Di besarkan tanpa kasih sayang
Di didik dengan keras
Dan di kendalikan seperti boneka mainan
Seperti itulah kehidupan pahit Zwetta Anevay--Gadis berusia 18 tahun. Dimana kehidupannya tidak seperti para gadis seusianya. Orang tuanya tidak pernah mengharapkannya lahir membuat ia terus di buat jatuh secara mental. Tidak ada kasih sayang yang di dapatkannya. Bahkan ia di didik dengan keras tanpa belas kasihan. Sehingga Zwetta menjadi sosok dingin dan kejam yang sengaja di buat oleh orang tuanya untuk melindungi keluarga.
Zwetta masuk dalam organisasi bawah tanah atas perintah orang tuanya. Dalam hidupnya kata menolak bukan haknya. Seakan kehidupannya bukan miliknya sendiri, melainkan orang tuanya. Hal itu pula yang membuat Zwetta menjadi semakin dingin, keras dan kejam. Tidak ada satu pun orang yang berani mengganggunya. Organisasi bawah tanah menyebutnya dengan Angel of Darkness.
Seperti apakah perjalanan Zwetta dalam kehidupannya yang di penuhi kegelapan? Yuk simak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SasaNayonara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 31. Bertemu Tuan Ichiro Lagi
"Nona Zwetta?"
Tuan Ichiro tampak terkejut melihat keberadaan Zane. Sebaliknya Zane juga terkejut tapi hanya pura-pura saja. Ia sebenarnya memang sudah mengenal Sakura yang merupakan putri bungsu tuan Ichiro.
"Zane?" ulang Sakura sedikit kebingungan.
"Zane itu singkatan dari namanya, Zwetta Anevay. Tidak semua orang memanggilnya Zane," jelas Sheirina yang mengerti akan kebingungan gadis itu.
Sakura pun ber-Oh ria, sebelum kembali bertanya. "Jadi kalian udah saling kenal, ya?"
Tuan Ichiro menganggukkan kepala. "Nona Zwetta adik salah pengusaha di sini. Papa baru bertemu kemarin siang,"
"Sekarang kita bertemu lagi, tuan!" timpal Zane tersenyum tipis.
"Benar. Suatu kejadian yang tidak terduga," sahut tuan Ichiro juga tampak tersenyum.
"Tapi bagaimana bisa kamu bersama nona Zwetta?" sambungnya bertanya pada sang putri.
"Aku tadi lagi kebingungan cari mama. Terus kak Zane datang sama kak Sheirina nawarin buat bantuin cari. Jadi gitu deh ceritanya," jelas Sakura secara singkat.
"Ah begitu, ya? Terima kasih banyak nona karena sudah membantu putri saya," ungkap tuan Ichiro.
"Jangan sungkan, tuan! Kami tadi hanya kebetulan melihat Sakura," ucap Zane yang langsung di benarkan oleh Sheirina.
"Dia benar. Tuan tidak perlu sungkan pada kami,"
"Tapi tetap saja kami harus berterima kasih pada kalian. Entah bagaimana jadinya kalau Sakura tidak bertemu kalian. Mungkin sudah hampir menangis," kali ini bukan tuan Ichiro yang berucap, melainkan istrinya—Nyonya Ruka.
Akari Ruka—Lebih sering di panggil nyonya Ruka merupakan istri tercinta tuan Ichiro. Usianya sudah hampir 45 tahun tapi masih tampak awet muda. Jika di lihat, wajah Sakura memang sangat mirip dengannya. Bahkan nyonya Ruka sering di sebut kakak Sakura, padahal nyatanya mereka berdua merupakan ibu dan anak.
"Aku tidak seperti itu, Ma!" protes Sakura setengah merengek pada sang mama.
Hal itu mengundang kekehan tuan Ichiro dan nyonya Ruka, begitu pula Sheirina. Sedangkan Zane hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Oh ya, saya belum memperkenalkan istri saya—Ruka," tuan Ichiro baru saja ingat kalau belum mengenalkan nyonya Ruka pada Zane, begitu juga sebaliknya.
"Dan dia—"
"Nona Zwetta, benar kan?" sela nyonya Ruka sebelum suaminya menyelesaikan ucapannya.
"Benar. Salam kenal, nyonya Ruka!" seru Zane yang saat ini berdiri bersama Sheirina tepat di hadapan nyonya Ruka dan tuan Ichiro.
Nyonya Ruka mengangguk sembari tersenyum manis. Mata wanita paruh baya itu beralih pada Sheirina yang tampak juga memperlihatkan senyuman manis khasnya.
"Salam kenal, tuan dan nyonya! Aku—Sheirina, sahabat dekat Zane," ucapnya memperkenalkan diri sendiri.
"Salam kenal juga," sahut tuan Ichiro dan nyonya Ruka secara bersamaan.
Setelah itu sempat terjadi pembicaraan singkat antara mereka. Sebelum tuan Ichiro bersama nyonya Ruka dan Sakura pamit untuk pergi duluan.
"Gue jadi curiga," celetuk Sheirina tiba-tiba usai kepergiaan ketiga orang itu.
Sontak Zane menatapnya dengan alis terangkat sebelah. "Apa?"
"Lo tadi bantuin Sakura karena mau menjalin bisnis sama papanya, kan?" Sheirina tampak menatap menyelidik ke arah Zane.
Tidak ada yang salah dengan pikirannya itu. Apalagi ia sudah cukup familiar akan bagaimana dunia bisnis. Dimana tidak jarang para pengusaha menempuh jalur orang dalam untuk keberhasilan berbisnis.
"Terlalu banyak berpikir," cetus Zane sebelum berjalan pergi meninggalkan Sheirina.
"Eh—Lo mau kemana?" tanya Sheirina yang tentu saja bergegas menyusul sahabatnya itu.
"Kuliah," Zane menjawab dengan singkat.
...****************...
Setelah menemani Sheirina berbelanja dan mengantarnya pulang, Zane langsung pergi kuliah sebab memang hari ini jadwal mata kuliahnya masuk siang. Ia baru pulang ke rumah saat sore hari usai mata kuliahnya selesai.
"Kakak baru pulang kuliah?" pertanyaan itu di ajukan oleh Azrail yang kebetulan berpapasan dengan Zane di depan kediaman.
Zane menganggukkan kepalanya. "Kamu mau kemana?"
Sekarang gantian Zane yang memberikan pertanyaan pada sang adik. Dapat di lihat penampilan Azrail tampak santai menggunakan kaos abu-abu di padukan celana pendek.
"Aku mau main ke rumah teman," jawab Azrail terus terang.
"Hati-hati di jalan. Jangan pulang terlalu malam!" seru Zane mengingatkan.
"Siap, kak!" sahut Azrail seraya tersenyum lebar.
Kemudian Azrail pergi menggunakan mobil meninggalkan kawasan kediaman keluarganya. Tepat di belakangnya terdapat beberapa anak buah Zane yang memang bertugas menjaga Azrail dari jarak jauh.
Sedangkan Zane juga sudah masuk ke dalam kediaman. Sebelum pergi ke kamarnya, ia sempat meminta pelayan untuk mengantarkan camilan sekaligus makan malam nanti. Malam ini ia akan kembali makan malam sendirian di dalam kamar.
SKIP
Sejak pulang dari kuliah, Zane menghabiskan waktu di dalam kamar sembari menonton. Ia tidak berbeda dengan gadis lain yang suka menonton drama, selama itu berakhir happy ending-nya. Lalu bagaimana kalau berakhir sad ending? Ia sangat amat tidak menyukainya.
Drttt... Drttt... Drttt...
Ponselnya tiba-tiba berdering membuat Zane harus mengurungkan niatnya yang sudah bersiap untuk tidur. Dengan segera ia mengambil ponselnya yang di layarnya tertera nama Sheirina. Jarang sekali sahabatnya itu menelepon di tengah malam begini.
Penasaran, ia pun langsung mengangkatnya. "Hmm?"
[Sheirina📞: ~Zane]
"Kenapa?" tanya Zane singkat tapi sekarang telinganya sedang mendengar tajam suara di ponselnya.
[Sheirina📞: Cepat datang ke sini!]
"Ke mana?" Zane kembali bertanya, padahal dirinya sudah menebak kalau sang sahabat sedang berada di Bar.
[Sheirina📞: Bar Maxue. Da—Datang ya!?]
"Tunggu bentar!"
Tuttt.
Zane mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Lalu tangannya bergerak cepat mencari kontak seseorang dan melakukan panggilan. Tidak berselang lama, panggilannya sudah terhubung.
"Pergi ke Bar Maxue. Jaga Sheirina sampai aku datang!" titahnya singkat pada orang tersebut.
[..............................]
Tuttt.
Sekali lagi Zane mematikan panggilan secara sepihak. Dimana kemudian ia bergegas mengganti pakaian tidurnya dengan sweater bewarna cokelat susu dan bawahan celana hitam panjang. Ia segera pergi dengan mengendarai mobilnya menuju Bar Maxue.
"Kali ini apa lagi yang membuatnya datang ke Bar?" gumam Zane di sela mengemudikan mobil di kecepatan rata-rata.
Jujur saja, ia sedikit mengkhawatirkan sang sahabat. Sheirina—Gadis itu tidak akan pernah datang ke Bar kalau tidak sedang mengalami masalah. Apapun masalahnya akan bisa di atasi nanti tapi yang Zane khawatirkan adalah keamanan Sheirina. Lingkungan Bar bukanlah hal baik. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada sahabatnya itu.