Menikah dengan "Adik" sendiri..
akhhh ini sudah gila...
Tapi itulah yang terjadi dengan Arisya. Wasiat yang diberikan orang tuanya yang di anggapnya wasiat gila, menyuruh dirinya untuk menikah dengan Arsya, adiknya sendiri.
Bagaimana mungkin kakak menikahi adiknya sendiri..
Bagaimana Arisya menjalani kehidupannya dan pernikahannya ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shbtkita06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
"Sya... kenapa lo nggak bilang ??" Tanya Arsya lirih sambil memeluk tubuh Arisya dari belakang sambil mengecup pundak Arisya, menghirup aroma tubuh Arisya yang selama ini ia rindukan.
"Seandainya gue tau dari awal, gue akan melindungi kalian" isak Arsya penuh dengan sesal.
Seandainya waktu bisa dia putar kembali. Tidak akan Arsya biarkan Arisya pergi dari dirinya, tidak akan pernah.. apapun caranya, walaupun dia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
"Maafin gue A.. gue juga nggak tau" Arisya menggenggam erat tangan Arsya yang memeluk dirinya. "Saat gue dirumah Ayah, gue baru tau.." Arisya menarik nafasnya dalam.
"Asala lo tau A, saat gue tau kebenarannya.. gue pergi nemenuin lo, tapi.." Arisya terdiam. Ada rasa sakit dihatinya, mengingat kejadian itu.
Kejadian saat dia melihat sendiri bagaimana sahabatnya harus menolong dirinya tanpa memikirkan nyawanya sendiri.
Sahabat yang awalnya Arisya curigai, malah dia yang menolongnya dua kali.
"Ada sebuah truck yang berusaha menabrak gue dengan kecepatan yang sangat tinggi. Kalau saja waktu itu Nanda tidak mendorong tubuh gue, mungkin sekarang gue nggak akan pernah ada di sini.. disisi lo A" isak Arisya.
"Nanda..??"
"Iya.. karena menolong gue, dia koma"
"Bukannya Nanda yang.." Arisya menggelengkan kepalanya.
"Bukan Nanda yang mau mencelakai gue A, tapi dia yang sudah menyelamatkan gue. Awalnya gue juga curiga sama dia, karena kata Kak Indra cuma Nanda yang patut dicuragi, bahkan Al dan Ali juga mencurigainya. Tapi rasa curiga gue hilang, saat Nanda nemuin gue dua hari sebelum kecelakaan"
"Sya... dengerin gue.. gue nggak tau apa-apa Sya.. saat gue masuk ke kamar mandi, gue sudah liat lo tergeletak bersimbah darah" isak Nanda berusaha menceritakan apa yang sebanarnya pada Arisya.
Arisya diam, dia tidak percaya dengan kata-kata Nanda.
"Sya.. please, percaya sama gue.. gue nggak mungkin nyakitin lo dan hikkksss anak lo" lirih Nanda penuh penyesalan.
"Nggak ada orang lain selain lo Nanda" tegas Arisya yang sudah tidak tahan mendengar alibi yang di ucapkan Nanda.
"Ada.. ada orang lain disana"
Arisya menatap Nanda lekat. Kebohongan apa lagi yang akan di ceritakan Nanda.
Nanda mengeluarkan sebuah camera. Camera yang dia bawa untuk mengabadikan liburan mereka saat di Vila.
"Waktu lo nggak di rumah, gue dan Ali mempersiapkan kejutan buat lo karena Ali ingin melamar lo. Gue menaruh dua camera untuk mengabadikan moment lamaran Ali. Tapi waktu itu lo nggak ada. Keesokan harinya, gue nggak sengaja meletakkan cameranya di kamar mandi saat gue hendak merekam tutorial make up gue. Dan saat lo datang, gue lupa matiin kameranya. Dan lo liat..." Nanda memberikan kameranya dan menunjukkan ada seseorang yang berada di kamar mandi sebelum Arisya masuk kesana.
"Gue yakin pria ini pelakunya"
"Lo fikir gue bego apa Nan.. mungkin aja dia Ali, Al atau Arsya"
"Bukan.. coba lo liat lagi" Nanda mempercepat videonya, dan menampilkan dimana pria itu menyayat tangan Arisya dengan cepat kemudian menyelinap keluar.
"Al, Ali dan Arsya nggak mungkin tega melakukan ini sama lo Sya.." lirih Nanda.
Arisya terdiam, dia memperhatikan sosok pria yang ada di video. Sepertinya dia mengenal jaket yang dikenakan pria itu, tapi jaket siapa ?
"Maafin gue..karena gue udah mencurigai lo Nan" ucap Arisya pelan.
Arisya salah...
Dia sudah menyalahkan Nanda atas perbuatan yang tidak dilakukan Nanda, dan fatalnya semua juga ikut menyalahkannya.
"Kenapa lo nggak cerita sama Al, Ali dan Arsya.. mereka mencurigai lo"
"Awalnya gue mau cerita Sya, tapi Ayah lo bilang gue nggak boleh ceritain ini semua ke mereka. Karena Ayah lo yakin, diantara kita yang berada di Vila itu, ada yang ingin mencelakai lo Sya. Makanya Ayah lo nyuruh gue diam"
"Tapi kenapa Ayah nggak cerita sama gue ??"
"Karena Ayah lo ingin melindungi lo Sya.. dia tidak ingin lo sepeeti bunda lo, makanya dia memutuskan untuk menjauhkan lo dari Arsya sampai semua Ayah lo menemukan pelaku utamanya."
"Tapi Sya.. waktu itu cowok yang ada di Vila cuma gue, Al dan Ali" ungkap Arsya setelah mendengar cerita Arsya.
"Nggak.. bukan cuma kalian bertiga saja pria di rumah itu, tapi ada satu pria lagi.. dia.."
"Mama..." teriak Syana ketakutan dari arah kamar sebelah kamar Arsya.
"Syana.." ucap Arisya panik yang langsung melepaskan pelukan Arsya dan berlari kearah kamar Syana.
"Mama, ini dimana ??" Isak Syana yang membangunkan Shaka dari tidurnya.
"Ini..."
"Papa.." teriak Syana girang saat Arsya masuk kekamar mereka.
Arsya tersenyum bahagia, rasanya dia ingin menangis saat ini saking bahagianya. Ternyata Arisya tidak pernah melupakannya, dia juga mengenalkan anak-anak mereka siapa papanya.
Arsya sangat-sangat bersalah pada kedua anaknya dan juga pada Arisya. Dia sempat mencurigai Arisya berselingkuh, dan dia juga berniat mencelakai kedua buah hatinya sendiri.
"Papa kembali ??" Arisya menatap Syana bingung dengan apa yang dibicarakannya.
"Iya.. papa kembali sayang.."
"Papa nggak akan pergi lagi kan ??" Kali ini Shaka yang bertanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Papa akan disini sama kalian, selamanya"
"Janji" teriak keduanya serempak.
"Janji"
"Ehh.. kapan kalian liat papa ??"
"Waktu mama pingsan" jelas Shaka.
"Tapi waktu itu papa pergi saat kita panggil ma" Shaka menatap Arsya sendu, sedangkan Arsya hanya bisa meringis mengingat kejadian dimana dia sangat cemburu melihat kedua bocah itu memanggil Papa yang Arsya kira mereka memanggil pria yang disampingnya.
"Padahal Shaka mau minta tolong papa, buat angkat mama ke kamar. Untung saja ada Om" timpal Shaka.
Arisya mendelik ke arah Arsya, menatapnya dengan dalam. Ternyata itu yang menyebabkan Arsya menuduhnya berselingkuh.
Ternyata Arsya sudah salah paham dengan Raka dan kedua buah hatinya.
"Gue nggak tau kalau ternyata mereka, masih ada" lirih Arsya pelan saat mengatakan Masih ada dihadapan kedua anaknya. Seolah-olah Arsya tau apa maksud dari tatapan Arisya pada dirinya.
"Papa.. Syana boleh nggak tidur sama papa" pinta Syana dengan puppy eye nya.
Arsya mengangguk.
"Shaka juga mau" teriak Shaka.
"Terus mama tidur sama siapa ??" Ucap Arisya cemberut. Entah kenapa Arisya sedikit iri melihat kedua buah hatinya lebih memilih tidur dengan Arsya ketimbanh dirinya.
"Sama Om Raka aja" jawab Syana polos.
"Nggak boleh.." teriak Arsya membuat Arisya tertawa terbahak-bahak.
"Mama tidur disini juga sama kita" ucap Arsya sambil memeluk kedua buah hatinya.
"Awas kalau berani dekat-dekat sama Raka" ancam Raka tanpa bersuara.
"Shaka dan Syana di tengah, papa dan mama akan ditepi" ucap Arsya berusaha mengatur posisi mereka tidur.
Arisya menatap Arsya dan kedua buah hatinya yang asik bersenda gurau, hingga tak terasa Arisya menitikan air matanya. Tapi ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan. Arisya tau bagaimana kedua buah hatinya sangat merindukan sosok Arsya selama ini. Namun mereka pendam karena mereka tidak ingin melihat Arisya bersedih.
"Hamil... saya hamil dok ?? Tapi saya baru saja mengalami keguguran" Ucap Arisya terkejut ketika dokter memberikan obat penguat janin kepada dirinya.
"Tapi disini terlihat kalau anda sedang hamil" ucap dokter tak kalah bingungnya dengan Arisya.
"Lihat... bahkan ada akan memiliki bayi kembar" ucap dokter itu sambil menunjukkan calon bayi Arisya.
"Jadi... saya... tidak keguguran dok ??" Dokter menggeleng sambil membenarkan peralatannya yang tadi dia gunakan untuk memeriksa Arisya.
"Bagaimana keadaan anak dan cucu saya dok ??" Tanya Ayah yang menyerobot masuk karena susah tidak tahan menunggu di luar. Kelamaan menunggu, membuat Ayah semakin panik.
Apalagi saat ini, ayah harua lebih extra menjaga Arisya. Mereka tidak pernah tau dimana musuh akan menyerang. Bisa saja, teman menjadi lawan.
"Jadi, selama ini ayah tau kalau Arisya tidak keguguran" ucap Arisya tidak percaya.
"Maafkan Ayah sayang.. Ayah melakukan ini, supaya orang yang berniat mencelakai kamu dan anak kamu mengira kalau kamu sudah terpuruk dalam kesedihan karena kehilangan anak kamu"
" Makanya ayah menyuruh Arisya untuk meninggalkan Arsya" ayah mengangguk.
"Supaya mereka tidak pernah tau tentang kehamilan kamu, dan mereka tidak pernah tau tentang cucu ayah. Ayah tidak mau membahayakan mereka juga" timpal Ayah sedih.
Cukup sudah ayah membahayakan bunda dan Arisya, ayah tidak ingin lagi membahayakan cucu nya.
"Ayah..." peluk Arisya sambil menangis.
Terimakasih Ayah..
Lihat...
Mereka sekarang sedang bersenda gurau bersama papanya dengan gembira, sesuai dengan keinginan ayah.
tapi asik ceritanya 👍👍