"Usir dia dari rumahku! Aku tidak ingin melihatnya ada di sini!"
"Tidak, jangan usir aku, aku mohon!"
Agatha menangis saat tangannya ditarik keras oleh dua orang bodyguard yang bekerja pada Louis Fernando, seorang pengusaha kaya yang berpengaruh di kotanya.
Agatha difitnah oleh mertuanya telah berselingkuh dengan pria lain yang tak lain teman dari Louis sendiri.
Setelah keluar dari kediaman suaminya, Agatha hidup terlunta-lunta di luar dengan keadaannya yang tengah berbadan dua. Hidupnya sangat miris tanpa ada keluarga yang mempedulikannya, pada dasarnya Agatha memang dibesarkan di panti asuhan, dia tidak pernah mengetahui siapa orang tua kandungnya.
Lima tahun kemudian, Agatha kembali dengan keadaan yang berbeda, dia memiliki dua anak kembar yang sangat pintar dan sangat menyayanginya.
Mungkinkah Agatha akan menyembunyikan identitas si kembar dari suaminya?
Atau mungkin dia akan kembali setelah si kembar mengetahui bahwa Louis adalah Ayah kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Menangis di Alam Kubur
"Mommy! Mommy!"
Tak peduli walaupun di rumah orang lain si kembar berteriak-teriak memanggil ibunya.
Mereka takut Agatha disandra dan diminta untuk memberikan sejumlah uang sebagai tebusan.
Mereka tak akan membiarkan siapapun berbuat jahat dan menyakiti ibunya.
"Tuh, mereka sudah datang. Biar aku temui mereka dulu."
Agatha tak diizinkan untuk keluar dari dalam kamar. Sungguh menjengkelkan Louis yang tiba-tiba berubah manja seperti anak kecil.
Agatha sendiri tidak tahu kenapa Louis tiba-tiba berubah sikap. Semula pria itu selalu bersikap dingin dan jutek, tapi kini dia berubah menjadi manja dan menyebalkan.
"Biarkan saja mereka mencarimu ke sini."
"Ck, mana tau kalau aku ada di sini. Kau ini ada-ada saja. Lagian kau tidak sakit, ngapain pura-pura sakit? Bikin kesel aja!"
Jauh-jauh datang dan percaya akan alasan Louis ternyata hanya dikibuli.
Louis nampak begitu sehat, bahkan dia tidak demam sama sekali.
"Siapa bilang aku pura-pura sakit, emang benar aku lagi nggak enak badan," balasnya mendumel.
"Yaudah, kalau memang sakit, aku hubungi dokter, biar dokternya ke sini buat periksa, atau kalau tidak, aku antarkan ke rumah sakit, sekalian diopname."
Obrolan mereka dibuyarkan oleh suara seseorang tengah mengetuk pintu.
Terdengar suara dewasa mengetuk pintu dan memanggil majikannya.
"Permisi Tuan, saya sudah menjemput si kembar. Mereka ada di sini, mereka tengah mencari ibunya. Bagaimana Tuan? Apakah saya bawa mereka ke kamar Tuan?" tanya Willy dari luar pintu.
Willy tak berani melanggar peraturan yang dibuat oleh majikannya. Sebelum mendapatkan izin dari majikannya, ia tak berani mengajak si kembar menemui ibunya, walaupun mereka merengek ingin menemui ibunya.
"Bawa saja mereka ke sini. Ibunya ada di sini," jawab Louis.
"Baik Tuan."
Willy kembali ke ruang tamu untuk menemui si kembar. Dia memang sengaja meminta mereka untuk menunggunya di ruang tamu.
"Anak-anak, ayo ikut Om. Katanya kalian ingin bertemu dengan Ibu kalian."
Mereka berdua beranjak dari tempat duduknya dan mengekori Willy menuju lantai dua, tepatnya di kamar Louis.
"Di mana mommyku Om? Kok nggak ada?" tanya mereka berdua mendongak menatap Willy.
"Mommy ada di dalam sini. Ayo kalian masuk."
Willy perlahan membuka pintu kamar Louis, mereka pun masuk setelah diminta Willy.
Tatapan mereka tertuju pada Agatha yang duduk di sofa bersama dengan Louis. Tentunya Louis tak memberinya celah untuk menjauh, tangannya memegang pergelangan tangan Agatha.
"Mommy! Mommy kok ada di sini? Kalian sedang apa?"
Kedua bocah itu berlari mendekati Agatha dan juga Louis. Tatapan mereka tertuju pada Louis dan beralih pada Agatha.
"Mommy tidak apa-apa sayang. Mommy dari tadi kepikiran terus sama kalian. Maafin Mommy ya, sekarang mommy belum bisa pulang."
"Hah, nggak pulang? Memangnya di sini kita mau ngapain? Kalau nggak ada yang dikerjain kenapa nggak bisa pulang? Tapi mommy baik-baik saja kan? Nggak diapa-apain sama dia."
Tatapan mereka tertuju pada anggota tubuh Agatha, dari tangan hingga kaki. Mereka takut ibunya diperlakukan tidak baik oleh Om yang dianggapnya begitu baik.
Melihat kepolosan anak-anaknya membuat Louis tak bisa menahan tawa. Dia pun meraih tangan Kenzo dan membuatnya terjatuh dipangkuannya.
"Kalian curiga amat sama Daddy. Memangnya Daddy sejahat itu, tega melukai mommy kalian?"
Kenzo dan juga Kenzie terkejut dengan bola matanya hendak lepas. Dua kali pria itu menganggapnya sebagai Daddy mereka.
"Hah, Daddy? Daddy dari Hongkong? Om ini terlalu halu mau jadi Daddy kami. Memangnya Om punya apa mau jadi Daddy kami?"
Agatha yang ada di sebelah Louis langsung membuang muka. Wanita itu tertawa dalam diam. Padahal ia tak pernah mengajari anak-anaknya berani bicara yang aneh-aneh pada orang yang masih belum lama dikenalinya.
"Loh, rupanya kalian meremehkan Daddy ya? Daddy punya semuanya. Kekayaannya, rumah, perusahaan beberapa unit mobil dan tanah yang luas. Apa semua itu tidak cukup untuk menjadi Daddy kalian?"
Dengan bangganya Louis menjelaskan apa saja yang dimilikinya. Baginya sombong sedikit di depan anaknya sendiri tak masalah, toh semua itu memang milik mereka.
Walaupun pria itu banyak memiliki harta, tapi tak membuat si kembar yakin ibunya mau menikah dengannya.
"Lumayan juga hartamu Om, tapi apakah mungkin mommyku mau menikah denganmu? Mommyku hanya cinta mati sama daddyku, jadi aku rasa kau hanya akan gigit jari. Kau tidak akan bisa mengambil hati mommyku. Bukannya begitu mommy?"
Agatha membeku. Dia benar-benar dibuat malu oleh anaknya sendiri. Dengan si kembar menjelaskan bahwa dirinya hanya mencintai Ayahnya saja, itu sudah mempermalukannya di depan Louis.
Louis menoleh pada Agatha yang hanya diam dan melepaskan pergelangan tangannya yang dipegang oleh Louis.
"Bagaimana Nyonya Agatha? Apakah kau akan tetap egois pada pendirianmu?"
Louis mengerlingkan bola matanya menggoda Agatha. Agatha nampak diam dengan wajahnya merona.
"Rupanya selama ini kau hanya mencintai Ayah mereka, kau tidak pernah mencintai orang lain selain Ayah mereka, maksudnya suamimu?"
"Siapapun akan mencintai suaminya Om. Om ini gimana sih, kayaknya Om ini nggak pernah pacaran, jadi kurang pengalaman."
Si kembar selalu menyerang Louis, dan membuat pria itu tak berdaya.
Di situ Louis kebingungan untuk memberikan penjelasan pada mereka siapa ia yang sebenarnya. Setelah apa yang dilakukannya ia jadi minder untuk mengakui kesalahannya, intinya ia takut tak dianggap oleh anak-anaknya.
"Sayang, bagaimana dengan keseharianmu tadi? Apa kalian baik-baik saja di rumah? Tidak ada orang yang jail lagi sama kalian?"
Untuk mengalihkan pembicaraan yang membuatnya mati kutu, Agatha menarik tangan Kenzie dan bertanya mengenai kegiatan anaknya di rumah tanpa pantauan darinya.
"Kami baik-baik saja mom. Kami tadi nungguin mommy di teras depan, terus ada Om ..., siapa aku lupa namanya, dia merayu kami untuk diajak bertemu mommy. Kami nggak percaya, mommy kan pernah bilang sama kami, jangan terlalu mempercayai orang lain, karena mereka yang terlibat baik belum tentu baik. Tapi pas kami video call sama dia," tunjuknya pada Louis. "Kami percaya bahwa mommy ada di sini. Tapi kenapa mommy berada di sini? Apakah mommy hendak diculik?"
Kedua bocah menggemaskan itu masih belum mengetahui maksud Louis yang memintanya untuk menemui ibunya di rumah. Seperti yang mereka lihat, Louis dan ibunya nampak baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.
"Menculik mommy kalian itu dibuat apa? Orang kerempeng macam ini palingan buat hantu-hantuan di sawah."
Dengan cepat si kembar membentaknya. "Hus! Om nggak boleh bicara seperti itu. Om nggak boleh meremehkan mommy. Biarpun mommy kurus, mommy itu orang yang paling baik diantara yang lainnya. Mommy udah ngerawat kami seorang diri tanpa bantuan dari siapapun. Mommy itu tak bisa dibandingkan dengan siapapun, termasuk Daddy. Daddy kami orangnya bodoh, dia udah telantarin kami, semoga saja dia masih hidup dan menyadari kesalahannya, kalau memang udah mati semoga saja dia tidak menangis di alam kuburnya."
Hanya orang bodoh dan dungu sajalah yang bisa di bohongi.
karena orang yang tidak dungu akan menggunakan akal dan pikirannya