Follow IG @samsularipin_101
"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".
Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.
Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.
Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahta Tanpa Celah
Kekalahan telak Aurelia Group dalam perebutan proyek Temasek bukan cuma menghancurkan rencana ekspansi Valerie Vance, tapi juga mengguncang bursa saham Asia Tenggara. Hanya dalam beberapa jam, harga saham Pratama Group dan Wijaya Logistics langsung meroket ke level tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Berbagai media bisnis internasional sampai menyebut pergerakan Jevandra dan Alana sebagai "The Golden Gambit" sebuah kerja sama paling agresif dan tepat sasaran di industri logistik Indonesia.
Namun, di balik layar monitor yang penuh dengan angka-angka keuntungan, pertempuran yang sebenarnya baru saja berpindah dari strategi bisnis ke konsolidasi kekuasaan internal.
Malam itu, lantai paling atas Gedung Utama Pratama Tower diubah menjadi lokasi resepsi tertutup. Acara ini bukan pesta mewah yang dihadiri puluhan wartawan seperti biasanya, melainkan makan malam yang sangat terbatas. Tamu yang datang hanya jajaran direksi inti Pratama, eksekutif senior Wijaya, serta perwakilan investor utama dari Temasek Holdings.
Ruang *ballroom* terlihat elegan dengan pendar lampu kristal bernuansa emas. Alana tampil memukau mengenakan gaun malam beludru hitam model *mermaid* yang memperlihatkan garis leher dan bahunya. Ia melengkapinya dengan kalung berlian simpel warisan ibu Jevandra. Rambut panjangnya disanggul rapi dengan beberapa helai yang dibiarkan jatuh alami, membuatnya terlihat anggun dan berkelas.
Di sampingnya, Jevandra tampak gagah dengan tuxedo hitam buatan penjahit Savile Row dan jam tangan perak di pergelangan tangannya. Langkah mereka saat menyapa para tamu menunjukkan rasa percaya diri yang kuat. Mereka bukan lagi anak muda yang posisinya bisa digoyahkan oleh pengkhianatan Baskoro atau gertakan Hendra. Mereka kini adalah pasangan penguasa yang berhasil menyingkirkan semua musuh.
"Kamu terlihat menikmati sekali peran sebagai ratu malam ini," bisik Jevandra santai saat mereka berdiri di sudut ruangan dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan malam Jakarta. Tangannya merangkul pinggang Alana dan merapat ke arahnya di tengah keramaian tamu.
Alana meminum sedikit champagne-nya, lalu menoleh sambil tersenyum yakin. "Ratu itu ada karena ada raja yang tahu cara menjaga wilayahnya, Jevandra. Kamu menjalankan instruksi Kakek Haryo dan paman ibumu dengan sangat baik tadi siang."
"Dan siapa yang kasih petunjuknya ke aku, Mrs. Pratama?" Jevandra tersenyum goda, sembari mengelus lembut gaun beludru di pinggang istrinya. "Kalau kamu enggak membongkar kode rel barat dan jaringan intelijen Wijaya, aku mungkin masih berdebat di ruang rapat sama ayahku."
Saat mereka sedang saling lempar pandangan di tengah acara resmi itu, terdengar langkah kaki mendekat. Surya Pratama berjalan menghampiri mereka bersama Haryo Wijaya yang dikawal dua pengawal pribadinya.
Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Dua pimpinan tertinggi dari dua keluarga besar itu kini berdiri tepat di depan Jevandra dan Alana.
Sambil memegang gelas wiskinya, Surya Pratama menatap Jevandra lalu beralih ke Alana. Untuk pertama kalinya, Jevandra melihat ayahnya menatap tanpa nada menuntut atau menilai. Ada rasa bangga yang besar dan pengakuan penuh atas kepemimpinannya.
"Kalian berdua..." Bimo membuka suara dengan nada yang jauh lebih ramah dari biasanya. "Sudah melakukan apa yang tidak pernah bisa Papa dan Ayah Alana lakukan sepuluh tahun lalu. Kalian tidak cuma menggabungkan bisnis, tapi juga meruntuhkan dominasi pihak asing yang mencoba mengatur kita."
Haryo Wijaya mengetukkan tongkat kayunya ke lantai marmer lalu tertawa pelan. "Bimo, kan sudah kubilang. Anakmu ini punya darah keberanian yang tidak kamu miliki. Dia tahu kapan harus tenang dan kapan harus bertindak cepat untuk mengambil alih posisinya."
Haryo lalu menatap Alana, cucu kesayangannya. "Alana, Kakek sudah membatalkan semua draf perjanjian pranikah awal yang dibuat tim hukum kita. Dokumen itu sudah dibakar malam ini."
Alana dan Jevandra kaget dan saling memandang.
"Maksud Kakek gimana?" tanya Alana memastikan.
"Maksud Kakek," Haryo tersenyum lebar sampai garis kerutan di wajahnya terlihat jelas, "Wijaya Logistics dan Pratama Group resmi menyatukan holding utama di bawah satu kepemilikan saham bersama atas nama kalian berdua. Enggak ada lagi batas saham Pratama atau Wijaya. Mulai besok pagi, kalian berdua adalah pemegang kendali tunggal atas Pratama-Wijaya Global Consortium."
Keputusan mendadak itu membuat para eksekutif yang berdiri di dekat mereka terkejut. Keputusan Haryo Wijaya menandakan bahwa generasi tua telah menyerahkan seluruh kendali dan kekuasaan bisnis mereka secara penuh kepada Jevandra dan Alana.
Bimo Pratama mengangkat gelasnya ke atas, menatap putranya dengan senyuman yakin. "Untuk pimpinan baru kita. Jevandra dan Alana."
Seluruh tamu di ballroom ikut mengangkat gelas mereka, bersulang untuk pasangan yang baru saja mencetak sejarah baru di dunia bisnis Asia Tenggara.
...****************...
Jauh dari keramaian pesta, sekitar pukul dua dini hari, penthouse pribadi Jevandra kembali menjadi tempat yang tenang bagi mereka. Pintu yang terbuat dari baja itu terkunci otomatis dengan bunyi bip yang halus, memisahkan mereka sepenuhnya dari dunia luar.
Pencahayaan di dalam penthouse dibuat agak temaram. Alana sudah melepas sepatu hak tingginya sejak di dalam lift pribadi, berjalan tanpa alas kaki di atas lantai marmer yang dingin. Sanggul rambutnya sudah dilepas, membuat rambut panjangnya terurai di punggungnya.
Jevandra melepas jas tuxedo-nya, melipat lengan kemeja putihnya sampai ke siku, lalu berjalan mendekati Alana yang sedang berdiri di dekat jendela besar kamar utama sambil melihat lampu-lampu kota yang mulai redup.
Jevandra melangkah pelan dari belakang lalu memeluk Alana. Ia menyandarkan dagunya di bahu Alana dan menghirup wangi parfum mawar dan vanila dari istrinya.
"Akhirnya... semuanya benar-benar selesai," bisik Jevandra pelan di telinga Alana.
Alana menyandarkan kepalanya di dada Jevandra, merasakan napas suaminya yang teratur. Tangannya naik, mengelus rahang Jevandra yang mulai ditumbuhi brewok tipis. "Perang bisnisnya memang selesai, Jev. Tapi hidup kita yang sebenarnya... baru saja dimulai."
"Kamu takut?" tanya Jevandra, memutar tubuh Alana perlahan sehingga mereka saling berhadapan dan menatap mata satu sama lain.
Alana tersenyum jujur—tanpa ada lagi batasan logika atau perhitungan untung-rugi. "Aku enggak pernah takut selama ada di pelukan pria yang rela melompat ke laut demi aku."
Jevandra menatap Alana lalu menciumnya. Ciuman mereka malam itu terasa tenang, manis, dan penuh emosi setelah melewati berbagai masalah, intrik, dan ancaman. Tidak ada lagi keraguan tentang hubungan mereka. Pernikahan yang dulunya dimulai dari tanda tangan di atas kertas kontrak, kini sudah menjadi ikatan cinta yang sangat kuat.
Jevandra menyela jemarinya ke rambut panjang Alana, memperdalam ciuman mereka sambil menggendong istrinya. Alana melingkarkan kakinya di pinggang Jevandra, menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada pria yang kini bukan cuma sekutu bisnisnya, tapi juga pemilik hatinya.
Di kamar yang hangat itu, di puncak keberhasilan yang mereka raih bersama, Jevandra dan Alana membuat janji mereka yang sebenarnya—bukan di hadapan para komisaris atau kamera media, melainkan dalam keheningan malam yang menjadi saksi cinta mereka.
Bersambung..........