Alya, seorang wanita lembut dan setia, tak pernah membayangkan rumah tangganya yang terlihat sempurna harus terguncang oleh kenyataan pahit. Suaminya, Reza, yang selama ini ia percaya dan cintai sepenuh hati, tiba-tiba membawa wanita lain dan memperkenalkannya sebagai istri sirinya. Hancur dan terluka, Alya dipaksa menerima kehadiran orang ketiga dalam hidupnya, meski batinnya menolak keras.
Namun, hidup tak semudah menelan kenyataan
Alya harus menghadapi dilema antara mempertahankan rumah tangganya demi Ibunya atau memperjuangkan harga dirinya yang diinjak-injak. Perlahan, rahasia demi rahasia tentang rahasia istri sirinya mulai terungkap, membuka luka lama dan menguji batas kesabaran Alya. Mampukah cinta bertahan saat kepercayaan telah dikhianati? Ataukah Alya akan menemukan kekuatannya sendiri untuk berdiri dan memilih jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Bab 32
Sudah seminggu sejak kabar pernikahan Dirga dan Alya mengguncang keluarga besar Ardianto. Gosip masih berhembus di kalangan kerabat dan rekan bisnis keluarga, tapi Alya dan Dirga memilih diam.
Mereka tahu, hanya waktu yang bisa membuktikan jika keputusan mereka benar. dan hanya waktu jugalah yang bisa menghapus prasangka buruk itu.
Sesuai peraturan keluarga Arditho Dirga dan Alya harus tinggal di rumah mertuanya itu. Suatu pagi Dirga bekerja lebih awal. Sebagai menantu baru Alya dengan telaten berusaha menyiapkan sarapan di rumah besar keluarga Ardianto tempat yang kini masih terasa asing baginya. Para asisten rumah tangga menatapnya ragu, sebagian berbisik, sebagian memilih diam. Namun Alya tersenyum ramah, seolah tak mendengar apa pun.
Ketika Bu Desi turun dari tangga dengan pakaian rapi, Alya segera menghampiri lalu mendekat.
“Selamat pagi, Bu. Saya sudah siapkan sarapan. Saya tahu Ibu suka bubur ayam tanpa sambal,” sapa Alya ramah ia berusaha mencairkan suasana.
Bu Desi terdiam sejenak. Ia tidak menjawab, hanya menatap piring bubur di meja. Alya lalu menunduk sopan dan mundur.
“Saya pamit ke kantor yah, Bu.”
Bu Desi hanya mengangguk pelan setelah Alya berangkat ke kantor Bu Desi mencicipi bubur ayam yang dibuat oleh Alya perlahan sesendok bubur ayam itu masuk ke mulut Desi. Ia mengunyah dengan pelan. Ada sensasi berbeda dengan bubur ayam lain yang selama ini ia makan.
“Mbak Leli kesini Mbak,” teriak Bu Desi memanggil ART nya.
“Iya Bu ada apa?” jawab Mbak Leli cepat.
“Ini bubur ayam siapa yang bikin kok beda rasanya dari biasanya,” tanya Bu Desi.
“Itu anu Bu yang bikin Mbak Alya dia dari pagi sudah berkutat di dapur katanya dia ingin buatkan sarapan untuk Ibu,” jawab Mbak Leli.
“Kenapa Bu apa bubur ayam bikinan Mbak Alya tidak enak?” tanya Mbak Leli.
“Tidak justru sebaliknya saya suka. Bubur ini bubur paling enak yang pernah saya makan,” jawab Bu Desi sambil ia melanjutkan memakan bubur itu.
Sedangkan di Perusahaan Ardianto Group para petinggi perusahaan sedang menyiapkan proyek besar yaitu pengembangan kawasan hunian pintar. Dirga, sebagai direktur muda, mempercayakan posisi penting kepada Alya Istrinya meski keputusan itu memicu pro dan kontra di kalangan petinggi perusahaan dan karyawan yang lain.
“Dia cuma dapat posisi itu karena istri bos,” bisik salah satu karyawan wanita.
Alya mendengar hal itu, tapi ia lebih memilih tidak menanggapi. Ia tahu, satu-satunya cara membungkam mereka adalah dengan hasil yang memuaskan.
Selama berminggu-minggu, Alya bekerja tanpa lelah. Ia turun langsung ke lapangan, memeriksa lokasi, berbicara dengan tim arsitek, dan mencari solusi efisiensi biaya tanpa menurunkan kualitas.
Sementara Dirga beberapa kali memintanya istirahat, Alya hanya tersenyum.
“Jika aku berhenti di tengah jalan, orang akan bilang aku cuma numpang nama kamu, Sayang aku gak boleh nyerah gitu aja.”
Hari presentasi proyek pun tiba.
Aula rapat besar dipenuhi jajaran direksi dan investor penting, termasuk Bu Desi, yang datang mewakili dewan komisaris. Tatapannya tajam setiap kali mata mereka beradu.
Alya berdiri di depan layar proyektor, mengenakan setelan kerja sederhana berwarna krem. Suaranya tenang dan tampak percaya diri.
Konsep pengembangan kawasan ini tidak hanya berfokus pada desain modern, tapi juga pada efisiensi energi dan pemberdayaan masyarakat lokal. Kami menargetkan 40% penghematan biaya operasional dibanding proyek tahun lalu.”
Beberapa direktur senior saling menatap kagum. Data yang Alya tampilkan rinci, akurat, dan disusun dengan perhitungan rapi dan matang. Salah satu investor bertepuk tangan lebih dulu.
“Ini Ide yang luar biasa, Bu Alya.”
Alya tersenyum sopan. “Terima kasih Pak.”
Dirga memperhatikan dari ujung meja, bangga sekaligus terharu. Ia tahu betapa keras perjuangan istrinya itu hingga sampai di titik ini.
Ketika presentasi selesai, semua orang berdiri memberi tepuk tangan. Sedangkan Bu Desi masih diam di kursinya, tapi sorot matanya berbeda ada kekaguman yang sulit disembunyikan.
Beberapa jam kemudian, setelah ruangan rapat sepi, Bu Desi menghampiri Alya yang tampak sibuk merapikan berkas. “Alya,” panggilnya pelan.
Alya menegakkan badan, sedikit gugup. “Iya, Bu?”
Bu Desi menatapnya lama. “ Penampilan kamu tadi luar biasa.”
Ia menarik napas, lalu melanjutkan, “Selama ini Ibu pikir kamu cuma gadis biasa yang menempel pada Dirga. Tapi ternyata kamu punya kemampuan yang bahkan banyak orang di sini nggak punya.”
Alya menunduk sopan. “Saya cuma berusaha melakukan yang terbaik, Bu. Saya ingin orang tahu saya ada di perusahaan ini bukan karena status saya, tapi karena kemampuan saya.”
Bu Desi tersenyum tipis, nada suaranya melembut. “Kamu berhasil membuktikannya. Dan mungkin selama ini Ibu terlalu cepat menilai kamu.”
Ia menatap Alya dengan mata yang kini tak lagi dingin. “Mulai hari ini, Ibu bukan cuma lihat kamu sebagai istri Dirga, tapi juga sebagai bagian dari perusahaan dan keluarga besar Arditho.”
Alya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, Bu Saya nggak akan sia-siakan kepercayaan Ibu ini.”
Saat Bu Desi pergi, Dirga muncul di pintu, menatap Alya dengan bangga. Ia mendekat dan berbisik lembut, “Aku sudah bilang, sayang. Kamu nggak perlu membuktikan siapa kamu kepadaku. Tapi kamu baru saja tunjukkan pada dunia siapa kamu sebenarnya.”
Alya tersenyum, menatap Dirga penuh cinta.
“Sekarang dunia tahu, aku bukan cuma istrimu, tapi juga seseorang yang pantas berdiri di sampingmu.”
Tidak berhenti sampai disitu kini Alya. Ingin menunjukan sisi lain dari dirinya kepada mertuanya itu. Ibu saya dan Mas Dirga mau pergi ke yayasan sebentar, Bu. Ada kegiatan sosial di sana saya dan Mas Dirga ingin sedikit membantu.”
“Yayasan?” tanya Bu Desi spontan, nadanya sedikit melunak.
Alya menatapnya lembut. “Iya, Bu. Yayasan ‘Kasih Ibu’ Saya pikir, mungkin saya bisa ajak Ibu juga lihat kesana suatu hari nanti.”
Bu Desi tidak menanggapi, tapi sorot matanya berubah. Ada sedikit rasa penasaran yang tersisa setelah mendengar kata yatim.
Beberapa hari kemudian, Alya diam-diam mengundang Bu Desi untuk datang ke acara kecil di yayasan itu. Awalnya, Bu Desi menolak, tapi akhirnya datang juga karena dorongan Dirga.
Saat sampai di sana, Bu Desi terkejut melihat Alya sedang berjongkok, membantu anak-anak kecil melukis di halaman. Bajunya sederhana, tangannya kotor oleh cat warna-warni, tapi wajahnya penuh kebahagiaan.
“Bagus sekali lukisannya, Dika!” ucap Alya lembut, menepuk kepala seorang bocah laki-laki yang kehilangan orang tuanya.
Melihat itu, hati Bu Desi perlahan mencair. Seorang pengurus yayasan mendekatinya.
“Ibu tahu? Mbak Alya ini dulu sering bantu di sini. Waktu itu, dia bahkan menanggung biaya sekolah dua anak di sini dengan uangnya sendiri.
Bu Desi terdiam lama. Ia menatap Alya yang sedang tersenyum di tengah anak-anak itu tanpa pamrih, tanpa gengsi.
Sore itu, saat acara selesai, Bu Desi mendekati Alya yang sedang membereskan perlengkapan.
“Alya,” panggilnya Bu Desi pelan.
Alya berbalik, terkejut melihat Bu Desi di belakangnya. “Bu? Saya nggak tahu kalau Ibu datang.”
Bu Desi tersenyum samar. “Sekarang saya tahu kenapa Dirga memilih kamu.”
Ia menatap Alya penuh makna. “Kamu bukan cuma baik, tapi juga tulus. Dan mungkin Ibu terlalu cepat menilai kamu hanya dari masa lalu.”
Alya menunduk, air matanya mengalir pelan. “Saya nggak minta Ibu langsung terima saya, Bu. Saya cuma ingin Ibu tahu saya sungguh-sungguh mencintai Dirga, dan saya ingin jadi bagian keluarga ini dengan cara yang terhormat.”
Bu Desi menyentuh bahunya lembut. “Kalau begitu, buktikan terus dengan caramu yang seperti ini. Ibu belum bisa memanggilmu ‘menantu’, tapi mungkin sebentar lagi, Ibu bisa.”
Alya tersenyum haru, dan untuk pertama kalinya, ia merasa diterima meski baru setengah langkah.
Di kejauhan, Dirga yang diam-diam datang menatap pemandangan itu dengan mata berair. Ia tahu, perjuangan Alya tidak sia-sia. Cinta mereka akhirnya mulai diterima, sedikit demi sedikit.
Bersambung...
Jangan lupa kasih like guys.....🥰