Ayu sudah lama menikah dengan Reno dan dikaruniai seorang anak perempuan cantik yang berusia tujuh tahun yang bernama Sela. Reno adalah suami yang perhitungan pada anak dan istrinya tapi royal kepada orang lain. berkali - kali sikap Reno yang lebih perhatian pada orang lain daripada keluarganya sendiri membuat ayu merasa gemas dan juga marah. Tapi Reno seolah tidak peka dengan perubahan sikap istrinya itu. Apakah Ayu akan kuat menjalani rumah tangganya dengan Reno. sedangkan sudah ada Sela diantara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinta NaNa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalan Dewi
Setelah beberapa lama berkendara, akhirnya Reno membelokkan mobilnya ke sebuah restoran. Mereka semua Turun setelah Reno memarkirkan mobilnya. Reno mengedarkan pandangannya mencari meja kosong untuk mereka tempati. Karena ini sudah masuk waktunya jam makan siang, restoran terlihat ramai oleh pengunjung. Beruntung Reno dan yang lain masih bisa mendapatkan tempat meskipun harus di pojokan.
Kini mereka mulai memesan makanan, Reno sampai terdiam saat mendengar pesanan yang lain, karena rata - rata mereka memilih makanan yang harganya mahal. Sedangkan Dewi heran karena menu yang dipesan oleh Reno adalah menu yang paling murah.
"Mas kaku yakin cuma pesan ini aja?"
"Iya Wi, aku masih kenyang jadi ini saja sudah cukup."
"Ya sudah kalau gitu."
Lalu mereka mengobrol ringan sambil menunggu makanan diantar oleh pelayan.
"Ren, tadi gimana sidang mediasinya di dalam?"
Tanya mbak Sindi membuka pembicaraan.
"Gak gimana - gimana mbak, kami cuma disuruh memikirkan ulang lagi keputusan untuk bercerai, dan kalau bisa disuruh rujuk demi anak kami Sela."
"Terus gimana mas, kamu gak mau kan?"
"Kamu tenang saja Wi, aku sudah mantap untuk bercerai dengan Ayu. Bukankah aku sudah janji padamu untuk segera menikahimu."
"Iya Wi, kamu tidak usah khawatir, ibu juga tidak akan pernah setuju kalau sampai Reno rujuk dengan Ayu. Ibu lebih senang kalau Reno menikah denganmu."
"Aku lega mendengarnya mas, awas saja kalau sampai kamu berani membohongiku. Uang tiga puluh juta itu tidak akan aku berikan."
"Kamu jangan marah gitu dong Wi, mbak Sindi akan pastikan kalau Reno akan menepati janjinya. Kalian akan segera menikah."
"Iya Wi, ibu juga akan memastikan kalau pernikahan kalian nanti akan diadakan dengan meriah. Kamu jangan khawatir ya. Ngomong - ngomong, kapan kamu akan kasih uangnya?"
"Baiklah Bu, besok aku akan ambil uangnya dulu. Setelah itu akan langsung membawanya ke rumah ibu."
Obrolan mereka terjeda oleh pelayan yang mengantarkan makanan ke meja mereka. Setelah semuanya terhidang kini mereka makan dengan lahapnya. Hanya Reno yang dari tadi makan sambil tidak tenang karena melihat begitu banyak hidangan di meja sedangkan dia tidak mempunyai uang untuk membayarnya nanti.
"Ayo mas dimakan, ini masih banyak lho makanannya."
"Iya Wi, rasanya aku sudah kenyang."
"Mas Reno kan baru makan sedikit tadi."
"Tadi aku belum lapar makanya hanya makan sedikit."
"Ya sudah kalau kamu tidak mau makannya buat mbak aja kalau gitu. Sayang kalau dibuang, kan jarang - jarang kita makan enak di restoran."
Sindi menyela Reno masih sambil penuh makanan di mulutnya. Dari tadi dia terus makan seperti orang yang sudah lama tidak makan. Dan hal itu cukup membuat Dewi risih. Reno juga merasa malu dengan tingkah kakaknya ini. Dia khawatir Dewi akan merasa tidak nyaman dengan tingkah kakaknya.
selang beberapa saat acara makan pun telah selesai. Sindi sampai kekenyangan karena dia yang makan paling banyak diantara yang lain.
"Ya sudah mas ayo kita pulang. Dewi harus ke rumah sakit sekarang karena masuk siang."
"Iya nanti mas anter.kamu setelah anter ibu dan mbak Sindi ya."
"Iya mas, kamu bayar dulu deh makanannya."
Reno langsung gelagapan saat Dewi mengingatkan untuk membayar makanan. Segera Reno memutar otak agar dia bisa lepas dari masalah ini. Dan saat sejenak diam sambil berfikir tiba - tiba dia mendapatkan ide yang bagus.
"Baiklah aku bayar dulu ya."
Lalu dia memanggil pelayan untuk menanyakan total tagihannya. Sesaat kemudian pelayan datang sambil membawa tagihan ke meja Reno.
"Totalnya jadi berapa ya?"
"Ini pak semua totalnya lima ratus dua puluh ribu."
"O ya sebentar ya."
Dengan berusaha mengambil dompet di saku celananya, Reno pura - pura panik saat dia tidak menemukan dompetnya tersebut. Reno meraba seluruh saku celananya sambil celingukan mencari keberadaan dompetnya.
"Kamu sedang apa Ren?"
Tanya Sindi yang ikut panik melihat wajah Reno.
"Dompetku gak ada mbak, kalian ada yang lihat dompetku gak?"
Semua orang menggeleng saat ditanya Reno.
"Coba kamu cari dulu mas, ingat - ingat dimana tadi kamu menyimpannya."
"Tadi seingatku dompet sudah aku kantongi di saku celana, tapi kenapa sekarang gak ada?"
"Lalu gimana Ren, siapa yang akan bayar semua makanan ini?"
Tanya bu Retno yang ikut panik melihat kepanikan di wajah Reno.
"Entahlah Bu, o ya ibu bawa uang kan, bayarin dulu makanan ini ya Bu. Nanti Reno ganti kalau dompetnya sudah ketemu."
"Kamu gimana sih Ren, ibu mana ada uang segitu. Ibu gak bawa uang dari rumah."
Seketika Reno berkeringat dingin, tadinya dia mengandalkan ibunya karena dia tahu kemarin ibunya baru saja menerima uang pinjaman senilai dua juta dari Dewi saat ingin pergi kumpul bersama teman - temannya. dan seharusnya ibu masih menyimpan uang itu. Tapi kalau sudah begini dia juga bingung harus bagaimana, dan satu - satunya orang yang bisa diandalkan saat ini hanyalah Dewi.
Tapi raut wajah Dewi terlihat masam sejak tadi. Sebenarnya dia agak takut tapi sudah tidak ada cara lain lagi.
"Dewi, kamu pasti bawa uang kan, aku minta tolong kamu bayar dulu ya makanan ini, nanti kalau dompetku sudah ketemu nanti aku ganti uang kamu."
"Kok jadi aku yang mesti bayar sih mas."
Ucap Dewi sambil bersungut karena merasa keberatan dengan permintaan Reno.
"Iya Wi, kamu tolong bantu Reno ya pasti nanti kalau dompetnya ketemu dia akan ganti dua kali lipat uang kamu."
Timpal Sindi ikut membujuk Dewi agar mau membayar total makanan yang mereka makan tadi. Tapi justru hal itu membuat Reno semakin geram dengan tingkah kakaknya. Bagaimana nanti kalau Dewi benar - benar meminta ganti dua kali lipat sedangkan dia sendiri bingung mau cari uang dari mana karena gajinya sudah Habis untuk bayar cicilan rumah dan mobil.
"Jadi ini siapa yang mau bayar ya pak?"
Tanya pelayan restoran yang sudah mulai kesal dengan tingkah pelanggannya yang dari tadi hanya saling berdebat.
"Ya sudah, sini tagihannya aku yang bayar mbak."
Akhirnya Dewi mengalah dan mau membayar tagihan makanan mereka. Karena sudah ingin segera pulang dan pergi bekerja. Lalu dia mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tasnya dan memberikannya pada pelayan tadi. Setelah menerima uang dari Dewi, pelayan tadi segera pergi.
"Terima kasih banyak ya Wi, kamu sudah mau membantuku saat ini."
Ucap Reno pada Dewi yang wajahnya sudah sangat masam dari tadi.
"Iya Wi, kamu memang calon mantu idaman ibu."
Bu Retno semakin memuji Dewi setelah kejadian ini.
"Ya sudah mas ayo kita pulang, aku sudah mau terlambat masuk kerja."
Ucap Dewi dengan nada datar karena dia masih sangat kesal dengan Reno.
Lalu semuanya pun berjalan meninggalkan restoran menuju ke parkiran. Dan saat berjalan Reno berbicara berbisik dengan Dewi.
"Terima kasih banyak ya Wi, kamu sudah membantuku tadi membayar tagihan makan kita."
"Pokoknya kamu harus mengganti uangku dua kali lipat mas. Bukankah tadi kamu sudah janji."
Seketika senyum yang tadi sudah menghiasi wajah Reno langsung hilang begitu saja. Dia tidak menyangka kalau Dewi benar - benar akan meminta ganti uangnya dua kali lipat seperti yang ditawarkan Sindi tadi. Tapi dia juga merasa gengsi untuk menolak permintaan Dewi tadi.
"Ah, iya, aku ingat kok. Pasti akan aku ganti nanti."
Janji Reno akhirnya, karena sudah tidak bisa mengelak lagi pada Dewi.
setelah ini mereka pun pulang ke rumah.
sedang si Dewi malah dapat laki Mokondo yg ngarep harta warisan keluarga nya 😜
..