Mohon anak-anak di bawah usia tidak membaca cerita ini, terima kasih :)
Calissa mencoba melarikan diri, setelah dirinya di paksa oleh menikah dengan seorang lelaki bernama Brian. Calissa tahu, jika Brian adalah sosok lelaki kasar dan sangat suka main tangan.
Untuk menghindari pernikahan paksa, Calissa nekad melarikan diri dari rumah. Gadis muda berusia 21 tahun, yang begitu polos dan bahkan tidak mengenali dunia luar.
Hingga dia bertemu dengan sang mantan kekasihnya, Arsen. Dan menerima tawaran untuk tinggal bersamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnes Fetrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Thirty Two : Penyusup 2
Kedua lelaki itu bersembunyi setelah melihat Arish membawa senjata itu melangkah ke sana dan kemari, mencari mereka. Di tempat persembunyian mereka aman untuk saat ini, mereka mencari celah saat Arish tidak melihat atau berjalan menjauh dari tempat persembunyian. Barulah keduanya mengendap-endap ke tempat persembunyian lainnya.
Semua berjalan normal pada awalnya, tapi keduanya merasa kebingungan dan merasa panik, karena mereka hanya berputar-putar di lokasi tersebut, dan merasa bingung dengan denah rumah yang cukup besar dan cukup rumit, hingga mereka bersembunyi dan berbisik satu sama lain.
“Kemana kita harus pergi sekarang ??”
“Entahlah, denah rumah disini cukup rumit.”
“Haruskah aku membantu kalian untuk keluar dari sini ??”
“Tentu saja, harus !! Jika tidak maka dia akan membunuh kita berdua.”
“Siapa yang hendak membunuh kalian berdua ??”
Salah satu di antara mereka merasa kebingungan karena partner lainnya tampak seperti berbicara pada seseorang di belakangnya. Dia kemudian membalik badan dan merasa terkejut karena sosok yang di ajak berbicara partnernya berada di belakang mereka.
“Lelaki itu, dengan senjata di tangannya.” Ujar temannya yang masih belum menyadari sosok yang dia ajak bicara di belakangnya.
“Maksudmu.. Senjata ini ??”
“Iya, senjata itu.. Tunggu dulu.”
Dia menoleh ke belakang, barulah dia menyadari sosok yang dia ajak bicara tadi rupanya adalah Arish. Tentu saja, Arish tidak bodoh, dia tahu dan bahkan menyadari kemana saja kedua bandit sialan itu bersembunyi, tetapi dia sengaja memberikan celah dan melangkah kesana dan kemari seakan tidak mengetahui keduanya. Padahal Arish melirik melalui sisi mata lainnya, dan tentu saja menyeringai licik, merasa senang bisa membuat mangsanya terjebak akan aktingnya itu.
Sementara..
Calissa yang melihat semua peristiwa itu, menjadi sangat deg-degan dan juga penasaran apakah yang akan terjadi selanjutnya ?? Dia takut dan merasa ragu, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya, hingga dia memutuskan untuk tetap melihat melalui rekaman cctv itu.
Awalnya Calissa bahkan bisa menikmati rekaman itu, sembari memakan cemilan. Tapi semakin kesini, isi rekaman itu berupa teror yang menyeramkan dari Arish, dan saat terakhir. Calissa menutup mulutnya yang terbuka lebar, dia melihat Arish menembak secara brutal ke arah kedua lelaki itu, beruntung rekaman cctv tidak berwarna seperti televisi. Sudah pasti, akan penuh sensor darah atau bahkan tanpa sensor dan layar di penuhi warna merah dan darah.
Calissa menutup tabletnya, merasa sangat shock tapi dia tidak bisa keluar untuk saat ini, karena jika dia keluar sekarang. Mungkin saja, Arish dalam suasana yang tidak baik atau bahkan sedang dalam kondisi yang tidak terkendali. Calissa menenangkan dirinya, menutup tablet dan duduk di atas kasurnya. Hingga gagang pintu kamarnya mulai bergerak, seakan ada orang yang hendak memasuki kamarnya.
Membuat Calissa langsung bangkit berdiri, ke arah pojokan kamarnya dan meringkuk di sana. Dia kemudian mendengar sebuah suara yang dia kenali di sana, suara dari kekasihnya Arsen.
“Calissa.. Kau di dalam ?? Ini aku.”
Calissa kemudian mulai bangkit berdiri, melangkah secara perlahan, sampai di depan pintu kamar. Calissa kemudian membuka pintu dengan kunci, dan pintu terbuka. Benar saja, Arsen berdiri di depan pintu kamarnya, sontak Calissa berlari ke arah kekasihnya dengan sedikit ketakutan. Arsen menghela nafas.
“Apa kau melihat rekaman cctv ??”
Calissa mengangguk dalam pelukan. Arsen tahu jika pasti, kekasihnya akan ketakutan. Dia mendapatkan telepon dari salah satu anak buahnya, yang kebetulan mengetahui mengenai dua bandit yang masuk ke rumahnya, tapi anak buah dari Arsen tidak bergerak sama sekali, karena Arish sudah mengatakan kepada mereka jika dia yang akan menghabisi kedua lelaki itu sendirian.
Arsen seketika pulang ke rumah, dia tahu Calissa pasti akan melihat ke arah rekaman cctv yang berada di tabletnya. Arish tahu jika di sana ada cctv, tapi Arish tidak pernah tahu jika rekaman itu terhubung dengan tablet milik Calissa. Jadilah, dia sengaja menyiksa dengan menembaki secara brutal kedua lelaki itu di depan cctv sebagai bukti kepada Arsen nantinya, jika ada yang ingin di pertanyakan dari Arsen.
Padahal Arsen ingin mengintrogasi terlebih dahulu kedua bandit tersebut, tapi sayang Arish terlalu mendalami permainan itu, hingga keduanya tergeletak tak bernyawa, dengan lantai penuh darah di sana. Arsen ingin tahu, siapakah yang telah mengirimkan kedua bandit sialan itu untuk masuk ke rumahnya dan mungkin mengincar Calissa.
“Tenang.. Ada aku disini..”
Arsen merasakan tubuh Calissa tidak bergemetar ketakutan seperti awalnya, jadilah dia melihat ke arah kekasihnya yang masih memeluknya dengan erat, ya setidaknya Calissa sudah tidak begitu ketakutan seperti pertama.
Ini bukan salah Arish, atau salah Calissa. Melainkan ini adalah kesalahan dari brengsek yang mengirimkan kedua bandit sialan itu. Acara pelukan itu sedikit terhenti, saat Arish datang. Beruntung, Arish tidak berpenampilan mengerikan dengan baju penuh bercak darah, tapi dirinya datang dengan pakaian baru yang rapi. Kedatangan Arish tidak membuat Calissa melepaskan pelukan karena ketakutan, Arish menatap Calissa dengan bingung.
“Dia, kenapa ??”
“Tidak, dia baru saja menonton film horor di dalam kamar. Aku sudah mengatakan untuk tidak menonton film horor di handphone.” Ujar Arsen menutupi kenyataan jika Calissa takut, karena cara Arish membunuh kedua bandit dengan brutal.
“Baiklah, aku hanya ingin mengatakan jika aku mendapatkan sedikit petunjuk dari kedua bandit itu.”
“Apa itu ??”
“Dia membawa sebuah kertas, seperti bukti transaksi dengan nomer rekening, dan atas nama Reyhan. Siapa dia ?? Apakah dia juga musuhmu ??”
“Tu..tunggu.. Siapa ??” Calissa yang mendengarkan nama itu langsung terkejut bukan main, tidak mungkinkan... ??
“Reyhan. Aku tidak tahu nama panjangnya.. Hanya nama Reyhan saja yang tercantum.”
“Baiklah, terima kasih informasinya, Arish.”
Arish mengangguk, “Baiklah, aku pergi dulu.”
***Maaf ya, adegan berdarahnya gak terlalu keliatan.. Author takut kalau terlalu sadis malah ada masalah sama editornya 😖😖
Dan maaf pendek hehehehehe 😅😅😅✌️***