"maaf Ren, aku sudah menyembunyikan penyakit ku dari mu. aku harap, suatu hari nanti kamu mengerti maksud ku menyembunyikan penyakit ini." Luna Wijaya.
~~~~~~~~
sebelum membaca Novel ini, di saran kan untuk membaca novel sebelum nya ya. yang berjudul "Benih kakak tiri ku" agar kalian nyambung dengan cerita ini. baiklah, terimakasih banyak.
Luna Wijaya anak bungsu dari pasangan Elbra Wijaya dan Kania Azahra, awalnya ia adalah perempuan yang sehat dan aktif. Namun tak di sangka, sebuah penyakit membuat nya menjadi lemah. hingga membuat nya mudah pingsan, beruntung nya ada sang kakak yang mengetahui penyakit nya, dan sang kakak berniat ingin memberi tau orang tua nya mengenai penyakit Luna, namun Luna memohon untuk tidak memberi tahu siapapun soal penyakit nya karena sebuah alasan. bahkan Ren, teman sekaligus orang yang ia suka, tak ia beri tahu soal penyakit nya. bagaimana kah kondisi Luna kedepannya? apakah bisa sembuh? atau malah sebaliknya? yuk baca 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanzila mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elbra regrets? [chapter 32]
"Lu-luna." batin Ibrania sembari terus menatap orang yang ia lihat seperti Luna. setelah terdiam sejenak, Ibrania pun tersadar. Lalu langsung mengecek nomor kamar nya, dan ternyata bukan kamar Luna.
ia masih bingung, dan sangat sulit ia pahami maksud dari semua ini. Ibrania pun terdiam sejenak di depan pintu kamar tersebut sembari memikirkan apa yang ia lihat sekarang. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Jenazah perempuan itu pun di bawa pergi oleh suster, untuk di pindahkan ke ruang mayat. Ibrania yang masih di sana, tertabrak pintu karna melamun, para suster pun meminta maaf dan mengira Ibrania adalah anak dari ibu ibu tersebut.
"Maaf, mas. Kami tidak lihat, mas nya gapapa kan?." Tanya salah satu suster.
"Aduh... Gapapa kok, salah saya juga diam di depan pintu." Jawab Ibrania sembari mengelus jidat nya yang sakit.
"Mas nya pasti anak dari ibu itu kan, masuk aja mas. Temenin ibu nya, kasian dia baru aja kehilangan anak perempuan. Mas nya pasti juga sedih kan, kami ikut berduka cita ya mas. Kami pamit dulu ya mas." Setelah mengucapkan itu suster itu pun melanjutkan perjalanan nya ke ruang mayat. Sedangkan Ibrania mencoba masuk kedalam, lalu menghampiri ibu ibu itu.
"Permisi, apa boleh saya bertanya?" Tanya Ibrania sembari menatap nya yang sedang menangis. Mendengar ucapan Ibrania, ia pun menatap sejenak Wajah Ibrania. Lalu mengangguk pertanda membolehkan Ibrania bertanya.
"Lebih baik duduk dulu, agar lebih enak bicara nya, buk." Ucap Ibrania sembari mengajak ibu ibu itu untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Itu tadi anak ibu ya?" Tanya Ibrania memastikan.
"Iya, nak. Tadi itu anak saya satu satu nya." Jawab ibu itu dengan raut wajah sedih dan menunduk.
"Saya ikut berduka atas meninggalnya anak ibu. Jika boleh tau, siapa nama anak nya bu?" Tanya Ibrania yang mencoba memancing si ibu untuk bercerita semua tentang wanita yang mirip dengan Luna.
"Dina Wijaya, nak." Jawab. Ibu itu sembari melihat ke arah Ibrania.
"Wi-wijaya?" Kaget Ibrania saat mendengar nama Wijaya. Namun ia tak ingin menyimpulkan nya langsung, ia kembali bertanya untuk mencari tau informasi lebih dalam.
"Iya, Wijaya. Itu marga ayah nya, nak." Jawab ibu itu.
"Ayah nya di mana, Bu. Kenapa tidak datang ke sini?" Tanya Ibrania lagi.
"Ayah nya....dia, dia tak menginginkan Dina. Karena menurut nya, Dina merepotkan saja," Jawab ibu itu yang kembali meneteskan air mata karena mengingat masa hidup Dina yang menyedihkan.
"Bagaimana bisa ada seorang ayah seperti itu, jika tak di inginkan. Kenapa di lahirkan!?" Kesal Ibrania, saat mendengar cerita ibu itu.
"Saya juga tak tau, mengapa mereka berbuat begitu. Hanya karena sebuah kelainan, mereka memisahkan Dina dari sodara kembar nya." Lanjut sang ibu bercerita.
"Sodara kembar? Dina punya sodara kembar, sekarang sodara kembar nya diasuh oleh lelaki brengsek itu?" Tanya Ibrania memastikan.
"Iya, sodara kembar Dina ada pada ayah dan ibu nya." Jawab ibu itu yang membuat Ibrania semakin penasaran.
"Ibu? Siapa itu, ibu tiri Dina kah?" Tanya Ibrania penasaran.
"Tidak, dia ibu kandung Dina." Jawab ibu itu dengan jujur.
"Lalu ibu?" Tanya Ibrania yang terus memancing ibu itu untuk terus cerita lebih banyak.
"Saya hanya ibu angkat Dina. Dina di berikan ke saya saat ia di lahir kan, Karena Dina terlahir dengan kelainan pada otak, sedangkan kembaran nya terlahir sehat. Hal itu lah yang membuat orang tua nya memberikan Dina pada saya dengan imbalan uang yang sangat besar." Cerita si ibu yang sangat mengingat cerita dari ayah kandung Dina, di saat ayah Dina ingin memberikan Dina pada ibu angkat nya.
"Adakah ibu foto ayah nya Dina?" Tanya Ibrania yang sangat kesal pada orang tua Dina, dan berniat ingin memberi pelajaran karena telah membuang Dina.
"Tidak ada, tapi dia mempunyai media sosial. Jika sekedar ingin melihat wajah nya saja, kamu bisa lihat akun media sosial nya, nak." Jawab si ibu yang tau media sosial ayah Dina.
"Apa Bu, apa nama nya?" Tanya Ibrania yang sangat semangat, sembari mengambil ponsel nya dari saku, untuk mencari akun media sosial ayah nya Dina.
"Seingat saya, nama nya Elbra Wijaya. Yah seingat saya itu nama media sosial nya." Jawab si ibu yang membuat Ibrania terdiam, dan menjatuhkan ponsel nya begitu saja.
"Kamu kenapa, nak. Kenapa ponsel mu di jatuhkan. Apa kamu kenal orang nya?" Bingung itu itu saat melihat respon Ibrania yang terlihat sangat shock.
"A-ayah." Ucap Ibrania gemetar, ia tak menyangka pria brengsek yang ibu itu cerita kan adalah ayah nya sendiri.
"Ayah? Apa maksud mu, nak?" Tanya ibu itu yang tambah bingung saat mendengar ucapan Ibrania.
Mendengar ucapan sang ibu, Ibrania pun tersadar dari lamunan nya. Lalu kembali mengambil ponsel nya yang jatuh, dan membuka Galeri untuk memperlihatkan foto ayah nya.
"Apa ini pria yang ibu maksud?" Tanya Ibrania memastikan, sembari menunjukkan foto Elbra pada ibu itu.
"Yah benar, dia pria yang memberi ku uang dan Dina." Jawab sang ibu yang masih mengingat wajah ayah kandung Dina.
"Ti-tidak mungkin, ayah tak mungkin melakukan itu. Ayah tak pernah bilang jika ibu melahirkan anak kembar, ayah-" ucap Ibrania terhenti lalu menatap ibu itu lagi, lalu kembali bertanya.
"Apa ibu yakin itu ayah saya, kenapa dia tega melakukan itu, Bu?" Tanya Ibrania yang tak bisa mengontrol emosi nya.
Kini perasaan nya campur aduk, antara marah, sedih, dan kecewa.
"saya tidak tau, nak. Memang nya nama mu siapa?" tanya ibu itu ingin memastikan, karena ia masih ingat nama anak pertama Elbra Wijaya.
"saya Ibrania Wijaya, Bu." Jawab Ibrania cepat.
"be-benar, kamu anak pertama nya kan?" tanya ibu itu tak menyangka bertemu dengan sodara kandung Dina.
"i-iya saya anak pertama, Bu. A-apa yang ibu ka-katakan tadi sungguhan, Bu?" tanya Ibrania sekali lagi, rasanya ia tak bisa mempercayai hal itu. berat untuk nya menerima bahwa sang ayah pernah berbohong sebesar ini dari nya.
"i-iya, nak. mohon jangan adukkan pada ayah mu ya, jika saya cerita. saya takut ayah mu akan menyakiti saya." mohon sang ibu sembari ingin berlutut untuk memohon pada Ibrania.
"e-ehh, jangan, Bu. jangan seperti ini. saya tak akan memberi tau nya, Tapi dengan syarat." ucap Ibrania sembari menyuruh si ibu untuk berdiri dari berlutut nya.
"apa itu, nak. Saya akan usahakan memenuhi syarat mu." Jawab ibu itu cepat, ia terlihat begitu takut pada Elbra.
"bantu saya membuat ayah jera." ucap Ibrania.
"bagaimana cara nya, nak?" tanya si ibu yang tak terpikir apa pun untuk membuat Elbra jera.
to be continued~
Happy New Year everyone, semoga di tahun yang baru semua yang di semoga kan di tahun lalu bisa di wujudkan di tahun yang baru. terima kasih juga para reader, berkat kalian author bisa bertahan hingga sekarang. Sekali lagi happy new year...
see you again 👋🏻
Revan mending ke Alex aja deh🤣✌️✌️
Khawatir keadaan Ren yang lompat dari lantai 2 kalau terlalu lama updatenya🤭
Sefrustasi itu aku🤧🤧
Revan lu bener-bener, ya🫵👊👊👊
Itu resolusi bukan sih?😅
Yang ku mau itu, walau sulit rasanya🤧🤧🤧