Kepergiannya 5 tahun lalu membuat kehidupan Deevana hancur berantakan, ia yang terbiasa hidup bebas dan lekat dengan dunia malam di manfaatkan oleh Ayah dan Kakak laki-lakinya. Deeva di paksa menemani para pria hidung belang setiap malam demi menghidupi keluarganya yang jatuh miskin lalu memiliki banyak hutang.
Di tengah rasa lelah dan putus asa ,nyatanya Deeva di jual kepada seorang pengusaha kaya raya.
Dan, betapa terkejutnya gadis malang itu saat tahu jika pria yang membelinya ternyata berondong kecilnya di masa lalu.
Apakah, cinta lama akan bersemi kembali setelah kontrak pernikahan di antara mereka telah ditanda tangani?
Sekuel dari nupel SAGARA ya, belum mampir silahkan baca lapak Ibun dan PanDa dulu, keh 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 32
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Bukan yang itu, itu belum mateng, Bum!"
Teriakan Aga di bawah pohon Rambutan tentu saja membuat Sang tuan muda Rahardian Wijaya semakin merengut kesal, pasalnya sudah lima belas menit berdiri di dahan pohon namun tak ada satu buah pun berhasil ia petik.
"Terus yang mana? ini salah itu salah!" protes Rain. Si pemilik ratusan kucing di rumah utama.
"Atasan lagi coba," sahut Aga.
Jika bukan karna ancaman Rindu yang akan pergi bersama kakaknya, tentu saja bapaknya Miong enggan naik ke atas pohon seperti yang ia lakukan saat ini.
"Ntar gue jatoh!"
"Ini kan gue udah sediain kasur, Bum."
Ya, memang benar yang di katakan oleh Tuan Muda Pradipta barusan, di bawah sana tepatnya di dekat Aga, Deeva dan Ibun sudah ada kasur yang sengaja di gelar untuk menghindari hal yang tak di inginkan.
"Terniat," gerutu Rain semakin kesal.
Deeva yang berada dalam dekapan suaminya tak sedetikpun mengalihkan pandangannya ke atas, ia benar-benar memantau Rain dengan segala gerak geriknya.
"Serasa udah di mulut, Ga," ucap Deeva lirih.
Aga yang sedang mendongakkan kepalanya pun menoleh saat mendengar apa yang di katakan istrinya.
"Sabar ya, Sayang," balas Aga seraya memberi satu kecupan di kening wanita halalnya itu.
Lebih dari 30 menit, Rain turun dari atas pohon Rambutan yang tak terlalu tinggi sebab ada beberapa tanaman yang memang hasil cangkokan.
"Cuma segini?" tanya Deeva dengan raut wajah kecewa.
"Kalau mau banyak, suruh si bayi yang manjat!"'
Deeva yang hari ini terasa begitu sangat sensitif langsung ada genangan cairan bening di kedua matanya. Ia cukup kecewa melihat buah rambutan yang masih di tangan Rain.
"Mau gak? kalau gak mau buat Bum semua nih," ancam Rain sambil menyodorkan si buah berwarna merah ke hadapan Deeva.
"Enak aja! ini kan aku yang mau!"
Perdebatan keduanya yang jarang bertemu itu berakhir saat Rain berlalu dari hadapan sepupu berserta istrinya tersebut. Sedangkan si buah rambutan kini sudah berpindah tangan ke orang yang sudah mengincar sedari tadi.
"Kamu udah makan?" tanya Aga.
"Udah tadi pagi, kenapa?" tanya balik Deeva tanpa melihat ke arah suaminya, tatapan kedua mata wanita itu fokus pada apa yang kini ada di tangannya.
"Jangan sampai kamu sakit perut, Sayang."
Bukan hanya tak paham dengan sikap aneh sang istri, AgaSyah juga cukup khawatir pada wanita yang sedang di rangkulnya kini untuk masuk ke dalam rumah utama.
.
.
.
Drama buah rambutan siang tadi nyatanya masih di bahas saat makan malam, Sagara yang tahu kelakuan sang menantu dari istrinya langsung bertanya pada Deeva.
"Dee, Rambutannya tadi abis?"
"Hem, Ah--, habis PanDa," Jawab Deeva, ia yang sedikit melamun cukup kaget dan gelagapan saat menjawab pertanyaan dari mertunya barusan.
"Enak?" tanya Rain dengan nada sindiran, ia langsung diam saat di senggol oleh Mhiu Biru.
"Manis, tapi kurang," Jawab Deeva.
"Kurang apa? bukannya rambutan yang di belakang itu manis banget ya?" tanya Phiu Samudera yang merasa aneh, sebagai Tuan besar Rahardian Wijaya tentu saja ia sangat tahu semua yang ada di rumah utama.
"Kurang banyak, Rain cuma petik 14 biji buah rambutan, Phiu," Keluh Deeva pada sang Tutut Jajah, tak lupa dengan ekspresi wajah sedih.
"Terus maunya berapa?" Sagara yang bingung kembali melayangkan pertanyaan.
"Dee mau sekarung, PaNda."
.
.
.
.
Kabur ah.....