan cintai sepenuh hati, tiba-tiba membawa wanita lain dan memperkenalkannya sebagai istri sirinya. Hancur dan terluka, Alya dipaksa menerima kehadiran orang ketiga dalam hidupnya, meski batinnya menolak keras.

Namun, hidup tak semudah menelan kenyataan
Alya harus menghadapi dilema antara mempertahankan rumah tangganya demi Ibunya atau memperjuangkan harga dirinya yang diinjak-injak. Perlahan, rahasia demi rahasia tentang rahasia istri sirinya mulai terungkap, membuka luka lama dan menguji batas kesabaran Alya. Mampukah cinta bertahan saat kepercayaan telah dikhianati? Ataukah Alya akan menemukan kekuatannya sendiri untuk berdiri dan memilih jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Bab 32

Sudah seminggu sejak kabar pernikahan Dirga dan Alya mengguncang keluarga besar Ardianto. Gosip masih berhembus di kalangan kerabat dan rekan bisnis keluarga, tapi Alya dan Dirga memilih diam.

Mereka tahu, hanya waktu yang bisa membuktikan jika keputusan mereka benar. dan hanya waktu jugalah yang bisa menghapus prasangka buruk itu.

Sesuai peraturan keluarga Arditho Dirga dan Alya harus tinggal di rumah mertuanya itu. Suatu pagi Dirga bekerja lebih awal. Sebagai menantu baru Alya dengan telaten berusaha menyiapkan sarapan di rumah besar keluarga Ardianto tempat yang kini masih terasa asing baginya. Para asisten rumah tangga menatapnya ragu, sebagian berbisik, sebagian memilih diam. Namun Alya tersenyum ramah, seolah tak mendengar apa pun.

Ketika Bu Desi turun dari tangga dengan pakaian rapi, Alya segera menghampiri lalu  mendekat.

“Selamat pagi, Bu. Saya sudah siapkan sarapan. Saya tahu Ibu suka bubur ayam tanpa sambal,” sapa Alya ramah ia berusaha mencairkan suasana.

Bu Desi terdiam sejenak. Ia tidak menjawab, hanya menatap piring bubur di meja. Alya lalu menunduk sopan dan mundur.

“Saya pamit ke kantor yah, Bu.”

Bu Desi hanya mengangguk pelan setelah Alya berangkat ke kantor Bu Desi mencicipi bubur ayam yang dibuat oleh Alya perlahan sesendok bubur ayam itu masuk ke mulut Desi. Ia mengunyah dengan pelan. Ada sensasi berbeda dengan bubur ayam lain yang selama ini ia makan.

“Mbak Leli kesini Mbak,” teriak Bu Desi memanggil ART nya.

“Iya Bu ada apa?” jawab Mbak Leli cepat.

“Ini bubur ayam siapa yang bikin kok beda rasanya dari biasanya,” tanya Bu Desi.

“Itu anu Bu yang bikin Mbak Alya dia dari pagi sudah berkutat di dapur katanya dia ingin buatkan sarapan untuk Ibu,” jawab Mbak Leli.

“Kenapa Bu apa bubur ayam bikinan Mbak Alya tidak enak?” tanya Mbak Leli.

“Tidak justru sebaliknya saya suka. Bubur ini bubur paling enak yang pernah saya makan,”  jawab Bu Desi sambil ia melanjutkan memakan bubur itu.

Sedangkan di Perusahaan Ardianto Group para petinggi perusahaan sedang menyiapkan proyek besar yaitu  pengembangan kawasan hunian pintar. Dirga, sebagai direktur muda, mempercayakan posisi penting kepada Alya Istrinya meski keputusan itu memicu pro dan kontra di kalangan petinggi perusahaan dan karyawan yang lain.

“Dia cuma dapat posisi itu karena istri bos,” bisik salah satu karyawan wanita.

Alya mendengar hal itu, tapi ia lebih memilih tidak menanggapi. Ia tahu, satu-satunya cara membungkam mereka adalah dengan hasil yang memuaskan.

Selama berminggu-minggu, Alya bekerja tanpa lelah. Ia turun langsung ke lapangan, memeriksa lokasi, berbicara dengan tim arsitek, dan mencari solusi efisiensi biaya tanpa menurunkan kualitas.

Sementara Dirga beberapa kali memintanya istirahat, Alya hanya tersenyum.

“Jika aku berhenti di tengah jalan, orang akan bilang aku cuma numpang nama kamu, Sayang aku gak boleh nyerah gitu aja.”

Hari presentasi proyek pun tiba.

Aula rapat besar dipenuhi jajaran direksi dan investor penting, termasuk Bu Desi, yang datang mewakili dewan komisaris. Tatapannya tajam setiap kali mata mereka beradu.

Alya berdiri di depan layar proyektor, mengenakan setelan kerja sederhana berwarna krem. Suaranya tenang dan tampak percaya diri.

Konsep pengembangan kawasan ini tidak hanya berfokus pada desain modern, tapi juga pada efisiensi energi dan pemberdayaan masyarakat lokal. Kami menargetkan 40% penghematan biaya operasional dibanding proyek tahun lalu.”

Beberapa direktur senior saling menatap kagum. Data yang Alya tampilkan rinci, akurat, dan disusun dengan perhitungan rapi dan matang. Salah satu investor bertepuk tangan lebih dulu.

“Ini Ide yang luar biasa, Bu Alya.”

Alya tersenyum sopan. “Terima kasih Pak.”

Dirga memperhatikan dari ujung meja, bangga sekaligus terharu. Ia tahu betapa keras perjuangan istrinya itu hingga sampai di titik ini.

Ketika presentasi selesai, semua orang berdiri memberi tepuk tangan. Sedangkan Bu Desi masih diam di kursinya, tapi sorot matanya berbeda ada kekaguman yang sulit disembunyikan.

Beberapa jam kemudian, setelah ruangan rapat sepi, Bu Desi menghampiri Alya yang tampak sibuk merapikan berkas. “Alya,” panggilnya pelan.

Alya menegakkan badan, sedikit gugup. “Iya, Bu?”

Bu Desi menatapnya lama. “ Penampilan kamu tadi  luar biasa.”

Ia menarik napas, lalu melanjutkan, “Selama ini Ibu pikir kamu cuma gadis biasa yang menempel pada Dirga. Tapi ternyata kamu punya kemampuan yang bahkan banyak orang di sini nggak punya.”

Alya menunduk sopan. “Saya cuma berusaha melakukan yang terbaik, Bu. Saya ingin orang tahu saya ada di perusahaan ini bukan karena status saya, tapi karena kemampuan saya.”

Bu Desi tersenyum tipis, nada suaranya melembut. “Kamu berhasil membuktikannya. Dan mungkin selama ini Ibu terlalu cepat menilai kamu.”

Ia menatap Alya dengan mata yang kini tak lagi dingin. “Mulai hari ini, Ibu bukan cuma lihat kamu sebagai istri Dirga, tapi juga sebagai bagian dari perusahaan  dan keluarga besar Arditho.”

Alya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, Bu Saya nggak akan sia-siakan kepercayaan Ibu ini.”

Saat Bu Desi pergi, Dirga muncul di pintu, menatap Alya dengan bangga. Ia mendekat dan berbisik lembut, “Aku sudah bilang, sayang. Kamu nggak perlu membuktikan siapa kamu kepadaku. Tapi kamu baru saja tunjukkan pada dunia siapa kamu sebenarnya.”

Alya tersenyum, menatap Dirga penuh cinta.

“Sekarang dunia tahu, aku bukan cuma istrimu, tapi juga seseorang yang pantas berdiri di sampingmu.”

Tidak berhenti sampai disitu kini Alya. Ingin menunjukan sisi lain dari dirinya kepada mertuanya itu. Ibu saya dan Mas Dirga mau pergi ke yayasan  sebentar, Bu. Ada kegiatan sosial di sana saya dan Mas Dirga ingin sedikit membantu.”

“Yayasan?” tanya Bu Desi spontan, nadanya sedikit melunak.

Alya menatapnya lembut. “Iya, Bu. Yayasan ‘Kasih Ibu’ Saya pikir, mungkin saya bisa ajak Ibu juga lihat kesana suatu hari nanti.”

Bu Desi tidak menanggapi, tapi sorot matanya berubah. Ada sedikit rasa penasaran yang tersisa setelah mendengar kata yatim.

Beberapa hari kemudian, Alya diam-diam mengundang Bu Desi untuk datang ke acara kecil di yayasan itu. Awalnya, Bu Desi menolak, tapi akhirnya datang juga karena dorongan Dirga.

Saat sampai di sana, Bu Desi terkejut melihat Alya sedang berjongkok, membantu anak-anak kecil melukis di halaman. Bajunya sederhana, tangannya kotor oleh cat warna-warni, tapi wajahnya penuh kebahagiaan.

“Bagus sekali lukisannya, Dika!” ucap Alya lembut, menepuk kepala seorang bocah laki-laki yang kehilangan orang tuanya.

Melihat itu, hati Bu Desi perlahan mencair. Seorang pengurus yayasan mendekatinya.

“Ibu tahu? Mbak Alya ini dulu sering bantu di sini. Waktu itu, dia bahkan menanggung biaya sekolah dua anak di sini dengan uangnya sendiri.

Bu Desi terdiam lama. Ia menatap Alya yang sedang tersenyum di tengah anak-anak itu tanpa pamrih, tanpa gengsi.

Sore itu, saat acara selesai, Bu Desi mendekati Alya yang sedang membereskan perlengkapan.

“Alya,” panggilnya Bu Desi pelan.

Alya berbalik, terkejut melihat Bu Desi di belakangnya. “Bu? Saya nggak tahu kalau Ibu datang.”

Bu Desi tersenyum samar. “Sekarang saya tahu kenapa Dirga memilih kamu.”

Ia menatap Alya penuh makna. “Kamu bukan cuma baik, tapi juga tulus. Dan mungkin Ibu terlalu cepat menilai kamu hanya dari masa lalu.”

Alya menunduk, air matanya mengalir pelan. “Saya nggak minta Ibu langsung terima saya, Bu. Saya cuma ingin Ibu tahu saya sungguh-sungguh mencintai Dirga, dan saya ingin jadi bagian keluarga ini dengan cara yang terhormat.”

Bu Desi menyentuh bahunya lembut. “Kalau begitu, buktikan terus dengan caramu yang seperti ini. Ibu belum bisa memanggilmu ‘menantu’, tapi mungkin sebentar lagi, Ibu bisa.”

Alya tersenyum haru, dan untuk pertama kalinya, ia merasa diterima meski baru setengah langkah.

Di kejauhan, Dirga yang diam-diam datang menatap pemandangan itu dengan mata berair. Ia tahu, perjuangan Alya tidak sia-sia. Cinta mereka akhirnya mulai diterima, sedikit demi sedikit.

Bersambung...

Jangan lupa kasih like guys.....🥰

1
Surati
bagus ceritanya 👍
Didin Wahidin
yg bener aja Thor, ada suster julid
evi carolin
dr awal sdh jelas mamanya Dirga ga suka sama kamu lbh baik ga usah diteruskan ckp hubungan kerja aja ,jelas jelas sifat mmnya Dirga spt itu lbh baik nikmatin hdp smp bertemu jodoh yg meratukan mu ,Dirga bucin ama kamu biar aja kan ada mmnya yg ngerecokin hdp anaknya seterusnya
evi carolin
selamat berbahagia Reza ,selamat atas segalanya , selamat menikmati hidup pilihan mu
evi carolin
perasaan aman tuh kawin lg taunya ketahuan,eh giliran mo dilepas kaya cacing kena abu 😜 panas panas deh rumah tangganya si Reza ama gundiknya apa lg ditambah bukti nikah dia yg terbaru .... yuhuuu .../Facepalm//Facepalm//Facepalm/
evi carolin
ya iyalah ,masak bisanya ngasih dr milik istri pertama ,keliatan banget ga mampu nafkahin istri kedua,mulai dr nol buat istri kedua ya .... bkn tinggal nyomot punya istri pertama /Joyful//Joyful//Joyful/
Rina Susilowati
poligami hampir semua diawali dengan selingkuh. seperti sewa pelacur, ketahuan baru bilang poligami 😆
Merry Marmut
seru thor
Ma Em
Akhirnya Alya bahagia bersama Dirga dan Arsya , setelah Alya banyak merasakan penderitaan dan berakhir dgn kebahagiaan , terima kasih Thor semoga author selalu sehat dan panjang umur sukses selalu 🤲🙏😘🥰
Lisa Yacoub
ceritanya bagus, thor .....dgn nasehat yg bijak dan menyentuh.
Arieee
bagus👍👍👍👍👍
Arieee
👍👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰bagus
cinta semu
Bu Rini makin berani .. semoga Alya & Dirga bisa mengatasi ny💪
partini
doa istri Solehah dan ibu itu wow sekali loh
Moms Putri
ceritanya acak adut
Ma Em
Alhamdulillah Alya sekarang sdh hamil , ternyata Alya tdk mandul tapi yg mandul mantan suaminya Alya , semoga Alya dan Dirga selalu bahagia apalagi beberapa blm lagi anaknya akan lahir , semoga pernikahan Alya dan Dirga langgeng .
Ma Em
Semangat Thor semoga anaknya segera sembuh dan sehat selalu 🤲🤲
Jue
Di dunia nyata soal jodoh maut ini terletak di tangan Allah SWT , Restu ibubapa itu hanya syarat untuk melengkapi sebuah bahtera perkahwinan atau lebih tepat perkataan restu itu sendiri datang dari bahasa Sanskrit lama ( Agama Hindu ) , Ketika sudah bertemu dengan orang yang kita rasa tepat maka boleh saja menikah tanpa restu dengan syarat ada wali hakim jangan sampai lari menikah di sempadan pula , Lalu perlahan-lahan ambil hati mentua dengan sikap diri kita yang baik dan ingatlah bahawa sesuatu yang datang pada kita di bawah aturan Allah SWT maka yang maha kuasa adalah sebaik-baik perancang hidup setiap makhluknya di muka bumi ini ..... 💪
Rieya Yanie
biar tahu rasa reza
Ma Em
Bu Desi tdk akan menyesal punya menantu Alya karena Alya orangnya baik , sabar serta penyayang dan pilihan Dirga itu tdk akan salah .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!