Di bawah cahaya gemerlap Negara Korea, terlahir kembali seorang Dokter Genius Mafia yang menyembunyikan bakatnya. Saat takdir mengaitkannya dengan seorang anak keluarga Mafia, persaingan dan konflik memuncak dalam kerumitan yang tak terelakkan. Tetapi, ada perawat cantik yang misterius, memikat perhatiannya. Dalam perang antara dendam dan cinta, jam tangan kuno yang menjadi sistem pintar AI memberikan dimensi baru.
Dalam atmosfer misteri dan tarikan cinta, mampukah sang Dokter Genius menemukan kekuatan baru? Saksikan perjalanan yang menggetarkan ini, di mana masa lalu, kejutan, dan teknologi kuno menyatu dalam kisah yang takkan terlupakan. Dan di tengah segala pilihan, akankah misteri di balik perawat akan terbongkar?
*
*
Cerita ini murni karya sendiri dan semua karakter serta latar yang digunakan berasal dari imajinasi author sendiri dan tidak ada dalam sejarah manapun.
Jika ada kesamaan nama tokoh atau alur cerita itu hanyalah suatu kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ornies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 31. Menutupi Wajah Membantu Merahasiakan Identitasnya
Dengan pakaian hitam yang melekat di tubuhnya, dia bergerak dengan hati-hati menuju bangunan bertingkat di malam yang sunyi. Topi yang menutupi wajahnya membantu merahasiakan identitasnya dari kamera pengawas yang tersebar di sekitar apartemen termahal di Seoul.
Sistem keamanan yang ketat menambahkan tantangan dalam rencananya. Dia merenung sejenak sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya, bergantian melintasi area yang dijaga dengan cermat. Setelah beberapa saat, dia berhasil mencapai pintu masuk utama.
Dengan hati berdebar, dia mengeluarkan peralatan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dia mulai bekerja mengatasi penghalang keamanan yang berlapis-lapis. Menjelajahi sinyal dan sistem keamanan yang rumit, dia dengan penuh konsentrasi berhasil membuka pintu tanpa memicu alarm.
Setelah masuk, dia melanjutkan perjalanannya melalui lorong-lorong yang elegan dan tenang, melewati pintu-pintu menuju ke tujuannya yang masih misterius. Setiap langkahnya diambil dengan hati-hati, menghindari kamera dan sensor yang mungkin ada di sepanjang jalan.
Akhirnya, dia tiba di lantai atas, sebuah apartemen ruangan yang berbeda dari yang lainnya. masuk ke dalam dia harus menekan pin pintu masuk. Dia menekan pin pintu yanh sudah dia tau.
Dengan perlahan, wanita itu menekan enam digit PIN di keypad pintu apartemen. Dia merasa getaran lembut saat jari-jarinya menyentuh angka-angka tersebut. Dengan bunyi pelan, pintu apartemen itu terbuka. Wanita itu masuk ke dalam, merasakan atmosfer yang berbeda dari kunjungan sebelumnya.
Saat dia melangkah masuk, dia tidak bisa menahan senyum kecil saat mendengar kata-kata yang keluar dari bibirnya sendiri, "Pinnya masih selalu sama." Seperti membenarkan keyakinannya selama ini, bahwa selama pria itu kembali dalam "kehidupan kembali" berulangnya, PIN yang sama masih berlaku.
Ruangan di dalam apartemen ini diselimuti oleh nuansa monokrom yang khas. Dinding-dindingnya dicat dengan warna abu-abu gelap yang mendalam, menciptakan latar belakang yang kontras namun tetap elegan. Cahaya lembut dari lampu-langit-langit berwarna putih hangat memberikan sentuhan kehangatan pada atmosfer keseluruhan.
Lantai ruangan ini dilapisi dengan ubin hitam mengkilap yang mencerminkan cahaya dan memberi kesan misterius. Perabotan dalam ruangan ini juga mengikuti palet warna monokrom, dengan furnitur berwarna hitam, abu-abu, dan putih yang berpadu harmonis. Sofa berbalut kulit hitam lembut, meja kopi berbentuk geometris dengan lapisan cat abu-abu halus, dan rak buku dengan lemari pamer kaca tempered memberikan kesan kontemporer dan stylish.
Langkah-langkah wanita itu mengisi ruangan apartemen yang sepi dengan kesunyian. Tidak ada suara, tidak ada tanda-tanda aktivitas manusia. Cahaya lembut dari lampu langit-langit memberi nuansa misteri pada lingkungan yang hening ini. Wanita itu melanjutkan perjalanannya, bergerak dengan hati-hati menuju kamar yang tampak menarik perhatiannya.
Dia berhenti di depan pintu kamar, merasa adrenalin mengalir di pembuluh darahnya. Tanpa ragu, dia mengulurkan tangan dan memutar gagang pintu. Untuk kejutan wanita itu, pintu tidak terkunci. Pintu itu terbuka dengan lembut, mengungkapkan sebuah kamar yang tampaknya sama sepi dan sunyi seperti bagian lain apartemen.
Kamar tidur ini memiliki dekorasi yang sederhana namun elegan. Tempat tidur yang lebar dilengkapi dengan selimut hitam dan putih yang kontras. Lemari pakaian dan meja rias berwarna hitam mengkilap menyatu dengan tema monokrom yang ada dalam apartemen ini. Jendela besar di sisi lain kamar memberikan pandangan ke malam yang gelap di luar, menambahkan sentuhan dramatis pada suasana yang sudah misterius.
Langkah-langkah hati-hati membawa wanita itu masuk ke dalam kamar yang gelap, di mana hanya cahaya redup dari lampu tidur yang menerangi sudut ruangan. Dalam keadaan yang penuh misteri ini, dia memandang ke arah kasur yang terdapat di tengah ruangan. Di atasnya, seorang pria tidur dengan tenang.
Dia mendekati pria yang tertidur dengan perasaan campuran antara kerinduan dan ketakutan yang mendalam. Wajah pria itu tampak damai dalam tidurnya, mungkin tidak menyadari kehadiran wanita di dalam ruangan.
Wanita itu merasa getaran dari jam tangan sebelah kiri Alan, pria yang tidur di kasur. Dia diam-diam menyaksikan dengan mata terbelalak saat sosok hologram seorang anak laki-laki tiba-tiba muncul dari jam tangan kuno Alan. Namun, meski kejadian ini mengejutkannya, dia merasa anehnya tidak terlalu terkejut dengan kemunculan anak laki-laki itu.
Sosok anak laki-laki dalam hologram tersebut begitu hidup dan jelas. Wanita itu dengan cepat mengenali anak itu sebagai Luke. Detak jantungnya semakin cepat berdetak, karena sudah lama wanita itu tidak melihat Luke, anak yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Luke melayang dengan anggun dan memeluk lehernya dengan penuh kasih sayang, dan meskipun tidak memiliki substansi fisik, pelukan itu terasa begitu nyata. Wanita itu merespons pelukan itu dengan hangat, merasa emosi yang mendalam memenuhi hatinya. Setelah begitu lama terpisah, momen ini menjadi begitu istimewa, memperbaharui hubungan yang telah lama terhenti.
[Tuan Pertama, aku merindukanmu!] teriak Luke dengan penuh semangat.
Wanita itu dengan lembut menempelkan telunjuknya di bibir Luke, memberikan isyarat agar dia tidak berteriak. "Jangan berisik. Nanti Alan bangun."
Keceriaan Luke dan peringatan hati-hati dari wanita itu membentuk interaksi yang hangat dan hati-hati di antara mereka, seolah-olah mereka telah lama merindukan saat seperti ini.
Luke tersenyum dengan berbinar-binar, mengendurkan ekspresi kegembiraannya namun tetap tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Dia melihat wanita itu dengan mata penuh empati, merasa seperti dia telah menemukan kembali sosok yang telah lama hilang dari kehidupannya.
[Maaf,] bisik Luke dengan suara yang lebih pelan. [Aku hanya tidak bisa menahan kegembiraanku.]
Wanita itu mengangguk, senyum di wajahnya mencerminkan perasaan yang sama. "Aku juga merindukanmu, Luke. Ini seperti mimpi melihatmu lagi."
Sosok hologram Luke melambaikan tangannya di sekeliling ruangan dengan riang. [Aku akan memandu Tuan Alan dengan baik.]
Namun, tiba-tiba, wajah wanita itu berubah. Ekspresi marah menggantikan senyumnya yang sebelumnya ceria. Dia merasa amarah membara di dalam dirinya karena Luke telah membuka kembali memori yang sebenarnya dia kunci dengan hati-hati di dalam sistem Luke. Perasaan itu campur aduk dengan rasa rindu yang telah muncul tadi.
"Wajahkan kenyataan, Luke," katanya dengan nada tegas. "Kau tidak memiliki hak untuk membuka kenangan itu tanpa izinku."
Luke tampak terdiam sejenak oleh respons tegas wanita itu, tetapi kemudian ia berbicara dengan hati-hati, [Tuan Alan yang ingin membuka rahasia Eun ji, tuan pertama.]
Luke mengangkat tangannya, mencoba menenangkan keadaan. [Maaf, aku tidak bermaksud membuka tanpa ijin tuan pertama. Aku hanya ingin membantu...]
yuk saling dukung #kuambil apa yang menjadi milikku #Sweet love level 999