Namaku Indira.
Karena kesalahan satu malam yang tidak aku sadari, aku harus melahirkan bayi kembar di usia yang masih sangat muda. Akan tetapi, aku lagi-lagi harus menelan pil pahit saat mengetahui bahwa satu diantara kedua anakku meninggal dunia beberapa detik setelah dilahirkan.
Dukung novel baru aku ya kak.
Bismillah, semoga kalian semua suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
Nala mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan kukunya sembari mengamati denah lokasi proyek yang terbengkalai beberapa tahun lamanya. Harusnya dia sudah membuka cabang di tempat itu dan membuka lapangan kerja untuk warga sekitar. Sayang lahan itu berada di tengah-tengah lahan lain yang sudah berhasil dia ambil alih, tentu saja dengan uang ganti rugi yang tidak sedikit.
Nala bukannya orang yang tamak akan harta dan kekuasaan, dia hanya ingin memberi kesempatan pada warga pribumi agar mendapatkan pekerjaan yang layak dan gaji yang cukup. Semua dia lakukan karena dia sendiri pernah berjuang dari titik nol hingga berjaya seperti saat ini.
"Permisi, Pak."
Lamunan Nala sontak buyar ketika tiba-tiba ruangannya dimasuki oleh seorang wanita. Seperti sebelumnya, wanita itu tetap saja mengenakan pakaian yang sama, membuat mata lelaki tak berkedip saat menyaksikan kemolekan tubuhnya.
Sayang semua itu tidak berlaku bagi Nala. Dia sama sekali tidak tertarik dan bahkan jijik melihatnya. Nala sungguh tidak suka pada wanita yang mengekspos tubuhnya demi mendapatkan perhatian seorang pria.
Segera Nala menundukkan pandangannya dan meminta wanita itu meninggalkan ruangannya setelah menaruh beberapa dokumen penting di atas meja kerjanya. Semakin cepat wanita itu pergi, maka akan semakin baik untuk Nala. Dia rasanya ingin muntah jika terlalu lama berdekatan dengan wanita itu, apalagi aroma parfum yang begitu menyengat membuat hidung Nala menjadi geli.
Setelah wanita itu menghilang, Nala meraih gagang telepon dan menghubungi bagian HRD. Nala ingin membuat persyaratan baru bagi karyawan yang masih ingin bekerja di perusahaannya, jika tidak suka maka dia pun tidak akan segan memberi kartu merah pada mereka.
Usai memutus sambungan telepon itu, Nala meraih dokumen yang ada di hadapannya dan membukanya satu persatu. Dokumen tersebut berisikan grafik laporan keuangan selama satu bulan penuh. Nala sendiri terkejut melihat angka keuntungan yang meningkat drastis, tentu ini semua tidak lepas dari kerja sama tim dan semua karyawan yang sudah setia menjadi bagian dari perusahaan.
Untuk memberi apresiasi atas pencapaian ini, Nala berencana akan mengadakan perjamuan khusus untuk karyawan. Tapi setelah memikirkannya matang-matang, Nala pun mengurungkan niatnya. Dia harus membicarakan ini terlebih dahulu pada Indira, apapun pendapat istrinya itu, dia akan mendengarnya.
Di rumah sakit, Indira tengah menangani seorang pasien yang baru di rujuk dari puskesmas terdekat. Setelah Indira melakukan pemeriksaan, ternyata pasien tersebut menderita gagal ginjal. Tapi karena ini bukanlah bidangnya, Indira pun memberikan tanggung jawab ini pada dokter lain. Dia tidak bisa melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak mampu, salah sedikit dia juga yang harus menanggung resikonya.
Indira meninggalkan pasien itu setelah dokter lain memasuki ruangan. Dia yang hendak kembali ke ruangannya, tiba-tiba berpapasan dengan seorang pria. Indira sontak terkejut, ini benar-benar kejutan yang tidak disangka.
Pria itu nampak tersenyum sambil menatap Indira dengan sejuta rasa bahagia. Dia tidak menyangka bahwa sekarang Indira sudah benar-benar menjadi dokter, satu tahun tidak bertemu membuatnya sangat rindu akan senyuman yang jarang terlihat di wajah Indira.
"Ri-Riko..."
Pria itu lantas tertawa, dia pikir Indira sudah lupa pada dirinya tapi tidak sama sekali. Indira justru masih mengingatnya sebelum dia memperkenalkan diri untuk kedua kalinya.
"Hahaha... Aku pikir kamu sudah lupa padaku." seloroh pria itu dengan mata berbinar.
"Lupa? Mana mungkin?" ucap Indira yang akhirnya tersenyum kepada pria itu.
Ya, Riko adalah satu-satunya sahabat laki-laki Indira saat keduanya masih duduk di bangku universitas. Selain orangnya yang periang, Riko juga mampu menjadi kakak dan mentor buat Indira. Namun sesaat setelah kelulusan, Riko harus terbang ke Malaysia dan melanjutkan cita-citanya di sana.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Riko penasaran.
"Baik, kamu sendiri?" tanya Indira balik.
"Seperti yang kamu lihat, hehe..." balas Riko sembari tertawa kecil.
Mengingat karena keduanya sudah lama tidak bertemu, Riko pun mengajak Indira makan siang di luar karena jam sudah menunjukkan pukul dua belas tiga puluh menit. Indira tidak menolak sama sekali karena baginya Riko merupakan sosok sahabat yang sudah seperti kakaknya sendiri. Keduanya pun meninggalkan rumah sakit dan berjalan menuju kantin.
Namun disaat bersamaan, mobil Nala tiba-tiba muncul di depan rumah sakit. Manik matanya melihat jelas pemandangan itu dari balik kaca mobil. Seketika darah Nala memanas bak terbakar di atas bara api. Memang tidak ada yang janggal dengan itu, namun tetap saja Nala tidak suka melihat istrinya berjalan dengan pria lain.
"Dasar munafik!" umpat Nala tersenyum sinis, dia pun membuang muka dan kembali menginjak pedal gas. Niat hati ingin mengajak Indira makan siang berdua dan membicarakan soal perjamuan, akhirnya sirna sesaat setelah menyaksikan istrinya bersama seorang pria.
Apa itu yang dinamakan trauma?
Tentu saja tidak, wanita yang pernah mengalami trauma di masa lalu tidak akan semudah itu jalan dengan pria, apalagi pria yang jelas-jelas bukan mahramnya.
Lalu bagaimana dengan Nala? Dia bahkan sudah menjadi suami tapi malah diperlakukan seperti orang asing. Ternyata Nala salah besar karena menaruh harapan besar pada Indira. Lagi-lagi perasaan di hatinya harus terpatahkan, kali ini dari wanita yang baru saja menjadi bagian dari hidupnya.
Nala mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung dia masih bisa mengontrol diri sehingga pulang dalam keadaan selamat. Jika tidak, mungkin jasadnya saja yang akan tiba di rumah itu.
Kedatangan Nala disambut hangat oleh Isa dan juga Nasya saat kakinya menginjak ruang keluarga. Nala menatap Isa dengan tatapan tajam, tapi sedetik kemudian merubahnya dengan pandangan iba.
Ya, Nala memang marah pada Indira, tapi bukan berarti dia harus melampiaskannya pada Isa yang tidak tau apa-apa. Nala tidak boleh egois, dia sendiri yang memilih Indira menjadi istrinya dan berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk bocah itu.
"Isa sudah pulang?" tanya Nala seraya berjalan menghampiri keduanya dan memeluk mereka berdua bergantian.
"Sudah, Pa. Baru beberapa menit yang lalu." jawab Isa. Pagi hari dia memang diantar oleh Nala, namun saat pulang Nala pun menugaskan Rudi untuk menjemputnya.
Nala kemudian menekuk kakinya di sofa dan memangku kedua bocah itu di setiap sisi pahanya. Dia pun menanyakan bagaimana keadaan di sekolah hari ini, Isa menjawab semuanya baik-baik saja. Tidak seorang pun berani mem-bully nya seperti yang terjadi sebelumnya.
Mendengar penjelasan Isa, Nala pun menghela nafas lega. Itu artinya kepala sekolah itu benar-benar menepati janjinya.
Lalu Nala beralih menanyakan bagaimana keadaan Nasya. Bocah perempuan itu mengatakan bahwa tubuhnya sudah mulai membaik dari sebelumnya. Dia juga sangat bersemangat untuk segera sembuh dan ingin bersekolah seperti Isa.
Nala sangat senang mendengar penjelasan kedua anaknya itu. Ya, setidaknya mereka berdua mampu mengobati rasa kecewa yang tengah dia rasakan terhadap Indira. Nala juga berjanji akan mendaftarkan Nasya ke sekolah yang sama dengan Isa agar keduanya tetap bersama seperti kakak adik sesungguhnya.
lanjut Thor 💪💪💪🥰
makin seruu
tapi Alhamdulillah semua sudah jelas
buat indira semoga selalu bahagia setelah ini
untuk othornya sukses selalu sama karya-karya nya selalu ditunggu
terimakasih sudah menghibur 🙏🫰😘😘😘