Seorang penulis novel bernama Bagas sedang bertemu dengan titik jenuh nya. Kehidupan nyata terasa sangat membosankan bagi nya, sehingga hanya dunia imajinasi lah yang bisa membuat nya bahagia. Hingga suatu ketika, ia mendapatkan sebuah masalah yang membuat nya sulit untuk kembali ke dunia imajinasi. Novel pun terpaksa berhenti di tengah jalan. Hingga pada suatu hari, sebelum tidur ia berdoa pada tuhan.
"Semoga mimpi malam ini, lebih indah dari kehidupan nyata" kata Bagas.
Semenjak saat itu, ia masuk kesebuah dunia yang asing bagi nya. Setiap ia tertidur di dunia nyata, ia terbangun di dunia tersebut, begitu juga sebaliknya. Hingga semua itu menjadi mimpi yang nyata bagi nya.
Apakah yang ia temukan di dunia itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Banda Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual
Malam itu Adilaga akan mengadakan ritual keabadian, ada sepuluh anak bayi yang akan ditumbalkan.
"Cuma segitu?" tanya Adilaga.
"Iya tuan, sebenarnya kita bisa cari lebih banyak lagi. Tapi ... Ritual nya kan malam ini," jawab prajurit.
"Baiklah. Sekarang, keluar dari ruangan ini," perintah Adilaga.
"Baik tuan."
Raja memarahi Mahapatih Kala karena gagal membunuh Adilaga.
"Kenapa bisa gagal?"
"Mohon maaf Baginda, seperti dia memang penyihir yang sakti. Dia tau tentang rencana pembunuhan ini," jelas Kala.
"Ooo. Jadi, dia sakti. Kita singkirkan dia secara terang-terangan," kata Raja.
"Eee maksud ba—baginda, kita sergap langsung."
"Iya. Dimana dia sekarang?"
"Sedang melakukan ritual," jawab Kala.
"Orang gila ... Berapa bayi yang kau bawakan untuk nya?"
"Sepuluh Baginda."
Terdengar suara tangisan bayi. Perlahan-lahan suara tangisan pun hilang. Hujan pun turun sangat deras. Tiba-tiba tercium bau amis.
"Bau apa ini?" tanya Raja.
Mahapatih Kala pun memeriksa apa yang sedang terjadi. Ternyata malam itu, seluruh dunia sedang di guyur hujan darah. Cahaya bulan pun berubah menjadi merah.
"Baginda." Kala menghampiri raja, "Hujan darah," lanjut Kala.
Raja pun mulai ragu untuk menyerang Adilaga.
"Seperti nya ... Kita harus biarkan dia untuk sementara waktu. Tapi, cepat atau lambat." Menatap tajam ke arah Kala, "Kita harus singkirkan dia," lanjut Raja.
"Baik Baginda."
Sementara Adilaga sedang melakukan ritual, ia meminum darah bayi-bayi yang suci itu.
"Setelah Berabad-abad, akhirnya aku bisa merasakan kembali darah segar ini." Adilaga berbicara sendiri.
"Pasukan roh ku sudah cukup. Saat nya memperluas kekuasaan," kata Adilaga tersenyum, kemudian tertawa.
***
Disisi lain Anna dan Tiara yang sedang melihat cahaya bulan, terkejut melihat cahaya bulan berubah menjadi merah darah. Hujan darah pun turun.
"Darah." Anna melihat ke arah Tiara, "Ada yang tidak beres," lanjut Anna.
Anna dan Tiara masuk ke dalam goa.
"Jadi kita pelajari isi buku ksatria Bagaskara, aku yakin di sana banyak ilmu yang bisa kita dapatkan," kata Bagas.
"Dengan mempelajarinya, siapa tau kita akan menemukan kelemahan Adilaga," lanjut Bagas.
"Semua ...." panggil Anna.
"Gawat," lanjut Anna.
"Ada apa?" tanya Ki Sanjaya.
"Diluar. Hujan darah," jawab Tiara.
Mereka terkejut, Bagas dan kawan-kawan pun mengecek keadaan di luar. Cahaya bulan bersinar, berwarna merah darah.
"Seperti nya, Adilaga sedang melakukan ritual," kata Ki Sanjaya.
"Ritual apa ki?" tanya Bagas.
"Ritual keabadian." Ki Sanjaya diam sejenak, "Dahulu, waktu saya masih kecil. Terjadi hujan yang sama seperti ini, setelah itu terjadi kekacauan dimana-mana," jelas Ki Sanjaya.
"Kenapa Ki?" tanya Alvin.
"Adilaga mengorbankan bayi-bayi untuk iblis jahat. Agar, ia bisa hidup abadi. Setahu saya, setiap dia melakukan ritual itu. Pasukan roh nya akan semakin kuat."
"Bukan nya roh-roh itu masih tersegel," kata Alvin.
"Bukan. Roh yang masih tersegel adalah roh paling kuat. Roh yang sudah beribu-ribu tahun lama nya. Sedangkan ini adalah pasukan roh Adilaga yang bangkit setiap malam," jelas Ki Sanjaya.
"Bunga biru Ki?" tanya Bagas.
"Sepertinya itu. Bunga yang pernah menyerangmu," kata Ki Sanjaya.
***
Raja dan Kala sedang memikirkan rencana untuk menyingkirkan Adilaga. Mereka melihat prajurit suruhan Adilaga berjalan di depannya.
"Hey, kalian," panggil Kala.
"Mau kemana?" tanya Kala.
"Membawakan bunga ini untuk tuan Adilaga," jawab prajurit tersebut.
"Ooo begitu, ya, sana."
"Permisi tuan." Prajurit itu berjalan menuju ruangan Adilaga.
"Coba kau lihat, dia bisa menyuruh prajurit ku seenaknya. Seolah-olah dia raja nya," kata Raja.
"Bunga itu untuk apa sebenarnya?"
"Saya tidak persis Baginda. Tapi, setiap malam ia memerintahkan prajurit untuk memetik dan membawanya pada Adilaga."
"Adilaga memang aneh, dasar penyihir gila," ejek Raja.
Prajurit memberikan bunga yang telah di petik. Ada banyak bunga yang mereka bawakan untuk nya.
"Bagus," kata Adilaga sambil mencium wangi bunga.
"Kalo begitu, kami permisi tuan."
"Oh, iya. Silahkan," jawab Adilaga.
Adilaga menutup pintu ruangan tersebut rapat-rapat. Ia duduk di kursi nya, kemudian melemparkan sepuluh bunga kelantai. Bunga tersebut berubah menjadi seorang berjubah.
"Bunuh keturunan Ksatria yang masih tersisa di dunia itu," perintah Adilaga.
"Baik tuan," bersamaan. Kemudian mereka menghilang.
Adilaga berjalan menuju lemari nya, ia membuka lemari tersebut. Ada banyak bunga yang ia simpan.
"Sabar ya. Akan tiba masa nya, kalian semua aku lepaskan." Adilaga pun tertawa.
***
Ayah Alvin sedang duduk di depan rumah sambil membaca buku warisan buatan Bagaskara.
"Hmmm, ternyata tidak mudah memahami isi buku ini."
Terdengar suara teriakan dari gerbang.
"Suara siapa itu?"
"Pak Parjo ...." panggilnya.
Mayat pak Parjo melayang kemudian jatuh tepat di depan nya. Ia pun berlari kedalam rumah. Semua pembantu sudah tewas dengan posisi mulut terbuka lebar dan mata putih.
"Apa-apaan ini."
Muncul sepuluh prajurit Adilaga mengelilinginya.
"Mau apa kalian?"
"Kau harus mati."
"Kalian siapa?"
Mereka tidak menjawab, tak lama kemudian mereka berkata.
"Dapat salam dari tuan Adilaga," bersamaan.
Mereka mengepalkan tangannya, kemudian mengarahkan nya ke ayah Alvin. Tiba-tiba, ayah Alvin merasakan sakit yang luar biasa. Mereka pun menunjuk ke arah nya.
"Mati kau!!" bersamaan.
Mata ayah Alvin pun berubah menjadi putih polos, mulut nya terbuka lebar. Tak lama kemudian kepalanya pun terlepas.
Setelah membunuh nya, mereka pun menghilang. Prajurit Adilaga mendatangi semua keturunan Ksatria. Bahkan keluarga Reza pun di bantai habis.
***
Bagas dan kawan-kawan kembali masuk ke dalam goa.
"Kita harus berhati-hati, seperti nya Adilaga melakukan sebuah rencana," kata Ki Sanjaya.
"Ki, bagaimana kalau kita langsung menyerangnya. Kita sudah lengkap Ki," usul Bagas.
"Tidak. Tidak semudah itu Bagas."
"Ki Sanjaya benar. Meskipun keturunan Ksatria Wirabadra sudah lengkap. Kita bener-bener menguasai pusaka warisan ini," sahut Brata.
"Aku sudah tidak sabar untuk memusnahkan iblis itu," kata Dharma.
"Sabar Dharma. Kau juga harus benar-benar pulih untuk bertempur," kata Jaka.
"Bagaimana kalau kita laksanakan dulu rencana Bagas yang tadi. Kita pelajari dulu buku itu," usul Reza.
"Nah iya." Alvin menyetujui.
"Ada yang membawa buku nya?" tanya Bagas.
"Buku ku, tertinggal di desa. Mungkin sudah terbakar bersama rumahku," kata Dharma.
"Buku nya dibawa ayahku," sahut Alvin.
"Sama Vin," kata Reza.
Mereka semua melihat ke arah Brata.
"Kan sudah ku bilang kami tidak punya," kata Brata.
"Oh iya, yaa."
"Berarti kita harus pinjam milik ayah mu Vin," kata Bagas.
"Oke ... Reza, kau bisa buka portal nya kan."
"Bisa Vin," jawab Reza.
Tiba-tiba tercium bau wangi.
"Bau apa ini? Wangi sekali," kata Anna.
"Entahlah, dari mana ya asal nya?" tanya Tiara.
Tak lama kemudian muncul sepuluh prajurit Adilaga mengepung mereka.
"Gawat, prajurit Adilaga," kata Bagas.
Bagas dan kawan-kawan mengeluarkan pusaka nya.
"Tenang, anak muda. Kami hanya ingin memberikan sesuatu," kata salah satu prajurit.
Bagas dan kawan-kawan kebingungan, salah satu prajurit melemparkan dua kepala manusia.
"Ayah?!!" Alvin dan Reza bersamaan melihat ke arah kepala tersebut.
***
jangan lupa mampir.../Coffee//Coffee/
Kutunggu kedatanganmu.
Terima kasih
Agak bingung ngembacanya karena terlalu rapat.
...dan next up date 👍👍👍
btw, Ki Candra kok bingung 😅 sebelumnya tanya dulu Ki.. di pimpin siapa ✌️
ayam bakarnya satu ya Thor 😂😂✌️✌️
Bara! kenapa kamu jadi anak durhaka 😳 gara-gara pusaka sampe nusuk jantung Ki Candra😳
astaghfirullah 😥 cerita si Alvin ternyata 😭
next like mantap👍🏻 sambungan jejak Penduduk bunian..
saling mendukung thor
Mampir dicerita ku kak "Bunga Magnolia"
Semangat 💪💪up lagi thor
Aku mendukungmu 👍👍
Lagi seru"nya.
Tapi asli Thor, kata"nya keren habis....
terus ikuti karya aku ya thor
makasih😊