Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Favorit
Beberapa hari setelah obrolan singkat tentang keluarganya, Raka kembali menjadi dirinya yang biasa.
Masih suka bercanda.
Masih sering mengganggu Alya saat lewat depan kelas.
Dan masih sering mengirim foto-foto random ke chat pribadi.
Suatu pagi, ia bahkan mengirim foto langit yang masih berwarna jingga.
> Raka:
Lihat deh.
> Alya:
Bagus.
> Raka:
Asli, bukan dari Pinterest.
> Alya:
Syukurlah.
Alya terkekeh pelan membaca balasannya.
Belakangan ini, memulai hari dengan chat receh dari Raka sudah seperti rutinitas kecil yang tanpa sadar ia tunggu.
---
Hari Jumat, sekolah pulang lebih cepat karena guru-guru mengadakan rapat.
Sebagian besar siswa langsung pulang, tetapi Alya memilih tinggal sebentar di perpustakaan untuk mengembalikan buku.
Saat keluar dari gedung, ia melihat Raka sedang duduk di atas motor yang terparkir di dekat gerbang.
Begitu melihat Alya, ia melambaikan tangan.
“Lya!”
“Apa?”
“Belum buru-buru pulang?”
“Belum.”
“Bagus.”
“Kenapa?”
Raka berdiri lalu memasukkan helm ke dalam bagasi motornya.
“Gue mau nunjukin satu tempat.”
Alya mengernyit.
“Sekarang?”
“Iya.”
“Di mana?”
“Dekat sini kok.”
Alya ragu sejenak.
“Kalau kejauhan, gue harus kasih kabar ke rumah.”
“Nggak bakal lama. Jalan kaki aja.”
Mendengar itu, Alya akhirnya mengangguk.
“Oke.”
---
Mereka keluar dari area sekolah dan berjalan menyusuri trotoar.
Di sepanjang jalan, Raka lebih banyak diam daripada biasanya.
Sesekali ia menunjuk toko atau warung yang sering ia datangi.
“Itu tempat es teh favorit gue.”
Alya melihat ke arah yang ditunjuk.
“Yang gerobaknya biru?”
“Iya.”
“Pantes tiap pulang sekolah suka lihat lo di situ.”
“Ketahuan ya.”
“Lumayan.”
Tak sampai lima belas menit berjalan, mereka tiba di sebuah taman kota kecil yang letaknya agak tersembunyi di belakang deretan ruko.
Tempat itu tidak terlalu ramai.
Hanya ada beberapa anak kecil yang bermain ayunan dan beberapa orang yang sedang jogging.
Di pojok taman berdiri sebuah pohon besar dengan bangku kayu di bawahnya.
Raka langsung berjalan ke sana.
“Ini dia.”
Alya ikut duduk di bangku itu.
“Bagus juga.”
“Iya.”
“Lo sering ke sini?”
“Lumayan sering.”
“Sendiri?”
“Kebanyakan.”
Angin sore berembus pelan, membuat daun-daun di atas mereka bergoyang.
Suasananya tenang.
Jauh berbeda dengan keramaian sekolah.
---
Alya mengeluarkan kameranya dari tas.
Refleks.
Ia mengambil beberapa foto taman, cahaya matahari yang menembus sela daun, dan anak-anak yang sedang bermain.
“Kalau ada kamera, tangan lo otomatis gerak ya?” tanya Raka.
“Iya.”
“Kayak refleks.”
“Soalnya sayang kalau momennya lewat.”
Raka mengangguk.
Lalu tanpa sadar, Alya mengarahkan kameranya ke arah Raka.
Klik.
“Eh!”
Raka menoleh.
“Lo motret gue?”
“Iya.”
“Boleh lihat?”
Alya memperlihatkan hasilnya.
Raka sedang duduk santai sambil memandang ke arah langit, dengan cahaya matahari sore mengenai sisi wajahnya.
“Hasilnya keren.”
“Objeknya aja yang pas.”
“Berarti gue emang fotogenik.”
“Mulai lagi.”
Mereka tertawa bersama.
---
Beberapa menit kemudian, suasana kembali tenang.
Raka memandangi lapangan kecil di depan mereka.
“Gue suka tempat ini karena sepi.”
“Biar bisa sendiri?”
“Iya.”
“Kalau lagi banyak pikiran ke sini?”
Raka mengangguk pelan.
“Kadang habis dimarahin di rumah juga ke sini.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Begitu sadar apa yang ia ucapkan, Raka langsung terdiam.
Namun Alya tidak bertanya lebih jauh.
Ia hanya berkata pelan,
“Pasti capek ya.”
Raka tersenyum tipis.
“Lumayan.”
“Kalau suatu hari lo butuh teman ngobrol…”
Ia berhenti sejenak.
“…gue bisa dengerin.”
Raka menoleh.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Lalu ia mengangguk.
“Makasih.”
Bagi Raka, kalimat sederhana itu terasa lebih berarti daripada nasihat panjang apa pun.
---
Hari mulai menjelang sore.
Matahari perlahan turun, membuat langit berubah menjadi perpaduan warna oranye dan keemasan.
Alya mengambil satu foto terakhir.
Kali ini bukan pemandangan.
Melainkan bayangan mereka berdua yang memanjang di jalan setapak taman.
Tidak ada wajah yang terlihat.
Hanya dua siluet yang berdampingan.
“Unik,” kata Raka saat melihat hasilnya.
“Lumayan.”
“Kirimin ya.”
“Boleh.”
Saat hendak pulang, mereka mampir membeli es teh di gerobak yang tadi ditunjukkan Raka.
Penjualnya, seorang bapak paruh baya, tersenyum begitu melihat Raka.
“Biasanya sendiri, sekarang sama teman ya?”
Raka hanya tersenyum sambil mengangguk.
Alya pura-pura sibuk mengambil dompet.
Namun pipinya terasa sedikit hangat.
Di perjalanan pulang, mereka berjalan tanpa banyak bicara.
Anehnya, keheningan itu tidak terasa canggung.
Justru nyaman.
Sesampainya di depan sekolah, mereka berpisah.
“Makasih udah ngajak ke tempat favorit lo,” kata Alya.
“Sama-sama.”
“Bagus kok tempatnya.”
“Iya.”
Raka tersenyum kecil.
“Sekarang bukan cuma tempat favorit gue.”
Alya mengangkat alis.
“Terus?”
“Semoga jadi tempat favorit kita.”
Alya tidak langsung menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis sebelum melangkah pergi.
Namun sepanjang perjalanan pulang, satu kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Dan entah kenapa, taman kecil dengan bangku kayu di bawah pohon besar itu kini terasa memiliki arti yang berbeda.
Karena di sanalah, untuk pertama kalinya, Raka menunjukkan sisi dirinya yang jarang dilihat orang lain—dan Alya merasa dipercaya untuk melihatnya.