Bagaimana jadinya jika persahabatan yang di jalin begitu lama, ternyata menimbulkan benih benih cinta ?
Ya, itulah yang di rasakan oleh Sasikirana, seorang gadis yang masih duduk di bangku SMA.
Si gadis tomboy, dan selalu menjadi biang ribut di sekolah, siapa yang menyangka ternyata memiliki perasaan cinta pada sahabatnya sendiri.
Akankah Sasi jujur dengan perasaan nya ? ataukah dia akan mengubur dalam dalam perasaan itu ?
Ikuti terus kisah nya, Sasi si gadis tukang bikin rusuh.
Happy Reading 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan !
Di tempat lain,
Hiks..Hiks..
"Kamu jangan nangis, kakak gak pa pa !" ucap bian menghapus air mata yang membasahi kedua pipi adiknya,
"huwaaa..." tangisan sasi semakin kencang saat melihat lengan bian yang terluka,
"sssttt.. udah ya, ini gak pa pa ko, cuma luka kecil !" bian mengelus kepala adik nya,
"Maafin aku om, karna aku om jadi terluka !" kata seorang anak laki laki, yang langsung membuat bian menolehkan kepalanya
Bian pun tersenyum, lalu berjalan ke arah suara itu,
"Om gak apa apa," ucap bian sambil berlutut menghadap tepat di depan anak itu lalu mengusap lembut kepalanya, "tapi lain kali kalau mau nyebrang minta tolong ke orang dewasa yang ada di sekitar kamu ya, jangan melakukan nya sendiri, Okay ?"
Anak kecil itu pun mengangguk seraya mengerti apa yang di ucapkan oleh bian,
drttzzz drrtttzzz
Bunyi suara dari ponsel sasi yang berada di tasnya, bian pun bangun lalu menggendong anak kecil tersebut dan kembali berjalan ke arah adiknya,
"kenapa tidak di angkat ?" tanya bian saat melihat sasi hanya menatap layar ponselnya tapi belum juga mengangkat telepon itu "dari siapa ?"
"Axel,"
Bian pun tersenyum, lalu meminta sasi untuk menjawab teleponnya
"Halo," ucap sasi setelah menggeser tombol hijau di ponselnya,
"kamu dimana ?" suara axel setengah berteriak, sampai sasi menjauhkan ponsel itu dari telinganya,
"ada apa ?" tanya sasi yang selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan
"aku lagi di kantor kamu, tapi kamu dan kak bian gak ada ! kalian lagi dimana sih ?" tanya axel lagi,
"di rumah sakit !" jawab sasi singkat,
"Hah ? siapa yang sakit ? kamu sakit ? apanya yang sakit ? tadi pagi kamu gak kenapa kenapa ! di rumah sakit mana ? aku ke situ sekarang !" bertubi tubi axel melayangkan pertanyaan pada sasi, dan membuat sasi kembali menjauhkan ponselnya lagi,
"Rumah Sakit Mitra Bunda," jawab sasi lagi, tapi sedetik kemudian axel langsung menutup teleponnya tanpa mengucapkan apapun,
"kenapa ?" tanya bian dengan posisi yang masih menggendong anak itu,
Sasi pun menjawab dengan menaikkan kedua bahunya,
tidak lama dari itu, suster pun kembali masuk ke ruangan tempat dimana bian di berikan pertolongan pertamanya,
"Permisi," ucap suster sambil tersenyum dan membawa secarik kertas, "Mas sudah boleh pulang, untuk obatnya silahkan di ambil di bagian farmasi," ucap suster lagi sambil menyerahkan selembar kertas berisi resep dokter,
"Apa nggak sebaiknya kakak saya di rawat saja, sus ?" tanya sasi sambil menerima kertas tersebut,
Bian pun menggelengkan kepalanya,
suster pun tersenyum lagi "seperti nya untuk luka yang di derita pasien tidak terlalu mengkhawatirkan, jadi tidak perlu di rawat inap,"
"Maaf ya sus, adik saya memang suka berlebihan !"
"kalau begitu saya permisi," pamit suster itu
"terimakasih sus," balas bian,
Setelah suster pergi, bian pun menarik tangan sasi keluar dari ruangan itu,
"Kenapa nggak mau di rawat sih kak ? Kakak gak liat itu luka nya ?" ucap sasi kesal dan menghempaskan tangan bian,
"ck, kamu ini ! memangnya kakak patah tulang sampai harus di rawat, hah ?" bian pun ikut kesal karna kekhawatiran adiknya yang berlebihan itu,
"udah ayo.." bian lalu kembali menarik tangan adiknya,
"Om, turunin aku ! aku bisa jalan sendiri !" suara anak kecil menyadarkan bian, bahwa anak lelaki tersebut sedari tadi masih berada di gendongannya
Bian pun tersenyum lalu menghentikan langkahnya, dia melepaskan tangan sasi dan mulai menurunkan anak tersebut,
"Kakak tunggu di depan, kamu ambil obatnya ya !" ucap bian meninggalkan sasi lalu berjalan berdua bersama anak kecil itu,
"kamu namanya siapa ?" tanya bian saat mereka sudah duduk di ruang tunggu,
"nama aku Arion om, tapi biasa di panggil Rion !"
"kamu kelas berapa ?" tanya bian karna anak itu-- masih memakai seragam sekolah lengkap dengan topi merahnya,
"aku kelas 2," jawab nya lagi
Bian pun tersenyum dan mengelus pucuk kepala anak itu yang masih tertutup oleh topi,
"kamu tadi mau kemana ? kenapa nyebrang sembarangan ?" tanya bian penasaran
"aku mau pulang om, hari ini sekolah aku bubar lebih cepat karna guru guru di sekolahku itu akan ada rapat mendadak katanya,"
"kak.." sasi datang dari arah samping, memotong pembicaraan bian dan rion,
"kita langsung pulang aja, kakak harus istirahat dirumah !" jawab sasi yang entah sejak kapan sudah kembali menjadi sasi yang galak seperti dulu,
"kamu rumah nya dimana ? tante anter pulang ya !" ucap sasi setengah berjongkok di depan rion,
"aku pulang sendiri saja tante, aku tau ko jalanan sini !" jawab rion,
"No ! tante sama om harus memastikan kamu pulang dengan selamat, Oke ?"
Setelah itu mereka pun berjalan beriringan keluar dari rumah sakit,
**
Saat mereka berada di parkiran rumah sakit,
Tiiiiiiinn...
Suara klakson yang kencang langsung membuat mereka bertiga yang sudah berada di depan mobil bian, seketika mereka bertiga pun langsung menolehkan kepala nya ke arah suara klakson yang berisik itu..
"si bucin pake datang !" gumam bian,
"rion ayo masuk duluan sama om," ucap bian pada rion mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil,
di lihatnya axel berlari ke arah sasi,
"bucin itu apa sih om ?" tanya rion yang sudah berada di kursi penumpang bersama bian
bian pun bingung menjawab pertanyaan yang di lontarkan rion, pasalnya rion masih sangat kecil untuk mengerti hal hal yang bersifat dewasa,
"kamu udah makan belum ?" tanya bian mengalihkan pembicaraan,
**
Sementara itu di luar mobil,
"kamu kenapa ? mana yang sakit ?" axel memegang kedua bahu sasi, lalu memutar tubuh sasi mencari bagian tubuh mana yang terluka
sasi pun menarik nafasnya, "STOP !" pekik sasi, karna tubuhnya yang terus di periksa satu persatu oleh axel,
Seketika axel pun berhenti, "bukan aku yang sakit, tapi kak bian," jawab sasi,
axel pun kembali bernafas dengan lega mendengar ucapan sasi, "aku khawatir banget, aku takut kamu kenapa napa,"
"jadi kalau kakak yang kenapa napa, kamu gak khawatir !" ucap bian seraya menurunkan kaca jendela mobilnya, yang tadi hanya tertutup setengah sehingga dia bisa mendengar percakapan mereka berdua,
"Kak bian," axel terkejut saat melihat kening sebelah kanan bian yang di tempel perban,
**
Flashback On
*Percakapan yang terjadi di dalam mobil, saat bian mengajak sasi untuk meninggalkan kantornya tadi,
"hah, perusahaan A ?" beo sasi, dia terkejut mendengar nama perusahaan yang di sebutkan bian, pasalnya perusahaan itu adalah perusahaan milik dari keluarga mantan calon istri dari kakaknya,
Bian pun tidak menjawab pertanyaan adiknya,
"apa kakak yakin tidak pernah menyuruh sekretaris kakak untuk menerima tawaran kerjasama itu ?" tanya sasi lagi ingin memastikan..
"kakak juga tidak begitu ingat !! tapi memang sebelumnya ada beberapa berkas pengajuan dari beberapa perusahaan yang kakak tanda tangani, tapi kakak tidak ingat ada nama anak perusahaan A di berkas itu !" jawab bian,
Sasi menarik nafasnya, "kak, tidak mungkin seorang sekretaris membuat keputusan tanpa persetujuan atasannya !! kakak sepertinya harus meminta maaf pada Kak Cheri,"
"kenapa harus minta maaf, kakak tidak merasa berbuat salah sama dia !" jawab bian lagi,
Sasi kembali menarik nafasnya, memang berbicara dengan orang yang sedang emosi membutuhkan kesabaran yang ekstra
"Kakak tau ? tadi saat aku masuk ke ruangan kakak, aku mendengar kakak membentak sekretaris kakak itu !! Kak, walaupun dia bawahan kakak, tapi tidak seharusnya kakak bersikap seperti itu, sekalipun dia berbuat salah ! Apalagi saat keluar dari ruangan kakak, aku melihat kesedihan di wajahnya, bahkan aku melihat dia menahan air matanya !!"
deg,
...****************...