Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Suasana di dalam mobil mewah yang membawa Halra pulang menuju kediaman utama Wiragata terasa sangat dingin dan menyesakkan. Tazam, yang mengemudi, sesekali melirik melalui spion tengah dengan raut wajah khawatir. Nyonya mudanya itu duduk membeku di jok belakang, menatap kosong ke luar jendela di mana lampu-lampu kota Rombright melesat melewatinya bagaikan bayang-bayang kelam.
Pikiran Halra masih berkecamuk hebat, terjebak di trotoar Hotel Wiragata beberapa jam yang lalu. Kata-kata Savhelicha terus terngiang-ngiang di telinganya, menghancurkan pertahanan dirinya sedikit demi sedikit.
"...tau apa kamu jika aku dan Sano sudah melakukan itu..."
Meskipun Halra telah membalas dengan telak dan menunjukkan bukti fisik keganasan Sano semalam, racun keraguan telah disuntikkan ke dalam hatinya. Rasa overthinking itu menggerogoti jiwanya.
Bagaimana jika Savhelicha tidak berbohong? Bagaimana jika "pertama kalinya" itu hanyalah kebohongan manis Sano untuk memuaskan atau memanipulasiku saat itu? Sano adalah pria yang licin. Dia bisa saja mengatakan apa pun untuk menguasaimu.
Bayangan wajah Sano yang buas semalam, yang berganti dengan bayangan wajah licik Savhelicha, membuat dunianya berputar. Rasa mual menyerang perutnya. Bukti fisik di lehernya yang baru saja dia pamerkan dengan bangga di depan Savhelicha, kini terasa seperti sebuah cap budak yang memalukan. Tanda itu tidak lagi terasa sebagai bukti cinta posesif Sano, melainkan sebagai bukti bahwa dia hanyalah pion dalam permainan gila antara Sano dan mantan kekasihnya itu.
Mereka memiliki masa lalu. Sejarah yang panjang dan kelam. Sano mencintai wanita itu, atau setidaknya, dia pernah tergila-gila padanya. Jika mereka sudah pernah tidur bersama... lalu apa artinya malam ini baginya? Apa aku hanyalah pelampiasan? Wadah kosong untuk menyalurkan obsesinya pada wanita lain?
"Nyonya, kita sudah sampai," suara Tazam membuyarkan lamunan Halra. Mobil telah memasuki gerbang tinggi kediaman Wiragata.
Halra tersentak. Dia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya. Topeng wanita kuat dan tanpa cela harus dipasang kembali, meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Dengan langkah anggun namun kaku, dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah besar yang sunyi itu.
Pelayan menyambutnya dengan hormat, memberitahukan bahwa Tuan Sano sudah berada di ruang makan, menunggunya untuk makan malam bersama. Halra merasakan perutnya kembali bergejolak. Rasa kesal terhadap Sano—yang kini bercampur dengan rasa insecure dan cemburu—membakar dadanya.
Dia melangkah menuju ruang makan. Di sana, Sano duduk di ujung meja panjang, mengenakan kemeja santai berwarna gelap. Pria itu tampak tenang, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang berkecamuk di benak istrinya. Saat melihat Halra, Sano berdiri dan menarikkan kursi untuknya, sebuah gestur yang biasanya membuat Halra tersipu, namun malam ini terasa hambar dan manipulatif di matanya.
"Kau terlambat" ucap Sano suaranya rendah dan menenangkan. "Ada masalah di proyek hotel?"
Halra duduk, menghindari tatapan mata Sano yang tajam dan menyelidik. "Tidak ada masalah. Hanya sedikit kemacetan dan urusan mendadak dengan para sosialita."
Dia berbohong. Dia tidak mungkin menceritakan konfrontasinya dengan Savhelicha. Belum saatnya.
Pelayan mulai menghidangkan makan malam—hidangan mewah yang dimasak oleh koki pribadi, namun Halra tidak memiliki nafsu makan sedikit pun. Dia mengambil garpu dan pisaunya dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia mengiris daging steak di depannya dengan kasar, melampiaskan kekesalannya pada makanan itu.
Sano menyadari perubahan sikap istrinya. Dia menatap Halra lekat-lekat. "Halra, ada apa? Kau tampak... gelisah. Dan riasanmu sedikit berbeda hari ini. Concealer di lehermu terlalu tebal."
Jantung Halra seolah berhenti berdetak mendengar ucapan Sano. Pria itu menyadari usaha kerasnya menutupi cupangan itu.
Halra mengangkat wajahnya, menatap Sano dengan tatapan dingin, tajam, dan penuh kebencian yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. Rasa kesalnya meletup-letup, tak tertahankan.
"Kau memperhatikan penampilanku, Sano?" ucap Halra dengan nada datar namun menusuk. "Tentu saja aku harus menutupinya. Kalau tidak, bagaimana aku bisa menjalankan bisnis dan bertemu orang-orang penting dengan tanda kepemilikan buasmu itu di sekujur tubuhku?"
Sano terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Dia tidak menyangka Halra akan menyerangnya secara langsung seperti itu di meja makan. Atmosfer di ruangan itu seketika berubah menjadi tegang dan mencekam. Pelayan yang sedang menuangkan air minum buru-buru menyelesaikan tugasnya dan mundur dengan langkah gemetar, merasakan aura bahaya yang menguar dari pasangan suami istri itu.
Sano meletakkan alat makannya dengan denting pelan yang terdengar nyaring di ruang makan yang sunyi. Dia menyandarkan punggungnya, menatap Halra dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara posesif, frustrasi, dan sedikit rasa bersalah yang disembunyikan rapat-rapat.
"Kau marah padaku karena semalam?" tanya Sano, suaranya rendah dan berbahaya.
Halra tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar menyedihkan. "Marah? Tentu saja tidak, Sano. Aku adalah istrimu. Melayanimu di ranjang adalah tugasku, bukan? Meskipun dengan cara yang kasar dan... di luar dugaan."
Halra teringat kembali pengakuan Sano bahwa itu adalah "pertama kalinya". Keraguan itu kembali menyeruak.
"Atau mungkin," Halra melanjutkan, racun dalam bibirnya mulai menetes, "aku hanyalah pelampiasanmu, Sano? Wadah kosong untuk menyalurkan obsesimu pada... wanita lain?"
Mata Sano menyipit tajam. "Apa maksudmu dengan itu?"
Halra mencondongkan tubuhnya, tatapannya menantang. Topeng kaca kesempurnaannya retak, memperlihatkan wanita yang terluka dan penuh kecemburuan.
"Tadi sore, aku bertemu Savhelicha," ucap Halra, suaranya bergetar menahan emosi yang meluap. "Dia bilang padaku, Sano. Dia bilang, kau dan dia... kalian sudah pernah melakukannya."
"Kau bilang padaku semalam, itu adalah 'pertama kalinya'. Kau bersumpah hanya aku. Tapi Savhelicha... dia menertawakanku, Sano. Dia menertawakan kepolosanku. Dia bilang aku tidak tahu apa-apa tentang sejarah kalian. Dan sekarang... aku tidak tahu harus percaya pada siapa. Pada suamiku yang manipulatif, atau pada wanita gila yang mengaku mantan kekasihmu itu."
Halra menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Isak tangis yang tertahan akhirnya pecah. Kepercayaan dirinya yang rapuh telah musnah, digantikan oleh ketidakpastian yang menyiksa. Dia merasa bodoh, naif, dan terperangkap dalam lingkaran setan yang tidak akan pernah bisa dia menangkan. Bukti fisik di lehernya yang baru saja dia pamerkan dengan bangga di depan Savhelicha, kini terasa seperti sebuah cap budak yang memalukan dan bukti bahwa dia hanyalah pion dalam permainan gila antara Sano dan Savhelicha.
Sano menatap istrinya yang hancur di seberang meja. Rasa cemburu yang membakar dadanya sejak pagi—karena pesta Nathan Greck dan pertemuan dengan Joharo—kini berubah menjadi frustrasi yang luar biasa. Dia bangkit dari kursinya, berjalan mengelilingi meja, dan berdiri tepat di samping kursi Halra.
Dengan gerakan kasar, Sano menarik Halra untuk berdiri, memaksanya menghadap padanya. Halra meronta lemah, air mata membasahi pipinya yang kini luntur concealer.
"Dengar baik-baik, Halra," desis Sano tepat di depan wajah istrinya, suaranya rendah dan penuh penekanan mutlak, sarat akan dominasi dan kepemilikan mutlak. "Savhelicha itu masa lalu. Sampah yang sudah kubuang dari hidupku. Apa yang dia katakan padamu... itu semua dusta. Racun untuk menghancurkanmu dan rencanaku. Aku tidak pernah tidur dengannya. Tidak pernah. Dan aku tidak akan pernah menyentuh wanita lain setelah aku memilikimu. Kau adalah istriku. Satu-satunya wanita yang kuinginkan. Tanda di tubuhmu itu adalah buktinya.
Sano mencengkeram dagu Halra dengan jemarinya yang kasar, memaksanya untuk menatap matanya yang berkilat gelap, penuh gairah dan posesif. Sano menundukkan kepalanya dan melumat bibir Halra dengan ciuman yang buas, menuntut, dan mematikan, namun Halra tidak percaya begitu saja, di sela sela ciuman Sano yang semakin memburu Halra menggigit bibir Sano hingga berdarah.
Sano langsung melepas ciumannya dan mengelap darah yang mengalir di bibirnya, sementara Halra berlari menuju kamar tanpa peduli dengan Sano yang terluka karena ulahnya.