NovelToon NovelToon
ZOYA, Bidadari Tanpa Mahkota

ZOYA, Bidadari Tanpa Mahkota

Status: tamat
Genre:Angst / Tamat
Popularitas:62.1k
Nilai: 5
Nama Author: Isti Shaburu

Zoya, wanita muslimah cantik yang diperkosa oleh pria yang hendak ditolongnya. Setelah satu tahun kejadian naas tersebut, ia bangkit dan menjadi seorang guru ngaji di mushola dekat rumahnya. Bertemu dengan Zafran yang tak lain adalah Papah dari murid mengajinya sendiri hingga lambat laun Zafran mulai menyukainya dan berniat meminangnya.

Namun, di saat dirinya mulai membuka hatinya untuk Zafran, pria misterius itu muncul dan berniat untuk meminangnya. Di sisi lain, mantan istri Zafran pun kembali dan ingin membina rumah tangganya lagi.

Siapakah yang akan dipilih oleh Zoya? Apakah Zoya akan memilih Zafran atau pria yang telah menodainya itu? Dan apakah Zafran akan kembali pada istrinya atau tetap memilih Zoya sebagai istrinya?

ig: @istikomah50651

follow ig author yah untuk lihat visualnya🙏😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti Shaburu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32 > Persiapan pernikahan

Satu minggu sebelum hari pernikahan, rumah Zoya sudah sibuk dengan orang yang membantu persiapan pernikahannya. Meski hanya selamatan saja, nyatanya banyak yang harus dipersiapkan. Ibu meminta Zoya hanya diam tak membantu apa pun, Zoya hanya bermain sambil mengajar dengan anak-anak desanya setiap harinya saat sore hari ketika mereka sudah pulang sekolah.

Nafisah merasa sangat bahagia ketika mengetahui kalau Zoya akan menjadi Ibu sambungnya. Ia tak bisa menyimpan rasa bahagianya itu, wajahnya selalu bersinar dengan senyum merekahnya. Fadhil yang selalu memerhatikan Nafisah, ikut merasa bahagia.

“Jadi nanti setelah Papahmu dan Kak Zoya menikah, kamu akan menetap tinggal di sini?” tanya Fadhil, memang seminggu belakangan Nafisah tinggal di kediaman orang tua Zoya, ia sudah sangat betah di tempat itu karena banyak teman bermainnya.

“Aku tak tahu, mungkin kami akan pulang ke rumah Papah. Mengapa memangnya, Kak? Takut rindu yah...?” goda Nafisah pada Fadhil yang wajahnya seketika sudah merona.

“Kok kamu tahu? Aku memang terkadang selalu rindu sama kamu. Kalau disekolah, aku selalu tak sabar menunggu jam istirahat untuk segera pergi ke sekolah kamu,” ucap Fadhil, ia sudah tak sungkan lagi mengutarakan isi hatinya.

“Kak Fadhil gombal deh,” elak Nafisah, wajahnya merona karena ucapan yang dilontarkan oleh Fadhil.

“Aku gak gombal kok. Kamu kan tahu sendiri, aku tak pernah dekat sama siapa pun, hanya dekat dengan teman-teman di sini saja dan itu pun aku jarang bicara kecuali sama Haikal,” ucap Fadhil.

Nafisah hanya terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Ia juga sebenarnya selama ini sering memperhatikan Kakak seniornya itu. Entah saat sedang mengaji, atau saat sedang melakukan tugas merajut.

“Sebentar lagi kamu ujian sekolah kan?” tanya Fadhil mengalihkan pembicaraan, ia tahu kalau Nafisah salah tingkah.

“Iya, bulan besok sepertinya aku sudah mulai ujian praktik dan akan disusul ujian sekolah,” sahut Nafisah masih dengan perasaan salah tingkahnya.

“Setelah lulus, kamu mau melanjutkan ke SMP mana?” tanya Fadhil kembali.

“Aku masih bingung, Kak mau masuk SMP mana.”

“Bagaimana masuk SMP Negri Bina Bangsa ajah, biar bisa bareng aku nantinya,” seru Fadhil dengan begitu antusias meminta Nafisah untuk masuk ke SMP yang sama dengannya.

“Saat aku masuk nanti, Kak Fadhil sudah kelas tiga, itu artinya kita hanya akan bareng satu sekolah satu tahun saja dan dua tahunnya aku akan sendiri,” keluh Nafisah terdengar tak bersemangat.

“Kan ada Layla dan Rima yang masih kelas satu, ada Rafa dan Riyan juga. Nanti saat kamu masuk, mereka berdua akan ada dikelas dua. Lagi pula aku akan melanjutkan ke SMA yang dekat dengan Bina Bangsa kok. Jadi, waktu istirahat nanti aku akan ke Bina Bangsa,” jelas Fadhil mengatakan teman yang lainnya masih kelas satu saat ini dan akan ada dikelas dua saat Nafisah masuk.

“Iya-yah, mereka kan masih kelas satu sekarang. Nanti aku bakal bareng dua tahun sama mereka, lumayanlah daripada lumanyun kan, hehe,” kekek Nafisah, Fadhil ikut terkekeh bersamanya.

“Sudah bisa bercanda sekarang yah, mentang-mentang suka manyun.” Fadhil ingin sekali mencubit hidung mancung Nafisah, tapi ia urungkan karena tak berani.

“Lumayan tahu, Kak. Nanti satu tahun lagi siapa tahu ajah ada adik kelas baru yang ketceh badai,” serunya sambil melirik tipis-tipis ke arah Fadhil, ia ingin melihat ekspresi Fadhil saat ia mengatakan hal itu.

“Semoga saja tahun ajaran baru saat kamu masuk, tak ada yang enak dipandang, amiin,” doa Fadhil seraya mengusapkan kedua tangannya pada wajahnya.

“Ish, Kak Fadhil doanya begitu banget sih. Sirik saja deh, tak senang kalau aku senang,” rajuk Nafisah, mereka sungguh terlihat seperti pasangan remaja yang tengah jatuh cinta, meski nyatanya ada rasa di antara hati keduanya.

Nafisah dan Fadhil mengobrol hingga tak terasa azan magrib berkumandang.

“Alhamdulillah sudah azan, mau ke mushola bareng?” tawar Fadhil.

“Boleh, aku wudu sama ambil mukena dan sajadah dulu yah.” Nafisah bangkit dan berjalan menuju rumah kedua orang tua Zoya untuk mengambil perlengkapan salatnya.

“Mah, aku ke mushola bareng Kak Fadhil yah,” pamit Nafisah pada Zoya yang sedang bersiap mengenakan mukenanya.

“Baiklah, kak Zoya nyusul setelah ini,” sahut Zoya yang masih mengenakan mukena.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Nafisah pergi setelah berpamitan pada Zoya, ia berpapasan dengan Ibu yang sedang menunggu Ayah. Nafisah juga berpamitan pada Ibu, Ibu yang masih menunggu suaminya itu mengiyakannya. Fadhil sudah menunggu di depan rumah dengan begitu tampannya mengenakan sarung, kokoh dan peci, sejenak Nafisah terpesona dengannya.

“Ayu berangkat, belum ada yang salawatan. Kita salawatan bersama yah,” ajak Fadhil membuyarkan lamunan Nafisah.

“Eh, iya ayu.”

Keduanya pergi ke mushola bersama, mereka salawatan bersama sambil menunggu para jamaah salat datang.

***

Esoknya, Zafran mengajak Ibu untuk berbelanja kebutuhan untuk pernikahan mereka yang kurang. Karena Zoya sudah tak boleh pergi oleh Ibu, maka Ibu dan Nafisah saja yang pergi berbelanja. Zafran mengajak dua wanita beda usia itu menuju butik lebih dulu untuk membeli pakaian yang akan dikenakan oleh mereka saat ijab kabulnya nanti.

“Ibu masih memiliki gamis yang Nak Zafran berikan waktu itu, lebih baik uangnya ditabung saja,” tolak Ibu dengan halus.

“Bu, itu hadiah dari Nafisah untuk Ibu, Ibu bilang akan dikenakan saat lebaran nanti. Ini aku beli untuk hari ijab kabul aku dan Zoya. Meski tak mengadakan resepsi yang mewah, setidaknya aku ingin kalian mengenakan pakaian yang bagus dan baru agar aku tak merasa bersalah telah memberikan pernikahan seperti layaknya pernikahan orang lain yang digelar dengan mewah.” Zafran mencoba merayu Ibu untuk menerima pemberiannya.

“Kan semunya juga atas permintaan Zoya, jadi Nak Zafran jangan merasa bersalah.” Ibu mengerti apa yang dirasakan oleh calon menantunya itu.

“Memang atas permintaan Zoya, tapi ini pernikahan pertamanya. Kupikir Zoya ingin pernikahan bak putri raja yang digelar dengan mewah, aku sudah siap jika itu permintaannya karena aku juga memiliki tabungan yang cukup lebih. Tapi ternyata Zoya meminta pernikahan yang sederhana, maka dari itu hanya ini yang bisa aku lakukan, tolong Ibu jangan menolak yah,” pinta Zafran sekali lagi.

“Nenek terima saja, ayu aku pilihkan pakaian yang bagus untuk Nenek.” Nafisah menarik tangan Ibu untuk memilih pakaian, mau tak mau Ibu pun akhirnya menyetujuinya meski sebenarnya ia merasa tak enak hati.

Ibu dan Nafisah memilih pakaian yang menurutnya cocok. Tak lupa Nafisah juga memilihkan untuk Ayah yang akan dikenakan saat ijab Zoya dan Zafran nanti. Zafran bersyukur karena putrinya itu bisa diandalkan pada saat seperti ini, Nafisah sudah tumbuh dengan dewasa, pikir Zafran.

Hingga sore menjelang mereka baru kembali dari belanjanya, Zafran juga membeli seserahan untuk diserahkan pada Zoya saat pernikahannya nanti. Karena orang tua Zafran sudah lama tiada, dan Zafran juga tak memiliki sanak saudara lainnya, maka yang akan menjadi keluarga Zafran saat datang ke acara pernikahan nanti adalah Bu Mirna dan suaminya Pak Muklis yang tak lain adalah orang tua dari Fadhil.

1
Samsiah Yuliana
semoga ada Istikomah lagi, dan mas Cakra yg ada di dlm bqyang² mimpi nya Zoya
Sabilnur Alif
tp cerita Cakra menghilang 😞😞
Samsiah Yuliana: yaaah, kmana itu mas Cakra 🙈
total 1 replies
Sabilnur Alif
apakah mgkn Nafisah sma Fahmi???🤔🤔
Sabilnur Alif
knp Zoya lbh memilih dgn zafran 😞😞..apa nga mikir dampak ke depan nya??
Sabilnur Alif
😱😱😱licik nya nesaaaaaa..hamil dgn siapa dn mau rujuk sma mantan suami 🤦🤦
Sabilnur Alif
ya Allah.. apakah Zoya akan ttp memilih buat menikah dengan zafran??
Sabilnur Alif
klo Zoya nikah SMA zafran..yg ada Zoya di teror trus sma si nesa..lbh baik Zoya SMA cakara aja
Sabilnur Alif
udaahh zoyaaaa..sma Cakra aja
Sabilnur Alif
semoga shlt istiqoroh nya bertemu dgn Cakra.. aamiin
Sabilnur Alif
semangat "Fahmi..semoga Cakra cepeta bertemu zoyaaaa...dn mereka berjodoh
Sabilnur Alif
janggann zoyaaa..sma Cakra aja, takut nya klo SMA zafran ada ke khilafahan yg akan terjadi..krna tdk mendapatkan mahkota kamu zoya
Sabilnur Alif
moga aja Cakra sma Zoya berjodoh yahh
Ina awaliyah
ceritanya baguusss...terus semangat author
Sri Irayani
iy kk,,, ksian si cakra cinta ditolak
Rafa Pratama
😀😀😀
Nayra Syafira Ahzahra
baru mampir thor😊😊😊
Isti Shaburu: terima kasih kak🙏😊🤗
total 1 replies
Aas Azah
kasihan Cakra thor 😔
Isti Shaburu: mari kita hibur cakra kak😔
total 1 replies
Kak Jum
semoga aja dgn cakra..
Ratna Anggraeni
kok gk jdi sama pak Cakra thour ,.,.😭😭😭
Ratna Anggraeni
jeng,.jeng,.jeng,.,bersambung,.,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!