Anna, seorang wanita yang berjuang dari penderitaannya karena mendapatkan suami pemalas dan juga mertua yang membencinya serta istri dari ipar-iparnya yang selalu menghasut sang mertua untuk menciptakan kebencian padanya. siapakah Ana sebenarnya, bagaimana kisah masa lalunya, sehingga membuat ibu mertuanya begitu membencinya dan siapa dalang dari semua kebencian tersebut?
Bagaimana kelanjutannya, ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampa
Ku langkahkan kakiku menuju rumah paman yang tak jauh dari rumahku, tepatnya didepan rumah lama kami yang mana telah dijual ibuku karena ulah kakakku yang mencuri emas milik istrinya, sehingga harus dibebankan pada ibuku.
"An, baru datang?" sapa paman padaku.
"Iya. Paman apa kabar?" tanyaku dengan ramah.
"Alhamdulillah baik. Kamu pulang kemari tidak dengan suamimu?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku sangat malas membahas tentang hal itu.
"Bu...," rengek Alif padaku.
Paman melirikku. "Ayo, sarapan. Bibimu masak bihun goreng," ajaknya padaku.
Jujur saja aku memang sangat lapar saat ini, sebab dari malam tadi belum sempat makan, karena aku mabuk perjalanan dan untuk makan tidak berselera.
Aku mengekorinya dari arah belakang, dan tiba didapur. "Eh, Anna, kamu kapan datang?" sapa bibi Ani, istri pamanku.
"Baru sampai tadi, Bi." sahutku.
"Ayo, sarapan." ajaknya dengan ramah. Akupun tak dapat pura-pura menolak, sebab memang sangat lapar.
Sesaat aku pun menyantap bihun goreng buatan bibiku, lumayan, mengganjal rasa laparku dan juga Alif.
"Paman, apakah ada pekerjaan yang bisa ku kerjakan?" tanyaku padanya, sembari mencuci piring sisa sarapan kami.
"Lho, koq nanya kerja? Memangnya kamu mau menetap tinggal disini? Suamimu bagaimana?" tanyanya dengan kaget.
"Aku lelah, Paman." wajahku sangat lesu.
"Apakah dia tau kamu pulang?"
Aku menggelengkan kepalaku dengan lemah.
Pamanku menatapku dalam. "Anna, dalam rumah tangga biasa terjadi pertengkaran, tetapi jika dapat diselesaikan, maka selesaikan, jangan sampai kabur dari rumah tanpa seijinnya, dosa." Paman menasehatiku.
"Aku lelah, Paman," jawabku dengan bulir bening yang menggumpal disudut mataku.
"Ya sudah, setidaknya beri kabar padanya jika kamu berada disini. Kita lihat apa tindakannya. Apakah ia menjemputmu, atau tidak. Jika tidak, maka kamu yang harus menentukan jalan hidupmu, sebab apa yang kamu rasakan hanya kamu yang tau bagaimana menjalaninya," ucap Paman padaku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku. "Aku butuh pekerjaan, Paman. Jika bisa yang boleh membawa anak, agar dapat mengasuh Alif tanpa membebani orang," ucapku.
Paman terlihat terdiam sejenak. "Jika mencuci piring dirumah makan Padang milik abang Buyung mau?" tanyanya padaku.
Aku langsung menganggukkan kepalaku. "Mau paman, tak mengapa, yang penting halal. Jadi kapan aku dapat mulai bekerja?" cecarku tak sabar.
Aku tau jika uang simpananku mulai menipis dan aku harus tau diri jika posisiku menumpang untuk saat ink, meskipun dirumah ibuku sendiri.
"Nanti siang paman datang kesana, untuk menanyakan apakah masih butuh orang kerja," jawabnya.
"Baiklah, aku pulang dulu ya, Paman, mau mencuci bajuku yang kotor karena terkena muntah malam tadi." aku beranjak dari posisiku.
"Ya,"
"Terimakasih, sarapannya, Bi," ucapku dengan senyum sumringah. Lalu melangkah keluar.
"Ann," panggil pamanku.
"Ya." ku hentikan langkahku, lalu menoleh padanya.
"Ayahmu sakit keras, cobalah kau lihat, agar ia bersemangat,"
Seketika wajahku berubah. Aku teringat akan sosok pria yang ku sebut ayah. Kini kabarnya ia telah sakit parah karena kolestrolnya sangat tinggi.
"Ya, nanti aku akan menjenguknya. Aku pinjam motor paman, ya." ucapku padanya.
"Kamu pinjam motor Bi Lasmi saja, soalnya motor mau paman bawa kerja, sekalian singgah ke rumah makan Bang Buyung," ucapnya.
Aku hanya mengangguk menyetujui, lalu beranjak pergi.
Aku dan Alif menyusuri jalanan menuju belakang, karena rumah kami saat ini memang dibelakang. Saat akan mencapai rumah, ku lihat para emak-emak sedang ngerumpi dirumah bu Dani, dan terlihat mereka sangat serius sehingga tidak menyadari aku sedang melintas.
"Jadi si Anna pulang , Kak Minten?" tanya Bu Dani yang seorang lambe Turah dan terkenal kepo.
"Iya. Aku heran sekali sama itu si Anna. Pulang kok bawa anaknya. gak ada guna kita merawat anak laki-laki, cuma buat menumpurkan saja!" jawab ibuku dengan begitu bersemangat didepan para emak-emak lainnya.
Duuuuaar....
Rasanya aku bagaikan tersambar petir saat mendengar kata itu keluar sendiri dari mulut ibuku. Aku tak tahu mengapa nasibku begitu sangat menyedihkan, apakah aku terlahir hanya untuk menahan derita dan penderitaan.
Ku rengkuh tubuh anakku, lalu ku dekap dan ku bawa pulang. Aku sebenarnya tidak tahu, apakah yang kusebut rumah dapat menjadi tempat untuk mencari kedamaian.
Ku seka air mata yang jatuh disudut mataku. Ku langkahkan kaki ku dengan cepat memasuki rumah. Saat bersamaan aku berpapasan dengan kakak iparku. "Ann, sarapannya kenapa tidak dihabiskan?" ucapnya padaku.
"Sudah kenyang, Kak," sahutku, tetapi mataku sangat sembab.
Aku tahu ia menatapku dari arah belakang, dan ku pastikan ia melihat mataku yang bercucuran air mata. Tetapi ia lebih memilih diam.
Ku tarik nafasku dengan sangat dalam. Ku coba menahan air mata yang sudah menggenang. "Yuk, kita ke sungai," ajakku padanya. Sebab kami belum mandi.
"Sungai dekat sawah, Bu?" tanyanya dengan antusias.
Aku menganggukkan kepalaku. Ia tahu jiak aku selalu bercerita padanya jika kampungku dekat dengan sawah yang mana ada aliran sungai disisinya.
"Boleh memancing ikan?" tanyanya lagi.
Aku menganggukkan kepalaku, dan ia memintaku untuk membeli mata kail dan biasanya ada diwarung rumah Buk Dhe yang didekat jalan menuju sawah.
Lalu aku berjalan menuju ke sana, dan aku membawa pakain kotor untuk dicuci dan berbenam, hal yang lama ku rindukan.
Alif terlihat bahagia dengan mata kail dan benang pancing yang ku beli seharga 5 ribu saja. Lalu aku mencari bambu sebesar telunjuk orang dewasa untuk dijadikan batang pancing.
Singkat cerita kami berdua sudah disisi sungai. Ia sangat takjub dengan keindahan alam kampung ibunya. Hamparan padi terbentang luas sejauh mata memandang. Ia tak sabar ingin berenang disungai. Tetapi ia lebih tertarik untuk memancing diirigasi sawah yang terkenal banyak ikan gabusnya.
Sembari menungguku mencuci, ia memancing, dan ia sangat senang saat benang pancing ditarik, dan ia dengan cepat menghentaknya, lalu ikan gabus besar didapat.
Sorak kegirangannya mewarnai siang hariku. Sesaat ku melupakan segala beban yang menimpa hidupku. Hampir satu jam lamanya kami di sungai. Alif mendapatkan ikan yang cukup banyak. "Bu," ucapnya.
"Ya...,"
"Ikannya kuta jual, ya. Buat beli beras," ucapnya dengan begitu polosnya.
Seketika aku tercengang. "Mengapa begitu? Kita masak saja, ya buat lauk," ucapku padanya.
"Yang dua ekor dimasak, sisanya kita jual, biar nenek tidak marah sama ibu," ucapnya lagi. Alif termasuk anak yang sangat lancar berbicara.
Hatiku bagai teriris sembilu. Aku terdiam. Apakah ia mengerti saat pertengkaranku pagi tadi dengan ibu? Aku sangat sakit dengan semua yang ku alami. Mengapa dunia seolah tak adil padaku.
Saat bersamaan, pak Hendri pulang dari sawah bersama dengan petani lainnya.
Melihat ada banyak ikan gabus didalam ember berwana hitam. Ia membelinya dan dengan senang hati Alif menjualnya.