Semua berawal dari kesalahan.
Tapi kesalahan itu lah yang mengantarkan mereka pada akhir yang mungkin bahagia.
"Kak Genta itu kayak es krim🍦Dingin tapi manis😋"
~Kinara Adinda A~.
Tapi ini bukan akhir dari segalanya.
Melainkan adalah awal perjalanan mereka.
mohon dibaca ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FIFITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32.Buk Mila Maha Benar
Pagi Senin ini di awali dengan matahari yang bersinar penuh semangat.
Di kelas 11 IPA 2 dapat dilihat suasana yang tenang karena guru yang termasuk jajaran pembantai siswa alias guru killer bernama Mila yang sedang mengajar.
Sebenarnya Buk Mila tidak terlalu killer juga sih.hanya lebih tegas dari pada guru perempuan biasanya.
Buk Mila menjelaskan materi dengan sangat jelas.
"Apakah ada yang bisa menjawab pertanyaan di depan?" tanyanya ketika selesai menulis serangkaian kata yang bernama soal itu.
"Saya Buk" Tiya yang notabennya pintar di bidang matematika mengangkat tangannya.
"Ok.silahkan Adinda" Ujar Buk Mila mampersilahkan Dinda.
Tiya mengernyit heran mendengar jawaban Buk Mila.
"Lah kok saya Buk?" tanya Dinda tak percaya.
Tiya yang mengajukan diri kok malah gue yang kena Dinda tak habis pikir dengan situasi ini.
"Karena jika Tiya yang menjawab maka kamu yang mengerjakan" jelas Buk Mila dengan teori entah dari mana di dapatnya.
"Lah nggak bisa gitu dong Buk" protes Dinda.
Gila aja kali,aturan dari mana pula itu.
"Suka suka saya dong.yang guru di sini siapa" jawab Buk Mila masih dengan nada mempertanyakan itu.
"Lah tapi kan Buk" protes Dinda yang terpotong oleh Buk Mila.
"Ok saya tanya sekali lagi.siapa yang mau ke depan?"
Lagi dan lagi si Tiya kampret yang mengangkat tangannya.
Kenapa Tiya mengangkat tangannya? ya karena otaknya yang suka jahil itu sedang beroperasi.
"Ya lo apaan sih?" Dinda mendelik kesal pada Tiya.
"Ya habisnya nggak ada orang yang mau ke depan" jawab Tiya santai padahal di dalan hatinya sudah berteriak ke girangan
"Tapi Tiya setan kampret imbasnya ke gue" ucap Dinda frustasi sambil mengacak rambutnya.
Seisi kelas tertawa melihat kemalangan Dinda.
Dinda yang menjadi korban sudah tak memiliki semangat.ia malas jika harus maju ke depan.
"Sekarang saya tanya sekali lagi siapa yang mau maju ke depan?" tanya Buk Mila mencoba bersikap adil.
Seperti mendapat pencerahan dan jika ini di komik komik mungkin sudah ada bohlam yang menyala di kepala Dinda.
Sebuah ide terlintas di pikirannya.
"Saya Buk" Dinda mengangkat tangannya.
Dinda berfikir jika Tiya mengangkat tangan Maka ia yang akan maju.artinya jika yang mengangkat tangan dia berarti Tiya yang bakal maju.
Weh memang pinter banget lo Din puji Dinda pada dirinya sendiri.
"Ok silahkan Dinda" jawab Buk Mila seakan tau jalan pikiran Dinda.
Bagai di terbangkan tinggi lalu di jatuhkan.
Begitulah perasaan Dinda ketika mendengar jawaban dari Buk Mila.
Penghuni kelas yang sepemikiran dengan Dinda pun di buat terheran heran.
Sedangkan Tiya sudah tertawa terpingkal pingkal.
Dinda melongo heran.
Siapa saya?
Dimana saya?
"Udah Din terima aja nasib lo" Reksa berkata sambil menepuk pelan punggung Dinda tapi dengan ekspresi wajah yang sulit di jelaskan.
Entah Reksa ingin tertawa atau berduka melihat penderitaan Dinda.
Dinda tak ada opsi lain.
Seolah olah semesta ikut mempermainkannya.
Dinda beranjak dari duduknya.
Melangkah ke depan dan mengambil spidol.
Gerakan tangan Dinda yang akan menulis terhenti karena interupsi dari Buk Mila.
"Saya tau kemampuan kamu.jika kamu masih menjawab dengan asal saya pastikan semester ini nilai kamu nggak bakal aman dengan saya.kamu sendiri paham kan tidak aman dengan saya artinya apa" ujar Buk Mila yang hanya dapat di dengar antara mereka.
Dinda menggertakkan giginya.
Tangannya sudah memegang erat spidol.
Memang biasanya jika di suruh ke depan Dinda akan menjawab asal.
Alhasil ia terkenal karena kebodohannya dan tukang tidur.
Tapi ada sebagian guru yang tau tentang apa kemampuan Dinda sebenarnya.
Memang Dinda di sekolah sebelumnya terkenal karena berprestasi tapi ya itu kelakuannya yang seperti preman membuat ia harus meninggalkan sekolah itu.
Dinda sadar jika Buk Mila tak main main dengan ucapannya.
Dengan terpaksa Dinda menuliskan jawaban yang memang sudah ia ketahui itu.
Hanya membutuhkan tak lebih dari 2 menit bagi Dinda untuk menjawab soal yang rumit itu.
Penghuni kelas hening menatap tak percaya pada papan tulis dan Dinda.
Dinda yang mereka tau adalah si pemalas,tukang tidur,dan otak pas pas an lah.
Dinda memilih mengabaikan tatapan heran teman temannya.
Meletakkan Spidol kemudian berjalan ke tempat duduknya.
"Jawaban kamu benar" ujar Buk Mila yang berhasil menarik penghuni kelas itu kembali ke dunia nyata.
Banyak bisik bisik yang bertanya tanya.
Dinda menulikan saja telinganya.
Ini yang paling ia tak suka.
"Din beneran lo yang barusan jawab?" tanya Yanda masih tak percaya.
"Iya iya lah lo pikir sapa lagi?" jawab Dinda santai.
"Tumben bener?" tanya Didi.
Somplak lo Di.
Gini gini gue nggak **** juga batin Dinda.
"Contekan dari raja matematika" bohong Dinda sambil melirik Tiya.
Dari pada ia di recoki oleh manusia manusia kepo di kelasnya.
Tiya yang di tatap pun hendak protes tapi di urungkannya karena mendapat tatapan maut dari Dinda.
"Sudah gue duga" Riri si biang gosip menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
Diskusi diskusi mereka terhenti karena Buk Mila yang tiba tiba memberikan kuis tentang materi hari ini.
Semua seketika protes tapi Buk Mila tetap lah Buk Mila.
Jadilah siswa kelas 11 IPA 2 menghabiskan waktu satu jam menjelang istirahatnya untuk berperang dengan angka.
Ada yang pernah ngalamin kayak gini juga?
Kalau author mah sering😒😒
☘☘☘☘☘
Kantin ramai seperti biasanya.
Ada yang datang ke kantin bener benar untuk makan seperti siswa yang duduk di meja dekat pintu yang sedang fokus pada Baksonya.
Ada yang bertujuan untuk makan sambil ngamen seperti mereka yang sudah bernyanyi ria di meja pojokan kantin.
Ada juga yang mengantri Minuman saja atau sekedar beli camilan untuk di bawa ke kelas.
Kalau kalian masuk ke bagian mana?
Dinda memindai seluruh keadaan kantin.
Sebelum ia memilih mau duduk di mana ia sudah di seret terlebih dahulu oleh Tiya.
Katanya sih cacingnya sudah tak tertolong.
"Mau pesan apa lo?" tanya Tiya yang sudah siap untuk memesan.
"Samain aja" jawab Reksa.
Sedangkan Dinda hanya mengangguk menyetujui.
Tiya langsung berjalan ke arah stand makanan.
Tiya kembali dengan tiga piring nasi goreng dan jus jeruk,tapi bukan Tiya loh ya yang bawa melainkan ibu kantin.
Mereka mulai makan dengan biasa aja lah ya nggak terlalu hikmad pun karena Tiya yang mulai mencerocos.
"Si Dwi kok nggak ikut?" tanya Tiya setelah menelan nasi goreng yang dikunyahnya itu.
"Mau ke Perpus katanya" jawab Reksa.
Memang hari ini Dwi lebih menjaga jarak dari pada kemarin kemarin.
Dinda memilih tak ikut dalam percakapan Tiya yang membahas Dwi.
"Din lo jadi tanya nggak masalah Dwi?" Ok ini sepertinya Reksa memiliki daya ingat yang kuat.
"Males ah gue" jawab Dinda sambil memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Jujur Dinda masih ingat bagaimana sifat Dwi si polos itu ketika malam di rumah Genta.
Huh udah kayak lotus putih aja pikir Dinda jengah.
"Kenapa?" tanya Tiya bingung.
"Sebenernya lo itu temenan sama dia udah berapa lama sih?" Dinda bertanya setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.
Tiya dan Reksa saling pandang.
Entah mereka berkomunikasi lewat tatapan mata atau apa Dinda tak peduli.
"Emang napa?" jawab Reksa setelah meneguk jusnya.
Reksa merasa kalau pembicaraan mereka akan lebih serius.
"Lo pernah ngerasa nggak sih kalau Dwi itu mungkin nggak se polos itu?" tanya Dinda juga ikut mulai serius.
🍁🍁🍁🍁
Hai hai hello
Jangan lupa pencet liken sama votenya ya.
Karena itu bisa bikin author tambah semangat lagi bikin part part selanjutnya.
Ibaratanya sebagai vitamin lah ya.
Sekalian kasih author masukan bagian mana lagi yang author harus perbaiki.
Salam hangat dari author nan manis ini (kata emaknya author ya😁😁)
😘😘😘😘
Terus gimana dengan Genta,kapan Dinda mau ngomong ke Genta??akan kah Genta bisa percaya dengan mudah nya??? hadeehh,,,