[Note : Update jika Author tidak sibuk]
Seorang siswa bernama Ash Kisaragi mendapati dirinya terpanggil ke dunia lain bersama teman sekelasnya. Kala itu mereka bertemu dengan seorang Dewi dan mendapatkan sebuah skill sesuai dengan yang mereka inginkan sebagai bekal ke dunia lain. Namun, berbeda dengan teman sekelasnya Ash mengambil semua skill yang tidak masuk dalam kategori skill petarung.
Setelah perpindahan dunia, Ash langsung pergi meninggalkan teman satu kelasnya. Ternyata ini bukan kali pertama Ash dipanggil ke dunia lain, ia tak ingin menjadi seorang pahlawan dan ingin hidup santai.
Namun ada begitu banyak masalah yang datang padanya, hingga ia bertemu dengan dewi yang pernah memanggilnya di pemanggilan pertama. Setelah itu Ash kembali mengemban nasib dunia, sebuah misi baru telah terukir padanya.
Kisah Pahlawan Yang Pernah Mengalahkan Raja Iblis Dan Dipanggil Kembali Untuk Menjadi Pahlawan Sekali Lagi. Namun kali ini musuh utamanya bukanlah raja iblis melainkan dewa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 : Ibu Kota
Di sebuah gang sepi, Ash bertemu dengan sosok gadis yang memiliki sepasang sayap berwarna putih. Gadis itu tidaklah asing baginya, bahkan sangat dikenal olehnya.
"Lama tak bertemu, Pahlawan Ash," ucap lembut gadis itu, suaranya seperti melodi yang membangkitkan kenangan.
"Ya, lama tak bertemu, Mika," balas Ash dengan nada kesal, sembari mengeluarkan pedangnya dan menodongkan ujungnya ke arah gadis yang ada di depannya.
"Tapi ini aneh... bagaimana manusia sepertimu bisa hidup lebih dari dua ratus tahun?" ucap Mika, merasa curiga, terlebih lagi dia tahu tentang kejadian dua ratus tahun yang lalu.
"Entahlah... jadi, apa yang kau mau? Aku tak punya waktu untuk berurusan denganmu!" Ash melanjutkan, mencoba menutupi kecemasan yang tiba-tiba muncul.
"Simpan amarahmu. Aku hanya datang untuk menyapa," jawab Mika, terbang ke atas dengan anggun sebelum meninggalkan Ash di gang yang gelap dan sepi.
"Tapi, kau benar-benar menjadi lemah, yah?" ucapnya sebagai kata terakhir sebelum menghilang dari pandangan Ash.
Ash menatap kepergian gadis itu dengan sorot mata tajam yang penuh emosi.
Kenapa dia ada di ibu kota? Tunggu... jangan bilang kalau... Seven Stars of Hope itu...
"Tch!" Ash mendecakkan lidahnya, menyadari bahwa rekan-rekan seperjuangannya yang dulu kini berkumpul di ibu kota.
Menggelengkan kepalanya, ia menegaskan pada dirinya sendiri, Tak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Aku harus fokus menemukan pedang suci milikku...
...----------------...
Di langit-langit kota, Mika terbang menuju istana kerajaan, wajahnya tersenyum seolah menemukan sesuatu yang berharga.
"Sepertinya hal menarik akan terjadi dalam festival kali ini..." gumamnya, penuh rasa ingin tahu.
Gadis itu turun perlahan di salah satu balkon kamar istana, di mana seseorang sedang duduk santai sembari meminum teh.
"Dari mana saja kau?" tanya orang yang telah menunggu di balkon.
"Aku menemuinya," jawab Mika dengan senyum simpul yang misterius.
"Menemuinya..." orang itu tampak bingung, lalu ia menyadarinya. "Maksudmu! Ash!?"
"Ya!" jawab Mika.
"Jadi dia benar-benar masih hidup...?" orang itu tampak lega namun juga gelisah.
"Ya, dia benar-benar masih hidup, tapi sepertinya kekuatannya melemah. Bahkan aku merasakan kalau energi sihir di dalam tubuhnya juga kacau," jelas Mika, memperhatikan reaksi temannya.
"Mika, cepat bawa aku menemuinya!" seru orang itu, wajahnya menunjukkan kegelisahan yang mendalam.
"Sudah, sudah, tenanglah Elvina... Jika kau menemuinya sekarang, apa kau pikir dia akan menerimamu begitu saja?" balas Mika, menarik kursi dan duduk dengan tenang.
"Tapi... Ash pasti..." Elvina terlihat tidak bisa menahan emosinya.
"Pasti apa? Memaafkanmu? Bahkan aku yang tak terlalu terlibat dalam kejadian itu saja dibenci olehnya, lantas bagaimana denganmu? Orang yang telah membunuhnya?" balas Mika, wajahnya serius, menatap Elvina dengan penuh perhatian.
Elvina menggigit bibirnya, tak bisa menyangkal kebenaran yang diucapkan Mika.
"Ya, untuk sekarang tenanglah dulu... Sepertinya akan ada hal yang berbeda di festival tahun ini," ujar Mika sambil memandang jauh ke arah kota yang berkilau.
"Apa yang kau katakan...?" tanya Elvina tampak penasaran.
"Ya, kita lihat saja nanti," jawab Mika, senyumnya kembali merekah.
...----------------...
Di salah satu penginapan yang ada di ibu kota, sebuah penginapan yang cukup mewah.
"A-apa kalian yakin kita akan menginap di sini?" tanya Luna, terlihat ragu.
"Ya, lagi pula Ash yang akan menanggung biayanya, hitung-hitung ini balasan karena dia meninggalkan kita begitu saja setelah memasuki kota," balas Risa, tampak percaya diri.
"Lagian... kita sekarang bersama dengan Flora, tak mungkin kita menginap di penginapan biasa, kan?" tambah Risa sambil melirik ke arah Flora.
"Eh?" Flora tampak kaget karena tiba-tiba diperhatikan oleh Risa. "Se-sebenarnya, aku tak keberatan jika kita menginap di penginapan biasa," ucapnya canggung.
Flora masih belum akrab dengan para gadis, dan saat tak ada Ash, ia merasa sulit untuk berbicara dengan baik.
"Bagaimana dengan Ash? Apa dia tahu kita menginap di sini?" lanjut Flora bertanya.
"Eh? Ah... mungkin..." jawab Risa ragu, "Ya, dia pasti tak akan tersesat," tambahnya, berusaha meyakinkan diri.
"Apa mungkin Ash pernah datang ke ibu kota?" Flora kembali bertanya, tatapannya penuh ketidakpastian.
"Mungkin..." jawab Risa.
Di sisi lain...
Ash telah berjalan ke sana ke sini untuk mencari para gadis, setelah masuk ke tiga penginapan berbeda.
"Kemana mereka pergi?" gumamnya dengan frustasi.
"Huft~" ia menghela nafas, melihat ke arah istana kerajaan. "Seharusnya pedangku ada di ibu kota, dan mungkin tempat di mana pedang itu tersimpan adalah di istana," gumamnya, menguatkan tekadnya.
Yah, untuk sekarang aku harus mencari keberadaan para gadis... Ngomong-ngomong, aku ada di mana?
Ash melanjutkan langkahnya, mendatangi setiap penginapan biasa yang sering didatangi oleh para petualang. Namun, setelah mendatangi sepuluh penginapan, tak satupun yang melihat para gadis.
Jika tak ada di penginapan biasa berarti...
Ash langsung menuju salah satu penginapan mahal yang ia ketahui setelah bertanya pada orang sekitar. Sesampainya di depan bangunan yang menjulang tinggi dan megah, Ash terdiam sejenak.
Meneguk ludah, ia berjalan masuk. Suasana sangat berbeda dengan penginapan biasa; penginapan mewah ini mirip hotel bintang lima.
Tanpa berlama-lama, Ash langsung berjalan menuju meja resepsionis dan bertanya tentang para gadis.
"Ah, mereka yang Anda sebutkan tadi memang menginap di hotel ini. Apa mungkin Anda teman mereka?" tanya resepsionis dengan ramah.
"Ya..." jawab Ash tampak pasrah, merasa berat dengan beban yang harus ditanggungnya.
"Ini kunci kamar Anda, mereka sudah memesannya untuk Anda," resepsionis itu memberikan kunci kamar kepada Ash.
Ash menerima kunci itu dengan berat hati, mengeluh dalam hati.
Sepertinya dompetku akan menjerit setelah ini... huft~
Ash berjalan dengan pasrah menuju ke kamar miliknya. Kamar itu cukup luas dan didekorasi dengan sangat elegan seperti kamar seorang bangsawan.
Setelah menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, Ash mengangkat tangan kanannya ke atas. "Fire ball..."
Sebuah lingkaran sihir berwarna merah muncul, tetapi segera hancur, tak membentuk bola api seperti yang ingin dimunculkan oleh Ash.
"Ternyata masih tidak bisa, yah?" gumamnya melihat tangan kanannya dengan kekecewaan.
Aliran sihir di tubuhnya saat ini sangat kacau sehingga Ash tak mampu menembakkan sihir, tetapi bukan berarti ia tak bisa menggunakan sihir sama sekali. Ia masih bisa menyelimuti pedang atau bagian tubuhnya dengan mana.
Bangkit dari kasur, Ash membuka jendela kamar. Angin sejuk mulai masuk, menyegarkan ruangan. Ash kembali merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk. Begitu tubuhnya menyentuh permukaan lembut itu, ia merasakan kenyamanan yang menyelimutinya, seolah-olah ia tenggelam dalam awan yang halus.
Ash menutup matanya. Udara sejuk dari luar yang berhembus lembut menyentuh kulitnya, sementara suara samar dari kicauan burung di luar berirama menenangkan telinganya. Detak jantungnya mulai melambat, napasnya menjadi dalam dan teratur.
Rasa kantuk datang perlahan, seperti kabut tipis yang merayap masuk. Pikiran-pikirannya yang tadinya melompat-lompat kini semakin pelan. Setiap tarikan napas membuat tubuhnya semakin tenggelam ke dalam kasur, membuatnya semakin sulit untuk melawan rasa kantuk yang terus menguat. Mata yang tadinya masih sesekali terbuka kini terasa terlalu berat untuk diangkat.
Akhirnya, ia menyerah. Seperti diselimuti oleh tangan lembut, Ash perlahan-lahan terlelap, hanyut dalam tidur yang tenang.