Rizky Adhitya adalah seorang penulis novel miskin yang hidupnya penuh kegagalan karena karyanya selalu ditolak. Namun, takdir berubah saat ia terbangun di dalam tubuh seorang Antagonis kaya raya dengan nama yang sama di dunia novel buatannya sendiri. Alih-alih mengikuti alur asli yang menakdirkannya mati mengenaskan di tangan sang protagonis, Rama Wijaya, Rizky memilih untuk menikmati kehidupan mewahnya dengan santai.
Berbekal "System Menghamburkan Uang" dan Kartu Hitam Tanpa Batas, Rizky yang kini berkepribadian periang mulai melakukan aksi gila. Ia membeli perusahaan penerbitan hanya untuk mencetak novel-novel lamanya yang dulu ditolak, hingga menggunakan artefak legendaris seharga triliunan hanya sebagai pengganjal pintu kantor asistennya, Rafa Ariyanto.
Aksi "trolling" finansial ini menghancurkan reputasi Rama, sang hero munafik yang kehilangan semua panggungnya. Sementara itu, tunangannya, Aprillia Rahma, yang semula sangat membencinya, mulai jatuh hati pada sosok Rizky yang baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futami Rizuryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan di Tengah Badai Buatan
Langit di Puncak Sultan yang biasanya diatur dengan presisi teknologi Swiss kini berubah menjadi neraka putih yang menderu. Pagi itu, matahari seharusnya bersinar cerah di atas salju buatan setinggi dua meter yang diciptakan Rizky untuk Jojo, jerapah kesayangannya. Namun, keheningan pegunungan itu hancur oleh suara ledakan logam yang memekakkan telinga. Pipa-pipa pendingin raksasa yang mengalirkan cairan nitrogen cair dari pembangkit listrik nuklir pribadi Rizky meledak secara beruntun, menciptakan reaksi berantai yang mengubah area wisata mewah itu menjadi pusaran badai salju nyata yang mematikan.
Di balik reruntuhan instalasi yang membeku, Rama Wijaya berdiri dengan napas tersengal. Wajahnya yang pucat di balik parka oranye terang kini tampak benar-benar gila. Tangannya yang gemetar masih menggenggam sikat gigi emas yang telah ia patahkan dan gunakan untuk menyabotase katup tekanan utama pada mesin pendingin.
"Jika aku harus menjadi badut di tempat ini, maka aku akan menghancurkan seluruh sirkusnya!" geram Rama. Pengaruh Skill 'Manipulasi Skrip' memang membuatnya patuh pada peran pemandu wisata, namun rasa benci yang mendarah daging terhadap Rizky menciptakan celah kecil bagi sabotase ini. Ia tidak peduli jika dirinya ikut terkubur; baginya, melihat kemewahan Rizky hancur adalah satu-satunya keberuntungan yang tersisa.
Sementara itu, di dalam Villa Kristal utama, Aprillia Rahma (April) sedang berdiri di dekat jendela besar, mengagumi pemandangan salju sebelum bencana terjadi. Tiba-tiba, getaran hebat mengguncang seluruh bangunan. Kaca-kaca kristal setebal sepuluh sentimeter itu berderit di bawah tekanan angin yang kini mencapai kecepatan badai kategori lima.
Brak!
Satu sisi atap villa tersebut runtuh tertimpa puing instalasi yang terlempar. April terjerat di sudut ruangan, kakinya tertindih oleh pilar kayu jati berlapis perak yang jatuh dari langit-langit. Di luar, suhu anjlok hingga minus tiga puluh derajat Celcius. Listrik padam total, dan satu-satunya cahaya yang tersisa berasal dari binar salju yang masuk melalui atap yang bolong.
"Rizky! Rafa!" teriak April, namun suaranya langsung ditelan oleh raungan angin.
Di pos komando darurat, Rafa Ariyanto hampir pingsan karena panik. Layar tabletnya menampilkan peringatan merah menyala. "Tuan Muda! Sistem pendingin meledak! Suhu di Puncak Sultan tidak terkendali! Tekanan atmosfer di dalam villa April menunjukkan kerusakan struktural!".
Rizky Adhitya, yang tadinya sedang menyesap cokelat panas berlapis bubuk berlian, segera bangkit. Wajahnya yang biasanya periang dan santai kini berubah menjadi sangat dingin—bukan dingin yang kejam seperti Rizky yang asli, melainkan dingin yang penuh otoritas dan keseriusan. Sebagai mantan penulis novel gagal, Rizky tahu betul bahwa ini adalah momen "Klimaks Penyelamatan Heroine" dalam sebuah cerita.
"Rafa, siapkan tim medis di kaki gunung. Aku akan menjemput April," ujar Rizky datar.
"Tapi Tuan Muda! Anda tidak bisa keluar! Jarak pandang nol, dan suhu itu akan membekukan darah manusia dalam hitungan menit!" rintih Rafa.
Rizky tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata dan berbisik dalam hati, "System, aktifkan Peningkatan Fisik Level 3 sekarang juga!".
[Ding! Peningkatan Fisik Level 3 Diaktifkan!] [Atribut Tubuh Inang kini melampaui batas manusia biasa: Kekuatan +500%\, Stamina Abadi\, dan Resistensi Suhu Ekstrem Aktif!].
Seketika, Rizky merasakan energi panas mengalir dari jantungnya ke seluruh ujung sarafnya. Tubuhnya yang tadinya hanya seorang pemuda tampan kini terasa sekeras baja. Ia melangkah keluar dari pos komando, menembus dinding angin yang sanggup merobek kulit manusia biasa.
April mulai kehilangan kesadaran. Rasa dingin yang menusuk membuat jari-jarinya mati rasa. Ia menatap ke langit-langit yang runtuh, berpikir bahwa mungkin inilah akhir dari ceritanya di dunia yang aneh ini. Ia teringat bagaimana Rizky berubah dari pria yang ia benci menjadi sultan gila yang selalu membuatnya penasaran.
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah pintu masuk villa. Seseorang menendang pintu baja yang telah membeku itu hingga terlepas dari engselnya. Di tengah debu salju yang masuk, berdiri seorang pria.
Rizky Adhitya masuk dengan langkah yang sangat stabil, seolah-olah badai salju di belakangnya hanyalah hembusan kipas angin kecil. Ia tidak mengenakan parka tebal; ia hanya mengenakan kemeja kasmir tipis, namun salju yang menyentuh kulitnya langsung menguap karena panas tubuhnya yang tidak normal.
"Rizky...?" bisik April lemah.
Rizky tidak bicara. Dengan satu tangan, ia mengangkat pilar kayu jati seberat dua ratus kilogram yang menindih kaki April seolah-olah itu hanyalah sebatang ranting kering. Ia kemudian berlutut di samping April, melepaskan jubah bulu cerpelainya dan membungkus tubuh wanita itu dengan erat.
"Maaf aku terlambat, April. Aku tadi harus memastikan Jojo sudah masuk ke kandang antipelurunya," ujar Rizky dengan nada santai yang kembali muncul, seolah-olah menyelamatkan nyawa di tengah badai nuklir adalah hal yang sepele.
April menatap wajah Rizky dari jarak dekat. Ia melihat ketangguhan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tidak ada keraguan di mata itu. Baginya, Rizky yang biasanya tampak seperti sultan yang hanya tahu cara membuang uang, kini terlihat seperti sosok pelindung yang sangat tangguh dan bisa diandalkan. Dinding kebencian yang selama ini tersisa di hati April benar-benar runtuh dan digantikan oleh rasa kagum yang meluap.
Rizky menggendong April dengan gaya bridal style. Ia melangkah keluar dari villa yang mulai runtuh. Di luar, badai masih mengamuk, namun Rizky berjalan dengan kecepatan yang mustahil, menembus salju setebal dua meter seolah-olah ia sedang menari di atas air.
Sepuluh menit kemudian, Rizky sampai di zona aman di mana Rafa dan tim medis sudah menunggu dengan wajah pucat. Begitu mereka masuk ke dalam tenda pemanas, Rizky menurunkan April ke atas tempat tidur medis.
April tidak melepaskan tangannya dari leher Rizky. Ia justru menarik pria itu lebih dekat dan memeluknya dengan sangat erat di tengah sisa-sisa butiran salju yang masih menempel di rambut mereka. Tangisan April pecah, bukan karena takut, melainkan karena kelegaan yang luar biasa.
"Jangan pernah... jangan pernah pergi lagi," isak April di dada Rizky.
Rizky, yang biasanya punya seribu kalimat humoris, kali ini hanya terdiam. Ia membalas pelukan April dengan lembut, merasakan detak jantung wanita itu yang mulai stabil. Ia menyadari bahwa di dunia ini, ia bukan lagi sekadar menulis cerita; ia sedang menjalani cerita yang jauh lebih nyata daripada naskahnya yang dulu gagal terbit.
Tiba-tiba, layar biru System muncul di sudut mata Rizky, bersinar terang di tengah remang-remang tenda.
[Ding! Heroine Aprillia Rahma telah benar-benar jatuh cinta kepada Inang!] [Tingkat Ketertarikan: 100% (Cinta Abadi)!] [Hadiah Utama Diberikan: Poin Hedon +100.000!] [Bonus: Skill 'Pelindung Takdir' Aktif!].
Rizky menyeringai kecil di balik bahu April. Ia menoleh ke arah jendela tenda, menatap Puncak Sultan yang masih dilanda badai. Di sana, di tengah salju, ia tahu Rama Wijaya sedang meratapi kegagalannya lagi.
"Rafa!" panggil Rizky dengan suara yang kembali periang.
"I-iya, Tuan Muda? Apakah Anda ingin membeli rumah sakit sekarang?" tanya Rafa yang masih gemetar.
"Bukan rumah sakit. Hubungi perusahaan konstruksi tadi. Katakan pada mereka aku ingin membangun villa ini kembali, tapi kali ini aku ingin dindingnya terbuat dari berlian murni agar tidak bisa hancur oleh badai apa pun," perintah Rizky santai. "Dan berikan Rama sikat gigi emas yang baru. Sepertinya dia butuh sesuatu untuk disikat di dalam sel isolasi nanti."
April tertawa di dalam pelukan Rizky, sebuah tawa yang tulus dan penuh kebahagiaan. Di tengah badai buatan yang ia ciptakan sendiri, sang Sultan Antagonis tidak hanya menyelamatkan nyawa, tapi juga berhasil membeli hati yang paling mahal di dunia novel ini: hati sang Heroine.