Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]
Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?
Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nice to Meet You, Nona
☕🍜*Sudah ribuan bait syair cinta yang kutuliskan untukmu. Namun, tak kunjung cukup untuk mengungkapkan betapa megahnya keberadaanmu di ruang hatiku***🍜☕
Matahari sudah condong ke arah barat. Kota Metropolitan bermandikan cahaya senja. Panorama menggetarkan itu hanya berlangsung sebentar.
Sesaat kemudian disusul oleh gelapnya malam. Kumandang adzan terdengar bersahutan mengagungkan asma Allah.
Khumaira bersiap mengambil air wudhu. Menyucikan diri sebelum melaksanakan sholat. Ini adalah maghrib pertama di kota Metropolitan, sekembalinya dari kampung halaman.
Sebenarnya hawa rindu masih menyeruak di dalam dadanya. Namun, terkadang ikut menguap oleh suhu kota Jakarta.
Pagi tadi dia sudah mengabari Zidan—adiknya. Bahwa ia sudah sampai dengan selamat.
Usai mendirikan sholat, Maira berencana pergi ke apotek untuk membeli masker dan vitamin guna menjaga stamina tubuh.
Merebaknya wabah covid-19 sepertinya tidak bisa diremehkan. Anak-anak pelajar di berbagai daerah sudah diimbau untuk belajar di rumah hingga dua pekan mendatang.
Berita tersebut seketika menjadi sorotan utama masyarakat. Tentu saja hal ini menimbulkan beragam sikap. Ada sebagian yang merasa resah, namun, sebagiannya lagi menganggap biasa saja.
Bahkan tak jarang para orangtua yang menyalahartikan mengenai ditiadakannya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolah sebagai libur panjang.
Masyarakat +62 golongan satu ini memang terlalu bar-bar dalam menanggapi. Mereka beranggapan bahwa orang yang terjangkit virus corona adalah takdir. Jika mati karena corona juga merupakan takdir.
Namun, mata hati para makhluk bar-bar ini sudah picik sehingga terlupa dengan yang namanya ikhtiar.
Mereka lupa akan sebuah postingan yang bahkan pernah dishare oleh golongan bar-bar sendiri, yaitu mengenai perkataan orang bijak yang berbunyi sebagai berikut: Mencegah lebih baik daripada mengobati, Sedia payung sebelum hujan.
Akan tetapi, Maira bukanlah termasuk golongan orang bar-bar. Meski dia meyakini bahwa hidup dan mati sudah ada di tangan Yang Mahakuasa. Apabila sudah waktunya, maka siapa pun tidak ada yang dapat lari daripadanya.
Maira meyakini hal tersebut dengan sepenuh hati. Seperti firman Allah yang terdapat dalam kitab suci Al-Qur'an, yang berbunyi:
وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Dan Allah sekali-kali tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan."
(Qs. Al-Munafiqun 63:11)
Dalam menyikapi merebaknya virus corona ini, bukan berarti seseorang pasrah begitu saja mengandalkan takdir tanpa melakukan ihktiar.
Salah satu bentuk ikhtiar yang bisa dilakukan masyarakat adalah dengan melakukan dan mentaati upaya pencegahan yang diinstruksikan oleh pemerintah.
Sekali lagi, Maira bukanlah golongan dari kaum bar-bar.
Merebaknya issue corona mengingatkan umat muslim akan banyak hal. Diantaranya pada sebuah kisah pada abad ke-14 silam.
Yakni, Rasulullah Saw., beliau memberikan contoh ikhtiar dalam pencegahan penularan wabah suatu penyakit. Salah satunya adalah menutup wilayah yang terkena wabah. Rasul melarang agar tidak memasukinya dan meminta penduduk wilayah tersebut untuk tidak keluar. Hal ini agar wabah tidak menyebar ke wilayah lain.
Beliau bersabda:
"Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu."
(HR. Bukhari)
Pada masa itu penyakit kusta mewabah dan membahayakan masyarakat. Rasulullah Saw, melarang mereka untuk dekat-dekat dengan penderita kusta.
Beliau bersabda:
"Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta"
(HR. Bukhari)
Bahkan Beliau Saw. juga memerintahkan untuk membangun tembok di sekitar wilayah yang terkena wabah.
Demikianlah contoh kisah pada zaman Rasulullah Saw. yang mana umat muslim yang beriman tentu saja meyakininya.
Sama halnya dengan covid-19 ini. Pemerintah menginstruksikan agar masyarakatnya meningkatkan kebersihan, menjaga kesehatan, dan menghindari keramaian.
Namun, apa yang telah dilakukan oleh golongan bar-bar itu? Ya, benar sekali! Mereka justru melakukan bepergian, merasa gagah dan sangar melakukan aksi coba-coba untuk melawan maut dan berlomba-lomba meraih keberuntungan.
Tak sedikit para orangtua yang mengajak anak-anaknya bertamasya pasca ditiadakannya KBM di sekolah. Tentu saja ketika mereka ditanya, maka, mereka akan mengeluarkan berbagai dalih.
Semoga hati para makhluk bar-bar lekas diberi hidayah.
***
Kling!
Dering pesan singkat berbunyi dari ponsel yang berada di saku celana seorang pria berambut gondrong. Dia baru memarkirkan mobilnya di halaman mini market.
Juan mengambil ponselnya. Mengecek pesan masuk.
Nyonya Besar
"Jangan masuk rumah sebelum belikan Mama masker dan vitamin."
Setelah membaca pesan itu, Juan berdecak. Dia menggerutu, "Ck … tugas negara!"
Jempolnya bergerak cepat membalas pesan yang baru saja dibaca.
Juan
"Dekat rumah ada apotek. Persis di seberang gang."
Sent!
Tak lama kemudian, notif pesan singkat kembali berdering.
Nyonya Besar
"Tak pernah tengok berita, ya? Ada anak yang menolak suruhan orangtua, akhirnya dia terkena kutukan membujang hingga selama-lamanya. Ngeri kali, ya? Masa cuma karena tak menurut suruhan orangtua jadi jomblo abadi."
Juan mendengus. Lagi-lagi Mamanya mengeluarkan jurus pamungkasnya.
Dia mencabut kunci mobil dengan kasar. Lalu beranjak keluar dan membanting pintu mobilnya.
Juan melihat kanan-kiri jalan. Mencari apotek terdekat. Dia ingat kalau ada apotek di seberang Book Store tempat Rizky bekerja.
Dan tujuannya memang hendak ke sana. Namun, siang tadi dia sudah sempat baca berita. Bahwa, masker mulai sulit didapatkan. Kalaupun ada, harganya melonjak naik berkali-kali lipat.
Juan berdiri di tepi jalan. Dia kembali melihat-lihat kanan-kiri.
Manik matanya berhasil menangkap plang berwarna hijau-merah-kuning-putih bertuliskan K-42 (Nggak diendorse) berada di sebelah kanan, sekitar dua puluh meter dari tempatnya berdiri.
Dia melangkah santai menuju apotek. Tangan kanannya dimasukkan ke dalam saku. Sedangkan tangan kirinya menyisir rambutnya yang gondrong.
Pagi tadi dia buru-buru berangkat, tak sempat mengikat rambutnya.
Kini ciptaan Tuhan yang tampan dari masa ke masa itu, sedang berjalan dengan gagah bak pangeran yang turun dari singgasananya.
Ketika jarak ke apotek tinggal beberapa langkah lagi. Juan melihat gadis yang tak asing di matanya. Sedang mendorong pintu kaca bergagang alumunium. Gadis itu terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telephone.
Juan menghentikan langkahnya. Memunggungi posisi gadis berbalut gamis berwarna hijau botol. Ya, gadis itu bukan lain adalah Maira.
"Iya, ini mau jalan pulang. Tunggu yaa …." kata Maira pada seseorang di seberang telephone.
Kemudian Maira mematikan sambungan telephonenya. Dia bergegas pulang. Sudah ditunggu oleh sahabatnya.
Maira berjalan menunduk saat melewati sosok pria berambut gondrong dengan setelan kemeja kantor. Bukan karena dia tahu siapa pria itu. Melainkan itu sudah menjadi kebiasaannya saat lewat di depan orang—sebagai bentuk kesopanan.
Saat itu pula. Hati pria berambut gondrong itu berdesir, kakinya melemas, jantungnya berdegup tak beraturan.
Gadis pujaan hatinya baru saja lewat persis di depannya.
Perasaan bahagia sempat timbul di dada. Namun, beberapa detik kemudian sudah ditimbun oleh sebuah fakta, bahwa dia tidak bisa memilikinya. Sebab, mereka berbeda.
Rasa sesak kembali menikam dadanya. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, rasa ingin memiliki gadis itu masih ada.
Saat ini, Juan masih membiarkan perasaannya seperti itu. Merasa cukup dirinya saja yang tahu.
Dia merasa masih harus lebih memahami lebih dalam lagi mengenai perasaannya.
Dia masih ingin memastikan apakah benar yang dia rasakan adalah cinta.
Juan akan menunggu, sampai kapan perasaan yang dicurigai bernama cinta itu akan tetap ada di dalam hatinya.
Pria itu tak mau gegabah. Sesesak apa pun yang dia rasakan saat ini, biar saja dinikmati sendiri.
Juan terus menatap punggung gadis pujaan hatinya hingga tenggelam di mulut gang.
Dalam hatinya bergumam, "Nice to meet you, Nona." Bibirnya mengukir senyum tipis.
***
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
malah curcol
calon author famous
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺
kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.
ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗