Sania adalah seorang gadis cantik yang kaya. karena kekayaan keluarganya Sania menjadi sombong, Ia suka menghina dan meremehkan orang lain. Orang yang paling sering ia hina adalah Arlan, supir pribadinya sendiri. Hampir setiap hari Sania mencaci maki Arlan, walaupun begitu Arlan tidak pernah berpikir untuk berhenti bekerja karena diam diam Arlan sudah jatuh cinta pada Sania. Duniapun berputar berkat kerja kerasnya Arlan berhasil menjadi seorang yang sukses dan kaya sedangkan keluarga Sania jatuh miskin karena mereka mengalami musibah. Akankah Sania jatuh cinta pada Arlan setelah Arlan berubah menjadi kaya dan apakah Arlan masih mencintai Sania mengingat perlakuan buruk Sania dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nety purbasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayi pengganti
Sania membuka matanya, ia sadar kalau dirinya sedang berada dirumah sakit, Sania memegangi perutnya yang sudah rata.
"Anakku." Sania menengok kesamping dilihatnya Arlan sedang duduk.
Arlan duduk sambil menyandarkan kepalanya diatas tempat tidur, matanya terpejam. sepertinya ia ketiduran.
"Arlan bangun." Sania menepuk nepuk pundak Arlan.
Arlan terbangun ia mengangkat kepalanya, wajahnya tampak lelah.
"Sania, kenapa kamu bangun? sebaiknya Kamu istirahat lagi."
"Arlan, aku sudah melahirkan? dimana anakku?"
Sania sangat lemah, sehingga ia tidak bisa melahirkan secara normal, bahkan saat dioperasi ia tidak terlalu sadar.
"Istirahatlah." Arlan mencoba mengalihkan pembicaraan, ia sepertinya tidak mau membicarakan anak Sania.
Sania jadi kesal, ia bangun lalu menurunkan kakinya dari tempat tidur. Sania ingin turun dari tempat tidur.
"Mau kemana kamu?" Melihat Sania yang ingin turun dari tempat tidur Arlan kesal, mereka berdua sama sama kesal.
"Aku mau melihat anakku."
"Kamu baru saja melahirkan, kamu harus banyak istirahat." Arlan tidak mengizinkan Sania keluar dari kamat itu.
"Aku tidak bisa istirahat sebelum melihat anakku." Sania tidak mau menuruti perintah Arlan.
"Kenapa kamu suka sekali membantahku? Cepat tidur lagi"
Arlan merasa Sania keras kepala, ia tidak pernah mau menuruti kata kata Arlan. hanya dengan diancam Sania baru menuruti Arlan.
"Aku tidak mau." Sania bertambah kesal.
Dalam hati Sania bertanya tanya, apa yang Arlan sembunyikan? mengapa Arlan seakan akan tidak memperbolehkan Sania bertemu dengan anaknya.
"Sani.. " Nada suara Arlan mulai meninggi.
"Aku bilang, aku tidak mau." Sania tidak perduli walau ia harus bertengkar dengan Arlan asalkan ia bisa bertemu anaknya.
"Baiklah kalau kamu memaksa, aku akan mengatakan yang sebenarnya." Arlan terdengar serius dengan ucapannya.
"Yang sebenarnya apa?" Melihat Arlan yang begitu serius perasaan Sania menjadi tidak enak.
"Anakmu sudah meninggal." Arlan mengatakannya dengan suara yang terdengar berat.
Mendengar ucapan Arlan, Sania amat shock ia merasa sangat terpukul. berita itu mampu menggucang jiwanya.
"Tidak, tidak mungkin anakku meninggal." Sania tidak bisa menerima kenyataan pahit yang ia alami. ia menangis tersedu sedu.
Sembilan bulan janin itu tumbuh diperut Sania, Demi anaknya Sania rela hidup bagai terpenjara. Sania sangat menantikan kehadiharan bayinya.
Selain menyayangi anak itu, Sania juga ingin membuktikan pada Arlan. kalau anaknya adalah anak Arlan.
"Aku tidak percaya, kamu pasti bohong." Sania masih menangis.
Karena Sania tidak percaya pada Arlan, Arlan kemudian memanggil dokter yang membantu Sania melahirkan.
"Dokter, tolong ceritakan semua pada Sania."
"Bu Sania, saya minta maaf. saya sudah berusaha tapi anak ibu tidak bisa diselamatkan. bayi ibu sudah meninggal saat Saya mengeluarkannya dari perut ibu." Usai memberikan penjelasan pada Sania dokter itu kemudian pergi meninggalkan Sania dan Arlan berdua.
"Sekarang kamu percaya?"
Sania tidak menjawab pertanyaan Arlan ia kembali menangis, wanita itu terlihat sangat hancur dan rapuh.
Melihat Sania terus terusan menangis Arlan jadi merasa tidak tega.
'Sayang sudahlah, jangan menangis lagi. kita masih bisa membuat anak lagi." Arlan memeluk Sania.
"Apa?"
Ucapan Arlan sungguh konyol, dalam sekejap Arlan mampu merubah suasa hati Sania. Sania yang semula sedih menjadi kesal.
"Kita akan bercerai. untuk apa aku membuat anak denganmu?" Sania menghapus air matanya.
"Untuk menggantikan anakmu yang sudah meninggal." Arlan bicara tanpa beban, ia seakan tidak mau tahu kalau Sania semakin marah.
"Arlan, talak aku sekarang?"
Arlan melepaskan pelukannya, ditatapnya wajah Sania dalam dalam.
"Kamu selalu saja membahas tentang perceraian, sampai kapanpun aku tidak mau bercerai. apa yang kuinginkan, itulah yang terjadi."
Arlan terlihat kecewa dan sedih karena sepertinya, Sania sangat ingin berpisah dengannya.
"Kamu terlalu sombong. kita lihat saja nanti, kamu sudah menikah lagi dengan Erika. alasan itu sudah cukup untuk kita bercerai. Sekarang juga pergi dari sini, PERGI! "
Sania setengah berteriak seraya melempar benda benda yang ada disampingnya. Arlan bisa mengerti Sania sedang tertekan Karena ia kehilangan bayi yang ia tunggu tunggu kelahirannya.
Arlan tidak ingin membuat Sania stress ia memilih untuk mengalah, Sesuai keinginan Sania Arlan keluar dari ruangan itu. Setelah Arlan keluar Sania kembali menangis.
"Anakku kenapa kamu pergi?" Sania sangat sedih, ia benar benar tidak menyangka anaknya sudah meninggal.
Arlan sudah keluar dari kamar Sania, tapi ia belum pergi dari sana. Arlan masih berada dibalik pintu, ia mendengar suara tangisan Sania.
Rasanya Arlan ingin masuk kedalam dan menghibur Sania, tapi Sania sudah mengusirnya. wanita itu pasti akan mengamuk, kalau sampai Arlan berani masuk kekamarnya.
"Maafkan aku Sania." Arlan kemudian pergi meninggalkan rumah sakit itu.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Sania turun dari tempat tidurnya secara berlahan lahan, ia kemudian duduk diatas kursi roda yang berada diruangan itu.
Karena keadaannya masih lemah Sania keluar dari kamar itu dengan menggunakan kursi roda.
Sania pergi kehalaman rumah sakit itu. Sania menghentikan kursi rodanya yang berjalan karena ia mendengar suara tangisan seorang bayi.
Dilihatnya seorang pria sedang berusaha menenangkan bayinya, pria itu berdiri membelakangi Sania. Sania terkejut ketika pria itu membalikan badannya.
"Dennis." Pria itu ternyata adalah Dennis. Sama seperti Sania, Dennis juga terkejut melihat Sania.
Dennis lalu mennghampiri Sania yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dennis bertanya sedang apa Sania dirumah sakit itu, Sania kemudian mengatakan kalau semalam ia baru saja melahirkan.
"Dennis, itu anak siapa?" Tanya Sania saat bayi yang Dennis gendong kembali menangis.
"Aku tidak tahu, aku menemukannya dibangku taman yang tidak jauh dari rumah sakit ini. bayi ini terus menangis, aku datang kesini untuk memeriksakan bayi ini. Mungkin saja dia menangis karena sakit." Ucap Dennis panjang lebar.
"Boleh aku melihatnya." Tidak tahu kenapa, Sania tidak tega melihat bayi itu menangis.
Dennis meletakan bayi itu dipangkuan Sania dan ajaibnya bayi itu berhenti menangis. Dengan penuh kasih sayang Sania mengelus elus kepala usap bayi itu.
"Aku akan menyusui bayi ini. sepertinya bayi ini haus" Ucap Sania tiba tiba.
Dennis tidak mengerti mengapa Sania ingin menyusui bayi itu, lalu bagaimana dengan anaknya sendiri. Dennis juga tidak habis pikir, bayi itu seakan punya ikatan batin dengan Sania.
"Sani, sebaiknya tidak usah, kamu susui saja anakmu sendiri." Dennis mengira Sania tidak akan bisa menyusui dua bayi sekaligus.
"Anakku... Aku sudah meninggal."
"Meninggal?" Dennis terkejut mendengar ucapan Sania.
"Iya Dennis." Mata Sania berkaca kaca.
"Maaf Sania, aku tidak tahu." Dennis jadi merasa tidak enak.
Tidak ingin Sania menangis, Dennis langsung mengalihkan pembicaraan.
"Kamu serius mau menyusui bayi Ini?"
Sania mengangguk, Dennis kemudian mengambil selimut bayi yang ada didalam mobilnya, setelah itu ia memberikannya pada Sania.
Sania menutupi dadanya dengan selimut agar ia bisa bebas menyusui bayi itu. tidak lama kemudian bayi itupun tertidur didalam gendongan Sania.
"Kenapa kamu mau menyusui bayi ini?" Tanya Dennis ketika Sania sudah selesai menyusui bayi itu.
"Aku tidak mau air susuku terbuang sia sia. Dennis ceritakan padaku, bagaimana kamu bisa menemukan bayi ini?"
"Aku tidak sengaja melewati taman, aku menghentikan mobilku karena aku ingin menerima telphone dari temanku. tiba tiba aku mendengar, ada suara bayi menangis dan benar saja dibangku taman aku menemukan seorang bayi yang dibuang oleh orang tuanya."
Cerita Dennis membuat hati Sania terenyuh.
Ia sangat sedih karena kehilangan anaknya, tapi diluar sana ada orang tua yang tega membuang anaknya sendiri.
"Kamu yakin anak ini sengaja dibuang oleh orang tuanya?"
Sania mencoba memastikan kembali, apakah yang dikatakan Dennis benar atau hanya sebuah dugaan.
"Aku yakin. Sudah hampir satu jam aku menunggu ditaman itu, tapi tidak ada yang mencari bayi ini." Dennis merasa yakin dengan apa yang ia katakan.
"Lalu apa rencanamu dengan bayi ini?"
"Aku tidak mungkin merawatnya, aku akan membawanya kepanti asuhan."
Tidak tahu kenapa, Sania merasa tidak rela kalau bayi itu bawa kepanti asuhan.
"Dennis, apa boleh aku merawat anak ini?"
Dennis mengerutkan keningnya, ia tak mengerti. kenapa Sania bisa sebaik itu. terbuat dari apa sebenarnya hati wanita itu hingga ia mau berbesar hati merawat bayi yang baru saja ia temui.
"Sani, apa aku tidak salah dengar?"
."Tidak, anakku sudah meninggal. Mungkin bayi ini bisa menghiburku, membuatku melupakan anakku. bayi ini akan menggantikan anakku yang meninggal." Sania mendadak menjadi sedih.
Sania memang akan sedih bila ia mengingat kalau anaknya sudah meninggal.
"Baiklah kalau itu maumu." Dennis akhirnya tidak jadi membawa bayi itu kepanti asuhan, ia membiarkan saja Sania mengambil bayi itu.
Dennis pergi meninggalkan Sania karena ia harus buru buru berangkat kerja, Saniapun kembali masuk kedalam kamar tempat ia rawat.
Sania sangat senang dengan kehadiran bayi itu, bayi itu membuat Sania melupakan kesedihannya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Sania duduk diatas tempat tidur sambil menggendong bayi yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
Bayi itu baru saja dimandikan oleh suster, suster dan dokter dirumah sakit itu bersikap sangat baik pada Sania. bukan hanya itu Sania juga ditempatkan dikamar vvip.
Kamarnya berukuran besar dan mewah, kamar itu lebih cocok disebut sebagai kamar hotel dari pada kamar rumah sakit. Semua fasilitas itu bisa Sania dapatkan karena uang dan kekuasaan Arlan.
"Anak mama udah cantik." Sania tersenyum menatap bayi mungil yang sedang ia gendong.
Sania menoleh kearah pintu ketika ia mendengar suara pintu dibuka. Sania langsung mengalihkan pandangan matanya saat ia tahu yang datang adalah Arlan.
"Untuk apa kamu kesini? kita sudah tidak punya urusan." Sania kelihatannya tidak suka dengan kedatangan Arlan.
"Sayang, kenapa bicara seperti itu?" Arlan berjalan mendekati Sania, ia baru menyadari kalau Sania sedang menggendong bayi.
"Bayi siapa Ini?" Seketika Arlan menjadi kesal.
"Bayiku." ucap Sania dengan wajah polosnya, ia tidak tahu kalau Arlan sangat marah.
"Sani, Anakmu itu sudah meninggal."
"Anakku memang sudah meninggal karena itu aku mengadopsi anak ini."
"Apa kamu bilang? Apa kamu sudah gila?" Arlan sungguh sungguh tidak mengerti, mengapa tiba tiba Sania mengadopsi seorang anak.
"Mungkin kamu berpikir aku ini gila, tapi aku merasa hari ini aku sangat beruntung. Aku kehilangan anakku, tapi kamu lihat. aku langsung mendapatkan gantinya." Sania mengucapkannya dengan penuh rasa bangga seolah olah ia baru saja mendapatkan penghargaan.
"Aku tidak setuju, kamu tidak boleh mengadopsi anak ini."
"Siapa yang perduli dengan pendapatmu, aku tetap akan merawat anak ini meskipun kamu tidak setuju." Sania sepertinya sengaja membuat Arlan marah.
"Berikan anak itu padaku." Arlan senakin mendekat pada Sania."
"Jangan pernah sentuh anakku atau aku akan berteriak."
Ancaman Sania tidak mampu membuat Arlan takut, namun Mengingat Sania sedang berada dirumah sakit Arlan berusaha menahan marahnya.
"Aku pergi dulu sebentar." Arlan keluar dengan wajah yang terlihat kesal.