Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Faris dan teori konspirasi Dhyo
Malam semakin larut ketika Faris akhirnya tiba di rumahnya. Begitu pintu kamar tertutup, ia langsung melempar jaket sembarangan ke atas kursi.
Faris berdiri diam beberapa saat di tengah kamar, kepalanya terasa penuh. Dua hari terakhir ini berjalan terlalu cepat sampai ia sendiri belum sempat mencerna semuanya.
Lalu tanpa peringatan, kedua tangannya langsung mengacak rambutnya kasar. "Arghh!"
"Gue masih gak ngerti kenapa bisa jadi gini!"
Awalnya hanya mendengar kabar bahwa dirinya dijodohkan, besoknya langsung akad. Dan yang lebih parah lagi dengan Tya, musuhnya sendiri. Faris kembali mengacak rambutnya frustasi.
"Ck, gila!"
Faris menjatuhkan diri ke tepi kasur dengan kasar. Sampai sekarang, ia masih merasa semua ini tidak masuk akal. Dari sekian banyak orang di dunia, mengapa harus Tya?
Faris menghela nafas panjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Semakin ia mencoba melupakan semuanya, semakin banyak kejadian hari ini yang kembali muncul di benaknya.
Faris langsung membalikkan badan kesal. Ia menutup wajahnya dengan bantal. "Kenapa malah kepikiran sih?"
"Jangan pingsan lagi."
Kalimat itu tiba-tiba kembali teringat jelas di kepalanya. Seketika, Faris membeku. Lalu ia menurunkan bantalnya perlahan. Matanya membesar, dan Faris langsung duduk tegak.
"Astaga," kedua tangannya kembali mengacak rambutnya lebih brutal dari sebelumnya. "Gue kenapa ngomong gitu coba?!"
Wajahnya terlihat seperti baru menyadari sesuatu yang sangat memalukan. Padahal saat itu ia hanya asal bicara, atau setidaknya begitu yang ia yakini.
"Pusing!"
Faris mengusap wajahnya kasar, lalu meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja belajar. Layar langsung menyala, dan seketika matanya membulat sempurna. Ratusan notifikasi memenuhi layar, membuat alisnya sedikit terangkat.
"Apa lagi ini?"
Ia membuka aplikasi chat, tanpa sadar langsung mengarah ke grup yang selalu berisik setiap hari.
Nama grup itu muncul di layar, 'GMA (Geng Minus Akhlak)'. Sebuah nama yang awalnya dibuat bercanda oleh Dhyo, tapi entah mengapa bertahan sampai sekarang.
Begitu obrolan terbuka, Faris langsung disambut ribuan pesan yang belum terbaca. Ia menggulir layar ke atas, sampai akhirnya Faris menyerah membaca.
Sebagian besar pesan berasal dari Dhyo, sisanya Lex dan Andre yang ikut meramaikan. Faris membaca beberapa pesan terakhir.
"Woi Faris, mana lo?" —Dhyo.
"Hilang." —Andre.
"Kayaknya diculik alien." —Lex.
Rahang Faris langsung mengeras, ia menggeser layar lagi. Obrolan itu ternyata sudah berlangsung sejak Sabtu malam, tidak ada habisnya sampai malam ini.
Di sela-sela pesan itu, Faris baru menyadari sesuatu. Ada belasan voice note, dan semuanya berasal dari Dhyo.
Dengan ekspresi datar, Faris menekan salah satunya. Detik berikutnya, suara Dhyo langsung memenuhi kamar.
"WOI FARIIISS! LO HIDUP GAK SIH?!"
Faris refleks menjauhkan ponselnya. Ekspresinya langsung berubah kesal. Ia langsung menghentikan voice note itu. Namun rasa kesalnya belum berhenti sampai disitu.
Saat membuka daftar panggilan, matanya kembali membesar. Belasan panggilan tak terjawab memenuhi layar.
Dhyo (12 panggilan tak terjawab)
Lex (5 panggilan tak terjawab)
Andre (1 panggilan tak terjawab)
Faris terdiam, baru sekarang ia sadar. Ponselnya memang berada dalam mode senyap sejak kemarin. Ia bahkan tidak sempat memeriksa ponselnya sama sekali.
Faris menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali membuka grup. Meskipun malas, sejujurnya Faris penasaran. Dan seperti yang ia duga, isi obrolan mereka semakin lama semakin tidak masuk akal.
"Gue curiga Faris gabung sekte." —Dhyo.
"Masuk akal." —Lex.
"Kenapa sekte?" —Andre.
"Karena kalau pacaran mustahil." —Dhyo.
Pelipis Faris langsung berdenyut, tangannya refleks memijat dahinya. Terkadang ia merasa heran bagaimana bisa berteman dengan tiga orang itu selama bertahun-tahun.
Faris akhirnya menghela nafas panjang. Ponselnya kembali ia letakkan di atas meja. Kepalanya terasa semakin penuh setelah membaca pesan-pesan tidak berguna dari grup itu.
Dan entah mengapa, wajah Tya yang terus menangis sejak malam itu juga ikut terlintas di kepalanya. Faris langsung memukul kasur dengan tangan terkepal.
Mengapa ia masih memikirkan itu? Bukankah lebih baik melupakan semuanya saja? Toh sejak awal, ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini.
Faris merebahkan tubuhnya di atas kasur, kedua tangannya diletakkan dibelakang kepala. Langit-langit kamar menjadi satu-satunya yang ia tatap.
Malam terasa begitu sunyi, dan ia akhirnya memiliki waktu sendirian dengan pikirannya sendiri. Dan justru itu yang membuat semuanya terasa semakin melelahkan.
Perlahan, Faris memejamkan mata. Ia berusaha menyingkirkan semua yang terjadi selama dua hari terakhir. Meski entah mengapa, semuanya terasa lebih sulit dari yang ia kira.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Angin pagi berhembus sejuk di sepanjang jalan kota. Langit mulai terlihat cerah ketika sebuah motor melaju membelah keramaian kendaraan yang mulai memenuhi jalanan.
Di balik helmnya, wajah Faris terlihat datar seperti biasa. Namun, pikirannya melayang entah kemana.
Motor Faris terus melaju di antara kendaraan yang memenuhi jalanan pagi. Suara angin dan deru mesin menjadi satu-satunya hal yang menemaninya sejak tadi.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama, ketika sebuah motor tiba-tiba melesat di samping Faris dengan kecepatan cukup tinggi. Hal itu jelas membuat Faris terkejut.
Ciiitt!
"Sial!"
Faris langsung mengerem mendadak, ban motornya sedikit berdecit di aspal. Jantungnya sempat melonjak sesaat sebelum akhirnya ia berhasil menyeimbangkan motornya kembali.
Faris langsung mengangkat wajahnya. Tatapannya langsung mengunci sosok yang kini berhenti beberapa meter di depannya, Dhyo. Dan yang lebih menyebalkan, cowok itu sedang tertawa tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Faris langsung menatap tajam, "Lo mau mati?!" Desisnya. "Kalau gue nabrak gimana?"
Dhyo mengangkat bahu santai. "Kan gak nabrak."
Jawaban khas Dhyo, tidak masuk akal dan tidak berguna. Ia lalu menunjuk Faris dengan ekspresi menuduh. "Lo juga salah."
"Apa?" Sahut Faris datar.
"Orang penting, gak bisa dihubungi." Ujar Dhyo. "Gue nelpon lo dua belas kali, voice note gue ada belasan. Malah dicuekin."
"Ck," Faris hanya bisa berdecak, meskipun ingin rasanya ia menjatuhkan motor sahabatnya itu ke selokan.
Dhyo kembali tertawa. Jujur saja, ia memang penasaran setengah mati. Biasanya Faris memang cuek, tapi tidak pernah menghilang tanpa kabar dalam waktu yang cukup lama. Apalagi tidak muncul di tongkrongan malam Minggu, itu sudah masuk kategori aneh.
"Jadi, kemana aja lo?" Tanya Dhyo penasaran.
Faris menghela nafas panjang, sudah bisa menebak pertanyaan ini akan muncul cepat atau lambat. Namun, menjelaskan semuanya di pinggir jalan bukan ide yang bagus.
"Nanti gue cerita," jawab Faris akhirnya.
Dhyo langsung menyipitkan mata curiga. "Fix, ada sesuatu!"
Faris memejamkan mata sesaat. Dimulai sudah, insting tukang gosip Dhyo sudah aktif. Dan itu bukan pertanda baik.
"Jangan bilang..." Melihat ekspresi Faris, Dhyo justru semakin bersemangat. "Lo beneran gabung sekte?"
Faris menatap Dhyo cukup lama, dengan tatapan yang biasanya cukup untuk membuat orang lain memiliki mundur. Namun sayangnya, Dhyo bukan orang lain. Dhyo tetaplah Dhyo, makhluk yang entah bagaimana kebal terhadap ancaman dan tatapan tajam dari Faris.
"Woi jawab dulu!" Seru Dhyo.
Brumm!
Faris langsung memutar gas motornya tanpa kata, meninggalkan Dhyo yang masih terdiam di tempat.
"WOI!" Dhyo refleks berteriak. "FARIS!"
Faris sama sekali tidak menoleh. Ia sedang tidak punya tenaga untuk berdebat dan tidak punya tenaga untuk melempar Dhyo ke selokan seperti yang sangat ingin ia lakukan saat ini.
Tak lama, gerbang sekolah mulai terlihat di depan. Motor Faris memasuki area parkir dengan kecepatan pelan sebelum akhirnya berhenti di tempat biasa.
Setelah mematikan mesin dan melepas helm, Faris tidak langsung masuk ke kelas. Ia berdiri santai di samping motornya. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Sementara tubuhnya bersabar ringan pada jok motor.
Tatapannya datar dan dingin, sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Padahal sebenarnya, ia hanya sedang melamun.
Namun bagi orang yang tidak mengenalnya, ekspresi Faris sering kali terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu kesempatan untuk memarahi dunia.
Beberapa siswa yang melihat langsung melirik sekilas, lalu mempercepat langkah. Dua siswi yang baru masuk area parkir bahkan sempat berhenti sejenak, sebelum akhirnya kabur bersamaan. Beberapa yang lain terlihat berbalik arah.
Faris tidak peduli, ia hanya berdiri diam di sana. Pikirannya tertuju pada bagaimana cara menjelaskan kepada ketiga temannya itu bahwa dirinya sekarang sudah menikah.
"WOI SEKTE!"
Tiba-tiba suara keras itu menggema di ujung area parkir. Tanpa menoleh pun Faris sudah tahu siapa pelakunya. Beberapa siswa langsung menoleh, sebagian bahkan ikut mencari siapa orang yang dimaksud.
Dhyo menghampiri dengan langkah lebar sambil menunjuk Faris. "Lo pasti habis ikut ritual."
Faris menatapnya datar, "Iya, ritual buat ngilangin lo dari dunia."
Dhyo langsung mengangkat kedua tangan. "Buset, ancaman baru." Ujarnya sambil menyeringai lebar.
"Nah, kerusuhan pagi udah dimulai." Celetuk Lex yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Ada drama apa nih?" Timpal Andre yang berdiri di dekat Lex.
Dhyo langsung menunjuk Faris lagi, ekspresinya terlihat begitu meyakinkan. "Bro, Faris gabung sekte."
Hening, Lex dan Andre langsung menoleh ke arah Faris, sebelum akhirnya kembali menatap Dhyo.
"Dasarnya?" Tanya Andre.
Dhyo menghitung dengan jarinya. "Hilang dua malam, gak bisa dihubungi, terus tatapan kosong."
Lex menoleh ke arah Faris, "Wah, pantes."
Faris hanya bisa menghela nafas pasrah. Beberapa detik berlalu, Lex akhirnya melipat kedua tangannya.
"Kita abaikan soal sekte." Ujar Lex. "Kita masuk pertanyaan utama. Lo kemana dua malam?"
Faris memandang tiga manusia di depannya itu bergantian. Tiga orang yang entah bagaimana selalu berhasil membuat hidupnya lebih ribut dari seharusnya.
"Cepat jawab, lo habis ngapain?" Desak Dhyo.
"Iya," sahut Lex. "Kalau gak sekte, berarti lo beneran diculik alien."
"Gak masuk akal," timpal Andre.
Faris mengusap wajahnya, kepalanya mendadak terasa berat. Menjelaskan semuanya jelas tidak akan mudah, apalagi kepada tiga orang ini. Namun cepat atau lambat, mereka pasti akan tahu juga.
Faris menghela nafas panjang, "Ikut gue."
"Kemana?" Tanya Andre santai.
"Belakang sekolah," jawab Faris singkat.
Dhyo langsung memasak ekspresi curiga. "Tuh kan, dia mau ritual."
Faris kembali melontarkan tatapan tajam, sementara Lex langsung menyenggol lengan Dhyo. "Kalau ritual ngapain ajak kita?"
"Biar nambah anggota," sahut Dhyo.
"Lo berdua diem!" Faris benar-benar sudah diambang batas kesabaran.
Dhyo terkekeh, Lex mengangkat kedua tangannya, sementara Andre hanya diam tanpa kata. Mereka akhirnya berjalan mengikuti Faris, menuju belakang sekolah yang relatif sepi.
Begitu sampai, Faris berhenti. Ketiga temannya ikut berhenti di depannya. Ekspresi Faris terlihat beda, lebih serius dari biasanya.
Dhyo menggaruk tengkuknya, "Ris."
"Hm," Faris memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Faris menatap mereka satu per satu, seolah sedang mencari cara paling sederhana untuk menjelaskan kekacauan hidupnya selama dua hari terakhir.
"Gue nikah."
Suasana mendadak hening, tiga temannya langsung membeku total. Lalu ketiganya saling bertukar pandang, sebelum kembali menatap Faris.
"Gila," Dhyo adalah orang pertama yang berhasil memproses informasi itu. "LO NIKAH GAK NGUNDANG?!"
Faris langsung menutup mata sejenak, tentu saja ini reaksi pertama yang keluar.
"Gue sahabat lo, Ris." Ujar Dhyo yang mulai mendramatisir keadaan. "Gue kehilangan kesempatan makan gratis."
Lex yang tadi masih syok perlahan mengangguk. "Iya, minimal nasi kotak kek."
Andre yang terlihat paling normal pun ikut bersuara. "Prasmanan juga boleh."
Faris mulai merasa keputusan menceritakan hal ini adalah kesalahan besar. Tawa mulai terdengar dari ketiga temannya.
Namun akhirnya, tawa mereka mulai mereda. Karena sejak awal, ada sesuatu yang terasa berbeda. Biasanya Faris akan membalas ledekan mereka, namun kali ini tidak. Faris hanya diam, tatapan tertuju ke tanah lalu akhirnya menghela nafas pelan.
"Setelah akad," ujar Faris setelah hening cukup lama. "Ibunya Tya meninggal."
Mereka bertiga langsung terdiam, tidak ada satupun di antara mereka yang tahu harus menjawab apa. Sementara Faris hanya mengalihkan pandangan, karena merasa tidak perlu menjelaskan apapun lagi.
Ketiganya akhirnya mengerti mengapa Faris menghilang selama dua hari. Dhyo menggaruk tengkuknya canggung, semua ledekan yang tadi terasa lucu mendadak menghilang begitu saja.
"Turut berduka, bro," ucap Dhyo pelan, sementara Lex dan Andre hanya mengangguk singkat.
Setelahnya, merek hanya berdiri dalam keheningan. Sampai akhirnya, Dhyo membuka mulut lagi.
"Eh, tapi serius." Ujar Dhyo masih belum bisa percaya. "Lo beneran nikah sama Tya yang itu?"
"Astaga, Dhyo!" Seru Lex spontan.
Andre langsung menepuk dahinya. "Pertanyaan itu lagi?"
Dhyo mengangkat kedua tangan, "Gue cuma memastikan. Kali aja ada Tya cadangan."
Faris yang sejak tadi berdiri diam akhirnya menatap Dhyo dengan tatapan dingin. "Di sekolah ini, yang namanya Tya siapa lagi selain Tyasabella Almeera?"
"Oh, iya juga," sahut Dhyo kemudian.
Perlahan, ekspresi bercanda mereka mulai menghilang lagi. Karena sekarang mereka benar-benar mencerna informasi yang baru saja diterima.
"Sekarang ngerti kenapa gue malas cerita?" Ujar Faris kemudian.
Ketiganya kompak mengangguk. Lalu Dhyo kembali membuka mulut, "Jadi, lo berdua tidur sekamar?"
"Dhyo!" Ujar Lex dan Andre bersamaan, berusaha mengingatkan Dhyo untuk tidak bercanda lagi dengan situasi ini.
"Apa?" sahut Dhyo. "Gue cuma nanya."
Ekspresi Faris akhirnya berubah, wajahnya kini terlihat merah padam karena kesal, rahangnya mengeras jelas. Ia langsung memalingkan wajah. Tanpa kata, ia langsung berbalik arah meninggalkan mereka bertiga.
"Ck, nyesel gue cerita!"
^^^Bersambung...^^^
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
jangan lupa mampir juga ya. ❤️