Blurb :
"Aku rela berkorban demi dirimu, Mas. Bahkan, dengan sukarela memberikan uang gajiku kepadamu. Tapi kenapa, teganya dirimu memberikan semuanya kepada selingkuhanmu!"
Airin benar-benar merasa kecewa atas apa dilakukan oleh Aldi suaminya. Airin merasa di lecehkan dan tidak dihargai.
Hingga Airin berpikir untuk mengakhiri pernikahannya dan berniat untuk balas dendam.
Akankah rencananya berhasil atau ia berubah pikirannya dan menerima Sonia untuk jadi istri kedua suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipihpermatasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Kesal!
"Kenapa sih Mih, enggak bisa di jaga kalo ngomong!" Riko menatap kesal sang Mamih.
"Lagian dia yang mulai duluan kurang ajar, Riko! Kenapa sih, kamu membela dia terus!" sentak Mamih Lia.
Wanita itu merasa geram karena putranya selalu membela wanita yang tidak tahu diri itu.
"Udahlah, aku pusing, Mih!"
Riko segera berlalu dari hadapan Mamihnya dan lebih memilih pergi menuju kamarnya.
*
*
#Di tempat lain.
'Dasar wanita tua! Berani sekali dia menghina diriku. Dia pikir siapa? Mentang-mentang orang kaya suka seenaknya kalo bicara!' Airin merasa kesal dengan sikap Mamih Lia tadi.
'Lagian aku dengan si Riko enggak ada hubungan apa-apa. Najis, bila punya mertua seperti itu.'
Wanita itu masih kesal dengan Mamih Lia. Saat Airin melangkahkan kakinya, tiba-tiba keadaan beroda empat berhenti tepat dirinya.
Wanita itu pun berteriak saat mobil berjalan menghampirinya. Seseorang tiba-tiba keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Airin.
"Kamu baik-baik ajakan?" tanya seorang pria itu.
Wanita itu segera membuka matanya dan merasa terkejut saat kenal siapa pria yang ada di depannya.
"Sengaja ya mau membunuhku, heh?" Airin menatap kesal pria itu.
"Maaf, aku enggak bermaksud begitu Airin. Mobilku tiba-tiba berhenti mendadak," kata Bram.
Wanita itu pun menyipitkan matanya, lalu menatap netra milik pria itu menyakinkan.
"Kamu enggak bohongkan?" tanya Airin.
"Bisa lihat kedua mataku, apakah ada kebohongan? Lagian, ngapain juga aku harus ingin membunuhmu? Bukannya kamu orang yang sangat aku cintai," ucap pria itu.
Airin mengaruk jenjang lehernya yang tidak gatal dan memang tidak mungkin Bram melakukan itu.
"Aku benar-benar minta maaf atas kejadian ini. Lagian, ini benar-benar enggak sengaja," ucap Bram.
"Iya, aku percaya, kok. Lagian aku enggak apa-apa," ucap Airin tersenyum.
Bram pun merasa bersyukur wanita itu mempercayai dirinya. "Oya, kamu mau kemana?" tanya pria itu.
"Aku mau mencari tempat yang bikin otakku rileks," jawab Airin.
"Kalo gitu ikutlah denganku," kata Bram.
"Kemana?" tanya Airin sekali lagi.
"Jangan banyak tanya! Ayo, masuk ke dalam mobil!"
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil dan Bram segera menjalankan mobilnya menuju suatu tempat.
"Oya, habis dari mana sih? Mukanya kayak kesal gitu," ucap Bram menatap Airin.
Wanita itu menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian menatap Bram.
"Aku habis di bully sama Ibunya si Riko," ucap Airin.
Wanita itu masih kesal bila mengingat kejadian tadi dengan Mamih Lia.
"Maksudnya, Riko Septian?" tanya Bram untuk memastikan.
Wanita itu menganggukan kepalanya tanpa menjawab perkataan Bram dan pria itu merasa aneh kenapa bisa Mamihnya membuat wanita yang ada di depannya kesal.
"Emangnya apa salahmu pada Mamih Lia?" tanya Bram.
"Oh, jadi namanya Mamih Lia? Si wanita brengsek dan suka bicara seenaknya!" Septi tersenyum sini.
Bram pun mengerutkan keningnya karena merasa tidak mengerti dengan perkataan wanita yang ada di depannya.
"Kenapa bicara seperti itu? Enggak baik berkata seperti itu," ucap Bram.
"Coba bayangin aja sama kamu. Dia menolak aku menjalin hubungan dengan putranya. Gara-gara karena aku miskin dan mereka lebih tinggi," ucap Airin dengan kesal.
Deg. Hati Bram merasa hancur. Bagaimana tidak, wanita itu menjalin hubungan dengan sahabatnya. Sedangkan dirinya yang selama ini menanti penantian untuk bisa menjadi kekasih Airin.
"Benar-benar ya, si Ibu so paling kaya itu merendahkanku!" lanjutnya.
Airin pun menatap Bram dan merasakan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya.