"Kau adalah milikku! Kau sudah membuatku tertarik menjadikanmu kekasih ku, jadi kau harus tahu diri dan jangan coba-coba untuk melarikan diri!" Lennox menangkup wajah gadis cantik itu, lalu mencium bibir ranumnya dengan seduktif.
Memiliki seorang kekasih yang merupakan seorang mafia bukanlah hal yang indah dan mudah seperti sebuah kisah cinta dongeng Cinderella yang diceritakan!
Dia adalah putra salah satu mafia terbesar yang ada. Dia terus memaksaku untuk menjadi kekasihnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dnrfitri_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
"Vika, apakah tidak ada baju lain yang bisa kupakai?" tanya Serena pada pelayan yang baru saja masuk ke kamarnya sambil mengantarkan makan siang.
"Memangnya kenapa dengan semua baju yang ada di lemari itu, Nona?" Vika balas bertanya. "Semua baju itu telah disiapkan oleh Tuan Lennox lima jam sebelum Nona datang ke mansion ini."
Serena sempat terkejut mendengar fakta itu.
Berarti Lennox langsung mempersiapkan semua keperluan Serena sebelum ia menginjakkan kaki di mansion ini.
"Masalahnya semua baju yang ada di lemari itu sangat pendek dan terlalu seksi. Membuatku risih memakainya."
"Sebenarnya Nona tidak berhak protes. Jika Tuan Lennox menentukan sesuatu, tidak ada yang bisa menggugatnya. Perlu Nona tahu jika semua baju yang ada di lemari ini dibeli atas izin dari Tuan Lennox."
"Jadi, dia sendiri yang memilihnya?" pekik Serena melebarkan mata.
Vika mengangguk.
Pantas saja semua bajunya terkesan kekurangan bahan! Pikir Serena.
"Untuk sekarang lebih baik Nona pakai saja terlebih dahulu pakaian yang ada dan segera habiskan makanannya! Jika tidak, Tuan akan marah." Vika merasa ragu memerintah Serena sebab semua pelayan di sini pun tahu bahwa Serena adalah wanita paling spesial bagi tuan mereka.
Saat ini Serena memang baru saja mandi. Tubuh langsingnya terlilit bathrobe putih saja yang panjangnya selutut.
Sambil merapatkan handuknya di kepala yang agak basah, Serena membiarkan pelayan baik hati seusia dengannya itu beranjak pergi meninggalkan kamarnya.
"Jika saja ibuku melihatku memakai baju yang seksi seperti ini, dia pasti akan marah dan memukul ku," ucap Serena dalam hatinya, sambil meraih salah satu baju yang menurutnya lebih tertutup daripada yang lain.
Sebuah dress hitam simple berlengan spaghetti dengan model rok yang sedikit mengembang. Panjangnya sekitar sepuluh sentimeter di atas lutut.
Merasa perutnya lapar, Serena bergegas menghabiskan makan siangnya yang tadi dibawakan oleh Vika.
Namun belum sempat makanan itu habis, suara ketukan pintu mengejutkannya. Membuat Serena cepat menelan makanan di mulutnya dan menatap waspada ke arah daun pintu.
"Siapa itu? Semoga bukan Lennox," batin Serena panik.
Kemudian, pintu pun berayun terbuka dan seseorang masuk ke dalamnya.
Serena menarik napas lega begitu melihat yang masuk adalah salah satu pelayan di mansion Castro.
"Nona Kathleen memanggil Anda ke ruang musik," ucap pelayan itu yang kemudian membuat Serena mengernyitkan alis.
"Untuk apa dia memanggilku ke sana?"
"Saya tidak tahu. Saya hanya ditugaskan untuk menyampaikan pesannya."
Serena berdecak sebal dalam hati sebab diganggu saat ia belum menyelesaikan makannya.
Namun, Serena tidak memungkiri jika dirinya penasaran dengan maksud Kathleen memanggilnya ke ruang musik setelah pengakuannya.
"Baiklah. Aku akan ke sana. Terima kasih."
Pelayan itu mengangguk, lantas berlalu pergi.
Tidak ingin membuang waktu, Serena berdiri dengan malas-malasan dan melangkah keluar kamar.
Kedua kakinya berjalan di lantai marmer menuju ke arah ruang musik. Tentu saja Serena tahu di mana letak ruang musik tersebut karena ia pernah melewati ruangan itu saat akan melarikan diri.
"Kau memanggilku?" Serena mengetuk pintu sebanyak dua kali sambil bertanya pada Kathleen yang sedang berdiri di ruang musik itu sambil menghadap pada sebuah piano.
Kathleen menoleh. Senyum anggun terlukis di wajah cantiknya.
Seperti biasa, dress yang dipakainya selalu lebih seksi dan ketat dari yang melekat di tubuh Serena.
"Akhirnya kau datang juga. Benar, aku memanggilmu ke mari."
"Ada apa? Hal penting apa yang ingin kau sampaikan padaku? Kau masih ingin mendengar lebih jauh bagaimana hubungan spesial ku dengan Lennox?" tanya Serena.
Kathleen tertawa pelan. Tawa yang anggun.
"Jangan terburu-buru, Serena. Aku sungguh tidak cemburu padamu, malah sangat mengasihani mu. Aku hanya ingin kita berbincang saja. Hanya kau saja satu-satunya wanita tawanan Lennox yang ada di mansion ini selain aku, yang lainnya ada di ruang bawah tanah. Jadi, aku pikir aku butuh seorang teman. Apalagi kau adalah kekasihnya Lennox. Itu adalah suatu kehormatan bagiku, jika kau ingin berteman denganku."
"Tapi aku tidak ingin berteman denganmu," balas Serena tanpa ragu.
Wajah Kathleen terlihat menahan kesal. Namun, sebisa mungkin ia tetap tersenyum hambar pada Serena.
"Kau sangat keras kepala dan sedikit angkuh. Kudengar kemarin kau masuk ke markas rahasia yang ada di mansion ini." Kathleen melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya mengamati wajah dan tubuh Serena yang menurutnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya. Dia masih mempertanyakan mengapa bisa Lennox menjadikan Serena sebagai kekasihnya.
"Apa Lennox yang memberitahumu mengenai itu?" mata Serena memicing penasaran.
Kathleen menggeleng. "Kabar angin yang memberitahuku," jawab Kathleen sekenanya.
"Lennox pasti sangat marah dan menghukum mu, bukan? Sebagai tawanan yang istimewa, aku tidak pernah mencari gara-gara hingga Lennox tidak pernah sekali pun memarahiku. Bahkan jika aku melakukan kesalahan, Lennox pasti tidak akan sampai hati menghukum ku. Tapi kau berbeda, Serena. Kau bukan yang istimewa baginya. Itulah mengapa kau bisa menjadi kekasihnya, karena itu hanya sebatas hukuman saja untukmu. Supaya kau lebih menderita menjadi tawanannya di sini. Jadi, kuharap kau lebih berhati-hati."
Sebelah alis Serena terangkat mendengar kalimat Kathleen yang tampak percaya diri. "Jadi, kau memanggilku hanya untuk ini? Ck! Jika tahu, aku tidak akan ingin menghampirimu. Akui saja jika dirimu sebenarnya cemburu padaku." Serena memutar bola mata, kemudian membalikan badan dan hendak pergi.
"Tunggu Serena!"
Panggilan Kathleen membuat langkahnya terjeda. Dengan malas Serena kembali menoleh sambil berpangku tangan.
"Ada apa lagi?"
Bukannya menjawab, Kathleen malah mengacungkan sebuah martil sambil tersenyum miring.
"Apa yang akan kau lakukan?" Serena merasa curiga. Perasaannya pun tidak enak.
Tiba-tiba Kathleen memukulkan martil itu dengan keras pada piano yang ada di dekatnya.
BRAK!
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚌𝚞𝚖𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚊𝚠𝚊𝚕 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚑𝚒𝚛 𝚌𝚎𝚝𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚕𝚊𝚖𝚋𝚊𝚝🙏 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 thor