Bukan pernikahan seperti yang diinginkan Mayang pada saat ia menerima lamaran Erwin, mantan teman sekolahnya. Mayang tidak mengira setelah sekian tahun tidak bertemu tiba-tiba Erwin melamarnya.
Erwin bukan pria yang suka bermain mata dengan perempuan tetapi dengan jelas ia menegaskan bahwa ia menginginkan Mayang sebagai istrinya.
Mayang tidak pernah mengira bahwa Erwin akan melamarnya dan menjanjikan pernikahan yang sesunguhnya setelah Mayang mengalami kejadian yang membuatnya tidak percaya bahwa dirinya layak untuk dicintai.
Siapa dia dan mengapa Erwin melamarnya adalah pertanyaan besar yang ada di kepalanya hingga dia tahu alasan sebenarnya.
Erwin memerlukan seorang istri agar posisinya aman sebagai penerus keluarga Hadinata karena kakeknya mengancam akan mengambil kedudukannya bila dia tidak segera menikah sementara kekasihnya sendiri lebih memilih tinggal di luar negeri.
Atas desakan dan juga keadaan yang membuat Mayang tidak bisa menolah, akhirnya mereka menikah. Tetapi ada yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih dari sekedar ingin tahu
Kejadian sama yang pernah menimpanya. Sayang, saat itu tidak ada pelayan yang melihat dan memisahkan mereka melainkan hanya ada ibunya yang tidak pernah bersikap adil.
“Mayang, ada apa?” tanya Erwin melihat tangan Mayang yang begitu dingin dan sikapnya yang aneh.
“Mayang. Mayang kau mendengarku!” panggil Erwin dengan memberi hentakan pada tangannya.
“Oh, ada apa?” Mayang tergagap seolah sesaat tadi dia berada di tempat lain.
“Aku harusnya yang bertanya ada apa?” ucap Erwin pelan.
“Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir apa yang akan terjadi pada kedua saudara itu bila mereka tidak ada yang mengawasi,” jawab Mayang.
“Kau tidak perlu khawatir karena mereka selalu diawasi. Walaupun Serin menyayangi adiknya kadang dia tidak bisa menahan dirinya bila Camel mulai mengganggunya. Biasa anak-anak,” suara seorang wanita menjawab pertanyaan Mayang.
“Kenalkan aku Danisa, kakak pertama Erwin sekaligus mama-nya kedua anak tadi,” kata Dania dengan mengulurkan tangannya menyapa Mayang.
“Halo Kak, namaku Mayang,” ucap Mayang dengan tangan menyambut uluran tangan Danisa.
“Halo, senang melihat respon wanita yang terkejut melihat anak-anak bermain. Aku Riezka kakak kedua Erwin, Kau salah satu kekasihnya Erwin?” sapa seorang wanita cantik dengan suaranya yang terdengar sinis.
“Aku rasa bukan, karena aku bukan kekasihnya,” jawab Mayang membuat tangannya yang masih berada di dalam genggaman Erwin terasa sakit.
“Kurang ajar Erwin, kenapa aku sampe lupa kalau dia megenggam tanganku,” keluh Mayang dalam hati.
“Bukan kekasih, tapi….?
“Mayang bukan kekasihku saat ini karena dia akan menjadi istriku,” sela Erwin hingga mata Mayang mendelik sementara wanita yang berbicara dengannya memperlihatkan wajah cemberutnya.
“Mayang, mereka sudah mengenalkan diri. Perlu kau tahu kalau kedua kakakku adalah dua orang wanita yang selalu berusaha cari tahu apa saja yang aku lakukan. Jadi kau tidak perlu ragu untuk menegur mereka kalau mereka mengganggumu secara berlebihan,” ujar Erwin meninggalkan mimic cemberut di wajah kedua kakak perempuannya.
“Kalau kami tidak melakukannya kau pasti sudah terjebak dengan wanita yang tidak bermutu,” omel Riezka ketus.
Tanpa menghiraukan omelan kakaknya, Erwin mulai mengenalkan ibunya yang dengan suara bangga dan kasih sayang yang tidak bisa dia tutupi.
“Satu-satunya wanita yang harus kau ingat adalah ibuku. Dia adalah wanita paling berharga di kehidupan kami. Karena tanpanya kami bukan siapa-siapa,” ujar Erwin bangga pada wanita setengah baya dengan kecantikannya yang tetap bertahan walaupun usianya sudah tidak muda lagi.
“Selamat datang di rumah kami sayang. Kau bisa memanggilku Mama Rissa, kau tahu mama sangat bangga kau berkenan datang ke sini,” sambut ibunya Erwin.
Kemudian satu-persatu mereka yang ada di ruangan mulai memperkenalkan diri dengan suara ramai seolah-olah Erwin belum pernah membawa seorang wanita pun ke rumahnya.
“Jadi kau serius untuk menikah? Mama ingat bahwa kau pernah mengatakan pada kami, saat kau membawa wanita ke rumah ini, maka kau sudah mantap untuk menikah. Benar begitu?” tanya Charissa dengan suaranya yang lembut tetapi memiliki kesan tegas.
Mayang melirik Erwin dengan pandangan geli. Entah mengapa dia yang sebelumnya gugup setelah berhadapan dengan keluarga Erwin justru merasa rileks apalagi setelah dia mengatakan bahwa dia bukan kekasih Erwin.
“Mama tidak salah karena aku memang pernah berbicara seperti itu pada Mama. Dan aku benar-benar serius untuk menjalin hubungan dengan Mayang sebagai pasangan suami istri,” jawab Erwin tegas dan yakin.
Kalimat yang diucapkan Erwin dengan lantang menarik perhatian semua orang yang mendengarnya. Dan mereka tidak percaya kalau Erwin bisa memberikan jawaban yang sangat tidak masuk akal, setidaknya bagi kedua kakak perempuannya.
Apakah ada yang salah? Mayang berpikir kalau kedua kakak perempuan Erwin langsung memberikan reaksi yang menurutnya sangat berlebihan sehingga membuatnya nyaris tertawa.
Sebelumnya dia disambut hangat walaupun sikap ingin tahu sangat besar diperlihatkan oleh mereka, tetapi kini? Mayang tidak yakin dirinya berhasil keluar hidup-hidup tanpa ada hati yang patah.
Di antara kedua kakak perempuan Erwin, Riezka adalah yang paling tidak sabar untuk mengetahui kebenarannya.
“Kau tidak datang ke sini sebagai wanita bayaran, kan? Aku tahu siapa adikku yang hanya setia pada satu wanita. Rasanya mustahil dia bisa pindah ke lain hati dengan cepat.”
Pertanyaan langsung tanpa ada penyaringan lebih dulu mengakibatkan Danisa dan Erwin menatapnya galak? Tapi apa pedulinya?
Erwin pernah terjebak pada 1 wanita yang diyakini Riezka sebagai wanita paling bodoh sedunia, sama seperti adiknya sendiri yang tidak bisa melihat kalau wanita yang dia sukai tidak lebih licik daripada seekor serigala betina.
Mayang bukan wanita bodoh yang mengutamakan emosi untuk memberikan jawaban seperti yang diinginkan oleh Riezka.
Apapun alasan yang menjadi dasar pertanyaan Riezka, Mayang harus beryukur dia bisa mengetahui kalau Erwin hanya setia pada 1 wanita saja.
“Wanita bayaran? Aku tidak tahu kenapa kau berkata seperti itu? Apakah kau pernah membayar seorang wanita untuk kau kenalkan sebagai istrimu? Apakah bayaran yang kau berikan jauh lebih besar dari pada yang kau tawarkan padaku?” tanya Mayang geli.
“Tidak lucu dan kau sangat tahu mengapa. Dan kau, Kak Riezka, kenapa kau tidak katakan pada Mayang secara langsung kalau aku pernah berkali-kali membayar wanita untuk membuktikan kalau aku masih lelaki yang normal,” jawab Erwin ketus dan galak.
“Jadi kau kekasih bayaran atau calon istri yang dikontrak dalam jangka waktu tertentu?” tanya Riezka kembali.
“Kau ingin jawaban yang jujur atau hanya bualan semata?” kata Mayang balik bertanya.
Mayang tidak mengerti mengapa dia berusaha mencari tahu apa yang diinginkan oleh Riezka dan mengapa Erwin terlihat marah? Apa yang sudah dia sembunyikan sehingga ucapan Riezka membuatnya gelisah?
“Keduanya walaupun semuanya sama sekali tidak ada bedanya,” jawab Riezka.
“Kalau begitu harus aku katakan bahwa aku adalah mantan kekasihnya yang diminta untuk menjadi istrinya sehari setelah pertemuan kami kembali,” jawab Mayang.
Kebenaran? Bukankah Riezka menginginkan kebenaran?
“Mantan kekasih? Setahu kami dia hanya punya satu orang mantan,” gumam Rida sambil memandang yang lain.
Dalam hati Mayang tertawa, Mungkinkah seorang Erwin harus selalu melaporkan setiap wanita yang dekat dengannya pada keluarga yang menurut Mayang sangat ingin tahu.
“Kau tidak perlu menjelaskan pada mereka, Yang. Kalian hanya perlu tahu bahwa aku dan Mayang pernah berpacaran waktu SMP. Walaupun hubungan kami sangat singkat, tetapi Mayang adalah cinta pertama-ku,” jawab Erwin sambil merangkul Mayang, mesra.
“Kalian sudah saling mengenal sejak SMP? Bagaimana bisa?” tanya Riezka menatap Danisa seolah mencari dukungan.
“Tentu saja bisa. Aku pernah sekolah di SMP yang sama dengan Mayang sebelum pindah ke sekolah yang sudah dipilih oleh kakek. Kami berpisah dan begitu sulit terus menjalin hubungan karena tidak lama setelah aku pindah sekolah, Mayang juga pindah sekolah karena tempat tinggalnya juga pindah,” kata Erwin memberikan penjelasan.
Bagaimana Erwin bisa mendapatkan keterangan soal dirinya yang pindah rumah sehingga dia juga harus pindah sekolah? Siapa yang sudah memberi tahunya?
Mayang masih berpikir keras sampai suara Riezka terdengar lagi. Kali ini Erwin yang menjadi sasaran pertanyaannya. Syukurlah.
“Lalu kapan kau bertemu dengannya lagi sampai yakin kalau dia adalah wanita yang sama ketika kau meninggalkannya?” tanya Danisa yang kini ikut bicara.
“Tiga bulan yang lalu ketika aku melihat Mayang sebagai manager pemasaran perusahaan furniture yang terlibat di salah satu pameran furniture di Jakarta.”
“Kalau kalian ingin tahu rasanya bertemu kembali dengan wanita yang pernah menjadi cinta pertama kalian, aku yakin kalian pasti merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan.”
“Aku berusaha mencari tahu apakah dia terlibat hubungan dengan seorang pria atau tidak dan aku sangat bersyukur Mayang wanita yang bebas.”
Penjelasan yang diberikan oleh Erwin begitu jelas hingga anggota keluarga yang mendengarnya seolah terpana.
Apakah Erwin sudah bisa memberikan hati dan cintanya pada wanita lain meskipun wanita yang sekarang bersamanya adalah wanita dari masa lalunya.
“Apakah kau gadis remaja yang mabuk hingga baju Erwin basah dan kotor?” tanya Charissa tiba-tiba.
Astaga. Kenapa ibunya Erwin harus ingat dengan kejadian yang sangat memalukan bagi Mayang?
Dengan suara mendesah pelan, Mayang mengangguk dan berusaha menjelaskan kalau dia tidak sengaja saat melakukannya.
“Mama mengerti. Apa kau tahu dari bajunya yang kotor, mama bisa mengorek informasi tentang baju seragamnya yang ternoda oleh minuman yang disiram ke pakaiannya,” kata Charissa.
Wajah Mayang yang sudah memerah kembali makin memerah seperti kepiting rebus dan dia seperti kehilangan muka.
“Saya minta maaf. Bukan maksud saya berbuat seperti itu, tapi Erwin yang sudah membuat saya mabuk pada waktu di arena permainan begitu juga dengan alasan mengapa saya menyiram seragam Erwin,” jawab Mayang pelan
Kenapa kejadian tersebut yang ingat justru mamanya Erwin dan kenapa Erwin juga seperti pemuda yang kepergok sudah melakukan kesalahan? Sangat memalukan dan membingungkan.
“Mama kenal Mayang?” tanya kedua kakak perempuan Erwin berbarengan.
“Tentu saja kenal kalau Mayang yang seperti mama katakan tadi. Dia adalah gadis remaja yang didorong oleh teman-temannya Erwin untuk dikenalkan pada mama. Kalau tidak salah terjadi waktu pengambilan raport, ya,” kata Charissa seolah mengenang suatu kejadian di masa lalu.
“Benar Mam, walaupun sangat disayangkan karena hubungan kami harus terputus begitu saja karena kami sama-sama kehilangan jejak,” beritahu Erwin.
Lega, Mamanya bisa menjadi jalan masuk menuju hati kakeknya yang selalu mengharapkan penjelasan yang disertai oleh dukungan dari orang terdekatnya. Dan Charissa adalah pendukung yang sangat potensial bagi Erwin.
“Mama senang mendengarnya.”
“Jadi waktu bertemu kembali, kalian sama-sama jomblo?” tanya Riezka kembali.
“Begitulah. Kekasihku tidak bersedia aku dua-kan dengan pekerjaanku sementara aku memerlukan uang untuk membayar cicilan rumah,” jawab Mayang kembali menarik perhatian yang lainnya.
Dalam hati Erwin berpikir keras mengapa Mayang harus menyinggung soal cicilan rumah? mulai kesal, “Hoby banget sih menarik perhatian orang.”
“Cicilan rumah. Lalu apa Erwin sekarang bersedia membayar cicilan rumahmu?”
Pertanyaan tersebut keluar begitu saja dari mulut Riezka. Kenapa Erwin harus bertemu kembali dengan wanita yang jenisnya sama dengan Rachela?
“Alhamdulillah. Rumah tersebut sudah lunas bahkan sebelum aku bertemu Erwin kembali. Jadi apa pun yang aku lakukan tidak akan memberatkan pasanganku nanti,” jawab Mayang.
“Apa kau bekerja sebagai model? Maksudku sebagai model majalah. Aku seperti pernah melihat wajahmu bukan hanya sebagai pasienku tetapi juga di majalah. Sudah cukup lama,” kata Danisa.
“Aku bekerja di perusahaan pamanku sebagai manager pemasaran perusahaan furniture dan sama sekali tidak berminat menjadi model,” jawab Mayang dengan suara yang tiba-tiba dingin.
“Aku tidak mungkin salah lihat. Memang saat itu kau memakai make up yang sangat tebal tidak seperti sekarang ini pada saat datang untuk konsultasi,” kata Danisa yang merasa yakin kalau dia tidak salah ingat.
Mayang bingung bagaimana menjelaskan tentang Meli pada keluarga Erwin, untunglah Erwin langsung menjelaskan pada keluarganya khususnya pada Danisa.
“Aku yakin yang kakak lihat adalah saudara kembar Mayang yang bernama Meli. Mayang dan Meliana adalah saudara kembar dengan tingkat kemiripan hampir 100%. Tapi tentu saja itu dulu sebelum wajah Meli terlihat lebih tua karena pengaruh make up yang salah. Kau punya foto Mely?” tanya Erwin pada Mayang.
“Ada. Tapi foto saat aku baru SMA, kami memang saudara kembar hingga tidak merasa perlu untuk mengabadikan momen kebersamaan kami,” jawab Mayang.
Mengapa Mayang harus menjelaskan tentang keberadaan Meli pada keluarga Erwin dan mengapa dia harus mengeluarkan kembali foto yang dibuat oleh Indri sebagai penyesalan karena Indri terpaksa membiarkan Mayang diasuh oleh orang tuanya kembali.
Semua orang memperhatikan foto Mayang dan Meli yang berdiri dengan sikap bermusuhan. Tetapi sudah jelas mereka memang saudara kembar.
“Aku yakin yang membuat salah satu dari kalian marah adalah baju yang kalian pakai. Yang mana dirimu, Mayang?” tanya Danisa.
“Aku yang memakai baju berwarna biru pastel, sedangkan yang pink adalah Meli.”
“Jadi kau marah karena baju Meli lebih indah?” tanya Zora.
“Bukan. Aku marah karena aku berpisah dengan tanteku. Sebelumnya aku tinggal bersama keluarga tanteku dan tempat aku bekerja sekarang,” jawab Mayang menjelaskan.
“Wajah kalian memang sangat mirip, tetapi wajahmu sangat polos sementara saudaramu sudah memakai riasan yang sangat tebal. Berapa usia kalian saat itu?”
“Kalau tidak salah kelas 2 SMA.” Jawab Mayang mencoba mengingat kapan dia kembali ke rumah orang tuanya.
“Aku lebih menyukai wajahmu Mayang. Sebagai orang yang bekerja di perusahaan yang memproduksi barang-barang kecantikan aku sangat tertarik pada wajahmu. Apa kau berminat menjadi model kami?” tanya Riezka tiba-tiba.