NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 05 - Jangan Ambil Uangku

Setelah keluarga Wiratmaja pulang, rumah Pak Darto tidak langsung tenang.

Justru saat tamu mulai pergi, wajah asli keluarga keluar satu per satu.

Tenda di halaman masih berdiri. Lampu kuning menggantung di bambu, membuat bayangan orang-orang tampak panjang di tanah. Dari dapur, panci-panci kotor menumpuk. Ibu-ibu tetangga sudah pamit, tapi beberapa masih sengaja lambat berjalan, berharap mendengar lanjutan drama.

Eyang Marni menunggu sampai pagar ditutup.

Begitu hanya keluarga yang tersisa, tongkatnya menghantam lantai.

"Nadia, masuk kamar. Kita bicara."

Nadia masih berdiri dekat meja seserahan.

"Bicara di sini saja."

"Aku bilang masuk kamar!"

"Kalau yang dibicarakan uang dan nasibku, aku ingin Mbak Sari dengar."

Sari yang sedang merapikan gelas langsung menegakkan badan.

Bu Ratna menatap Sari dengan tidak senang.

"Mbak Sari sudah punya rumah sendiri. Jangan membuat dia ikut pusing."

Sari meletakkan gelas cukup keras.

"Saya memang sudah punya rumah, Bu. Tapi Nadia tetap adik saya."

Pak Darto menghela napas.

"Sudah, jangan mulai lagi."

Nadia hampir tertawa.

Bapaknya selalu berkata begitu saat orang lain menyakitinya. Jangan mulai lagi. Seolah masalah muncul karena Nadia menolak diam, bukan karena mereka berlaku tidak adil.

Eyang Marni menunjuk kotak seserahan.

"Semua itu masuk kamar belakang. Besok kita hitung. Uang lamaran juga serahkan ke aku."

Nadia mengambil amplop dari meja dan memasukkannya ke saku bajunya.

Gerakan itu pelan, tapi semua orang melihat.

Wajah Eyang Marni berubah.

"Apa-apaan kamu?"

"Menjaga barangku."

"Barangmu? Belum jadi akad, belum ada mahar. Itu milik keluarga."

"Tadi di depan keluarga Wiratmaja, Eyang tidak berani bilang begitu."

"Karena aku menjaga muka rumah ini!"

"Muka rumah ini sudah jatuh sejak Bella masuk kamar dengan Arman."

Bella yang baru saja duduk langsung menangis lagi.

"Kak, kenapa semuanya terus aku yang disalahkan?"

Nadia menatapnya.

"Karena kamu salah."

"Aku sudah minta maaf."

"Minta maaf bukan sabun cuci piring, Bella. Tidak semua noda langsung hilang."

Sari menunduk, bahunya bergerak.

Bu Ratna memeluk Bella sambil menatap Nadia tajam.

"Kamu puas menyakiti adikmu?"

"Belum ada yang menyakiti Bella malam ini. Dia hanya mendengar akibat dari perbuatannya."

"Nadia, jaga bicaramu."

"Bu Ratna, jaga anakmu."

Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang Nadia rencanakan.

Bu Ratna membeku.

Pak Darto menoleh. "Maksudmu apa?"

Nadia sadar ia hampir terlalu jauh. Ia tersenyum tipis.

"Bella kan selalu Ibu bela seperti anak sendiri."

Bu Ratna menarik napas pelan.

"Karena dia memang anak yang harus dilindungi."

"Aku tidak?"

Tidak ada jawaban.

Keheningan yang muncul setelah pertanyaan itu lebih jujur daripada seribu penjelasan.

Sari mendekati Nadia. "Ayo ikut ke rumahku malam ini."

Pak Darto cepat berkata, "Tidak usah. Nadia tetap tidur di sini."

"Untuk apa?" Sari menatap bapaknya. "Agar besok pagi dia dipaksa menyerahkan uangnya?"

"Sari!"

"Pak, saya dari tadi diam karena menghormati Bapak. Tapi kalau Bapak terus membiarkan Nadia dikeroyok, saya tidak bisa diam."

Pak Darto tampak tersinggung.

"Kamu pikir Bapak tidak sayang Nadia?"

Nadia menatap wajah bapaknya. Ia ingin mendengar jawaban itu dulu. Dulu sekali. Saat ia kecil dan menangis di panti. Saat anak-anak lain mengejeknya tidak punya keluarga. Saat ia pulang ke rumah ini dan Bella mendapat kamar lebih baik.

Sekarang kalimat itu datang terlalu terlambat.

"Kalau sayang," kata Nadia, "malam ini Bapak harus pilih. Anaknya yang dikhianati, atau uang lamaran yang ingin diambil Eyang."

Pak Darto terdiam.

Eyang Marni marah besar.

"Kamu mengadu domba bapak dengan ibunya sendiri?"

"Aku hanya meminta Bapak melakukan tugasnya."

"Tugas anak juga menurut pada orang tua!"

"Orang tua yang mana? Yang membuangku ke panti karena percaya omongan orang pintar palsu? Atau yang malam ini mau menjualku lagi ke laki-laki pilihan Bella?"

Bu Ratna memucat.

Pak Darto kaku.

Eyang Marni terlihat goyah, tapi masih keras kepala.

"Kamu tidak mengerti. Dulu rumah ini hampir celaka terus. Kamu sakit-sakitan. Usaha bapakmu rugi. Orang pintar itu bilang—"

"Orang pintar itu dibayar siapa?"

Pertanyaan Nadia membuat Bu Ratna menjatuhkan sendok yang ia pegang.

Ting.

Suara kecil itu terdengar sangat jelas.

Semua orang menoleh.

Bu Ratna cepat menunduk mengambil sendok. "Tanganku licin."

Nadia menatap punggungnya.

Bagus.

Masih bisa takut.

Eyang Marni tidak memperhatikan. Ia terlalu sibuk membela keputusannya sendiri.

"Tidak ada yang membayar siapa-siapa. Kamu jangan membawa fitnah."

"Kalau begitu suatu hari kita cari orang itu."

"Untuk apa?"

"Untuk bertanya kenapa anak kandung dikirim pergi, sementara Bella yang katanya kebetulan ditemukan di panti malah selalu cocok dengan semua kebutuhan Bu Ratna."

Bu Ratna berdiri.

"Nadia, kamu sudah melewati batas."

Nadia menghadapinya.

"Batas itu sudah kalian lewati duluan."

Bella memandang ibunya. Ada kilatan panik di matanya. Ia juga tahu rahasia itu. Di kehidupan ini, mungkin ia belum seceroboh nanti, tapi ia tahu cukup banyak untuk merasa takut.

Sari bingung.

"Nadia, kamu bicara apa?"

"Belum waktunya, Mbak."

Sari ingin bertanya lagi, tapi melihat wajah Nadia, ia menahan diri.

Eyang Marni kembali ke urusan utama.

"Pokoknya uang itu serahkan. Besok kalau benar Raka datang, kita butuh biaya untuk menjamu."

"Pakai uang Bella."

Bella tersentak. "Aku tidak punya uang."

"Pakai uang Arman."

"Mas Arman juga belum tentu..."

"Lihat?" Nadia menoleh kepada Eyang. "Mereka yang membuat masalah tidak punya uang. Kenapa yang uangnya mau diambil aku?"

Bu Ratna berkata, "Karena kamu bagian dari keluarga ini."

"Menarik. Kalau ada uang, aku bagian keluarga. Kalau ada malu, aku diminta mengalah. Kalau ada cinta, Bella didahulukan."

Pak Darto duduk lemas.

Mungkin untuk pertama kalinya, ia mendengar semua ketidakadilan itu dirangkai begitu jelas. Atau mungkin ia sudah lama tahu, hanya tidak pernah mau menghadapi.

Sari menggenggam tangan Nadia.

"Ikut aku."

Bu Ratna cepat menghalangi.

"Tidak bisa. Kalau Nadia pergi malam-malam, orang akan bicara. Besok keluarga Wiratmaja datang, masa calon pengantin perempuannya tidak ada di rumah?"

"Aku bisa datang pagi," jawab Nadia.

"Tidak sopan."

"Lebih sopan daripada masuk kamar dengan calon suami orang."

Bella menangis lagi.

Nadia mulai bosan dengan air mata itu.

Di kehidupan lalu, ia pernah iri pada kemampuan Bella menangis. Cukup meneteskan air mata, semua orang berlari. Nadia harus berdarah dulu pun belum tentu dipercaya.

Sekarang ia tidak iri lagi.

Air mata yang dipakai sebagai senjata lama-lama akan kehabisan tajamnya.

Pak Darto akhirnya bicara.

"Nadia tidur di kamar Sari malam ini."

Semua orang menoleh.

Bu Ratna tidak percaya. "Mas?"

Pak Darto memijat kening.

"Rumah sedang panas. Biar Nadia tenang dulu."

Eyang Marni marah. "Darto, kamu mau anakmu dibawa keluar setelah membuat malu?"

"Bu, cukup." Suara Pak Darto tidak keras, tapi lelahnya terasa. "Malam ini yang membuat malu bukan Nadia."

Nadia menatap bapaknya.

Untuk sesaat, dada kirinya bergerak kecil.

Tapi ia tidak membiarkan dirinya luluh. Satu kalimat benar tidak menghapus puluhan tahun salah.

Bu Ratna menunduk, bibirnya mengatup rapat.

Bella menatap Pak Darto seperti dikhianati.

Sari langsung bergerak.

"Aku ambil tas Nadia."

"Tidak perlu," kata Nadia. "Aku ambil sendiri."

Ia masuk kamar. Kamar itu kecil, lemari kayunya berbau lembap. Banyak barangnya tidak berubah dari kehidupan lalu: cermin retak di sudut, tas kain berisi buku, jilbab-jilbab lama, dan kotak kecil tempat ia menyimpan ijazah.

Nadia mengambil dokumen penting, beberapa pakaian, lalu berhenti di depan cermin.

Wajahnya masih muda.

Dua puluh tahun.

Belum ada lingkar hitam karena menangis bertahun-tahun. Belum ada bekas luka di lengan karena didorong Arman ke lemari. Belum ada tatapan kosong perempuan yang terlalu lama disalahkan.

Ia menyentuh pipinya.

"Kali ini tidak," bisiknya.

Saat keluar kamar, Bella berdiri di lorong.

Sendirian.

Air matanya sudah berhenti. Wajahnya yang tadi rapuh kini tampak dingin.

"Kamu juga kembali, ya?"

Nadia berhenti.

Mata Bella menajam, mencoba membaca reaksi.

Nadia hanya menatapnya datar.

"Kembali dari mana?"

Bella menggertakkan gigi.

"Jangan pura-pura. Kamu berbeda."

"Orang yang hampir dijual keluarganya memang bisa berubah cepat."

Bella mendekat setengah langkah.

"Mas Arman milikku."

Nadia tersenyum.

"Ambil. Bungkus. Bawa tidur. Jangan lupa kasih pita."

"Kamu akan menyesal memilih Om Raka. Dia sakit."

"Kamu akan bahagia memilih Arman?"

Bella mengangkat dagu.

"Tentu."

Nadia menatapnya penuh minat.

"Bagus. Aku ingin melihatnya."

Bella tidak suka nada itu.

Sari memanggil dari ruang tengah. "Nadia, ayo."

Nadia melewati Bella, lalu berhenti sebentar.

"Oh ya, Bella."

Bella menoleh.

"Mulai besok, belajar panggil aku Tante."

Wajah Bella pucat karena marah.

Nadia berjalan keluar bersama Sari.

Di belakangnya, rumah itu kembali ribut. Eyang Marni mengomel, Bu Ratna menenangkan Bella, Pak Darto diam seperti kayu basah.

Nadia tidak menoleh.

Malam kampung terasa lembap. Dari kejauhan terdengar suara motor lewat dan anjing menggonggong. Sari menggandengnya erat.

"Kamu takut?"

Nadia melihat jalan gelap di depan.

"Tidak."

"Besok akan lebih ribut."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa kamu tersenyum?"

Nadia mengangkat tasnya lebih tinggi.

"Karena besok bukan hanya mereka yang punya rencana."

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!