Yuri meremas gaunnya yang cantik melihat mantan suaminya terlihat bahagia di atas pelaminan. Padahal 1 minggu yang lalu putusan cerai di sahkan oleh pengadilan. Yang menjadi istri baru mantan suami adalah Arimbi sahabat baiknya yang dengan tega merebut kebahagiannya disaat Yuri berjuang untuk mendapatkan sang buat hati.
Air matanya berusaha ditahan agar tidak tumpah membasahi dan merusak riasan wajahnya yang sudah sempurna. Disaat Yuri berusaha tetap tegar sebuah tangan menggenggam tangannya dan memberikan sebuah kekuatan baru.
"Apa kamu ingin membalaskan dendam mu kepada mereka?" ucap Gio
"Apa aku bisa??" jawab Yuri ragu -ragu
Gio yang merupakan atasannya ditempat kerjanya yg baru tak sengaja bertemu di pesta resepsi David dan Arimbi. Hubungan keduanya pun sebatas karyawan dan atasan.
"Menikahlah denganku dan lahirkanlah anak untukku"
"Itu tidak mungkin, aku mandul!!" Ucapnya tegas.
"Percayalah padaku. Kamu bisa menggunakan seluruh kekayaan yang aku miliki untuk membalaskan dendammu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjatuhkan Cantika
Cantika menatap pantulan dirinya pada cermin, terlihat begitu elegan dan cantik mengenakan gaun terbaik yang telah dipersiapkan untuk acara hari ini. Tak sia-sia kemarin menghabiskan uang jutaan untuk melakukan perawatan wajah di sebuah klinik kecantikan. Hari ini juga dia akan membuat pria yang telah berulang kali menolaknya bertekuk lutut padanya.
Tetapi Gio bukanlah seorang pria yang mudah digoda dengan kecantikan wanita. Maka dari itu Cantika telah mempersiapkan sebuah rencana yang tidak akan dapat Gio tolak ke depannya. Dengan hal itu Cantika akan membuat Gio mau tidak mau menjadikannya istri kedua.
Setelah semuanya siap, Cantika lekas menyusul ayahnya yang sudah menunggu di rumah.
Sementara di ruang khusus wardrobe, Yuri sudah tampil spesial mengenakan gaun berwarna navy dengan panjang tiga perempat tubuh. Tak lupa rambut panjangnya di sanggul sederhana dihiasi dengan hair pin bunga -bunga kecil. Make up bernuansa natural membuat penampilan Yuri terlihat seperti lima tahun lebih muda. Tak salah Gio mengundang MUA terbaik untuk membuat Yuri lebih cantik.
Yuri yang tengah bersiap dikejutkan dengan Gio yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Hembusan napas Gio yang terasa berat di tengkuk belakang membuat Yuri merinding.
“Sweety, kita batalkan saja ya pergi ke rumah besarnya,” ucap Gio sambil mengendus-endus harum tubuh Yuri.
Hampir saja Yuri memberontak jika tidak mencium wangi khas parfum Gio. Harus khas tubuh Yuri membuat Gio ingin bermanja-manja dengan bermain-main di area leher Yuri. Tak lupa kedua tangan kekarnya memeluk perut Yuri yang masih ramping dan rata.
“Kenapa?” tanya Yuri singkat.
“Kamu terlalu cantik, Sweety. Rasanya tidak rela jika kecantikan ini harus dibagi dengan pria lain. Apa aku harus mengurung kamu di rumah saja?” Gio semakin bersikap manja.
“Jangan mulai deh, Bang. Abang mau bikin aku lumpuh heemmm, sekarang saja pinggang rasanya mau copot,” kesal Yuri.
“Hehehe, maafkan Sweety. Habisnya kamu terlalu menggoda bikin abang ingin gigit kamu.” Gio membalikkan tubuh Yuri dan membantunya memakaikan sepasang anting bermata berlian, “Apapun nanti yang dikatakan orang-orang di sana jangan kamu dengarkan okey. Sekarang kamu adalah Nyonya Ghandika, istri sah Cakrabima Gio Ghandika, tidak ada satu orangpun yang pantas selain kamu sayang.” Gio memberikan sebuah kecupan manis.
“Abang tunggu di bawah ya Sweety,” lanjutnya diiringi kedipan sebelah matanya sebelum keluar dari tempat tersebut.
Yuri hanya terkekeh melihat sisi lain suaminya yang manja dan pencemburu. Padahal sebelumnya, saat masih bekerja sebagai karyawannya Gio selalu bersikap tegas, dingin dan cuek.
Disepanjang perjalanan, Yuri memilih lebih banyak diam. Bahkan telapak tangannya terasa sangat dingin, Gio yang kelihatan kegugupan Yuri pun mulai menggenggam tangannya dan berusaha memberikan ketenangan.
Mobil mulai memasuki komplek perumahan elit, semua rumah yang berdiri rata-rata besar dan berlantai tiga. Kediaman utama keluarga Gandhika susah pasti sangat besar, Yuri mulai merasa kekhawatiran dalam dirinya akan mengalami penolakan terutama dari ayah kandung Gio.
Tibalah mereka di rumah yang berada di ujung komplek, suasana teduh langsung terasa saat mobil milik Gio masuk. Memang rumahnya tidak terlalu besar cenderung minimali, namun halaman yang sangat luas. Ini semua sesuai dengan keinginan almarhum ibunda Gio yang menyukai bunga dan berbagai tanaman hias.
Tak ada sambutan khusus saat Gio dan Yuri tiba, namun mata Gio melihat sebuah mobil asing yang terparkir di dekat mobil sang ayah. Tanpa berpikiran macam-macam Gio dan Yuri segera masuk ke dalam rumah tentunya sambil berpegangan tangan. Yuri seketika langsung merasakan hawa dingin begitu masuk ke dalam rumah. Sekilas terdengar suara seorang wanita yang tengah tertawa, Yuri mengenali suara tersebut. Yuri semakin mengeratkan pegangan tangannya terhadap lengan Gio.
“Ahh, Gio anakku akhirnya kamu datang juga,” sapa Belinda menghampiri Gio dan hendak memeluknya. Namun sayang Gio lebih memilih mundur selangkah untuk menghindari Belinda.
Berbeda dengan Yuri, lantas dia mengulurkan tangannya di depan Belinda. Sejenak Belinda tampak terdiam lalu reflek mengangkat tangan kanannya dan Yuri langsung mencium tangan Belinda sebagai bentuk penghormatan dan kesopanan kepada ibu mertua.
Belinda sedikit linglung mendapat perlakuan spesial dari Yuri, bahkan Gio sebagai anak sambungnya pun tak pernah melakukannya.
“Ini….”
“Yuri Ayu Widari, istri saya. Panggil saja Yuri,” jawab Gio sambil melihat wajah Yuri.
“Aaahhh, cantik sekali. Maaf ibu tidak menyambut kalian di depan sebab ibu tidak tahu kapan kalian datang. Tunggulah sebentar ya, Ayah sedang ada rapat online mungkin sebentar lagi akan selesai,” sahut Belinda dengan ramah.
Sikap Yuri yang sopan, membuat Belinda yang awalnya ingin bersikap ketus setelah mendengarkan cerita Cantika berubah menjadi ramah. Dia menjadi segan untuk bersikap buruk kepada Yuri, apalagi dia belum mengetahui respon Rama terhadap istri Gio.
“Dasar pelakkor, wanita murahan!!!”
Hampir saja Yuri mendapatkan tamparan di pipinya jika Belinda tidak menahannya.
“Cantika, apa-apaan kamu. Kendalikan emosimu dan jaga bicaramu itu. Tidak pantas kamu berbicara seperti itu apalagi di depan Gio,” tegas Belinda sambil menahan tangan Cantika di udara.
“Uuugghhhh.” Cantika menarik tangannya yang dipegang Belinda, tatapannya seolah hendak mencekik Yuri detik ini juga.
Demi keamanan istrinya, Yuri langsung ditarik oleh Gio dan ditempatkan disampingnya. Gio tak ingin Yuri terluka jika sewaktu-waktu Cantika kembali bersikap kasar.
“Jadi ini seorang janda yang kamu pilih sebagai istri dan mencampakkan anak saya yang berstatus sebagai tunangan kamu,” ucap Baskara dengan suara baritonnya.
“Ayahhh, bagaimana bisa Gio mengkhianati aku dan lebih memilih janda Ja-lang seperti itu,” rengek Cantika menghampiri ayahnya.
Gio merasa situasi ini sangat tidak menguntungkan, apalagi tak ada pihak manapun yang akan membelanya. Entah itu ibu tirinya ataupun ayahnya, apalagi ayahnya Rama memiliki hubungan yang sangat baik dengan Baskara ayah kandung Cantika.
“Saya benar-benar kecewa sama kamu Gio. Apalagi relasi bisnis saya sudah tahu jika kamu adalah tunangan anak saya, apa kurangnya anak saya Gio,” ucapnya sambil mengepalkan tangannya.
Belinda yang berada di tengah-tengah situasi yang tidak enak merasa kebingungan yang luar biasa, dia berharap Rama akan segera muncul.
“Tapi nyatanya saya dan anak anda tidak pernah bertunangan secara resmi bukan, itu semua hanya ucapan dan kesepakatan antara kalian dengan orang tua saya. Sejak awal saya tidak menolak dengan mentah- mentah rencana kalian!!!” geram Gio, dia harus mempertahankan harga diri.
“Tidak bisa!! Ini semua adalah kesepakatan, dan kamu Gio tidak bisa menyangkal. Saya tidak mengakui pernikahan kami dengan wanita itu, sebaiknya ceraikan dia dan menikah dengan Cantika,” imbuh Baskara tidak memberikan toleransi.
Yuri menatap cemas wajah Gio, dia melihat saat ini suaminya tengah merasa tertekan. Tangan Yuri menggenggam dengan gemetaran, merasa takut kehilangan sesuatu. Gio mengepalkan tangannya, emosinya mulai terangkat. Namun Gio berusaha agar wajahnya tak berekspresi agar dirinya terlihat tenang di mata mereka. Mereka belum tahu jika Gio yang mudah emosi kini mulai bisa mengontrolnya sejak adanya Yuri.
“Siapa anda bisa mengatur kehidupan saya?” jawab Gio dengan tenang.
“KAU!!!!” Baskara mengangkat tangan dan menunjuk ke arah Gio, emosinya kini mulai meluap, terpancing dengan perkataan Gio.
Cantika berjalan ke arah Belinda dan bergelayut manja. Dia sudah memikirkan apa yang harus dilakukannya malam ini agar rencananya berhasil.
“Tante, apa tidak tahu jika wanita itu adalah janda yang ditinggalkan mantan suaminya karena mandul. Bagaimana keluarga Ghandika bisa memiliki penerus jika menikah dengan seorang wanita mandul,” ucap Cantika berusaha mempengaruhi Belinda.
Setelah mendengar ucapan Cantika, perasaan Belinda terasa sakit seperti sebuah pisau tertancap di hatinya. Perkataan Cantika seolah-olah ditujukan untuk dirinya yang memang sudah divonis mandul oleh Dokter. Belinda terdiam tak mampu berucap apapun.
Tiba-tiba Yuri sudah berada di depan Cantika, membuatnya terkejut. Yuri tersenyum tipis, namun dengan tatapan yang tajam.
“Lalu kamu merasa lebih pantas menjadi menantu di keluarga Gio dan lebih bisa melahirkan keturunan karena kamu pernah hamil sebelumnya. Setidaknya gelar saya lebih terhormat dibandingkan kamu, Nona Cantika. Bahkan wanita malam saja dibayar setiap kali menyentuhnya. Tetapi kamu bahkan memberinya gratis kepada pria-pria hidung belang, hingga hamil dan terpaksa aborsi,” bisik Yuri tepat di telinga Cantika.
Meskipun berkata dengan suara yang pelan, tetapi Belinda yang berada di sebelahnya dapat mendengarkan dengan jelas.
Kedua mata Cantika membola, tak menyangka Yuri mengetahui rahasianya di masa lalu hingga tak sanggup lagi bibirnya berucap. Untung saja Gio sempat menceritakan bagaimana tentang Cantika, ternyata itu sangat berguna untuk menjatuhkan mentalnya.
Melihat anaknya tertekan, Baskara tidak diam saja. Dia akan mengeluarkan kartu As yang akan membuat Gio tak bisa menolak keinginannya dan menikah dengan Gio.
“Keterlaluan kamu Gio, beraninya janda ja-lang ini kurang ajar kepada anak saya. Pokoknya saya tidak mau tahu, nikahi anak saja atau semua investasi akan saya tarik dari Y&G dreams.” Baskara merasa jumawa karena dia sangat yakin Gio berada di ujung tanduk.
Apalagi Baskara memegang saham yang cukup besar di perusahaan milik Gio. Tentunya jika Baskara menarik semua investasinya akan berimbas pada sistem keuangan perusahaan, yang sudah dapat dipastikan Y&G Dreams akan mengalami kolaps.
Mendengar ucapan Baskara, Gio hanya berdiam saja. Dia sudah menduga sebelumnya, meskipun belum memiliki solusi jika Baskara benar-benar menarik semua investasinya, Gio tidak boleh terlihat panik.
“Silahkan saja, bawah hingga receh-recehnya. Bahkan sekalian saja anakmu itu membatalkan kontrak kerjasamanya dengan perusahaan saya,” jawab Gio tenang.
“Gio tolong pikirkan ulang, ini menyangkut semua pekerja di perusahaan. Bagaimana jika mengalami kebangkrutan? Bahkan Ayahmu saja tidak akan mau membantu,” ucap Belinda khawatir.
Yuri tak tahu juga Baskara ternyata sebagai investor di perusahaan Gio, rasa kesal dalam dirinya mencuat karena tak mampu membantu Gio sedikitpun. Bahkan kehadirannya justru menambah masalah saja. Gio mengerti jika Yuri tengah khawatir, diusapnya dengan lembut kepala Yuri seolah memberitahu jika semuanya masih baik-baik saja.
“Sebaiknya kami pulang saja, rasanya buang -buang waktu berlama-lama di tempat yang membosankan ini. Terserah anda Pak Baskara yang terhormat, sampai kapanpun saya tidak akan menyakiti istri saya. Permisi.” Gio membawa Yuri melangkah meninggalkan rumah ayahnya sebelum emosi dalam dirinya semakin tidak terkendali.
“Tunggu, tidak ada satupun yang pergi dari rumah ini tanpa seizin saya.”
kalau rumah tangga mertua ikut ngatur dan campur tangan ngurusin susah adanya pasti ribut terus