Kisah seorang wanita terpaksa menjual tubuhnya hanya untuk pengobatan suami. menjadi selimut hangat, menghangati tubuh seorang CEO yang ternyata punya maksud lain dibalik penawaran tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cece Virgo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Arunika berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan pria ini yang membelit tubuhnya dengan cukup kencang. Bukan berhasil lepas darinya, Virendra semakin mengencangkan pelukan itu sembari menikmati aroma wangi khas milik wanita dihadapannya.
Sangat memabukkan sekali, tak luput Virendra semakin mendambakannya
Arunika semakin frustasi olehnya. dengan cepat otaknya berputar cukup keras seolah tengah mencari ide agar lepas darinya. tak butuh waktu berapa lama, Arunika tersenyum menyeringai kala lampu berhasil menerangi akalnya.
Matanya yang sinis menatap ke bawah, tak perlu basa-basi Arunika langsung melayangkan pijakan cukup kuat pada kaki Virendra yang dibaluti sepatu pantovel hitam mengkilat itu. Sontak saja Virendra kaget, melepaskan cumbuannya pada wanita ini hingga beralih mengerang kesakitan.
"Aaaakh! Arun!" erangnya
"Itu belum seberapa untuk anda, Tuan! kalau tidak ada berkepentingan soal pekerjaan, saya permisi!" Arunika sungguh kesal dan sedikit kecewa, seolah ia benar-benar diperlakukan seperti budak se* oleh pria ini.
Arunika melangkah meninggalkannya, namun sebuah cekalan tangan mengharuskannya untuk berhenti. Ia menoleh ke belakang dengan tatapan beringas, benar-benar tidak suka dengan bosnya sendiri
"Maaf udah membuatmu tidak nyaman. saya-cuma ingin memberikan ini." ucap Virendra menyodorkan paperbag kepada Arunika
Arunika enggan menerimanya. sekilas ia menatap benda itu lalu kembali menatap sang pemberi.
"Makan siangmu. ambillah!"
"Tidak, terima kasih." Arunika menolak
"Saya tidak butuh penolakan, Arunika! ambil lalu pergi atau saya akan menahanmu untuk menemani bossmu ini bekerja!" tegas Virendra
Dengan cepat Arunika mengambilnya. untuk apa juga ia akan menemani pria ini, yang ada seluruh pegawai akan menatapnya dengan penuh pertanyaan yang terus terngiang-ngiang.
"Lain kali tidak perlu seperti ini. apalagi harus masuk ke dalam teritorial anda disaat bukan jam kerja saya melayani situ." sembur Arunika
Virendra terdiam mendengarnya, sorot matanya mengantarkan kepergian Arunika yang kian menghilang dibalik pintu.
"Aaaiihh!! benar-benar sudah gila!" Virendra merasa frustasi, menjambak rambutnya ke depan seolah tengah merasa jadi pria yang bodoh.
***
Arunika menghempaskan bokongnya pada sebuah bangku di kantin. raut wajahnya tampak kurang bersahabat kala siang itu setelah pertemuannya dengan sang presdir. Ia begitu sangat kesal, pasalnya Virendra begitu lancang menyentuhnya disaat bukan waktu yang tepat.
"Kenapa mukamu cemberut?" tanya rekan kerjanya yang memperhatikan wajah Arunika sedari ia tiba
"Hmm, nggak apa-apa sih." jawabnya. tidak mungkin Arunika berkata jujur jika dirinya disentuh oleh boss tempatnya bekerja
"Ada masalah? cerita aja, siapa tau ada jalan keluar."
"Hhh ... entahlah, rasanya pengen cabut aja dari sini. aku kepikiran sama lakiku, Kar." keluhnya, tiba-tiba pikiran Arunika langsung tertuju kepada suaminya
"Yaudah, balik aja lagi, boss pasti ngerti."
Arunika terdiam, ada benarnya juga apa kata Sekar. lagi pula ia sudah kembali bekerja pada hari ini. walaupun tidak diperbolehkan bekerja setengah hari, hanya satu jam pun tidak masalah. Namun, jika ia tidak minta izin kepada sang presdir, pria itu pasti akan mencarinya dan kepala bagian yang akan mendapat masalah.
Ya ampun, ternyata nggak enak banget terlibat sama boss sendiri. batin Arunika
"Sudah, jangan dipikirkan! lagian-apaan tuh yang kamu bawa?" tanya Sekar
Arunika mengalihkan pandangannya pada paperbag yang diberikan oleh Virendra. entah apa isinya, ia pun belum sedikit pun membukanya. Sebelum menyentuh benda itu, Sekar lebih dulu menyambarnya saking penasaran.
"Wow! sekotak pizza dan nasi!" heboh Sekar dengan mata membelalak berbinar-binar
Wanginya menelisik masuk ke dalam rongga hidung Arunika kala temannya membuka penutup box tersebut.
***
"Tuan, saya izin bekerja setengah hari, apakah boleh?" Arunika bertanya kepada Virendra kala pria tersebut tengah bersiap-siap untuk pergi bersama sang Assisten
"Apa alasannya?" tanya sang presdir
Arunika menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum menjawab alasan itu. sungguh, Virendra sangat tidak peka dalam hal ini
"Ada seseorang yang sangat penting sedang membutuhkan saya, Tuan." jawabnya
Virendra memutar bola matanya, jengah, sembari mengenakan jas hitam miliknya
"Yasudah, saya antar. ayo!" ajak pria tersebut
"Eh tapi--
Belum selesai berucap, Virendra terlebih dulu menarik tangan Arunika. menggenggamnya, hingga membuat semua mata mengarah ke objek tersebut. Arunika merasa risih kala dirinya turut menjadi sorotan banyak mata.
"Le-lepas!" bisik Arunika berusaha melepaskan genggamannya
"Diamlah!"
Aduh ... bakal jadi bahan gosip mah ini. batinnya sembari menggaruk kepala yang tidak gatal
Mobil yang mengangkut dua insan berbeda status ini melaju dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan ibukota. Arunika memperhatikan jalanan disisinya, ingatan akan suami selalu terpatri didalam memorinya. entah sedang apa Rama sekarang, apakah sudah makan atau belum, apakah pria itu bisa bergerak sendiri tanpa bantuan siapapun, dan itu selalu ia pikirkan sejak tadi.
Mobil berbelok ke arah sisi lain, seketika saja membuatnya tersadar jika ini bukanlah jalan ke rumah sakit.
"Loh, loh! ini kan?"
"Temani saya bertemu klien!"
~Bersambung~
woi iiiii mana
woiiii
jangan main main.
saya sdah tdak sabaran menunggu kisah selanjutnya.
author mmang terbaik.
semangat Author