TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI (Pernikahan dadakan season 2).
Menceritakan tentang kisah asmara dan lika liku kehidupan ketiga anak dari pasangan Farhana Indrayani dan David Prasetyo.
Karena penolakan yang dilakukan oleh ayah dari gadis pujaannya, Akbar yang notabenenya adalah seorang tuan muda rela menjadi santri salah satu pesantren di sebuah kampung. Untungnya ada tuan muda lain yang juga ikut nyantri karena syarat dari calon mertuanya.
Nirmala, anak bungsu dari pasangan Hana dan David bertemu dengan seorang anak pemuda karena membantunya melawan dari pengeroyokan yang tak seimbang. Ternyata pemuda tersebut adalah anak kyai yang menjadi tempat pesantrennya melakukan observasi tugas dari kampusnya.
Siapakah jodoh dari ketiga putra putri Prasetyo ini? Temukan jawabannya di novel ini.
Keseruan kisah mereka bertiga akan ada disini. Foto atau gambar diambil dari google. Hak cipta tetap pada pemilik foto, bukan pada author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zainuri I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IHLAS
TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI – 30
Delapan hari sebelum hari H pernikahan. Mala sedang pergi bersama Suci dan Disty. Hana meminta Mala melakukan perawatan sebelum dia dipingit lima hari sebelum hari H. Lima hari? Bukankah biasanya satu minggu? Ini lain dari yang lain. Kebali berdebat otomatis. Selama lima hari itu Mala hanya boleh keluar saat ke kampus
dan mengurus cuti mulai dari H-2 sampai H+3. Karena Mala masih menyembunyikan identitasnya, maka Mala yang mengurus sendiri surat cutinya.
Mereka telah selesai melakukan perawatan dan sekarang sedang menuju ke butik untuk fiting baju pengantin. Pihak dari pria menginginkan konsep pengantin ala islami, tentu saja Mala harus menggunakan kerudung. Mala semakin yakin bahwa pilihan ayahnya tidak salah. Dari permintaan ini saja Mala sudah bisa menebak bahwa calon suaminya adalah orang berpengetahuan agama yang cukup.
“Kamu sangat cantik, Dek” ucap Suci kagum dengan kecantikan Mala.
“Kak Dedek, sangat anggun menggunakan hijab. Lebih cantik dan kalem” ucap Disty dengan senyum yang mengembang.
“Aku malu” ucap Mala membuat keduanya tertawa.
“Sejak kapan kamu punya malu Dek?” tanya Suci di sela-sela tawanya.
“Aish, meski bar-bar, aku ini kan masih wanita yang punya rasa malu” kesal Mala dan kembali ke ruang ganti.
Tak lama kemudian, Mala sudah keluar dengan pakaian seperti sebelumnya.
“Mari kita pulang. Tapi sebelum itu, kita makan dulu” ajak Mala berjalan keluar dan diikuti Suci dan Disty.
Saat Mala membuka pintu keluar, bersamaan dengan seorang laki-laki yang membukanya juga. Pandangan mereka bertemu dan saling tatap cukup lama.
“Ehem” Suci berdehem agar kedua manusia yang menghalangi jalan keluar dan masuk itu tersadar.
“Eh, maaf” ucap Mala tersadar dan menunduk.
“Mala” panggil laki-laki itu.
“Iya Mas” jawab Mala grogi. Bagaimanapun perasaan itu masih ada.
Mala berjalan keluar agar pintu masuk dan keluar tidak penuh. Laki-laki itu mengikuti Mala, tidak jadi masuk ke dalam butik.
“Mala” panggil laki-laki itu membuat Mala menghentikan langkahnya. Mala membalikkan badannya dan pandangan mereka kembali bertemu.
“Bisa kta bicara sebentar?” tanya laki-laki itu. Mala melihat Suci dan Disty. Keduanya mengangguk memberikan waktu untuk Mala berbincang dengan laki-laki itu.
“Kita bicara di cafe depan. Aku juga lapar. Nggak apa-apa kan?” tanya Mala dan diangguki oleh ketiganya.
“Kami duduk di sana saja. Kalian silahkan berbincang di sini. Kami tidak mau mengganggu” ucap Suci, namun dicegah oleh Mala.
“Kalian ikut kita di sini. Nggak baik buat aku kalau ketahuan hanya berdua saja dengan laki-laki, padahal sebentar lagi aku akan menikah” ucap Mala. Suci dan Disty saling pandang. Mereka tidak tahu harus bergabung atau tidak.
“Mala benar. Apalagi aku juga akan menikah. Jika ada yang mengenali kita, bisa saja terjadi salah paham” ucap Laki-laki itu membenarkan Mala. Dengan terpaksa Suci dan Disty menuruti untuk bergabung dengan keduanya. Sebelum mereka berbincang, mereka memesan makanan dan minuman terlebih dahulu.
“Mas Azam apa kabar?” tanya Mala membuka keheningan. Entah mengapa suasananya menjadi canggung.
“Aku baik. Kamu bagaimana?” tanya Azam balik.
“Aku juga baik. Mala tadi dengar kalau Mas Azam mau menikah?” tanya Mala dengan senyuman, padahal hatinya ingin sekali menjerit dan menangis.
“Iya. Minggu depan aku menikah” jawab Azam tidak bersemangat.
“Dengan siapa?” tanya Mala menahan sesak di dadanya. Suci dan Disty saling pandang. Keduanya merasa bingung apa yang harus dilakukan.
“Dengan wanita pilihan abah. Aku sendiri belum tahu siapa dan bagaimana wajahnya. Aku hanya setuju saja” jawab Azam apa adanya. Mala tersentak dengan pengakuan Azam.
Bukankah kata abah kalau Mas Azam sudah punya wanita pilihan sendiri? Kenapa sekarangjadi pilihan orang tuanya? ~Mala.
“Oh ya, kamu juga bilang kan kalau mau menikah?” tanya Azam mencoba mencari tahu siapa laki-laki yang beruntung itu.
Belum sempat Mala menjawab, pesanan mereka datang sehingga mereka harus menundanya setelah makan selesai. Dua puluh menit kemudian, mereka telah selesai makan. Azam kembali menanyakan pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh Mala.
“Iya Mas. Aku minggu depan menikah. Baru saja tadi aku selesai fiting baju pengantin” jawab Mala dengan senyum. Entah mengapaazam merasa senyum Mala bukan senym kebahagiaan.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Azam khawatir.
“Aku baik-baik saja Mas” jawab Mala, namun air matanya malah lolos begitu saja hanya karena mendapat pertanyaan kekhawatiran dari Azam. Suci dan Disty terkejut melihat Mala menangis. Pasalnya Mala bukan gadis yang cengeng sejauh yang mereka kenal selama ini. Disty dan Suci langsung memeluk Mala untuk menenangkannya.
“Mala kenapa?” tanya Azam panik. Dia hanya bertanya dan tiba-tiba Mala menangis.
“Mas Azam jangan kasih perhatian Mala. Bagaimana Mala bisa menempuh hidup baru jika terus mengingat Mas Azam?” ucap Mala dengan isakannya.
“Ha?” Azam bengong dengan ucapan Mala.
Apa maksud ucapan Mala? Bukankah dia menikah dengan pria calon imam masa depannya? ~ Azam.
“Dek, udah dong. Nggak enak tahu kalau ketahuan orang. Kenapa cengeng banget sih?” hibur Suci dan mengelus punggung Mala.
“Aku tuh nggak bisa nyimpan perasaan. Kamu tahu sendiri aku orangnya frontal. Aku coba terima calon dari ayah. Tapi kalau Mas Azam kasih perhatian ke Mala, gimana Mala bisa lupa sama Mas Azam? Apalagi sebentar lagi Mas Azam juga nikah. Huaaa” ucap Mala masih dengan suara meweknya.
“Maksud Mala, Mala punya perasaan sama Mas?” tanya Azam terkejut dan tentu saja merasa senang kalau itu adalah benar.
Mala mengangguk dalam pelukan Suci. Azam tersenyum, namun sesaat kemudian dia termenung. Dia bahagia, namun disisi lain dia juga merasa sedih. Cintanya ternyata berbalas, namun baik dirinya ataupun Mala akan segera menikah dengan orang pilihan orang tuanya.
“Mas sebenarnya juga menyukaimu Mala” ucap Azam memutuskan untuk mengakui perasaannya.
Mala bangun dari pelukan Suci dan menatap Azam. Tangisnya seketika berhenti mendengar ucapan Azam yang tak pernah dia kira sebelumnya.
“Maksud Mas Azam? Lalu bagaimana dengan wanita pilihan Mas Azam yang dimaksud abah?” tanya Mala bingung. Dia ingin teriak karena bahagia, namun dia juga masih belum percaya dengan pernyataan yang Azam katakan.
“Gadis yang aku maksud adalah kamu Mala. Saat itu aku belum tahu kalau gadis yang akan dijodohkan denganku adalah kamu. Aku berusaha memutuskan perjodohan itu dengan mengatakan pada abah bahwa aku sudah punya pilihan. Setelahnya, aku akan berusaha untuk memenangkan hatimu” cerita Azam membuat Mala kembali menangis. Apa yang dilakukan Azam sama persis dengan apa yang dia lakukan untuk membatalkan
perjodohan.
“Lalu sekarang bagaimana?” tanya Mala dengan isak tangisnya.
“Entahlah. Aku tidak tahu. Kamu tahu? Seorang Azam yang kebal akan godaan harta, tahta, dan wanita, namun tidak bisa menghindar dari pesona seoranga Mala, tidak bisa berbuat apapun saat ini. Data kami sudah masuk dan delapan hari ke depan aku sudah menjadi seorang suami. Suami dari wanita yang aku tidak ketahui” ucap Azam dan ketiga wanita itu membelakkan matanya.
“Delapan hari lagi?” tanya mereka kompak. Azam mengangguk dengan tatapan heran seolah bertanya ada apa.
“Bukankah kamu menikah juga delapan hari lagi?” tanya Suci dan diangguki Mala. Mala sudah tidak lagi menangis, namun isakannya sesekali terdengar.
“Kita bicara pada ayah dan abah” ucap Mala sambil menatap Azam.
“Tidak mungkin Mala. Abah akan malu nantinya. Om David juga akan malu pada calon besannya” ucap Azam tidak setuju dengan usul Mala.
“Tapi, kita juga berhak bahagia. Kita saling suka. Apalagi?” tanya Mala ngotot.
“Yang dikatakan Azam benar Dek. Apalagi rumah sudah dihias. Kamu mau membuat ayah dan bunda malu? Belum lagi berurusan dengan calon besan ayah dan bunda” nasehat Suci mencoba menyadarkan Mala. Mala adalah gadis yang nekat dan Suci sangat tahu itu.
“Kita pasti bisa melewati ujian ini Mala. Semoga kita bisa bahagia dengan pilihan orang tua kita. Kita bisa menjadi teman” hibur Azam dengan senyum tulusnya. Senyum itu secara otomatis menular pada Mala. Suci dan Disty juga ikut tersenyum.
“Baiklah. Kita menjadi teman. Mala dan Mas Azam berteman sekarang” ucap Mala dengan girang.
“Kita ihlaskan perasaan kita. Insya Allah, Allah akan menggantikannya dengan hal yang lebih indah. Kita terima dengan tulus pasangan kita masing-masing, Insya Allah kita akan bahagia. Amiin” ucap Azam menyejukkan hati yang mendengar. Mala bisa tersenyum dengan tulus dan dia terlihat bersinar kembali. Azam merasa senang melihat Mala kembali berseri seperti bunga yang sedang mekar di musim semi.
*****
NEXT
*****
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DENGAN LIKE, KOMENTAR, VOTE, DAN RATING BINTANG LIMANYA YAH? BERI JUGA HADIAH JIKA BERKENAN. TERIMAKASIH!
JANGAN LUPA UNTUK MEMBACA KARYA AUTHOR YANG LAIN. VOTE DAN BERI HADIAH JUGA UNTUK KARYA AUTHOR DENGAN JUDUL PERNIKAHAN DADAKAN DAN OH SUAMIKU. TERIMAKASIH!
ringan, lucu, seru bacanya smbil cengengesan sendiri ini...😅