Sinopsis
Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.
Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.
Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.
Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 27 – PERJALANAN MENUJU KOTA A
Tiga hari beristirahat membuat kondisi Lily pulih hampir sepenuhnya. Rasa lemas yang sebelumnya menyelimuti tubuhnya kini telah menghilang. Setelah memastikan dirinya benar-benar baik-baik saja, ia membuka pintu rumah tua yang mereka jadikan tempat persembunyian sementara.
Hangatnya sinar matahari sore langsung menyambut wajahnya.
Angin sepoi-sepoi berembus pelan, membawa aroma dedaunan kering dari hutan di sekitar.
Di halaman rumah, terdengar suara tawa riang.
"Kejar aku kalau bisa!"
"Hihihi! Tiger, cepat!"
Lily tersenyum kecil melihat Kenzo dan Luna berlari saling mengejar bersama Tiger, harimau putih kecil yang kini tumbuh semakin lincah. Hewan itu sesekali melompat mengejar mereka sambil mengibaskan ekornya dengan gembira.
"Honey."
Mommy Grace yang sedang menyiapkan makanan langsung menghampiri putrinya.
"Kenapa keluar? Apa kamu belum nyaman? Masih ada yang sakit?"
Lily menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Enggak, Mom. Aku cuma bosan terus di kamar."
"Aku pengin menghirup udara segar."
Setelah berkata demikian, Lily berjalan menuju tempat Lea duduk sebelum ikut duduk di samping kakaknya.
Lea melirik sekilas.
"Udah sadar juga, lo."
"Gue kira mati."
"Enak banget pingsannya sampai tiga hari."
"Lea."
Suara Daddy Mike langsung menegur.
Lea hanya nyengir.
"Hehe... maaf, Dad."
Walaupun terdengar bercanda, semua orang tahu Lea hanya berusaha mencairkan suasana setelah kejadian mengerikan di Pangkalan B.
Lily tersenyum kecil sebelum menoleh kepada ayahnya.
"Dad."
"Aku mau tanya."
Daddy Mike mengangguk.
"Apa kita bakal menetap di sini selamanya?"
"Menurutku tempat ini kurang cocok dijadikan rumah."
Daddy Mike memandang rumah tua itu beberapa saat.
"Daddy juga berpikir begitu."
"Kemungkinan besar kita akan pergi."
"Hanya saja Daddy belum tahu harus ke mana."
Pria itu kemudian menatap Lily.
"Apa kamu punya tempat yang lebih aman?"
Lily mengangguk pelan.
"Sebenarnya... ada."
Semua orang langsung memperhatikannya.
"Aku punya tempat perlindungan."
"Tempatnya cukup bagus."
"Tapi lokasinya lumayan jauh."
"Selain itu medannya juga tidak mudah."
Lily sebenarnya masih merasa heran mengapa sistem membangun seluruh wilayahnya tepat di atas sebuah gunung.
Namun semakin dipikirkan, tempat seperti itu memang jauh lebih aman dibandingkan dataran rendah.
"Di mana?"
Tante Mauren yang sejak tadi diam akhirnya ikut bertanya.
"Gunung Domo."
"Lokasinya berada di Kota A."
"Aku sengaja membangun tempat perlindungan di sana."
"Soalnya aku yakin jumlah zombie di daerah pegunungan jauh lebih sedikit."
Aurora yang terkenal cerdas langsung menghitung jaraknya di dalam kepala.
"Kalau dari Kota B menuju Gunung Domo..."
"Hmm..."
"Kurang lebih empat hari menggunakan mobil."
"Kalau berjalan kaki..."
"Sekitar lima belas hari."
Semua orang langsung menghela napas.
"Jauh juga ya."
gumam Lily.
Setelah berpikir beberapa saat, ia akhirnya mengambil keputusan.
"Baiklah."
"Nanti sore kita berangkat."
"Menggunakan campervan yang dulu."
Alex langsung mengernyit.
"Tunggu dulu."
"Bukannya campervan itu kita tinggalkan di dekat Pangkalan B?"
"Sekarang kita sudah cukup jauh."
"Gimana cara ngambilnya lagi?"
Lily tersenyum misterius.
"Siapa bilang aku meninggalkannya?"
Mendengar jawaban itu, semua orang tampak bingung.
Lily pun berdiri dan berjalan menuju halaman yang cukup luas.
Ia mengangkat tangan kanannya perlahan.
Dalam hati ia memanggil kendaraan itu dari ruang dimensinya.
Sesaat kemudian...
Cahaya putih lembut muncul dari telapak tangannya.
Kilauan itu semakin membesar.
Beberapa detik kemudian...
Wuuusss...
Sebuah campervan putih perlahan muncul begitu saja di hadapan mereka.
Semua orang langsung membeku.
"..."
"..."
"..."
"What the hell?!"
Lea sampai berdiri dari duduknya.
"Lo punya sihir lagi?!"
Lily terkekeh pelan.
"Bukan."
"Ini salah satu kemampuanku."
"Namanya Ruang Dimensi."
Semua orang masih menatap campervan itu dengan mulut sedikit terbuka.
Lea mengusap wajahnya.
"Buset..."
"Kalau kemampuan beginian sampai ketahuan orang..."
"Bisa-bisa lo dijadiin budak seumur hidup."
Walaupun terdengar seperti candaan, nada khawatir dalam suaranya sangat jelas terdengar.
Daddy Mike langsung memasang wajah serius.
"Dengar semuanya."
"Mulai sekarang..."
"Tidak boleh ada satu orang pun yang mengetahui kemampuan Ruang Dimensi milik Lily."
"Rahasiakan seumur hidup."
"Kalau sampai bocor..."
"Bukan hanya Lily."
"Kita semua akan berada dalam bahaya."
Semua anggota keluarga mengangguk bersamaan.
Mereka paham betapa berharganya kemampuan itu.
Setelah suasana kembali tenang, mereka duduk santai sambil menunggu waktu keberangkatan.
Beberapa menit kemudian...
Langkah kaki kecil terdengar mendekat.
"Kak Lily..."
Luna berdiri di depan Lily dengan kepala tertunduk.
"Ada apa?"
Luna menggenggam ujung bajunya.
"Boneka Luna..."
"Waktu itu hilang."
"Maafin Luna..."
"Luna enggak bisa jagain bonekanya."
Lily langsung teringat.
Saat Luna terkena cakaran zombie, boneka kesayangannya memang terjatuh di tengah kekacauan.
Tidak ada seorang pun yang sempat mengambilnya.
Lily tersenyum lembut.
"Enggak apa-apa."
"Nanti kita cari lagi."
"Jadi jangan sedih terus."
Lily mengusap kepala Luna dengan penuh kasih sayang.
Saat itulah kemampuan pendeteksi energinya kembali aktif.
Matanya sedikit membelalak.
Di sekeliling tubuh Luna muncul aura berwarna merah muda yang sangat lembut.
Warnanya berbeda dari semua elemen yang pernah ia lihat.
Dalam hati Lily segera bertanya kepada sistem.
"Sistem."
"Kenapa aura Luna berwarna merah muda?"
"Setahuku tidak ada elemen yang berwarna seperti itu."
DING!!
(Secara umum memang tidak ada elemen berwarna merah muda.)
(Namun kasus Luna berbeda.)
(Kemampuannya telah mengalami mutasi.)
(Luna memiliki kemampuan untuk mengendalikan zombie.)
(Akan tetapi kemampuan tersebut menguras energi mental dalam jumlah yang sangat besar.)
Mata Lily sedikit melebar.
"Jadi..."
"Itu sebabnya Luna bisa menghentikan zombie level tiga waktu itu?"
(Benar, Tuan Rumah.)
(Saat itu sistem membantu mengendalikan tubuh Luna agar mampu menghentikan serangan zombie level tiga.)
(Karena itulah Tuan Rumah berhasil selamat.)
(Selain itu, proses tersebut juga mempercepat pemulihan Luna dari pingsannya.)
Lily mengangguk pelan.
"Begitu rupanya..."
Tanpa sadar, ia kembali mengelus rambut panjang Luna.
Di antara helaian rambut hitam itu tampak beberapa helai berwarna merah muda yang sebelumnya tidak pernah ada.
Mungkin...
Itulah tanda bahwa mutasi Luna telah benar-benar bangkit.
Waktu terus berlalu.
Tanpa terasa matahari mulai bergerak ke ufuk barat.
Langit berubah jingga kemerahan.
Daddy Mike berdiri sambil melihat seluruh anggota keluarga.
"Bagaimana?"
"Semua barang sudah dibereskan?"
"Sudah!"
jawab mereka hampir bersamaan.
"Kalau begitu..."
"Kita berangkat sekarang."
"Kita tidak boleh membuang waktu lagi."
Semua orang segera membawa tas masing-masing menuju campervan.
Di depan kendaraan...
Alex langsung memandang Mang Ujang.
"Mang Ujang."
"Mang yang nyetir duluan, atau saya?"
Mang Ujang tersenyum canggung.
"Atuh saya saja dulu, Den Alex."
"Saya enggak enak kalau majikan malah yang nyetir sementara saya duduk santai."
Alex tertawa kecil.
"Ya udah."
"Nanti kalau Mang Ujang capek gantian sama saya."
"Kalau bukan saya..."
"Athar atau Evan juga bisa."
Athar mengangguk.
"Bisa."
Evan ikut mengacungkan jempol.
"Siap."
Mang Ujang tersenyum lebar.
"Siap atuh, Den."
Satu per satu mereka naik ke dalam campervan.
Mesin kendaraan perlahan dinyalakan.
Brrmmm...
Campervan mulai bergerak meninggalkan rumah tua itu.
Perjalanan panjang menuju Gunung Domo di Kota A akhirnya resmi dimulai.
Di depan mereka masih terbentang jalan yang dipenuhi bahaya.
Namun kali ini...
Mereka tidak lagi memiliki tempat untuk kembali.
Harapan baru menanti mereka di Kota A.
oke see Next chapter guysss ☺️☺️
Kira kira Lily di kasih pasangan atau biar sendiri aja komen dong 😁😁