NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Sinar Fajar dan Dinginnya Jarak

Penthouse lantai tiga puluh enam itu tidak pernah terasa sesejuk dan sesunyi ini sebelumnya. Ketika Viona membuka kelopak matanya yang bengkak, cahaya abuabu keperakan khas fajar Jakarta telah merayap masuk melalui celah gorden yang terbuka sedikit. Tubuhnya terasa kaku. Dia masih meringkuk di atas sofa beludru, tempat di mana badai amukan Arkan pecah semalam.

Jas hitam mahal milik Arkan yang semalam diselimutkan ke tubuhnya kini telah merosot ke lantai marmer. Viona menatap jas itu dengan pandangan kosong. Aroma musk dan wiski yang menguar dari kain wol berkualitas tinggi tersebut mendadak membuat dadanya sesak oleh campuran rasa takut, terhina, dan sesuatu yang asing yang enggan dia akui sebagai rasa rindu.

Perlahan, Viona mendudukkan diri. Dia meringis pelan saat merasakan perih di sudut bibirnya yang sempat tertekan kasar semalam, serta rasa nyeri di pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman Arkan. Kemeja putih kerjanya yang robek mengenaskan memaksa Viona untuk segera bangkit. Dengan langkah gontai dan memeluk dadanya sendiri, dia berjalan menuju kamar mandi utama.

Di bawah pancuran air hangat, Viona memejamkan mata. Dia membiarkan bulirbulir air menghapus sisa air mata dan jejak sentuhan Arkan yang membakar kulitnya. Pikiran Viona melayang pada ucapan Arkan semalam. 'Setiap inci dari tubuhmu, setiap detik dari waktumu, sudah kubeli dengan lunas.'

Katakata itu adalah pengingat paling kejam tentang posisinya saat ini. Dia bukan kekasih, bukan tunangan, dan jelas bukan siapasiapa di hidup pria itu. Dia hanyalah sebuah komoditas, barang sewaan eksklusif yang tugasnya meredam kegilaan sang CEO di kala malam.

Setelah selesai membersihkan diri, Viona memilih mengenakan pakaian yang paling tertutup yang bisa dia temukan di lemari raksasa itu: sebuah sweter rajut longgar berwarna krem dan celana kain panjang. Dia sengaja mengabaikan deretan gaun tidur satin yang biasanya dipesan Arkan secara khusus.

Ketika Viona melangkah keluar ke area dapur, dia mendapati suasana penthouse benarbenar kosong. Arkan tidak kembali semalam setelah melangkah pergi dari pintu itu. Di atas meja konter marmer dapur, sudah tersedia kotak sarapan hangat dari restoran bintang lima beserta sebuah amplop putih tebal, diletakkan tepat di samping kunci apartemen.

Viona mendekati meja tersebut. Di samping amplop, ada selembar memo kecil dengan tulisan tangan yang tegas, rapi, dan dingin.

“Gunakan uang di dalam amplop ini untuk membeli pakaian baru dan mengobati luka di tanganmu. Jangan pergi ke kantor hari ini. Istirahatlah. Aku tidak ingin melihatmu sakit saat aku kembali nanti malam. — A.M.”

Viona meremas memo kecil itu hingga kusut di dalam kepalan tangannya. Alihalih merasa tersentuh oleh perhatian tersembunyi tersebut, hatinya justru semakin terasa perih. Arkan selalu menyelesaikan segala hal dengan uang. Merobek pakaiannya? Ganti dengan uang. Melukai pergelangan tangannya? Obati dengan uang. Pria itu berpikir bahwa lembaranlembaran kertas berharga tersebut bisa menyembuhkan harga dirinya yang telah hancur berkepingkeping.

"Kau pikir aku ini apa, Tuan Arkan?" bisik Viona pada keheningan ruangan, air matanya kembali mengambang namun dia sekuat tenaga menolaknya untuk jatuh.

Viona mengabaikan amplop tebal tersebut. Dia tidak menyentuhnya sama sekali. Alihalih menuruti perintah Arkan untuk berdiam diri di penthouse, Viona justru mengambil tas kerjanya yang tergeletak di dekat pintu. Dia tidak bisa terusmenerus mengurung diri di sangkar emas ini. Berada di sini terlalu lama hanya akan membuatnya gila dan terus memikirkan sentuhan pria tiran itu. Lagipula, dia harus memastikan kondisi Rendy di kantor setelah insiden menegangkan kemarin siang.

Suasana kantor logistik Mahendra Group siang itu terasa berkalikali lipat lebih canggung bagi Viona. Begitu dia melangkah melewati pintu kaca utama, beberapa pasang mata rekan kerjanya langsung tertuju padanya. Bisikbisik yang tertahan seketika menguar di udara, membuat atmosfer kubikel administrasi terasa begitu mencekik.

Viona mencoba mengabaikan semua pandangan sinis dan penuh selidik itu. Dia berjalan lurus menuju meja kerjanya, berniat menenggelamkan diri dalam tumpukan manifes barang agar bisa melupakan sejenak masalah hidupnya. Namun, baru saja dia mendudukkan diri, sebuah bayangan familiar kembali menghampiri kubikelnya.

"Vio?"

Viona mendongak dan mendapati Rendy sedang berdiri di sana. Wajah pria itu tampak sangat lelah, ada gurat kecemasan yang mendalam di matanya. Yang membuat jantung Viona mencelos adalah memar kebiruan yang samar di sudut rahang Rendy.

"Kak Rendy... wajahmu kenapa?" tanya Viona dengan suara bergetar, reflek berdiri dari kursinya.

Rendy tersenyum tipis, mencoba menenangkan Viona meskipun senyum itu tampak dipaksakan. "Bukan apaapa, Vio. Semalam hanya ada sedikit kesalahpahaman saat aku pulang ke kosan. Seseorang... menghadangku di jalan."

Darah Viona seketika mendesir dingin. Seseorang menghadangnya? Pikiran Viona langsung tertuju pada satu nama: Arkan Mahendra. Apakah Arkan yang mengirim orang untuk memberi pelajaran pada Rendy hanya karena cemburu buta semalam? Mengingat bagaimana kejamnya kekuasaan pria itu, hal seperti ini bukanlah hal yang mustahil bagi seorang Mahendra.

"Kak, apa ini karena kejadian siang kemarin?" bisik Viona penuh rasa bersalah yang amat besar. Suaranya tercekat di tenggorokan. "Apa pria... maksudku, apa orangorang Tuan Mahendra yang melakukannya?"

Rendy terdiam sesaat, menatap Viona dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Dia tidak mengiyakan, namun diamnya Rendy sudah cukup menjadi jawaban yang mematikan bagi Viona.

"Vio, sebenarnya siapa Tuan Arkan Mahendra itu bagimu?" tanya Rendy dengan nada suara yang sangat rendah, berhatihati agar tidak terdengar oleh rekan kerja yang lain. "Siang kemarin, cara dia menatapmu... dan cara dia memperingatkanku, itu bukan tatapan seorang pemilik perusahaan kepada karyawan biasa. Ada sesuatu yang lebih. Katakan padaku, Vio. Kau sedang berada dalam masalah besar, kan?"

Pertanyaan tulus Rendy bagaikan pisau yang menguliti pertahanan Viona. Dia ingin sekali berteriak, menangis, dan menceritakan betapa menderitanya dia terjebak dalam kontrak gila ini demi melunasi utang mendiang ayahnya dan membiayai pengobatan ibunya. Namun, Viona tahu batasannya. Jika dia membongkar rahasia ini, bukan hanya dirinya yang hancur, namun keselamatan Rendy dan pengobatan ibunya juga akan berada dalam bahaya besar di tangan Arkan.

"Tidak ada apaapa, Kak. Tuan Mahendra hanya... dia memang terkenal sangat tegas dan tidak suka melihat karyawannya tidak disiplin," bohong Viona, suaranya terdengar sangat datar dan dipaksakan. Dia mengepalkan tangannya di bawah meja untuk menyembunyikan getaran hebat. "Tolong jangan tanyakan apa pun lagi. Dan... menjauhlah dariku untuk sementara waktu, Kak. Demi kebaikanmu sendiri."

Rendy tampak terkejut mendengar penolakan dingin dari Viona. "Vio, tapi aku—"

"Permisi, Kak, pekerjaanku masih banyak," potong Viona cepat, sengaja mengalihkan pandangannya kembali ke layar komputer, memutuskan kontak mata secara sepihak.

Rendy menghela napas panjang, dipenuhi rasa kecewa yang mendalam. Dia menatap Viona sekilas sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan kubikel dengan bahu yang tampak lesu.

Begitu Rendy pergi, pertahanan Viona runtuh. Setetes air mata jatuh ke atas tumpukan kertas manifes di mejanya. Dia harus mendorong orangorang baik di sekitarnya menjauh agar mereka tidak ikut terseret ke dalam lingkaran neraka yang diciptakan oleh Arkan Mahendra.

Jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika Viona kembali melangkah masuk ke dalam penthouse lantai tiga puluh enam. Suasana di dalam ruangan sangat sunyi, namun aroma maskulin khas yang sangat dia kenali mengisyaratkan bahwa pria itu sudah berada di tempatnya.

Benar saja, Arkan sedang duduk di sofa beludru ruang tengah—tempat yang sama dengan kejadian traumatis semalam. Pria itu masih mengenakan kemeja kerja formalnya, dengan segelas wiski di tangan kanannya. Begitu mendengar suara pintu ditutup, Arkan menoleh.

Mata elang itu langsung menyipit tajam saat mendapati Viona masih mengenakan pakaian kerja kasual, bukan pakaian santai ataupun gaun tidur. Pandangan Arkan kemudian turun ke arah meja konter dapur, melihat amplop putih tebal darinya yang masih utuh, sama sekali tidak tersentuh.

Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi sangat dingin dan menegang dalam hitungan detik.

Arkan meletakkan gelas wiskinya ke atas meja kaca dengan bunyi dentingan yang keras, lalu berdiri dari duduknya. Langkah kakinya yang tegap dan berwibawa perlahan mendekati Viona, memojokkan gadis itu hingga punggungnya bersandar pada pintu utama yang tertutup rapat.

"Aku ingat sudah menulis memo agar kau tidak pergi ke kantor dan beristirahat hari ini, Viona," ucap Arkan, suaranya sangat rendah, berat, dan dipenuhi oleh otoritas yang tidak suka dibantah. Pria itu berhenti tepat di depan Viona, mengungkung tubuh ramping gadis itu dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pintu di sisi kiri dan kanan kepala Viona.

Viona menahan napas, mencoba mengumpulkan sisasisa keberanian di dalam dadanya. "Aku bukan boneka pajangan yang bisa Anda atur kapan harus bergerak dan kapan harus diam, Tuan Arkan. Aku punya tanggung jawab di kantor."

Arkan mendengus sinis, wajah tampannya mendekat hingga Viona bisa merasakan embusan napasnya yang hangat dan berbau alkohol. "Tanggung jawab di kantor? Atau kau hanya tidak sabar untuk menemui supervisor sialan itu lagi?"

Mendengar tuduhan itu, emosi Viona yang dipendam seharian akhirnya meledak. Dia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Arkan dengan kilat kemarahan. "Apakah Anda yang mengirim orang untuk memukuli Kak Rendy semalam?!"

Arkan tidak tampak terkejut dengan pertanyaan itu. Alihalih membantah, pria itu justru menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi dingin yang sangat angkuh. "Jika benar iya, lalu kenapa? Itu adalah peringatan kecil bagi siapa saja yang berani menyentuh milik seorag Arkan Mahendra."

"Anda kejam! Anda tiran yang tidak punya hati!" jerit Viona, air matanya menetes karena rasa frustrasi yang luar biasa. Dia memukul dada bidang Arkan dengan kedua tangan kecilnya. "Dia tidak tahu apaapa! Hubungan kita ini hanya sebatas kontrak gila ini! Kenapa Anda harus menghancurkan kehidupan orangorang di sekitarku?!"

Arkan mencengkeram kedua pergelangan tangan Viona yang sedang memukul dadanya, menghentikan pergerakan gadis itu dengan mudah. Namun, kali ini cengkeramannya tidak sekasar semalam. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Viona yang basah oleh air mata, dan untuk sekejap, gurat penyesalan yang samar kembali melintas di wajah tegasnya.

"Aku sudah mengatakannya semalam, Viona... Aku tidak suka berbagi," bisik Arkan, suaranya mendadak melunak, kehilangan nada tiraninya untuk sesaat. "Dan melihatmu membelanya di depanku... itu membuatku ingin menghancurkan apa saja."

Viona tertegun mendengarnya. Di balik nada posesif yang mengerikan itu, ada nada keputusasaan yang aneh dari seorang Arkan Mahendra. Sebelum Viona sempat mencerna arti dari perubahan sikap pria itu, Arkan sudah menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah kecupan yang tidak lagi kasar seperti semalam, melainkan sebuah pagutan yang intens, penuh gairah yang menuntut, namun anehnya... terasa begitu protektif dan dipenuhi rasa bersalah yang dalam.

Viona memejamkan mata, membiarkan dirinya kembali tenggelam dalam dominasi sang CEO, menyadari bahwa semakin dia mencoba memberontak, ikatan tak kasat mata di antara mereka justru semakin menjeratnya ke dalam jurang yang lebih dalam.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!