Demi kesembuhan sang ibu tercinta, Mita terpaksa bersedia menerima tawaran dari Dirut rumah sakit untuk menikah dengan putranya yang terkenal Casanova.
Apakah Mita sanggup menjalani rumah tangga dengan pria Casanova yang terkenal suka gonta-ganti pasangan???
Dan akankah Damar menerima sepenuhnya pernikahannya dengan seorang gadis pilihan ayahnya??? seorang gadis biasa, terlebih lagi Damar pernah tak Sengaja bertemu dengan Mita di sebuah Club malam saat ia sedang bersenang-senang bersama dengan teman temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om Om Aneh.
Setelah mendengar semua cerita dari mama Lina siang tadi, Mita bisa menyimpulkan jika selama ini telah terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan juga Damar. Namun kenyataannya hal itu justru mengingatkan Mita pada sosok Arjun, pria baik yang selama ini sudah begitu banyak membantu dirinya dalam berbagai macam kesulitan selama empat tahun belakangan ini.
Jika ternyata di antara dirinya dan Damar telah terjadi kesalahpahaman, dengan begitu masih ada kesempatan untuk mereka kembali memperbaiki hubungan rumah tangganya. Namun jika semua itu sampai terjadi, bagaimana dengan Arjun???? pria itu pasti akan kecewa jika Mita sampai membatalkan rencana pernikahan mereka, tapi jika ia harus meneruskan rencana pernikahannya dengan Arjun itu artinya ia harus bercerai terlebih dahulu dengan Damar, sementara perasaan Mita terhadap Damar tidak pernah berubah sedikitpun. Damar merupakan cinta pertama bagi Mita, dan Damar juga merupakan ayah kandung dari putranya. meskipun pernikahan mereka di dasari oleh perjodohan namun Mita tak dapat menepis ketika perasaan cintanya tumbuh seiring berjalannya waktu terhadap Damar.
"Kamu pasti akan sangat kecewa padaku, mas Arjun." gumam Mita yang kini tengah berbaring di atas tempat tidurnya.
Sementara seseorang yang kini pusat pemikiran Mita baru saja tiba di bandara.
Arjun yang tengah berjalan memasuki area bandara terdengar berdecak kesal saat seorang gadis yang tengah berjalan terburu-buru mengejar sekelompok temannya tak sengaja menabrak tubuh tegapnya.
"Apa kau tidak bisa menggunakan matamu dengan baik???." hardik Arjun yang baru menyadari jika bajunya terkena tumpahan Boba yang di bawa gadis itu.
"Maaf Om, saya tidak sengaja." gadis itu terlihat menundukkan kepalanya sebagai permintaan maafnya pada Arjun.
Kedua bola mata Arjun melebar dengan sempurna ketika mendengar gadis itu memanggilnya dengan sebutan Om.
"Jangan memanggilku seperti itu, karena aku bukan Om kamu." protes Arjun, seakan tak terima gadis yang berusia sekitar dua puluh tahunan tersebut memanggilnya dengan sebutan Om.
"Maaf, saya tidak sengaja, pak." koreksi gadis itu dengan merubah panggilannya pada Arjun. Namun bukannya senang, Arjun justru semakin kesal saja dengan panggilan gadis itu padanya. tanpa berkata apa-apa lagi Arjun beranjak begitu saja meninggalkan gadis itu hendak menuju ke toilet bandara untuk membersihkan pakaiannya yang terkena tumpahan Boba.
"Apa om itu sedang datang bulan ya,,,, orang sudah minta maaf juga masih saja marah marah, dasar orang tua aneh...." Gumam Anin sebelum kemudian kembali melanjutkan langkahnya menyusul teman temannya.
"Kenapa kau lama sekali sih, Nin??? Apa kamu mau ketinggalan pesawat???." salah seorang sahabatnya terdengar bertanya.
"Sorry, tadi tidak sengaja aku menabrak Om Om di sana, mana Om nya pake marah marah lagi." beritahu Anin seraya menunjuk ke arah di mana tadi ia tak sengaja menabrak tubuh tegap Arjun.
Sementara Di toilet bandara, Arjun terlihat menatap wajahnya dari pantulan kaca yang berada di toilet bandara. "Apa wajahku sudah setua itu sampai gadis itu memanggilku dengan sebutan Om???." Arjun bahkan sampai meraba wajahnya sendiri untuk memastikan.
"Kau memang sudah tua, sudah tiga puluh tujuh tahun maka dari itu segeralah mencari pendamping hidup!!!." salah seorang sahabat Arjun yang kala itu turut melakukan perjalanan yang sama dengannya baru saja memasuki toilet dan tanpa sengaja ia mendengar gumaman Arjun.
"CK..." lidah Arjun terdengar berdecak kesal mendengarnya.
Padahal kenyataannya meski telah berusia tiga puluh tujuh tahun, wajah Arjun masih terlihat sangat tampan bahkan wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda dibanding usianya saat ini, Mungkin Karena belum menikah menjadi salah satu faktor penyebabnya.
Setelah dari toilet, Arjun dan sahabatnya , Kiran segera bergabung dengan tim yang lainnya, sebelum kemudian mereka semua beranjak menuju terminal keberangkatan.
Arjun menuju nomor kursi yang sesuai dengan yang tertera pada tiket keberangkatannya. baru beberapa saat mendaratkan bokongnya di kursinya kini pandangan Arjun tertuju pada seorang gadis yang duduk di samping kursinya.
"Kenapa juga mereka membelikan aku tiket dengan kursi yang terpisah jauh dari mereka??? Dasar sahabat tak punya akhlak." Arjun terus menyaksikan gadis itu bersungut-sungut tak jelas sembari mengikat tali sepatunya yang terlepas.
Setelah selesai mengikat tali sepatunya gadis itu lantas menegakkan duduknya.
Senyuman kaku di tampilkan Anin ketika menyadari lirikan tajam pria di samping kursinya tersebut. "Bukannya dia Om Om yang tadi???."batin Anin.
"Jangan melirikku seperti itu Om, nanti Om bisa jatuh cinta lagi sama saya." candaan Anin berakhir dengan senyuman kaku sebab pria di sebelah kursinya itu justru menampilkan raut wajah dinginnya.
"Huuuhhhh." perlahan Anin menghembuskan napas bebas di udara ketika berhasil memalingkan pandangannya ke samping. "Kenapa juga sih ini Om Om pake duduk di sini??? Ganteng sih ganteng, sayangnya sombong banget." batin Anin dongkol.
Selama dalam perjalanan udara menuju ibu kota, Anin merasa bernapas saja sulit saat berdekatan dengan pria kaku di sebelah kursinya itu.
Kiran yang duduk di belakang kursi Arjun tak sengaja melihat gelagat gadis yang kini duduk di sebelah kursi Arjun, dan Kiran mengulas senyum melihatnya.
"Ada apa???." tanya Arjun dengan wajah datarnya saat Kiran menyentuh lengannya.
"Jangan terlalu kaku seperti itu, kau menakutinya!!."dengan nada menggoda Kiran berkata lalu kemudian melirik ke arah Anin.
Setelah menempuh perjalanan udara beberapa jam akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat di bandara internasional Soekarno-Hatta.
Anin belum juga melakukan pergerakan, ia menunggu pria di sampingnya itu beranjak Lebih dulu agar ia bisa melangkahkan kakinya dengan nyaman.
"Dasar Om Om Aneh." umpat Anin dengan nada lirih namun masih dapat didengar dengan jelas oleh Arjun yang berjalan beberapa langkah di depan Anin.
"Apa anda mengatakan sesuatu, Nona????." tanya Arjun dengan tatapan mematikan.
"Tidak ada Om, saya tidak mengatakan apa apa." dusta Anin dengan tubuh nyaris terhuyung ke belakang akibat terkejut saat Arjun menoleh ke arahnya secara tiba-tiba, Anin bahkan sampai mengelus dadanya akibat terkejut.
Di dalam hati, Anin berharap setelah ini ia tidak akan bertemu lagi dengan spesies aneh seperti pria di hadapannya itu.
*
Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Damar tengah sibuk menatap layar laptopnya guna menyelesaikan pekerjaannya dengan di temani secangkir kopi, di kamar hotel tempatnya menginap. Perhatian Damar beralih dari layar laptopnya saat mendengar deringan ponselnya.
"Mita..." lirih Damar ketika melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya. Tak membuang waktu Damar segera menerima panggilan video tersebut.
Wajah tampan putranya memenuhi layar ponselnya ketika Damar baru saja menerima panggilan video dari Mita.
"Papa..." dari seberang sana Farrel terlihat melambaikan tangannya pada Damar.
"Iya sayang...." Damar membalas lambaian putranya. "Kenapa jam segini jagoan papa belum tidur???." tanya Damar mengingat waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Fallel sedang menunggu mama, pah." jawab bocah itu.
"Memangnya mama kemana, sayang???." pertanyaan Damar bersamaan dengan suara pintu kamar terbuka di seberang sana. secara kebetulan Farrel mengganti panggilan mereka dengan kamera belakang sehingga Damar dapat menyaksikan dengan jelas istrinya yang saat ini hanya mengenakan sebuah handuk putih yang menutupi sebagian tubuh indahnya. bisa di pastikan wanita itu baru saja usai mandi.
"Glek." dengan susah payah Damar menelan salivanya, tidak bisa di pungkiri objek di seberang sana begitu menggoda imannya.
"Farel kamu menelfon siapa, nak??." ternyata bukan Mita yang membantu Farrel melakukan panggilan pada Damar melainkan bocah itu sendiri. Pria kecil itu menandai nomor ponsel ayahnya melalui foto profil yang menampilkan wajah Damar.
"Papa, mah."
Mita yang menyangka Farrel dan Damar berada pada panggilan suara lantas tenang tenang saja mondar mandir dengan selembar handuk menutupi sebagian tubuhnya.
namun sesaat kemudian kalimat Damar yang seakan mengetahui kondisinya saat ini akhirnya menyadarkan Mita jika keduanya berada pada panggilan Video.
"Jangan terbiasa mandi larut malam seperti ini!!." Mita sontak menoleh ke ponsel digenggaman putranya kala mendengar ucapan Damar. Mita yang panik saat menyadari ternyata sejak tadi putranya itu mengarahkan kamera ponsel ke arahnya, lantas berjalan cepat ke arah Farrel bahkan saking terburu burunya hampir saja handuk yang digunakannya melorot ke bawah.
Untuk mendukung karya recehku jangan lupa like, koment, vote, give, and subscribe ya sayang sayangku....🥰🥰🥰🥰 Dan jangan lupa untuk memberikan ulasan 😘🙏😊😊 tanpa kalian aku bukan apa apa I love you all.....😘😘😘😘😘