" KARENA MANUSIA SELALU MENGINGINKAN YANG TERBAIK TAPI LUPA MENJADI BAIK DAN BERBUAT BAIK"
Mengisahkan Perjalanan hijrah seorang gadis bernama Gendis.
Masa lalu yang penuh dosa pun membuat Gendis mengalami trauma.
Iqbal seorang pria yang baik namun salah pergaulan menjadikan Iqbal sebagai pribadi yang keras, playboy dan liar.
Mereka dipertemukan pada saat mereka sama sama tidak baik dan bertobat untuk berhijrah.
Perjuangan menuju Jannah yang selalu diimpikan pun harus dilalui dengan kisah yang Tragis, Miris dan Derai Air Mata.
Berhijrah itu mudah tapi untuk Istiqomah itu sulit.
GENDIS.... IQBAL .... JADIKAN SEMUA KISAHMU MENJADI PELAJARAN YANG BERHARGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMINTAAN GENDIS
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
"Ayah, apa yang ingin ayah ceritakan kepada kami, kami sudah makan, dan ganti baju." ucap Nadia kepada ayahnya.
"Ayah tidak ingin bercerita, bagaimana kalau kita ketemu ibu? kalian semua mau?kangen tidak sama ibu?" ucap Iqbal lembut pada ketiga anaknya.
"Mau ayah. Kami sangat rindu pada ibu? Nadia ingin dipeluk ibu. Ayah tidak bohong kan?" ucap Nadia dengan mata berkaca-kaca.
"Sekarang ikuti ayah." ucap Iqbal mantap.
Ketiga anaknya bingung mereka mengikuti ayahnya, tapi malah ke kamar.
Pintu kamar pun di buka oleh ayah dan ada ibu sedang tertidur dikasur nya.
"Ibuuuuuuuu........" jerit ketiganya karena perasaan rindu yang sudah meluap luap dan menerjang dengan pelukan pelukan serta ciuman ciuman di pipi sang ibu.
Iqbal melihat itu dengan tersenyum, sepenting inikah peran seorang ibu bagi anak anaknya. Sang Ibu yang tertidur pun mulai terusik dengan kedatangan ketiga anaknya.
"Ibu....... " teriak Al yang paling keras.
Sang ibu mulai mengerjap ngerjapkan matanya karena kaget. Dibukanya kedua mata perlahan-lahan dan mulai mengumpulkan tenaga untuk bangun dari tidurnya.
"Masya Allah, dari tadi yang berisik anak anak ibu? kirain ibu mimpi lagi berada di TK, berisiknya sama kayak anak TK." ucap Gendis terkekeh menggoda ketiga anaknya, sambil mencium kening anak anaknya satu per satu.
"Ibu sudah sembuh? kata ayah ibu sakit? kalau ibu pulang berati ibu sudah sembuh, dan aku bahagia bisa berkumpul lagi." ucap Nadia polos dan terlihat bahagia.
"Ibu kita buat kue atau puding, Nissa kangen kue buatan ibu, kan ibu sudah sembuh." ucap Nissa penuh harap.
"Sayang ibu baru saja sembuh, dan masih perlu banyak istirahat. Jadi kalian harus tetap jadi anak baik, anak yang Sholeh dan Sholehah, tidak boleh melanggar apa uang sudh menjadi larangan dari Allah SWT. Hari ini ibu sudah membuat kue dan puding, kalian mau?" ucap Gendis penuh semangat.
Bertemu dengan suami dan ketiga anak anaknya membuat semangat hidup Gendis kembali bergairah. Lebih mempunyai motivasi hidup untuk masa depan. Tidak hanya memikirkan masa lalu yang penuh penderitaan yang membuat trauma itu tidak bisa hilang dari kehidupannya.
"Ibu ini enak sekali, sungguh Al tidak berbohong, boleh kuhabiskan?" ucap Al asal.
"Sayang, habiskan yang menjadi milikmu, jangan dibiasakan mengambil yang bukan milikmu. Kamu mengerti Al. Berbagi dengan saudaramu jangan kamu habiskan sendiri." ucap Gendis lembut.
"Ayah tidak makan?" ucap Nadia kemudian.
"Ayah sedang berpuasa Sunnah." ucap ayah dengan tersenyum.
Banyak hikmah dari perjalanan hidup yang bisa dipetik sebagai pelajaran berharga bagi Iqbal dan Gendis. Kisah hidupnya yang menarik untuk diulas karena proses berhijrah dengan sang istri. Perjuangan hidup yang penuh dengan pengorbanan batin pun dilalui dengan tangis dan derai air mata. Cinta dan kehidupan antara Iqbal dan Gendis sudah teruji hingga perkawinannya yang ke 7 tahun. Belum berhenti sampai disini, karena bahagia, sedih, ujian, dan kematian itu milik Allah SWT. Hanya Allah SWT yang berhak menentukan takdir hidup seorang manusia. Dan manusia harus menerima takdir hidupnya dengan sabar dan ikhlas.
"Mas, kamu mengajar ngaji hari ini?" ucap Gendis lembut.
"Iya sayang, aku pulang jam lima sore, aku ingin berbuka puasa denganmu sesuai janjiku sayang." ucap Iqbal pelan. Berat rasanya meninggalkan Gendis dirumah. Rasa rindunya belum terobati penuh, tapi paling tidak melihat senyum Gendis membuat hawa yang berbeda bagi Iqbal.
"Aku mandi dulu, terus ke mushola, aku sholat ashar disana, hari ini jadwalku menjadi imam." ucap Iqbal menjelaskan kepada Gendis.
"Iya mas, aku akan memasak spesial permintaanmu tadi. Anak anak sekarang mandi terus ngaji ke mushola, ayok bersiap siap." ucap Gendis penuh perhatian.
Seperti keadaan sebelumnya, Gendis mulai menyiapkan baju dan perlengkapan Iqbal untuk mengajar. Baju untuk ketiga anaknya pun telah disiapkan untuk dipakai mengaji.
"Sayang, mas berangkat dulu ya. HTI hati dirumah." ucap Iqbal penuh kasih sayang dan mengecup kening Gendis dengan lembut.
Hatinya kembali berdesir sangat halus hingga tubuhnya meremang bergetar hebat. Kecupan Gendis di punggung tangannya pun terasa sangat berbeda. Kenapa seperti baru kembali merasakan ini semua, padahal ini sudah sering aku lakukan, bahkan lebih dari ini, kenapa rasa getaran dan gejolak di dalam dadanya berbeda, membuat degub jantungnya pun berlari larian. Sungguh perasaan apa ini Ya Allah, tapi aku menikmati perasaan ini. Ada rasa tenang dan nyaman di relung hatiku yang membuat hati menjadi semakin sejuk.
Gendis mulai memasak bahan bahan uang sudah disiapkan tadi. Hari ini mas Iqbal merequest SOP buntut kesukaannya. Berhubung mas Iqbal sedang sakit, aku buatkan teh jahe untuk meningkatkan daya tahan tubuh mas Iqbal.
Selesai memasak Gendis pun mulai membereskan dan merapikan rumah yang sedikit berantakan. Selama tidak ada Gendis mungkin hanya bunda yang membereskan, tapi bunda sendiri sibuk dengan warungnya, dan sudah terlalu lelah harus membereskan rumah ini.
Adzan ashar sudah berkumandang. Gendis pun mandi dan berwudhu, kemudian melaksanakan sholat ashar dirumah. Di sujud terakhir Gendis, Gendis memohon ampunan, memohon keutuhan keluarganya, memohon untuk kesembuhan suaminya dan kesembuhannya dari penyakit batinnya.
Memohon disujud terakhir sholat biasanya mustajabah. Gendis pun mulai membaca Al-Qur'an dan berdzikir sholawat nabi.
ANDAI SAJA SETIAP UCAPAN YANG TERLONTAR MEMILIKI BAU, MAKA UCAPAN SHOLAWAT PADA NABI ADALAH BAU YANG PALING WANGI
"Assalamualaikum, Gendis, kenapa menangis, kamu tidak beranjak dari sajadahmu sedari tadi? matamu sembab sayang, bila dilihat bunda tidak enak sayang, mas hapus ya." ucap Iqbal begitu lembut. Ucapannya halus dan lembut hingga menusuk rasa dihati yang selalu merindu.
"Waalaikumsalam mas, aku sedih, aku sudah berusaha menjadi baik dan menjadi yang terbaik walaupun tidak sempurna. Aku hanya gadis biasa yang memiliki masa lalu buruk, gadis dengan banyak kekurangan. Aku begitu beruntung mendapatkanmu mas, kita sama sama berhijrah dan berusaha menjadi yang lebih baik lagi. Ada satu hal yang ingin ku sampaikan padamu, aku ingin ke rumah papa dan mama, apapun resikonya akan ku hadapi mas. Kamu mau mengantarku mas kesana?" ucap Gendis terisak.
"Baiklah mas akan antar kamu, siapkan hatimu dan batinmu Gendis, kamu tahu bukan konsekuensi nya seperti apa?
"Iya mas aku tahu dan aku sangat paham sekali. Ayok mas kita bersiap siap untuk buka. Aku sudah menyiapkan semuanya, sesuai keinginanmu. Anak anak kemana?" ucap Gendis pelan.
"Mereka bermain diluar sayang, ayok kita persiapkan untuk buka. Terima kasih sudah menjadi istriku yang Sholehah dan menjadi ibu yang baik untuk anak anakku, menjadi menantu yang baik untuk bunda. Terima kasih sudah sabar mendampingiku sampai saat ini walaupun aku belum bisa membahagiakan kamu sayang." ucap Iqbal tulus.
"Iya mas Iqbal, Terima kasih sudah menemaniku didalam suka maupun duka." ucap gendis dengan menggandeng tangan Iqbal menuju ruang makan.
---------------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
subhanalloh.....
wanita surga " Sayyidah Fatima Az-Zahra "
❤️❤️❤️
NEXT
bisa mampir lagi
apa kabar ?
alhamdulillah baru sempat mampir lagi 😊😊🤗🤗
mohon dukungan
My lovely Gea
Istriku dokter Cintaku