Aluna Deviatia seorang gadis semester akhir jurusan perancang busana. Pendek dan penakut. Mendapatkan nasib sial dihari ia mendapatkan gajinya sebagai penjaga toko bunga. Dengan sialnya ia dikejar para pemalak, jatuh dalam tumpukan daun dan luka di lututnya.
Seharusnya bisa lebih baik dari pada di pandangi seperti orang gila sepanjang perjalanan ke mini market.
Namun sayang, para pemalak yang ia kira ingin memalaknya malah berniat menculiknya. Membawa Aluna kembali kepada sosok yang tidak pernah ingin dia lihat lagi setelah masa sekolah menengahnya.
Gabriel Ivanovich, pemilik sah Enterlace Corp, sebuah perusahan besar yang menaungi segala kekayaannya. Psycho gila dengan obsesi besar hanya kepada Aluna.
Menculik gadis itu, membakar hangus segala milik gadis itu. Mengikat seorang Aluna didalam hubungan gila penuh siksaan dan kelembutan.
Membawa gadis itu kepada fakta besar yang terkubur jauh didasar tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qieqizie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 : let's start a real game
Sudah berapa minggu terlewat, perasaan Aluna sedikit lebih baik. Menjalankan berbagai kegiatan untuk melupakan banyak hal, tidak untuk melupakan semua tepatya.
Gadis itu melangkah dengan payung hitam, jaket kulit hitam dan sepatu tinggi. Hari ini musim hujan. Kotanya sudah diguyur hujan dipagi hari.
Membuka kunci toko bajunya, wajah Aluna berubah ketika masuk. Ada tulisan yang menyambutnya dilantai.
Miss me?
Gadis itu mundur perlahan, menatap sekeliling toko dengan mata waspada, ini bukan hal baik. Melipat payungnya gadis itu bersiap, menjadikan payung hitam itu sebagai senjata utama dia melangkah masuk.
Ruangan gelap, tampak masih sama seperti saat ia meninggalkannya kemarin. Menyalakan lampu seketika ruangan dipenuhi cahaya.
Perlahan kakinya melangkah menyusuri setiap celah tokonya, mengigit bibirnya Aluna merasakan jantungnya berdetak panik.
Suara pintu yang terbanting membuatnya menoleh takut.
"Kejutan sayang!" Mata gadis itu terbelalak kaget, menatap dengan tubuh nyaris terjatuh kearah pintu, kearah seorang pria paruh baya dengan kaos dan wajah ramah yang benar-benar menjadi puncak permasalahan dalam hidupnya.
Draco.
"Apalagi yang kau inginkan?" Aluna menatap waspada, payung hitamnya teracung mengacam.
"Ha~ kau lebih peka dari biasanya menantu ku sayang, ah tidak mantan calon menantuku." Draco melangkah santai. Sebuah kunci ia genggam santai. Melangkah duduk diatas meja kerja Aluna.
"Apa ya, aku mau apa lagi ya?" Draco memasang waja dengan pose berpikir, dan sungguh Aluna muak melihat hal itu.
"Dasar sakit jiwa!" Aluna memaki, dia kesal marah dan jengkel setengah mati. Pria dihadapan disana itu adalah pria yang menghancurkan segala kebahagiaan yang baru saja mereka bangun.
"Aku? Sakit jiwa? Tidak Aluna sayang aku tidak. Gabriel yang sakit jiwa. " dia tertawa keras, menghapus air mata yang menetes dari matanya. Pria itu memeluk perutnya seolah benar-benar terhibur.
"Dan kau membuatnya semakin sakit, meninggalkannya disaat-saat dia benar-benar membutuhkan mu untuk bangun dari mimpi buruknya."
"Aluna, kau bodoh sekali."
Gadis itu terdiam tidak mengerti, tidak lebih tepatnya Aluna menolak mengerti. Dia terluka dengan rasa sesal untuk meninggalkan Gabriel tapi satu sisi dia tidak mau dilukai lagi, dia benci rasa sakit itu.
"Kau egois, Aluna. Tidak ada orang yang berubah sekaligus. Tapi kau lihat sendiri usahanya. Demi dirimu. Dia berusaha keras, pffffttt. Dan dengan bodohnya kau percaya padaku. Membangkitkan mimpi buruk yang Gabriel berusaha lupakan. Setelah melakukan itu kau meninggalkannya."
Aluna terdiam, ya ya ya Gabriel berusaha, tapi tapi Aluna tidak cukup sabar, Aluna tidak cukup peduli. Dia lupa diri, dia lupa Gabriel berusaha dibalik semua sikap manisnya.
Dan sekali pria itu kehilangan kontrol karena Aluna yang tidak cukup peka, gadis itu meninggalkannya.
"Dia sakit jiwa, setelah perpisahan kami dia masuk rumah sakit jiwa. Entah bagaimana dia keluar. Dia tenggelam dalam lautan darah kemudian muncul dirimu, menariknya kemudian menendangnya masuk kembali.
Jahatnya dirimu."
Aluna terdiam, matanya menyorot kosong, dia memang egois. Aluna egois, semua yang ia rasakan membuatnya lebih egois dari siapapun yang dia kenal.
"Jadi, apa tujuanmu datang kemari?" Aluna bertanya berusaha tenang. Menatanya menyorot dengan tajam. Kalau Draco datang hanya untuk menyalahkannya makan pria itu adalah pria paling tidak tahu diri yang pernah Aluna temui.
Bahu Draco naik, menatap sekeliling toko tempatnya mengintai Aluna, mempelajari kegiatan sehari-hari gadis itu. Dan seperti hari-hari kemarin, Aluna selalu datang pagi untuk membuka usahanya.
"Aku datang untuk mendongeng," ujar Draco santai, bahunya ia naikkan santai.
"Ini dongeng tentang sorang pria, dia pria yang biasa saja dengan gangguan bipolar. Wahahaha, aku selalu suka cara mereka menyebut nama penyakit itu. Hidup dengan seorang wanita yang ia cintai. Suatu hari ia tahu ia takkan pernah punya anak. Wanita yang hidup bersamanya tentu saja kecewa. Tapi dia munafik dan berkata bahwa tidak apa-apa."
Pria itu tampak menerawang, menembus luka lama yang ia torehkan sendiri. Rasa sakit itu masih sama seperti ketika awal ia merasakannya. Dia gila, karena memang dia yang membuat luka itu.
Luka bernama penyesalan, luka bernama rasa sakit dan rindu, dibalut kegilaan yang diciptakan otaknya sendiri.
"Wanita itu adalah wanita terbaik yang pernah dikenal sang pria, menerima semua yang dilakukan sang pria dengan senyuman. Sabar dan selalu tersenyum. Dia juga cantik.
Sampai suatu hari, si pria mendapatkan tugas dengan bayaran sangat mahal. Menculik anak dari seorang pengusaha yang terlalu sukses. Tebak siapa si anak? Ah, aku yakin kau tahu siapa." Draco tersenyum humor, bibirnya berkedut menahan tawa.
"Saat itu sang anak tidak langsung dibunuh, sang pria membawa anak itu pulang dan menceritakan bahwa anak itu akan dia bunuh. Dan boooommm!"
"Tebak apa?" Draco menaikan alisnya bertanya, tampak seperti bermain tebak-tebakkan lucu.
"Untuk pertama kalinya wanita itu membantah sang pria, dia bersikeras tidak ingin anak itu dibunuh. Pria itu menyerah karena rasa cintanya kepada wanita itu, tapi semakin lama, semakin hari kasih sayang wanita itu terbagi, dia tidak lagi hanya menyayangi sang pria. Anak bayi kurang ajar itu merebut sebagian rasa cinta wanita yang harusnya hanya milik si pria. Marah sang pria akhirnya pergi dan jarang pulang untuk memenangkan dirinya. Dan setiap kali pulang ia selalu menyaksikan interaksi dua pasang ibu dan anak yang saling menyayangi. Marah, jadi setiap pulang pria itu terus menerus menyiksa sang wanita, dan gilanya wanita itu selalu sabar dan tetap menatap sang pria dengan mata penuh cinta yang ia gunakan untuk menatap sang anak angkat tersayangnya."
"Jadi, pada suatu hari si pria menggila, menemukan wanita itu tak sadarkan diri tergeletak di atas meja dan si anak menunggunya. Mengharukan sekali bukan?" Draco memasang wajah sedihnya, kemudian tertawa gila sendiri. Terbahak entah karena apa.
"Jadi semuanya terjadi, sang pria memberikan hukuman paling indahnya dihadapan sang anak yang terus menerus berteriak memanggil ibunya. Kau seharusnya menonton saat itu, ini benar-benar mengharukan. "
Dada Aluna sesak mendengar cerita itu, gadis menelan ludahnya. Entah kenapa pria itu semakin terlihat gila dimatanya.
Cerita macam apa itu?
"Lalu apa yang kau inginkan?" menatap pria itu dengan mata waspada. Aluna selalu tahu semua yang berkaitan dengan Draco tidak pernah baik.
"Mengulang masa lalu, aku hanya ingin menyaksikan kembali adegan haru biru itu, sayang istriku tercinta sudah mati."
Mundur perlahan, Aluna tahu ini tidak akan baik.
"Jadi karena jantungnya kebetulan ada padamu, bagimana jika kau menggantikan perannya?"
lama ya, iya maaf. aku sad like nya ngga naik naik. but its okayy, keep like comment and vote ya. biar aku semangat gituuu
scene dansa denga mama.. 😭
akak ini pny cerita bgs2, g mgkn kan copy